Setelah patah hati dimanfaatkan teman sendiri, Alana Aisyah Kartika dikejutkan dengan tawaran yang datang dari presdir tempatnya bekerja, Hawari. Pria itu menawari Lana menikah dengan anak satu-satunya, Alfian Abdul Razman yang lumpuh akibat kecelakaan. Masalahnya, Fian yang tampan itu sudah menikah dengan Lynda La Lune yang lebih memilih sibuk berkarier sebagai model internasional ketimbang mengurus suaminya.
Hawari menawari Lana nikah kontrak selama 1 tahun dengan imbalan uang 1 milyar agar bisa mengurus Fian. Fian awalnya menolak, tapi ketika mengetahui istrinya selingkuh, pria itu menjadikan Lana sebagai alat balas dendam. Lana pun terpaksa menikah karena selain takut kehilangan pekerjaan, adiknya butuh biaya untuk kuliah.
Namun, kenyataan lain datang menghadang. Fian ternyata bukan anak kandung Hawari melainkan anak seorang mafia Itali yang menghilang sejak bayi.
Mampukah Lana bertahan dengan pria galak, angkuh, dan selalu otoriter ini? Lalu, bagaimana nasib mereka ketika kelu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Liburan
Fian menyentuh dahi Lana dengan lembut dengan jari telunjuk sambil mengusapnya pelan. Ketika mata pemilik dahi terbuka, ia malah menyentilnya.
"Awhh!" Lana menyentuh dahi yang memerah dan melirik sang suami dengan mulut merengut. Ia yang terganggu tidurnya, malah disentil ketika bangun.
"Sudah tahu anak itu butuh seorang ayah, beraninya kamu memisahkan aku dengan dia!" ucap Fian tegas.
Lana tertegun. Ia tak mengira suaminya akan berucap seperti itu.
Pria itu lalu meraih tangan sang istri. "Sudah ... jalani saja peranmu sebagai istri, apa susahnya sih?" keluhnya.
"Tapi aku tidak mau mengambil suami orang ...." Lana merengek sambil merengut.
"Kamu harus bertanggung jawab dengan pilihanmu. Begitu juga aku. Aku akan membesarkan anak ini." Fian menatap istrinya.
Lana masih tampak tidak senang, tapi entah kenapa hatinya lebih ringan. Mungkin ia merasa punya tempat bersandar. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Eh, sekarang jam berapa?" Matanya membola.
"Sudah lewat Ashar. Apa kamu mau solat?"
Lana menutup mulutnya sambil terduduk. "Astaga ... aku juga belum solat zuhur."
"Ya sudah, sekalian. Tayamum saja, karena tadi kata dokter istirahat di tempat tidur saja."
Lana memegang perutnya. "Tapi aku lapar."
"Ya sudah, nanti aku belikan. Mau apa? Tapi solat dulu."
"Aku mau sate ayam tapi gak pake lontong."
"Ok." Fian beranjak berdiri dan mengusap pucuk kepala istrinya dengan lembut. "Lain kali kalau ada masalah apa, bilang. Jangan main ngambek dan pergi sendiri seperti itu. Kamu pikir aku tukang sulap yang tau pikiranmu?"
Lana terkejut. Pria ini kini tampak lebih perhatian dari biasanya. Lana cuma bisa mengangguk.
Tak lama, Fian kembali dan membawa dua bungkus sate ayam dan air mineral. Keduanya kemudian makan bersama.
Tiba-tiba ponsel Fian berdering. Pria itu melirik dan kemudian mengangkatnya. "Halo."
"Mas, kamu di mana? Kok rumah sepi?" sahut suara wanita di ujung sana.
"Oh, aku dan Lana memutuskan untuk liburan ke Bali. Kamu jaga rumah ya. Bukankah kamu baru pulang dari Paris? Pasti capek. Istirahat yang banyak. Nanti beberapa hari lagi kami pulang." Kemudian tanpa menunggu jawaban, Fian memutuskan sambungan telepon. Ia melirik Lana yang menatapnya dengan tercengang. "Seneng 'kan aku temenin? Udah, jangan ngambek lagi."
Lana mengerut dahi. "Ih, siapa yang seneng? Selalu saja memutuskan apa yang terbaik untuk orang lain tanpa bertanya," gumamnya. Namun, diam-diam mulutnya tersenyum manis walau berusaha disembunyikan.
Fian yang tahu istrinya senang, mencubit batang hidung Lana dengan gemas. "Mmhh ...!"
Lana merengut sambil mengaduk-aduk sate di tangan dengan tertunduk malu. Fian bahkan menyeka sudut bibir Lana yang terkena kuah kacang dengan tisu. Itu pun makin membuat wajah wanita itu bersemu merah.
Sementara di Jakarta, Lynda tengah mengamuk sendirian sambil menghentak-hentakkan sepatunya ke lantai. "Brenggsek! Perempuan brenggsek! Bisa-bisanya pelakor itu berusaha menguasai Mas Fian! Awas saja, orang kampung itu takkan menang! Lihat saja nanti ...." Ia mengangkat dagunya dengan angkuh sambil mengibaskan rambutnya ke samping. "Yang paling lamalah yang akan menang!"
***
Fian menemani Lana di rumah sakit. Bahkan tidur bersama di brankar sambil memeluk istrinya saat malam tiba.
"Mas, gak boleh begini lho, di ranjang rumah sakit. Ini hanya untuk ...."
Tiba-tiba pria itu mengeccup bibir istrinya. Lana terperangah.
"Tidur saja. Aku lagi senang karena kamu hamil. Rasanya aku ingin memeluk bayi itu juga."
Lana terharu mendengarnya. Matanya sampai berkaca-kaca.
"Nangis lagi ... jangan dong! Kan ada aku di sini? Peluk saja kalau kamu sedih."
Lana segera memeluknya. Ia merebahkan kepala dan merasa aman.
"Bagus. Lain kali seperti ini saja kalau tidak bisa bicara." Fian tahu sang istri bukan tipe wanita yang mudah bicara.
Lana tersenyum walau tak terlihat oleh suaminya. Namun, Fian yakin istrinya menyukai pernyataannya karena pelukannya yang makin erat. Ia memeluk balik istrinya dengan hangat.
***
"Kamu masih susah sarapan?" Fian tampak khawatir. "Padahal hari ini kamu bisa pulang."
"Sebenarnya ...." Lana menatap suaminya ragu.
"Apa? Bilang saja."
"Tapi jangan di-bully ya."
"Enggak. Apa?" Dahi pria itu berkerut. Ia penasaran dengan keinginan istrinya.
"Aku ingin makan rujak."
"Apa?"
"Iya, aku ingin sarapan rujak. Rujak Bali."
"Memangnya ada rujak Bali?"
"Maksudku rujak jeruk Bali."
"Oh, rujak jeruk Bali. Eh, tapi ... memang ada ya rujak jeruk Bali?"
"Ada. Aku pernah makan."
"Ya sudah, kita suruh orang untuk mencarinya." Fian malah menekan bel emergency di dinding.
Lana terkejut dibuatnya. "Eh, tapi, Mas ...."
Fian mengangkat telapak tangannya. "Tenang ...." Wajahnya begitu meyakinkan.
"Iya, ada apa?" Terdengar suara wanita yang menjawab panggilan.
"Eh, apa suster tahu tempat yang menjual rujak jeruk Bali?"
Terdengar riuh orang bicara karena ucapan Fian barusan, tapi sepertinya pria ini tak peduli. "Oh, itu jarang ada, Pak."
"Bisakah suster membelikannya untuk istri Saya?"
Kembali terdengar ramai dalam suara emergency itu.
Wajah Lana sudah merah padam tapi suaminya begitu percaya diri.
"Eh, maaf, Pak. Tidak bisa. Pekerjaan kami ...."
"Saya akan bayar satu juta untuk siapa saja yang bisa membelikannya sekarang juga," potong Fian.
Lana melongo. Terdengar suara berisik dari suara mikropon.
"Ok, Pak. Akan kami carikan untuk Bapak," sahut suara dari orang yang berbeda.
Fian tersenyum tipis dan melihat istrinya masih diliputi dengan wajah keheranan. Ia mengusap kepala istrinya dan kemudian mengeccup kening. "Sabar ya. Sarapannya on the way."
Lana tersenyum sambil mengangguk.
***
"Gimana, bagus 'kan?" Dia menoleh pada istrinya.
Lana mengangguk. Dilihatnya pemandangan indah di sekeliling. Air laut begitu tenang dan mereka sekarang berada di sebuah kapal kecil di tengah laut. Beberapa wisatawan yang duduk di belakang mereka sibuk berswafoto dengan latar laut yang tenang.
Fian menarik tubuh istrinya dari samping agar merapat padanya, membuat Lana bersandar pada bahu lebar pria itu. Angin yang bertiup pelan makin membuat keduanya terlena.
"Setelah ini, kamu mau ke mana?"
***
Makan malam di pinggir pantai terasa istimewa, apalagi dibawa oleh suami sendiri, Fian. "Mas kok bisa kepikiran makan malam di sini?"
Deburan ombak terdengar bersama angin yang berhembus hingga menerbangkan kerudung Lana beberapa kali. Lana terpaksa mengikat kerudungnya ke belakang agar tak terangkat ke atas.
Fian melipat tangan di dadda dan bersandar ke belakang. "Hebat 'kan aku, bisa memikirkan makan malam romantis seperti ini."
Lana menunduk dan tersenyum malu, walau pikirannya berbeda. "Ih, sombong banget sih. Bisa gak sih rendah hati sedikit saja, biar aku bisa memuji. Tapi rasanya tak mungkin kalo orang itu adalah Mas Fian. Sudah tidak banyak marah lagi saja, aku sudah sangat bersyukur." "Sayang aku tidak punya pakaian yang cocok untuk acara begini." Lana memperhatikan pakaiannya yang hanya mengenakan blus tangan panjang dan celana panjang katun berwarna coklat muda.
"Justru itu ...." Fian berdiri dan membuka jaketnya, lalu dipasangkan ke bahu istrinya. "Angin laut cukup kencang. Jadi sebaiknya kita kembali ke bungalow. Nanti kamu sakit." Pria itu meraih tubuh istrinya dan memeluknya dari samping.
Lana berdiri dan mengikuti suaminya.
"Bagaimana kalau kita pulang saja ke Jakarta? Liburannya sudah, 'kan? Lebih baik lagi kalau kamu beristirahat di rumah saja. Bagaimana?"
Lana menoleh. "Terserah Mas aja."
"Bagus! Jadi aku bisa pesan tiket pesawat segera."
Bersambung ....
mau pakai baju terruutp