Karena terlilit hutang, Lucia harus rela menjadi pelayan di sebuah mansion dan mengabdikan dirinya pada pria yang menjadi tuannya. Bukan hal mudah untuk Lucia bekerja di sana, tuannya adalah pemimpin klan mafia paling ditakuti di Madrid.
Louis nama pria yang mendapat julukan jaguar hitam. Dengan masa lalunya yang kelam, dia membunuh tanpa kasihan. Hatinya dingin tidak tersentuh, hanya ada kekejaman dalam hidupnya.
Lucia mencoba tidak terlibat apa pun dengan Louis. Sayangnya, malam yang kelam memaksa Lucia menerima semua benih dari Louis. Sampai akhirnya Lucia hamil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alianna Zeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
La Señorita 20 : Mi familia
Vote sebelum membaca😘😘
.
.
“Makan semuanya, Lee, habiskan,” ucap Louis yang mana menarik mata Lucia untuk menatap bagaimana pancaran manik hitam yang begitu hangat untuk putrinya.
Semua impian Louisa menjadi nyata, bayi kecilnya kini tengah duduk di pangkuan Louis, sambil disuapi waffle oleh pria yang sering Louisa tanyakan padanya.
“Makan ini, habiskan semuanya.”
Louisa yang sibuk memainkan rambut boneka itu menggeleng, dia mengadah untuk menatap manik ayahnya. “Lee kenyang, Daddy.”
“Ini bahkan belum setengahnya, buka mulut kecilmu.”
Louisa menutup mulut dengan salah satu tangannya, dia menggeleng dan berucap pelan. “No, Lee kenyang.”
Menyerah membujuk putrinya, Louis menyuapkan waffle dalam garpu untuk dirinya. Dia memotong waffle lain, mengoleskannya pada madu lalu mengarahkan garpu pada Lucia.
Ketika perempuan itu menatap penuh tanya, Louis berkata, “Makanlah, kau belum sarapan dengan benar.”
Melihat Louisa memperhatikannya, Lucia membuka mulut menerima semua suapan yang diberikan Louis. “Jika kita memakannya bersama, ini akan cepat habis, buka mulut kecilmu, Lee,” bujuk Louis belum cepat kalah.
“Tapi Daddy dan Mun juga makan.”
“Deal,” ucap Louis membuat putrinya segera membuka mulut.
Garpu berputar, berawal dari Louisa, Louis dan Lucia hingga semua makanan dalam piring habis. Louisa terlalu sibuk dengan mainan barunya, dia berlari menuju meja teh yang dipenuhi boneka.
“Lee, minum susunya,” ucap Louis yang diabaikan oleh putrinya. “Lee.”
“I’m comming.” Dia lari dengan kaki kecilnya, menerima gelas berisi susu dan menghabiskannya dengan cepat. Setelahnya Louisa kembali berlari menuju boneka, memberi mereka teh dan burger dari plastik.
Lucia yang sedari tadi tertunduk oleh diam akhirnya memberanikan diri menatap Louis, pria itu memandang putrinya dengan mata penuh kehangatan. Senyum di bibirnya mungkin tersembunyi, tapi Lucia tahu jika dia bahagia. Dari prilaku, perkataan dan bahasa tubuh menjelaskan, bagaimana Louis menyayangi Louisa.
“Kenapa kau berbohong padakku?” Tanya Lucia menarik perhatian Louis.
Pria itu terkekeh, seakan tidak percaya dengan kalimat yang keluar dari mulut Lucia. “Berbohong? Kau ingin membicarakan kebohongan, Lucia?”
Perempuan itu menelan ludah kasar tatkala manik hitamnya menatap Lucia tajam.
Louis kembali melanjutkan, “Apa perlu rencana seperti itu agar kau jujur padakku?”
“Kau pria jahat.”
“Kau menganggapku begitu karena kau mencintaiku.”
“Tidak,” elaknya memandang manik hitam itu penuh keberanian. “Aku tidak pernah mencintaimu.”
Tubuh Lucia mundur perlahan saat Louis merangkak, merapatkan tubuh keduanya. “Kau mencintaiku hingga begitu ketakutan akan segala hal.”
“Aku tidak mencintaimu,” ucapnya dengan suara tercekal, berat untuk mengatakan kebohongan lain.
“Rasa cintamu itu membuat Louisa tersiksa.”
“Aku tidak mencintaimu, Señor, semua opini dalam pikiranmu itu salah.”
Punggung Lucia tertahan oleh rak berisi mainan, sementara di depannya Louis semakin merapat. Yang mana membuat dirinya hampir kehilangan opsi selain duduk di pangkuan pria itu, ruangnya begitu terbatas.
“Kau menyakiti anakku.”
“Aku tidak melakukannya, aku melindunginya.”
“Beraninya kau menyembunyikan darah dagingku sendiri.”
Ketika Louis mendengar suara langkah kaki kecil Louisa, pria itu segera menarik tubuhnya menjauh. Membuay Lucia bernapas lega dengan kedatangan Louisa yanh berlari lalu memeluk Louis. “Lihat, Daddy, aku membuat Mrs.Teepot cantik.”
Tangan mungilnya memperlihatkan boneka barbie yang dipenuhi manik-manik di rambutnya. Senyuman lebar di wajah Louisa membuat Louis tidak tahan untuk menciumnya. “Ya, ini begitu cantik sepertimu.”
“Bolehkah Lee membawanya ke taman hiburan?”
Keterdiaman Louis membuat putri kecilnya kembali bertanya, “Kita akan pergi ‘kan, Daddy?”
“Sayang, ada pekerjaan yang harus Daddy selesaikan, kita akan ke taman bermain sore nanti.”
Wajah murung Louisa membuat pria itu tidak tahan untuk menggendongnya, dia menimangnya sesaat. “Sore nanti akan menjadi akhir hari yang indah.”
“Daddy tidak perlu bekerja, Lee tidak butuh uang.”
Kalimat yang membuat Louis tertawa dibuatnya, dan Lucia terpana akan ekspresi yang pertama kali dia lihat, bagaimana dengan jelas ada lesung pipi tersembunyi milik Louis di sana.
“Lali bagaimana kita akan makan?”
“Dengan waffle?”
“Waffle perlu dibeli dengan uang,” ucap Louis dengan suara murung, membuat Louisa mengerucutkan bibir lalu menyandarkan kepalanya di dada Louis.
Anak perempuannya merengek. “Tapi Lee ingin bersama Daddy.”
“Lee, jangan seperti itu.” Akhirnya Lucia buka suara, dia yang sedang duduk merentangkan tangan. “Kemarilah, kita bisa bermain bersama.”
“Tapi Lee ingin Daddy, Lee ingin bersama Daddy.”
Lucia berdiri. “Tapi Daddy harus bekerja, jangan membuatnya marah.”
“Daddy takkan marah, Daddy sayang pada Lee,” elak anak itu dengan mata berkaca-kaca, pelukannya pada leher Louis semakin erat. “Lee ingin bermain bersama Daddy.”
“Lee, dengar,” ucap Lucia memberi pengertian. “Daddy harus bekerja, jika kau seperti ini terus dan membuay Daddy kesal maka dia takkan menyayangimu lagi, apa kau mau itu?”
Kalimat yang seharusnya menjadi pengertian untuk Louisa malah membuatnya menangis keras. Dia memeluk Louis lebih erat seiring isak tangisannya. Hal itu membuat Louis tidak kuasa menahan tawa, dia menimang putrinya. “Ssstttt… jangan menangis, bukankah Lee sudah besar?”
“Mum jahat, Dad,” adunya disela tangis.
Lucia memutar bola mata, ini sifat Louisa yang pertama kali dia lihat.
“C’mon, Little Bunny, jangan menangis.”
Suara tangis itu akhirnya reda, menyisakan isakan yang hanya bisa hilang dengan usapan Louis. “Daddy jangan pergi.”
“Ayolah, kemana anak baik Daddy? Mari kita lihat.” Tangan Louis menghapus bekas air mata Louisa, dia kembali memberi ciuman di pipi yang menyisakan bedak. “Ini dia anak cantik, Daddy.”
“Tidak akan lama, oke?” Tanya Louisa memaksa Louis untuk berjanji.
Pria itu mengangguk, dia mengaitkan kelingkingnya dengan milik Louisa.
“Good girl,” ucapnya memberi ciuman pada Louisa sebelum menurunkannya.
Ketika Louis hendak berjalan keluar, pertanyaan putrinya menghentikan. “Apa Mum tidak baik?”
“Huh?” Tanya Louis memastikan.
“Daddy tidak memberi ciuman pada Mum, apa karena dia tidak baik?”
Tidak ingin memperpanjang masalah ini, Louis berjalan menuju Lucia. Dia menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga sebelum memberikan ciuman di keningnya. Memberikan sebuah sensasi yang tidak pernah Lucia rasakan sebelumnya, seakan ada sengatan listrik di tubuhnya. Memberi kenyataan kalau dicium dikening lebih menyenangkan daripada ciuman di bibir.
“Jaga anak kita,” ucapnya pelan sebelum keluar dari sana.
Hal yang menyadarkan Lucia adalah tarikan tangan, Louisa mengajaknya untuk bermain. Dengan pikiran yang masih tidak bisa lepas dari kalimat terakhir Louis. Anak kita? Bagaimana bisa pria itu berkata seperti itu padanya?
“Apa kau ingin teh, Mum?”
“Ya?” Menatap mata bulat Louisa, begitu cerah hingga membuat Lucia tidak tahan untuk menggendongnya, mendudukannya di pangkuan. “Kenapa kau berbohong?”
Bukannya menjawab, Louisa malah tertawa, merasa kegeliaan ketika Lucia menciumi perutnya. “Daddy yang bilang, dia bilang itu kejutan untuk Mum.”
“Dia bilang begitu?”
“Ya?”
“Beri Mum pelukan, aku merindukanmu.”
Louisa melakukannya, dia memeluk ibunya. Membuat Lucia berdiri dan menimang. Ruang kamar telah berubah menjadi istana layaknya putri dalam dongeng. Lucia tidak tahu kapan ini dibuat, semua yang ada dalam ruangan ini dipenuhi oleh warna pink muda, aksesoris putri dalam dongeng. Hingga ketika Lucia memastikan lemari, di dalamnya terdapat banyak gaun. Dia memilih duduk di kursi yang mirip singgasana. “Bisa kau ceritakan apa yang terjadi antara dirimu dan Daddy?”
“Ya, Daddy datang membawa mainan seperti yang Mum katakan, dia bahkan membawa Lee ke kapal pesiar.”
Lucia menatap putrinya, rambut hitam Louisa tertiup angin membuat wajahnya terhalang. Tangan Lucia menyingkirkan, dia merangkup pipi putrinya yang begitu bulat. “Apa Lee senang?”
“Sangat, Daddy adalah hadiah terbaik di ulang tahun Lee yang ke-empat.”
Manik Lucia berkaca-kaca. “Tentu, dia milikmu.”
***
Sampai sore haripun, Louis belum kembali seperti yang dikatakannya. Membuat Louisa merengek terus menerus menanyakan keberadaan ayahnya. “Mum, kapan Daddy pulang? Dia begitu lama.”
Selama kepergian Louis, Lucia tidak berani membawa Louisa keluar dari kamar. Dia tidak ingin menanggung resiko besar, jika ada beberapa mata yang tidak menyukai dan membenci putrinya, atau lebih buruknya menyebutkan hal-hal aneh padanya. Lucia sudah terbiasa dengan cacian, tapi Louisa tidak berdosa apapun, dia hanya seorang anak yang mengharapkan kedatangan sang ayah.
“Mum, Lee lapar lagi, kapan Lee bisa keluar sana?” Tanya Louisa sambil berjinjit supaya bisa melihat keluar jendela, tangannya menunjuk halaman depan mansion yang luas. Terdapat padang rumput, berbagai bunga juga kolam air mancur. “Mum.”
“Jika Daddy pulang kau bisa melakukan apapun, oke?”
“Maka begitu Lee ingin makan.”
Lucia yang sedang membereskan mainan Louisa menatap putrinya, dia berjalan mendekat dan memberi ciuman di puncak kepalanya. “Baiklah, tunggu sebentar, oke?”
“Lee tidak boleh ikut?”
“Nanti jika Daddy pulang, Mum janji kau bisa mendapatkan apapun.”
“Oke,” gumam bibir kecilnya lalu berjalan menuju kursi kecil, dia duduk diantara boneka besar miliknya. “Lee ingin makan salad tomat.”
“Tunggu sebentar di sini,” ucap Lucia keluar dari kamar, dia menutupnya pelan lalu melangkah menuruni tangga.
Lucia tersentak kaget ketika Andrean menahan tangannya, dia menatap pria tua itu penuh tanya. “Ada apa, Andrean? Aku ingin meminta Naomi membuatkan salad.”
“Apa yang sebenarnya kau lakukan di kamar itu? Apa sesuatu yang menarik terjadi?”
“Ti--tidak ada,” ucap Lucia menahan godaan untuk memberitahu tentang Louisa. Dia ingin Andrean tahu, tapi Louis belum memberitahu bgaimana cara mereka merawat Louisa di sini. Lucia tidak ingin buru-buru menyimpulkan, kali ini dia akan membuat semuanya mengalir bagikan air.
“Kenapa kau di sana terus?”
“Hanya ingin. Oh ya, apa ada seseorang yang memperbaiki kamar itu?”
Andrean mengangguk. “Sore kemarin, Señor Louis pulang dengan kapal pesiarnya, dia membawa barang-barang dari dalam sana.”
“Apa yang kau tahu?”
“Entahlah, barang-barang itu terbungkus kardus, aku pikir itu selundupan. Kau yang berada di sana, tidakkah mendapatkan sesuatu?”
Lucia menggeleng. “Tidak,” ucapnya kemudian menatap ke arah dapur. “Aku akan ke dapur sebentar.”
Untuk saat ini, Lucia mengira Louis masih ingin menyembunyikan Louisa dari orang-orang disekitarnya.
“Hai, Naomi,” sapa Lucia pada wanita berkulit hitam yang sedang membereskan pantry. “Bisakah kau membuatkanku salad tomat?”
“Tentu, Señorita.”
“Tidak, berhenti memanggilku seperti itu.”
Naomi menahan tawanya melihat Lucia yang mulai kesal. “Itu faktanya, kau bersama Señor Louis sekarang, Señorita.”
“Astaga.” Perempuan bermanik biru memutar bola matanya malas. “Itu fakta yang benar-benar mengganggu.”
“Aku lihat kau menempati kamar itu, ada apa di dalam sana? Apa Señor Louis memberimu kejutan di sana?”
“Apa yang kau tahu hingga berpikir begitu?” Lucia memilih duduk di kursi tenpat makan, menatap Naomi yang lihai memotong tomat dengan cepat. Dengan beres dan rapi, dia membuat semangkuk salad tomat.
Naomi yang memakai seragam maid yang dilapisi apron itu mengangkat bahu. “Señor Louis melarang siapapun untuk naik ke lantai dua.”
Hal itu semakin meyakinkan Lucia bahwa Louis masih ingin menyembunyikan keberadaan putri kecilnya.
Melihat seorang maid baru tengah sibuk menata tanaman di halaman depan mansion mengingatkannya pada pekerjaannya dulu, dia selalu berusaha yang terbaik untuk mendapatkan uang lebih dari Louis. Dan kini Lucia mendapatkannya, dengan cara yang sedikit tidak dia sukai. Sekuat apapun dia melawan hasratnya, Lucia akan kalah juga. Louis benar-benar pintar mengendalikan.
“Ini dia salad buahmu, Señorita.”
“Gracias, Naomi.”
“Well, well, kita lihat siapa yang memilih menjadi jalang kecil yang buas.”
Lucia membalikan badan, alangkah terkejutnya dia melihat kedatangan Salma dan Monica. Keduanya memakai pakaian biasa, garis hitam dibawah mata mereka menandakan hari yang lelah untuk keduanya. Namun, mereka menutupinya dengan menatap Lucia geram.
“Kau menjadi pelacur?” Tanya Salma memukul meja dengan mata melotot.
“Sudah cukup, jangan ganggu dia,” ucap Naomi memperingati.
Namun, Monica justru menyiramnya dengan air di meja makan. “Jangan ikut campur, atau kau akan menghadapi amarah Nona Amelia.”
Mendengar nama orang yang selalu menyiksanya membuat tubuh Lucia menegang, dia menatap keduanya bergantian dengan rasa takut. Dan ketakutan itu dirasakan oleh Salma dan Monica.
“Nona Amelia akan keluar dari sel, dia akan memakanmu hidup-hidup.” Salma mendekat, dengan tangan tersilang di dada. “Kau akan mati.”
“Berhenti mengganggunya, pergi ambil barang kalian,” ucap Andrean mendekat.
Monica tertawa melihat keberadaan pria tua yang berdiri di depan Lucia.
“Kau membela jalang ini, Andrean?” Tanya Monica. “Tidakkah kau jijik dengannya?”
“Sebaiknya kalian pergi sebelum Señor Louis kembali.”
Monica mendekat, dia berkata tepat di depan wajah Andrean. “Aku tahu kau mendukungnya sejak awal, kita lihat saja Señorita siapa yang akan mendampingi Señor Louis di akhir perjalanan.”
Salma mengangguk, dia menunjuk Lucia. “Akan aku temukan kelemahanmu, tenang saja.”
Suara derap langkah kuat tidak pernah membuat Lucia selega ini, apalagi ketika manik birunya menangkap sosok bertubuh tinggi dibalut kemeja biru tua sedang mendekat ke arahnya.
Monica dan Salma tahu seseorang itu ada di belakangnya, mereka menelan ludah kasar dan membalikan badan. “Señor,” ucapnya bersamaan dengan wajah menunduk. “Kami akan membawa barang-barang kami.”
Salma segera beranjak pergi ketika tangannya disentuh Monica, mereka berjalan melewati lorong menuju kamar lama.
Lalu Louis menatap Andrean. “Dimana Durina? Bukankah tugasnya mendampingi Lucia?”
“Dia sedang keluar sebentar, ibunya masuk rumah sakit.”
“Aku ingin di---”
“Aku tidak apa,” ucap Lucia memotong ucapan Louis, tangannya menyentuh lengan pria itu. Lalu tatapan mereka beradu. “Seseorang menunggu ini di atas.”
Manik hitamnya menatap Andrean tajam. “Aku tidak ingin ada ganggguan lagi, apalagi di depan matakku.”
“Sí, Señor.”
Kemudian tangan kekarnya menggenggam Lucia, membawanya melangkah ke lantai dua. Dan Monica melihat hal itu, dia meremas botol plastik dalam genggamannya. “Akan aku cari cara untuk menghancurkanmu, Lucia.”
****
Pandangannya tidak teralihkan dari seorang yang memejamkan matanya. Louisa terlihat begitu lucu, dia tertidur sambil bersandar duduk di sebuah rak. Mulut kecilnya terbuka, dalam genggamannya ada sebuah boneka barbie. Dia terlelap ketika asyik dalam dunianya sendiri.
“Dia terus menanyakan dirimu, dia ingin keluar dan melihat halaman depan.”
“Lalu kenapa kau tidak mengajaknya ke sana?”
Lucia terdiam, tidak ada niatan satupun untuk menjawab.
“Dia bisa melakukan apapun yang disukainya,” ucap Louis menggendong putrinya dan menidurkannya di atas ranjang. Dia memberi kecupan di kening sebelum menutupi kakinya dengan selimut.
Pemandangan yang sangat langka, bahkan untuk Lucia sendiri. Tidak pernah terbayang dalam benaknya bagaimana bibir kecil Louisa akan memanggil Louis, bagaimana tangan kecilnya selalu memeluk pria itu penuh kerinduan.
Ketika pria dengan wajah ekspresi datar itu mendekat, Lucia perlahan berjalan mundur. Ketakutan kembali menyengat dirinya, bagaimana dia memandangnya seakan dirinya adalah mangsa empuk untuk diterkam.
Sebelum Lucia membuka mulut hendak protes, Louis lebih dulu menggendongnya di bahu pria itu. Membuat Lucia menjerit kecil menahan ketakutan kepalanya yang terkantuk lantai.
Dan Louis malah memukul pantatnya sebanyak dua kali. “Jangan berisik, anak kita sedang tidur,” ucapnya lalu membawa Lucia keluar dari kamar itu.
Kakinya meronta, dengan tangan memukul-mukul punggung Louis. “Lepaskan aku!”
Tentu saja teriakan Lucia menarik perhatian para pelayan dari lantai bawah. Bagaimana sang majikan mereka membawa Lucia di pundaknya dengan sesekali memukul pantat perempuan itu.
“Turunkan!”
“Diamlah.” Lalu disusul oleh suara pukulan di pantat.
Lucia terkejut ketika dia dijatuhkan di atas kasur, seketika Louis menindihnya seketika. “Apa yang kau lakukan? Lepaskan!”
“Aku harus mendengar penjelasan langsung dari bibirmu, mengapa kau menyembunyikan anakku?”
“Tidak ada yang perlu aku jelaskan, Señor. Aku yakin kau tahu segalanya,” ucap Lucia mencoba mendorong dada pria itu. Tapi nihil, Louis tidak bergerak sedikitpun. Yang ada pria itu malah menahan kedua tangan Lucia di atas kepalanya.
Bibir itu menyeringai. “Aku ingin kau mengatakannya.”
“Kau tahu segalanya.”
“Ya, termasuk perasaanmu.”
“Perasaan apa?” Mata Lucia membulat, dia masih meronta meminta dilepaskan, yang mana malah membuat Louis mencium lehernya yang jenjang. Bahkan kini pergerakan Lucia tertahan seutuhnya, kakinya dijepit oleh Louis. Wajah Lucia memerah, bukan hanya gerah yang dirasakan.
“Kau mencintaiku.”
“Aku tidak mencintaimu,” balasnya dengan cepat. “Lepaskan aku, Señor, bagaimana kalau Louisa masuk?”
“Dia sudah setuju untuk aku buatkan 12 adik perempuan dan 8 laki-laki.”
“Apa?” Mata Lucia membulat. “Kau gila!”
“Dan kau menyukai pria gila ini.”
“Aku tidak pernah sekalipun menyukaimu.”
“Teruslah berkata dusta, Lucia, kau tahu hatimu menjerit kalau dirimu menyukaiku.”
“Tidak.” Lucia menggeleng ketika pria itu mendaratkan ciuman di lehernya. “Louisa ingin ke taman hiburan.”
Perempuan itu merasakan Louis menyeringai dalam ciuman mereka, pria itu berkata, “Kita akan mengunjungi taman hiburan kita lebih dulu.”
“No…” Lucia mencoba menyingkirkan tangan Louis yang menelusup ke dalam gaunnya. “Enyahlah kau!”
Tawa pria itu menggema, segera dia membungkam bibir Lucia dengan ciuman. Membuat perempuan itu kehilangan ruang geraknya. “Louis…,” ucapnya dengan tubuh bergetar.
“Kau menyukainya ‘kan?”
“Aku ingin muntah.”
“Apa?”
Dengan sensasi yang tidak bisa ditahan, Lucia mendorong kuat dada Louis lalu berlari ke kamar mandi, Lucia memuntahkan isi perutnya dengan kuat. Membut pria yang hanya memakai boxer itu mengambil kemeja birunya dan ikut berlari ke kamar mandi untuk menyelimuti tubuh telanjang Lucia.
“Apa yang kau makan?” Tanya pria itu disela kesibukannya yang sedang memijat pundak Lucia. “Ya, begitu, keluarkan semuanya.”
Lucia menekan tombol untuk menyingkirkan muntahan di kloset, dia menutupnua lalu duduk di sana dengan lesu. Bahkan Lucia tidak mempedulikan dirinya yang hanya memakai celana dalam.
Hal itu membuat Louis berjongkok di depannya, pria itu membantu Lucia memakai kemeja kebesaran miliknya sebelum mengancinginya. “Apa masih mual?”
Lucia mengangguk, dia bahkan tidak sadar tangan Louis sedang mengusap rambutnya yang basah oleh keringat, tanpa rasa jijik.
Ketika Louis berdiri, Lucia menyandarkan kepalanya di perut pria itu, dia juga mengalungkan tangannya di pinggang Louis. Membuat pria itu refleks mengusap rambut pirang kecokelatan milik Lucia.
“Ayo kita ke kamar.”
“Aku tidak ingin bercinta,” ucapnya dengan suara berat, seakan menahan gejolak untuk kembali muntah. “Jangan sekarang.”
“All right, kita tidak akan melakukannya.”
Setelah kalimat itu diucapkan, baru Lucia bersedia digendong Louis. Kali ini bukan gendongan yang membuat kepalanya pusing, melainkan gendongan yang sering dilakukan Louisa sebelumnya. Bagaimana Lucia memeluk leher Louis dengan kaki melingkar di pinggang pria itu.
Dengan hati-hati, Louis menidurkan Lucia, membiarkan perempuan itu memeluknya dan memejamkan mata di kala senja. Louis berdecak, bibirnya bergumam, “God, kini aku punya dua bayi.”
Saat mereka dikelilingi kesunyian, Louis mendapatkan telpon. Dengan susah payah, Louis mengambil celananya untuk merogoh ponsel. Kerutan tercetak jelas di keningnya ketika melihat siapa yang menelpon. “Ada apa, Norman?”
‘Tidak sesuai perkiraan, Señor. Nona Amelia akan keluar lebih cepat.’
Kabar itu seakan membawa dampak buruk bagi Lucia yang tengah terlelap, perempuan itu mengigau dalam tidurnya, memperlihatkan ketidaknyamanan dan kekhawatiran. Louis segera mematikan telpon, dia membiarkan Lucia memeluk dirinya erat, yang dia balas dengan ciuman di kening. “Tidak ada lagi yang perlu kau khawatirkan, semuanya akan baik-baik saja sekarang.”
---
Pemimpin kartel Dioses La Asesinos
Love,
ig : @Alzena 2108