Hanan Arsman, Laki-laki baik yang telah menikahiku, membuatku nyaman dan aman, namun hatiku masih mencintai yang lain.
Seorang pria bernama Izqian Abraham.
Ia cinta pertamaku yang telah membuat sejuta kenangan dalam hidupku.
Butuh waktu bertahun-tahun aku melepaskan semua perasaanku padanya, namun gagal. Padahal aku telah terikat dengan sebuah tali pernikahan.
Aku mencintainya dan nyaman bersamamu. Maaf, aku tak bisa menahan hati dari rasa.
Apakah ini yang disebut Karma? Setelah aku berikrar sumpah janji cinta, ujian pernikahanku pun datang...
Bertahun-tahun, Kami berusaha agar memiliki buah hati. Apakah kami akan memilikinya? Ataukah kekandasan pernikahan yang ku dapat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rozh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suntiang
Pernikahan merupakan hari istimewa yang berlangsung sekali seumur hidup. Dan di hari yang sakral ini, setiap pengantin wanita, selalu ingin terlihat cantik dalam balutan busana, mulai dari busana modern, sampai busana adat masing-masing.
Saat menikah, pengantin haruslah mengenakan pakaian Adat, salah satunya seperti pakaian ku yang sekarang. Pakaian adat Minang yang disebut dengan Suntiang. Suntiang ini menjadi mahkota yang mempesona di atas kepala setiap pengantin perempuan minang, biasanya selalu berwarna ke emasan, namun sekarang banyak warna dan coraknya, mulai dari warna silver, pink keemasan, merah keemasan dan lainnya.
Setelah Aku disuapi oleh pria asing berstatus suamiku itu, Kami kembali disibukkan dengan tamu-tamu yang semakin ramai berdatangan. Kami harus menebar senyum demi nama baik keluarga, berdiri dan duduk berulang kali, lalu berselfie.
Aku berdecih beberapa kali dan menghela nafas. Aku benar-benar lelah. “Kenapa sih, harus pakai Suntiang yang berat ini?” sungutku kesal dengan suara pelan, setelah tamu sepi di sekitar pelaminan ku.
“Kau ini bisanya hanya mengeluh saja, Ros!” sahut Paman Pertamaku.
Aku menggerutu dan bergumam-gumam berdongkol.
Nenek datang mendekat bersama Eyang, duduk disampingku, menggenggam erat tanganku.
“Ros...” ucap Nenek menatapku lekat. Aku pun menatapnya juga.
“Pada zaman dahulu, suntiang bisa terdiri sampai 13 tingkat. Semakin beriring nya waktu, pengantin modern kebanyakan memakai untuk tingkatan yang lebih sedikit dengan berat mencapai 1 sampai 5 kg.”
“Lapisan pertama, biasanya suntiang kecil terdiri dari 7 tingkat, yang melambangkan budi pekerti dan sopan santun. Kemudian, untaian bunga melati dibubuhkan, sebagai lambang kedamaian. Setelah itu, biasanya dibagian ini, terdiri dari sarai sarumpun.”
“Suntiang gadang atau besar yang berjumlah ganjil, yang disebut dengan mansi-mansi yang melambangkan kedewasaan dan kebijaksanaan. Di bagian paling atas, barulah di susun deretan kembang goyang.”
“Hiasan di kepala yang disematkan menjuntai di kanan dan kiri, disebut kote-kote. Sedangkan, hiasan kalung yang diletakkan di dahi disebut dengan laca.” tutur Nenek menjelaskan tentang suntiang.
“Berbagai hiasan juga turut mempercantik, dengan diantaranya gelang garobah yang berukuran besar, gelang kareh ameh, serta kalung dan cincin. Secara visual, suntiang memiliki tampilan yang sangat menarik, selain terpancar dari warna dan keberagamaan hiasan yang tertata di dalamnya.”
“Keberagamaan hiasan suntiang tidak saja bertujuan untuk memberikan keindahan dan kecantikan bagi perempuan. Namun terkadang pesan-pesan moral yang ditujukan untuk kedua mempelai dan akan menjadi panutan dalam hidup berumahtangga.” ucapnya lembut masih dengan senyuman hangatnya.
“Setiap suntiang berbeda jenis dan bentuknya, ditentukan berdasarkan asal daerah, memiliki 2 ukuran besar dan kecil. Biasanya suntiang kecil lebih sering dipakai oleh pengiring pengantin. Detail suntiang yang tersusun dari bunga serunai atau kembang yang cantik, disesuaikan juga dengan daerah asal pengantin.” lanjut beliau.
“Biasanya berat suntiang mencapai 6-7 kg. Semua bahan menggunakan emas asli, bahkan besi alumunium yang berat. Ribet, tusuk konde yang ditancapkan satu persatu menggunakan suntiang tidaklah mudah, pengantin harus siap berdiri seharian sambil menahan beban berkilo-kilo diatas kepala.”
“Beratnya suntiang, melambangkan kesiapan dan tanggung jawab perempuan untuk menjadi seorang Bundo kanduang, dan memikul tanggung jawab, sebagai seorang istri dan ibu dari anak-anaknya kelak.” sahut Eyang menimpali.
“Suntiang modern dari bahan aluminium berbentuk bendo setengah lingkaran dan dibuat bertingkat-tingkat sebanyak 5 lapis. Selanjutnya ada kembang goyang dan sederet hiasan lainnya.” lanjut Nenek menjelaskan.
“Jadi, jika kamu keberatan dan letih, bersabarlah, Ros. Karena dibalik beratnya suntiang ada makna, dibalik ribet dan repotnya pernak pernik perhiasan mengandung arti.” ucap Nenek menepuk-nepuk punggung tanganku.
“Bersabarlah, Cucuku Sayang, Ini tak lama, hanya 3 hari namun seumur hidup. Tidak ada lagi suntiang kedua kalinya.” tutur Eyang.
“Kenapa begitu? Kalau menikah lagi, kan bisa pakai suntiang lagi.” jawabku dengan senyum renyah, tak peduli dengan manusia laki-laki yang ada disampingku, tersinggung atau tidaknya.
“Jangan berbicara seperti itu Ros, tidaklah baik. Niatkanlah menikah satu kali seumur hidup, dan jagalah pernikahan itu.” Eyang berkata lembut, namun tatapannya tegas.
“Ros,” panggil Nenek lagi.
“Di Minang, biasanya, wanita hanya bisa memakai suntiang 1 kali. Jadi untuk pernikahan kedua kalinya, Ia tak bisa lagi memakai suntiang. Walaupun Ia tak melakukan pesta dulunya di pernikahan pertama, jika Ia pernah menikah atau janda, Ia tak bisa lagi memakai suntiang.” jelas Nenek.
“Kenapa begitu, Nek?” tanyaku penasaran.
“Begitulah artinya, kesucian sebuah Suntiang. Kecuali perempuan yang sudah menikah itu, menikah dengan laki-laki yang belum pernah menikah, lalu sang laki-laki melakukan pesta. Jadi, perempuan bisa memakai Suntiang di tempat laki-laki, tapi masih tidak bisa di tempat perempuan itu sendiri.” ucap Nenek menjelaskan.
Aku ternganga mendengar penjelasan itu.
“Jika kau hidup di zaman dulu, mungkin akan lebih sulit. Karena Suntiang zaman dulu adalah suntiang yang keramat. Jika seseorang gadis yang tidak lagi perawan memakainya, Ia akan jatuh pingsan dan tidak akan sanggup memakainya.”
“Namun, karena banyak gadis yang tak bisa menjaga kehormatan, dan banyak keluarga yang menanggung malu jika ketahuan putri mereka sudah tidak suci lagi. Mulai sejak itu, suntiang lama di ganti jadi suntiang biasa, jadi bersyukur lah Ros, karena kamu tidak memakai suntiang asli yang berat itu.”
“Apa yang aku cemaskan? Bukankah kata Nenek, suntiang itu terasa berat jika tidak suci? Aku bersumpah atas nama Allah, kalau aku masih sangat suci.” ucapku lantang dan bersemangat.
Nenek dan Eyang tersenyum.
“Iya, Nenek tau. Tapi bukankah tadi kamu protes mengatakan Suntiang ini berat?”
Aku tersenyum kikuk. Benar, aku tadi protes. Namun, sekarang aku merasa beruntung, seperti yang Nenek dan Eyang katakan, karena terlahir pada zaman now, jadi suntiang sekarang lebih ringan dari zaman old.
“Sekarang, kamu harus bersyukur dan bersabar Sayang.” Nenek menggenggam erat tanganku.
Aku mengangguk, gampang sekali aku ditipu oleh Nenek dan Eyang. Kemudian Nenek memasangkan cincin untukku, lalu Eyang memasang kan cincin untuk Suamiku.
“Ini hadiah untuk kalian berdua dari Eyang dan Nenek. Semoga pernikahan kalian Sakinah, mawadah, warahmah.”
“Berbaktilah pada suamimu Hanan, Ros. Belajarlah patuh dan menghormati suamimu kedepannya. Cintai dan sayangi dia sepenuh hati.” ucap Nenek.
“Hanan, Cintai dan sayangi cucu kami dengan segenap jiwa dan ragamu. Bimbing lah dia, dan banyaklah bersabar menghadapinya.” ucap Eyang pada pria yang bersanding disampingku.
Aku mengerutkan keningku saat Eyang berbicara seperti itu, aku tidak sepakat dengan ucapan beliau. Kenapa harus membimbing ku? Kenapa harus bersabar menghadapiku? Memangnya Aku kenapa?
“Iya, tentu Eyang.” sahutnya tersenyum.
“Nenek dan Eyang jangan khawatir ya, Insyaallah. Aku bersedia menikah dengan cucu kalian, begitupula aku telah siap menerima semua kelebihan dan kekurangannya.”
pada saat aku menikah, sudah tidak ada Abak disampingku, sanak..., hiks hiks 😰😰😰
mingkem ngomong Minang nyo apo yo sanak, hehehe 🤭🤭
ondee mande... dunia saleba telapak tangan, he-he-he 😆
singgah di sini kitah ❤️
Al-fatihah untuk Amak dan Abak
kampuang nan jauah di mato
salken author 👍🙏