Aris yang menikahi Sania harus menerima kenyataan bahwa Sania adalah perempuan keras kepala yang susah di atur.
Karena keras kepala Sania, akhirnya rumah tangga mereka jadi berantakan.
Sania hamil tanpa diketahui siapa yang menghamilinya. Hal itu membuat Sania merasa kotor di depan semua orang, termasuk suaminya, hingga Aris yang tulus mencintai Sania harus berjuang keras menyakinkan istrinya bahwa ia menerima Sania dengan keadaan apapun.
Tapi bagaimanakah kelanjutannya? Apakah Aris berhasil meyakinkan istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon To Raja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
'Apa tadi Aris mendengarku ya?' Gumam Sania memasuki kamarnya.
"Astaga apa yang kukatakan tadi? Kalau tidak salah, aku bilang kalau aku ngidam menemui Mas Aris!
Oh tidak,,,, itu sangat memalukan! Apa lagi Aris tahu kalau dia bukanlah ayah dari bayi yang kukandung ini." Sania segera pergi ke kamar mandi dan mencuci wajahnya.
"Tidak! Aku yakin Mas Aris tidak mendengarku. Ya,, aku bicara dengan suara pelan saja tadi." Lagi kata Sania menenangkan dirinya.
Setelah dari kamar mandi, Sania mengganti bajunya dengan gaun tidur panjang berwarna putih.
Akhirnya ia mendapatkan posisi yang nyaman untuk tidur.
Baru saja ia memejamkan matanya ketika ia kembali membukanya "Aku ingin menemui Mas Aris." Ucapnya mengubah posisi tidurnya.
"Aku sangat merindukan Mas Aris," Sania kembali mengingat kejadian di rumah sakit saat ia berciuman dan tidur sambil dipeluk Aris.
"Astaga,, aku tidak boleh sepeti ini, aku harus tidur sekarang!"
Sania kembali memejamkan matanya dan berusaha tidur, tapi ia sangat sulit melakukannya, akhirnya Sania kembali bangun dan memutuskan menggunakan masker penenang. "Nak, tolong jangan merepotkan Ibu dengan meminta Ibu bertemu dengan Mas Aris." Ucap Sania mengusap perutnya yang masih datar.
Ia kemudian berdiri di jendela kamarnya dan menatap langit malam yang dipenuhi bintang.
"Indah sekali." Komentarnya. "Tapi lebih menyenangkan menatap wajah Mas Aris,," lagi tambahnya.
"Tidak! Aku akan menemuinya saja, paling tidak mengintipnya dari luar kamar juga bisa menenangkanku." Kata Sania lalu pergi membersihkan maskernya.
'Semoga saja Mas Aris sudah tidur, jadi aku tidak ketahuan pergi mengintipnya.' gumam Sania ketika sudah berada di tangga menuju lantai satu.
'Pintunya tidak tertutup?' Gumam Sania ketika ia melihat pintu kamar Aris tidak tertutup rapat. 'Sepertinya Mas Aris belum tidur, tapi kenapa ya? Apa dia juga gelisah sepertiku?'
Sania tiba di depan pintu kamar Aris dan mendengar suara pria yang sedang mendengkur.
Sania tersenyum mendengarnya 'Ternyata Mas Aris mendengkur ya.'
Perlahan Sania mengintip ke dalam kamar dan melihat kaki Aris yang muncul dari balik selimut. 'Kalau begitu, aku masuk saja.'
Sania kemudian membuat pintunya dan betapa kagetnya ia melihat Adel sedang ada di dalam kamar Aris.
Yang lebih parahnya lagi, Adel sedang mengamati wajah Aris, hingga wajah mereka sangat dekat.
"Adel!" Kata Sania dengan suara yang ditahan agar tidak menganggu Aris yang sedang tidur.
Adel yang sebenarnya berniat mencium Aris segera berdiri tegak dan begitu kaget melihat kakaknya sedang berdiri di ambang pintu dengan tatapan membunuh.
'Ya ampun! Mati aku ketahuan sama Ratu neraka! Bisa di bakar hidup-hidup aku!' Gumamnya ketakutan.
Sementara Sania yang sangat marah dengan tingkah laku adiknya berjalan mendekat ke arah Adel lalu menarik tangan gadis SMA itu hingga mereka keluar dari kamar Aris.
"Apa yang kamu lakukan Dek!?" Tanya Sania penuh emosi.
"Anu Kak, itu, oh,,, aku tidak sengaja lewat dan melihat pintu kamar Kak Aris terbuka. Jadi aku berniat untuk menutupnya, tapi aku tidak sengaja melihat wajah Kak Aris ada nyamuk di sana, jadi aku bermaksud,,"
"Sudah! Cepat kembali ke kamarmu dan tidur! Ingat ya Dek, jangan berpikir untuk mengganggu suami Kakak atau Kakak sendiri yang mengusir kamu dari rumah biar jadi gelandangan!" Tegur Sania penuh emosi.
"Ehh, jangan Kak, aku,, aku ,,,tidak akan mengulanginya lagi kok." Adel memperlihatkan jari kelingkingnya pada Sania "Suwer deh Kak!"
"Pergi ke kamarmu sekarang!" Lagi tegas Sania sebelum berbalik meninggalkan Adel.
Sania kembali ke kamar Aris dan melihat pria itu. Sania sangat memperhatikan wajah Aris, karena ia pikir mungkin adiknya sudah melecehkan suami kesayangannya itu.
"Dia tidak ngapa-ngapain kamu kan sayang?" Kata Sania dengan pelan seraya mengulurkan tangannya dan menyentuh wajah Aris.
"Sepertinya dia baik-baik saja." Lagi kata Sania dan menarik kembali tangannya, namun tiba-tiba tangan Aris menahannya dan kembali membawa tangan Sania ke wajahnya.
'Gawat! Aku ketahuan!' Gumam Sania menarik kembali tangannya, tapi Aris tak membiarkannya.
"Sayang," Kata Aris.
"Sania segera panik "Mas, kamu terbangun?" Tanyanya dengan gugup.
"Sania,,, istriku,," lagi suara Aris terdengar.
'Kenapa dia berbicara sambil memejamkan matanya? Apa ia hanya mengigau?' Sania mencoba membuka mata Aris dengan tangannya yang kosong, dan benar saja, Aris tidak juga terbangun.
'Jadi dia mengigau. Mengigau namaku,, apa dia sebenarnya juga merindukanku?' Sania menghela nafasnya.
Sania kemudian duduk di samping Aris dan membiarkan Aris terus menempelkan tangannya di wajah Aris. ."Sayang,," panggil Sania ketika niat jahilnya muncul.
"Ada apa istriku?" Jawab Aris.
'Dia benar-benar menjawab,' gumam Sania terkikik. 'Kalau aku tanya macam-macam, apa dia akan menjawab ya?'
"Sayang, apa kamu pernah jatuh cinta?" Tanya Sania dengan penasaran.
"Pernah sekali." Jawab Aris dengan ekspresi jujurnya.
Jantung Sania berdegup kencang ketika mendengar jawaban Aris. "Kapan?"
"Waktu SMA," jawab Aris.
'Berarti bukan waktu aku menikah dengannya. Dan dia hanya sekali jatuh cinta, berarti bukan aku. Karena waktu SMA dulu, aku tidak pernah berkenalan dengannya.' Sania merasakan air matanya sudah berkumpul di pelupuk matanya.
"Sama siapa?" Tanyanya lagi dengan suara serak.
"Gadis cantik." Jawab Aris.
"Terus, sekarang Mas masih mencintainya?" Air mata Sania sudah tumpah ruah di pipinya.
"Ya, sampai selama-lamanya."
Sania menutup mulutnya karena tangisnya yang tak bisa lagi ia tahan. 'Kamu jahat Mas, kamu jahat! Kau menikahiku dan bersikap manis padaku, tapi ternyata kau masih mencintai perempuan lain.' Gumamnya dan menarik tangannya.
Karena tarikan tangan Sania yang tiba-tiba membuat Aris terbangun. Ia begitu kaget melihat Sania sedang menangis di depannya.
Segera ia bangun "Sayang, kenapa menangis?" Tanyanya dengan panik.
Sania tidak mau mengatakan apa pun, jadi ia berdiri hendak meninggalkan kamar Aris.
Tapi Aris jauh lebih cepat menarik Sania kedalam pelukannya.
"Sayang, kamu kenapa?" Tanyanya dengan lembut.
"Mas, lepasin aku, aku mau kembali ke kamar!" Kata Sania sambil terisak.
"Tidak, aku tidak akan melepaskanmu sampai kamu mengatakan ke Mas, kenapa kamu menangis di sini." Kata Aris.
"Tidak Mas, aku harus pergi."
"Tapi Mas tidak mau kau pergi."
"Tapi aku mengantuk Mas, aku harus tidur sekarang supaya tidak mempengaruhi kesehatan bayiku." Ucapnya dengan lirih sambil menghapus air matanya yang terus jatuh berderai.
"Ya sudah, kau bisa tidur di sini bersamaku." Aris segera menarik Sania lebih erat ke pelukannya dan mereka tidur di tempat tidur milik aris.
"Mas lepaskan aku, aku tidak terbiasa tidur di sembarang tempat selain di tempat tidurku." Lagi kata Sania sambil berusaha melepaskan diri dari Aris.
"Itu persoalan yang gampang, kalau begitu aku akan menggendongmu ke kamarmu." Kata Aris seraya bangkit berdiri dan menggendong Sania keluar dari kamarnya.
"Mas kumohon turunin aku, aku bisa berjalan sendiri." Seru Sania dengan panik, karena saat ini Aris bisa melihat dengan jelas wajahnya yang memerah dan dipenuhi air mata.
"Jangan banyak bergerak atau aku bisa menjatuhkanmu nanti." Kata Aris seraya membuka pintu dan terus menggendong Sania ke atas lantai 2.
"Sesampainya di kamar Sania, Aris segera menurunkan sania dan menidurkan gadis itu di atas tempat tidur. "Apa kau sudah merasa nyaman sekarang?" Tanya aris seraya menyelimuti Sania.
"Ya, terima kasih." Ucap Sania berbalik memunggungi Aris.
Aris hanya tersenyum dengan kelakuan istrinya sebelum kembali mengangkat selimut yang menutupi sania lalu menyelipkan dirinya ke bawah selimut untuk memeluk sania.
"Mas! Apa yang kau lakukan!" Tanya sania dengan kaget seraya berusaha melepaskan tangan Aris yang melingkar di pinggangnya.
"Jangan banyak bergerak atau kau akan membangunkan sesuatu yang sedang tidur."
Wajah sania segera memerah dan tubuhnya segera menegang tak berani lagi melakukan gerakan, bahkan saking diamnya ia hingga ia lupa bernafas.
semangat terus berkarya 👍
asal usul 2 keluarga yang tengyata memiliki kekuasaan belum dijelaskan
nasib Dokter Sanya juga gaada kelanjutannya