Hi teman, ini adalah karya pertama aku di noveltoon.
Disini saya hanya belajar menulis, dan saya hanya ingin sedikit bercerita, tentang perjalanan kehidupan, seorang Aditya Koesdiansyah.
Seorang pemuda tampan, yang menjadi tulang punggung keluarganya, setelah Dokter memvonis Ayahnya sakit.
Bagaimana kelanjutanya, tetep mampir di karya Author yang baru ini.
Karena insya Alloh Author akan rajin Update tiap hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GANTENG KALEM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAK COMBLANK
"Sudah pulang, Dek?" tanya Luna pada Galuh yang baru saja duduk di sampingnya.
"Sudah kak Luna," jawab Galuh sambil melihat gelas cincau yang di pegang Luna.
"Kamu mau, Dek?" tanya Luna yang melihat Galuh menelan ludahnya.
"Mau ... mau kak, Galuh mau." Galuh mengangguk dengan semangat.
"Ya sudah, sana pesan aja." titah Luna.
Alih alih mendengar apa yang di tititahkan Luna padanya, Galuh malah mengambil gelas cincau yang masih di pegang Luna dan langsung memakanya.
"Dek, kok malah ngambil punya Non Luna sih. Itu tidak sopan namanya." tegur Adit sambil menggeleng kepala.
"Bukanya Bang Adit segelas berdua dengan kak Luna?" tanya Galuh yang menjeda memakan cincaunya.
"Kata siapa?" tanya Adit.
"Aduh Bang Adit, liatin orang orang di sana!, dari tadi mereka melihat Bang Adit sama Kak Luna kok yang asik menikmati segelas berdua." Galuh menggedikan kepala ke arah orang orang yang sedari tadi melihat ke mesraan mereka berdua.
Luna menunduk, dirinya mengambil tisu dan mengelap mulutnya sambil menahan malu. Begitu pun dengan Adit yang baru menyadari semua itu dirinya kini salah tingkah dan merasa tidak enak pada Luna.
"Ya sudah, kita pulang yuk." ajak Luna yang menutupi kegugupanya karena malu.
Adit mengangguk dan segera menghampiri pedagang cincau untuk membayarnya.
"Ayo, Non." ajak Adit pada Luna.
"Kok aku di tinggal sih?" Galuh berlari kecil menghampiri pedagang cincau mengembalikan gelas kosong dan kemudian kembali menghampiri Luna dan Adit.
"Ayo, Galuh sudah siap." ucap Galuh dengan nafas tersengal sengal.
Luna dan Adit hanya menggeleng melihat Galuh yang takut ketinggalan.
Adit membukakan pintu dan mempersilahkan Luna untuk masuk.
"Kak Luna, boleh kan Galuh duduk bareng Kak Luna?" pinta Galuh dengan wajah memelas.
"I ya, boleh sini masuk." Luna tersenyum pada Galuh.
"Makasih Kak Luna," Galuh masuk dan duduk di belakang bersama Luna.
Adit berlari kecil memutar menuju kursi kemudinya.
"Dit, antarkan saya pulang dulu ya. Habis itu baru kamu pulang sama Galuh." titah Luna yang membuat Adit sedikit bingung.
"Terus, mobilnya Non?" tanya Adit.
"Mobilnya, ya kamu bawa pulang. Besok pagi baru jemput aku." jawab Luna dengan entengnya.
"Tapi ...," Adit yang merasa tidak enak.
"Tidak tapi tapian, Dit. Saya tidak menerima penolakan." jawab Luna.
"I ya, Non." Adit mengangguk patuh.
Sepanjang perjalanan pulang menuju kediaman Luna, Adit terus mencuri curi pandang. Memperhatikan Luna yang begitu cantik dan baik sedang asik berbincang dengan Galuh.
"Ternyata seru ya, kalau punya kaka perempuan." ucap Galuh yang dapat di dengar Adit yang sedang fokus menyetir.
"Memang kalau punya kaka laki laki kenapa?" tanya Luna.
"Apaan, punya Kakak laki laki kurang seru. Kakak laki laki Galuh, kaku orangnya. Dia selalu sibuk cari uang dan gak pernah ngenalin pacarnya sama Galuh." ucapan Galuh yang monohok seketika membuat Adit membulatkan matanya.
Luna tertawa lepas mendengar ucapan polos Galuh yang di rasanya sangat lucu.
"Kenapa Kak Luna malah tertawa?" tanya Galuh yang merasa heran.
"Lagian aneh, kan Kak Adit sibuk cari uang. Jadi, mana sempat dia mikirin asmaranya." Luna berucap sambil sekilas memandang Adit dan kembali fokus pada Galuh.
"Kak Luna kalau ngomong suka bener aja, hebat." puji Galuh yang membuat Adit makin Down dan merasa malu di depan Luna.
"Kak Luna," Panggil Galuh sambil bergelayut manja memeluk tangan Luna.
"I ya, ada apa?" tanya lagi Luna.
"Udah ada cowok yang pernah nembak Kak Luna gak?" telisik Galuh yang membuat Luna diam menghentikan tawa dan senyumnya.
"Kok Kak Luna diam sih?" tanya Galuh sambil mengedipkan mata kanan yang bisa di lihat Adit lewat kaca depannya.
"Pasti belum kan," jawab Galuh yang tak memberi kesempatan Luna untuk menjawab pertanyaannya.
"Kak Adit, Denger gak tuh. Kak Luna Jomblo loh, kalau aku jadi Kak Adit, aku pasti nembak Kak Luna." Galuh memberi kode keras.
Luna semakin salah tingkah di depan Adit dan Galuh.
"Kak Adit," panggil Galuh.
"I ya, Dek." Adit menyahutinya.
"Kak Adit, mau kan. Jadi pacarnya Kak Luna?" ucap Galuh yang di rasakan Adit seperti sebuah pinalty untuknya.
"Ok, diamnya Kak Adit. Aku anggap Kak Adit mau dan bersedia jadi pacarnya Kak Luna." ucap Galuh sambil melipat tanganya di dada.
"Dek, udah ah bercandanya." Adit berkilah karena melihat Luna semakin malu karena ucapan Adiknya.
"Kok, bercanda sih. Kak Luna serius kok suka sama Kak Adit. I ya kan, Kak Luna." Galuh mengguncang tangan Luna meminta kepastian.
Sebenarnya, aku juga menyukaimu Lun. Tapi terkadang aku malu pada diriku sendiri.
Mobil yang di tumpangi Luna, Adit Galuh kini mulai memasuki gerbang rumah yang menjulang tinggi.
"Wah, besar sekali rumahnya." Galuh berdecak kagum.
"Galuh boleh main kok, kalau Galuh mau." ucap Luna yang kini sudah terlihat tidak begitu gugup.
"Beneran Kak Luna?" tanya Galuh yang begitu antusias.
"Nanti saja, Dek. Non Luna lelah, Kak Luna butuh istirahat." ucap Adit sambil mematikan mesin mobilnya.
Adit keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Luna.
"Makasih ya, Dit." Luna yang baru keluar terlihat sedikit malu tak berani memandang Adit.
Adit menghentikan langkah Luna dengan menggenggam tangan Luna dengan tangan kanannya.
"Maafkan Galuh ya, terkadang anak seumuran Galuh memang suka bercanda." Adit menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Luna menunduk malu dan terus memandangi tangannya yang di genggam Adit dengan dengan Lembut.
"Maaf, Non." Adit melepas genggaman dan menepuk nepuk punggung tanganya.
Ini tangan hadeuhhh bikin aku malu aja.
"Adit, saya masuk dulu ya. O ya, jangan lupa besok jemput saya jam 6 di sini." ucap Luna. Seraya berlalu meninggalkan Adit yang masih berdiri memandang punggung Luna yang semakin menjauh.
Adit tidak menyadari bahwa sepasang mata telah memperhatikanya sedari tadi dari lantai atas rumah Luna dengan wajah tersenyum.
Setelah Luna masuk ke dalam rumahnya. Adit langsung mengendarai lagi Mobil Luna, keluar dari halaman rumah Luna yang Luas untuk kembali pulang menuju rumahnya.
"Dek, lain kali gak boleh gitu ya sama Non Luna." tegur Adit secara baik baik di sela perjalanan pulangnya.
"Emang Galuh salah ya, Kak Adit?" tanya Galuh dengan polosnya.
"Tadi, Bang Adit lihat. Kak Luna jadi malu karena kamu godain terus." Jelas Adit.
Galuh yang kini duduk di depan di samping Adit, dirinya mengguncang tangan Adit.
"Kak tahu gak?, kalau Kak Luna itu sebenernya suka sama Kak Adit." ucap Galuh yang membuat Adit membulatkan matanya.
"Dek, masalah perasaan itu gak bakalan ada yang tahu. Jadi kamu jangan Sotoyy." Adit menggeleng heran pada Adiknya yang kekeh dengan pendapatnya.
"Bang, Galuh itu bukan Sotoyyy. Tapi tadi pagi ketika Kak Luna di kamar Galuh. Dia mengatakan perasaanya pada Galuh tentang Kak Adit." jelas Galuh yang membuat Adit menginjak rem mobilnya secara mendadak.
Beruntung Galuh menggunakan sabuk pengaman.
"Bang Adit, apa apaan sih. Kalau mau mengerem itu jangan mendadak, kan Galuh jadi kaget." Galuh dengan mode marahnya.
Adit menghela nafas dan menghembuskanya secara perlahan sambil memandang Galuh.
"Maaf, Dek. Tadi Bang Adit kaget." Adit kembali melajukan mobilnya secara perlahan menuju pemukiman rumahnya.
semanhat bang😊😊😊