NovelToon NovelToon
MARRIAGE FOR HEIR

MARRIAGE FOR HEIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Poligami / Keluarga / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Pernikahan Liana dan Abi hanyalah kesepakatan pahit di atas kertas untuk menyambung keturunan.
Liana terjepit di antara rasa hormat kepada Genata dan status barunya sebagai istri kedua. Namun, seiring berjalannya waktu, batas antara "paman" dan "suami" mulai mengabur. Abi terjebak dalam dilema besar saat ia menyadari bahwa Liana bukan sekadar pelanjut nasab, melainkan pemilik kunci hatinya yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Angela menyingsingkan lengan bajunya dan segera menuju ke dapur yang modern namun terasa hangat itu.

Ia ingin memastikan bahwa malam pertama Liana di rumah baru ini tidak hanya tenang secara batin, tetapi juga terpenuhi secara fisik.

Di atas meja makan kayu yang cantik, Angela mulai menata masakannya.

Ia sengaja memasak menu-menu yang ringan dan bergizi: sup ayam bening dengan sayuran segar, ikan tim yang lembut, dan tentu saja sisa Panada dari Mama Prameswari tadi siang yang kembali ia hangatkan.

"Makan malam siap!" seru Angela dengan nada ceria, mencoba memecah keheningan rumah yang masih terasa asing itu.

Mama Prameswari membantu Liana duduk di kursi makan, sementara Abi duduk agak menjauh, menjaga jarak agar Liana tidak merasa tertekan.

Meski suasana masih terasa sedikit kaku, kehadiran Angela yang cerewet dan cekatan sangat membantu mencairkan suasana.

"Li, kamu harus coba sup ini. Aku pakai resep rahasia dari Mamamu tadi," ujar Angela sambil meletakkan mangkuk di depan Liana.

Liana melihat meja makan yang tertata rapi. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa berada di sebuah "rumah", bukan sekadar bangunan.

Ia menatap Angela dan Mama secara bergantian, lalu pandangannya sekilas jatuh pada Abi yang hanya menatapnya dengan senyum tipis dari ujung meja.

"Ayo dimakan, Sayang," desak Mama Prameswari lembut.

Liana mulai menyuap makanannya. Keheningan malam itu terasa berbeda, bukan hening yang mencekam seperti di rumah sakit, melainkan hening yang mulai dipenuhi dengan harapan-harapan kecil.

Abi hanya diam memperhatikan, merasa bersyukur bisa melihat Liana makan dengan tenang di bawah cahaya lampu ruang makan yang hangat, meskipun ia tahu perjalanan untuk dimaafkan masih sangat jauh.

Setelah makan malam selesai, suasana rumah kembali menjadi sunyi, namun kali ini terasa lebih tenang.

Mama Prameswari dan Angela mulai merapikan barang-barang mereka untuk berpamitan.

Mama Prameswari menghampiri Liana, mengusap bahu putrinya dengan lembut seolah berat untuk melepaskannya.

"Mama pulang dulu ya, Sayang. Ingat, kalau ada apa-apa, langsung telepon Mama. Jangan disimpan sendiri."

Mama kemudian menunjuk ke arah dapur. "Sisa Panada tadi sudah Mama taruh di kulkas. Mas Abi sudah tahu cara menyalakannya, kalau kamu mau ngemil lagi, tinggal minta Mas Abi memanasinya sebentar di microwave ya."

Liana menganggukkan kepalanya pelan. "Iya, Ma. Terima kasih."

Angela memeluk Liana sekali lagi, membisikkan kata-kata penyemangat di telinganya sebelum akhirnya melangkah keluar bersama Mama Prameswari.

Mobil mereka perlahan meninggalkan halaman, meninggalkan keheningan yang cukup canggung di antara Abi dan Liana.

Kini, hanya ada mereka berdua di rumah besar yang masih berbau cat baru itu.

Abi berdeham kecil, mencoba memecah keheningan tanpa mengejutkan Liana.

"Li, kamu mau langsung istirahat? Mas akan bantu antarkan ke pintu kamar, setelah itu Mas akan langsung ke kamar atas."

Liana menatap koridor menuju kamarnya. Ia merasa sedikit asing berada di rumah ini hanya berdua dengan pria yang menjadi pusat dari segala luka dan perlindungannya.

"Mas," panggil Liana sebelum ia melangkah.

Abi langsung berhenti. "Iya, Li?"

"Terima kasih untuk rumah ini. Terima kasih karena tidak membawaku kembali ke sana." Liana tidak menatap Abi saat mengatakannya, suaranya datar namun tulus.

Abi merasakan dadanya sesak oleh rasa haru.

"Sama-sama, Li. Apapun untuk kenyamananmu."

Liana berjalan pelan menuju kamarnya sendiri. Sesampainya di depan pintu, ia menoleh sebentar melihat Abi yang masih berdiri di ruang tengah, memastikan istrinya sampai dengan aman.

Liana lalu masuk dan menutup pintu kamarnya, mengunci diri dalam dunianya sendiri yang kini setidaknya terasa lebih aman.

Abi menghela napas panjang. Ia mematikan lampu ruang tamu, menyisakan lampu kecil di koridor agar Liana tidak gelap jika harus keluar kamar.

Dengan langkah berat namun penuh syukur, ia menaiki tangga menuju kamar di lantai dua, menghormati janjinya untuk memberikan ruang bagi Liana.

Hampir tengah malam, Liana belum bisa tidur juga

Liana keluar dari kamarnya dengan langkah yang sangat pelan, berusaha tidak menimbulkan suara di atas lantai yang masih terasa asing baginya.

Perutnya terasa perih, mungkin karena pengaruh obat dan vitamin yang mulai bekerja.

Mengingat Panada di dalam kulkas, ia memberanikan diri menuju dapur yang hanya diterangi lampu remang-remang.

Namun, saat ia baru saja membuka pintu kulkas, sebuah suara berat yang familiar terdengar dari arah meja makan.

"Li?"

Liana tersentak dan hampir menjatuhkan wadah makanan itu.

Ia menoleh dan mendapati Abi sudah berdiri di sana.

Ternyata, Abi tidak benar-benar tidur di kamar atas; ia duduk di kegelapan ruang makan, berjaga-jaga jika Liana membutuhkannya.

"Kenapa nggak bangunkan aku?" tanya Abi lembut sambil berjalan mendekat.

Ia segera mengambil alih wadah Panada dari tangan Liana yang dingin.

Liana terdiam sejenak, wajahnya tertunduk. "Aku tidak mau mengganggumu. Kamu sudah lelah seharian."

Abi menghela napas pendek, ada raut penyesalan sekaligus perhatian di matanya.

"Tugas Mas adalah menjagamu dan anak kita, Li. Menunggu kamu butuh sesuatu bukan gangguan bagi Mas. Lain kali, panggil saja, ya? Mas akan selalu bangun."

Abi kemudian menyalakan lampu dapur, membuat suasana menjadi lebih terang dan hangat. Ia mulai memanaskan microwave dan menyiapkan segelas susu hamil untuk Liana.

"Duduklah," pinta Abi sambil menarikkan kursi untuk istrinya.

Liana menurut, ia duduk di sana sambil memperhatikan punggung Abi yang sibuk di dapur.

Untuk sesaat, suasana ini terasa seperti pernikahan yang normal dan bahagia, andai saja ingatan tentang masa lalu tidak terus membayangi pikiran Liana.

"Ini, makanlah selagi hangat," ucap Abi sambil meletakkan sepiring Panada dan susu di depan Liana.

Ia tidak duduk tepat di hadapan Liana, melainkan di kursi yang agak jauh, tetap menjaga jarak aman agar Liana tidak merasa terintimidasi.

Liana menyesap susu hangatnya perlahan, uapnya mengenai wajahnya yang pucat.

Ia mengambil sepotong panada yang masih mengepul, lalu menatapnya dengan pandangan menerawang.

"Rasanya sama persis," bisik Liana tiba-tiba.

Abi yang sedang merapikan meja dapur berhenti bergerak. Ia menoleh, memberikan perhatian penuh pada suara istrinya yang terdengar lebih lunak malam ini.

"Sama dengan apa, Li?"

"Sama dengan panada yang kita makan di pinggir pantai dulu," Liana menarik napas panjang, sebuah senyum tipis yang sangat langka muncul di sudut bibirnya.

"Waktu itu aku baru kelas lima SD. Kamu menjemputku dari sekolah tanpa memberi tahu Mama, lalu kita pergi melihat matahari terbenam. Itu pertama kalinya aku merasa sangat bebas."

Abi terpaku. Ingatan itu menghantamnya seperti ombak.

"Mas ingat. Mas membelikanmu dua kotak karena kamu bilang satu tidak cukup. Kamu menghabiskannya sambil bercerita tentang cita-citamu ingin jadi pelukis."

Liana mengangguk pelan, jemarinya memutar-mutar potongan kue itu.

"Dulu, kamu adalah pahlawanku, Mas. Orang yang selalu tahu cara membuatku berhenti menangis. Setiap kali ada masalah di sekolah, aku cuma mau pulang karena tahu kamu akan datang membawa makanan enak."

Liana terdiam sejenak, matanya mulai berkaca-kaca lagi.

"Kenapa pahlawanku harus berubah jadi orang yang paling menyakitiku? Kenapa orang yang mengajariku tentang rasa aman, malah jadi orang yang membuatku merasa paling tidak aman?"

Pertanyaan itu menghujam jantung Abi. Kehangatan nostalgia tadi seketika menguap, digantikan oleh kenyataan pahit yang menyesakkan dada.

Abi berjalan perlahan, lalu berlutut di lantai, cukup jauh dari kursi Liana agar ia tidak merasa terancam, namun cukup dekat untuk menunjukkan kesungguhannya.

"Mas tersesat, Li. Mas dibutakan oleh ego dan rasa bersalah yang salah sasaran," suara Abi bergetar hebat.

"Mas menghancurkan kepercayaan anak kecil yang dulu memegang baju Mas. Kalau saja Mas bisa memutar waktu, Mas lebih baik kehilangan nyawa daripada harus melihatmu mencoba mengakhiri hidup karena perbuatan Mas."

Liana menyuapkan potongan terakhir panadanya dengan tangan yang sedikit gemetar.

"Aku rindu Mas Abi yang dulu. Mas Abi yang hanya tahu cara melindungiku, bukan menghancurkanku."

Malam itu, di dapur rumah baru mereka, ada sebuah jembatan yang mulai terbangun kembali, meski dasarnya masih sangat rapuh dan penuh retakan.

Air mata Liana tumpah semakin deras, rasa sesak karena mengenang masa lalu membuat dadanya terasa sesak.

Ia bangkit dari kursi dengan terburu-buru, ingin segera lari dari tatapan penuh penyesalan Abi yang membuatnya semakin bimbang. Namun, karena kondisi tubuhnya yang belum sepenuhnya pulih dan penglihatannya yang kabur oleh air mata, ujung kakinya tersandung kaki meja.

"Aah!" Liana memekik kecil, tubuhnya limbung ke depan.

Dengan refleks yang sangat cepat, Abi melompat dari posisi berlututnya.

Ia menangkap pinggang Liana sebelum perut istrinya menghantam lantai.

Tak ingin mengambil risiko, Abi langsung menyelipkan satu lengannya di bawah lutut Liana dan membopong tubuh kurus itu ke dalam pelukannya.

"Lepaskan aku, Mas! Lepaskan!" ronta Liana lemah.

Ia memukul dada Abi dengan tangan gemetar, namun tenaganya sama sekali tidak berarti.

"Diamlah sebentar, Li. Kamu masih sangat lemas," bisik Abi dengan nada tegas namun penuh kekhawatiran.

Ia tidak memedulikan penolakan itu karena ia bisa merasakan betapa dingin dan bergetarnya tubuh Liana.

Abi membawa Liana masuk ke dalam kamar bawah.

Ia merebahkan istrinya dengan sangat hati-hati di atas ranjang yang empuk.

Liana segera memalingkan wajah ke bantal, menyembunyikan isak tangisnya yang kembali pecah.

"Mas tidak bermaksud melanggar janji untuk tidak menyentuhmu, tapi Mas tidak bisa membiarkanmu jatuh dan membahayakan nyawamu juga bayi kita," ujar Abi sambil menarik selimut hingga ke dada Liana.

Liana masih terisak, namun ia tidak lagi memberontak.

Kehangatan dekapan Abi tadi sempat membuatnya merasa aman untuk sesaat, namun logika dan lukanya kembali berteriak menolak rasa itu.

"Tidurlah. Mas akan taruh segelas air di meja samping tempat tidurmu. Mas kembali ke luar," kata Abi pelan.

Ia berdiri sejenak di samping ranjang, menatap pilu punggung istrinya sebelum akhirnya melangkah keluar dan menutup pintu kamar dengan sangat pelan.

Suasana kamar kembali hening setelah pintu tertutup rapat.

Liana meringkuk di bawah selimut, memejamkan matanya erat-ragu mencoba mengusir bayangan-bayangan pahit yang terus berputar di kepalanya.

Meskipun hatinya masih dipenuhi duri, ia tidak bisa menampik bahwa aroma tubuh Abi yang tertinggal di indra penciumannya memberikan sedikit rasa tenang yang sudah lama ia rindukan.

Di luar kamar, Abi tidak sanggup untuk naik ke lantai dua.

Kejadian Liana yang hampir terjatuh tadi membuatnya sadar betapa rapuhnya kondisi istrinya saat ini.

Ia tidak akan bisa tidur tenang jika berada di lantai atas sementara Liana berada di bawah sendirian.

Abi akhirnya mengambil bantal dan selimut tambahan dari lemari penyimpanan.

Ia merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang terletak di ruang tengah, tepat beberapa meter dari pintu kamar Liana.

"Mas di sini, Li. Tepat di balik pintu ini," gumam Abi dalam hati.

Malam itu, meskipun mereka terpisah oleh dinding kayu, keberadaan satu sama lain terasa begitu nyata.

Abi menatap langit-langit ruangan, berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi penjaga yang tidak akan pernah tertidur lagi bagi kebahagiaan Liana.

Beberapa jam berlalu dalam kesunyian, hingga perlahan napas Liana menjadi teratur pertanda ia mulai terlelap.

Abi yang mendengar kesunyian dari dalam kamar pun akhirnya bisa memejamkan mata, meski tidurnya tetap tidak nyenyak karena telinganya terus waspada terhadap suara sekecil apa pun dari arah kamar istrinya.

1
Sasikarin Sasikarin
di bolak balik belum juga tayang /Shy/
Sasikarin Sasikarin
lanjuttttt... 🤭
Sasikarin Sasikarin
💪 othor tuk berkarya 🙏
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
lg lg banjir /Sob/
Sasikarin Sasikarin
good job author bikin novelnya mewek mulu. 🤭
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
hi hi... lanjut si thor tambah seru si ceritanya
Sasikarin Sasikarin
hihi.... lanjut si thor tambah seru alna? 😁
Sasikarin Sasikarin
aduh thor napa g minghat dulu liana nya. nyesek aq baca nya.. lanjutttttty 🙏
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt 💪
اختی وحی
jngn balik lu biarin abi stres
Sasikarin Sasikarin
💪 othor makin penasaran nasib si paman
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt t seru nih
my name is pho: sudah kak.
selamat membaca 🥰
total 4 replies
my name is pho
sabar kak
Sasikarin Sasikarin
lanjuttt
my name is pho: siap kak
besok lagi
total 1 replies
اختی وحی
kok sepi ya pdhl ceritanya bagus
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt thor please... banjir air mata nih
Sasikarin Sasikarin
sukaaaa ceritanya, buat mewek dan meresap kata2nya, sumpah nie cerita buat mengaduk emosi pembaca .💪
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
اختی وحی
makin seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!