NovelToon NovelToon
ANAK TIRI YANG TERLUPAKAN

ANAK TIRI YANG TERLUPAKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Sejak ibunya meninggal, hidup Bima berubah menjadi neraka setelah ayahnya membawa istri baru dan anak tirinya yang egois, membuatnya diperlakukan seperti pesuruh dan orang asing di rumahnya sendiri.
Puncaknya, ia difitnah mencuri barang berharga dan diusir begitu saja tanpa ampun, membawa luka hati yang mendalam serta sebuah kotak peninggalan misterius dari mendiang ibunya.
Tak disangka, kotak rahasia itu menjadi kunci bagi Bima untuk bangkit dari titik terendah, bermetamorfosis menjadi sosok sukses dan berpengaruh besar yang siap membuat keluarga pembuangnya bertekuk lutut memohon pengampunan.

Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

Malam hari datang membawa angin dingin yang menusuk tulang di sudut kota.

​Suasana di bawah kolong jembatan beton besar tampak sangat kumuh dan berbau lembab.

​Tiga sosok manusia tampak meringkuk kedinginan beralaskan kardus bekas tipis.

​Mereka adalah Hendra, Rina, dan Kevin yang kini resmi menjadi gelandangan kota.

​"Dingin sekali..." rintih Rina memeluk kedua bahunya sendiri yang bergetar hebat.

​"Diam kamu, Rina! Jangan bikin aku tambah pusing!" bentak Hendra dengan suara parau.

​Kevin berbaring di sebelah mereka sambil memegang perutnya yang terus berbunyi kelaparan.

​"Aku mau makan daging, Pa... aku tidak mau tidur di tempat jorok seperti ini!" rengek Kevin keras.

​"Uang seratus perak pun kita tidak punya, mau beli makan pakai apa, bodoh!" balas Hendra emosi.

​Keluarga toksik itu terus saling menyalahkan di tengah gelapnya malam yang sunyi.

​Tidak ada lagi kemewahan, mobil sport, atau perhiasan mahal yang bisa mereka pamerkan.

​Semua fasilitas mewah itu kini tinggal kenangan pahit yang menyiksa batin mereka setiap detik.

​"Semua ini salah Bima!" geram Kevin dengan mata penuh dendam kesumat.

​"Iya, anak sial itu sengaja menghancurkan kita semua!" timpal Rina ikut menangis tersedu-sedu.

​Hendra hanya bisa terdiam bisu menatap langit-langit jembatan beton yang dipenuhi coretan cat semprot.

​Bayangan wajah dingin Bima saat di ruang rapat dewan komisaris terus berputar-putar di kepalanya.

​"Aku benar-benar menyesal telah membuangnya..." batin Hendra lirih penuh kepahitan yang terlambat.

​Namun penyesalan di titik terendah itu sama sekali tidak mengubah kenyataan pahit hidup mereka.

​Sementara itu, di lantai atas gedung pencakar langit pusat kota, suasananya sangat kontras.

​Bima berdiri di balik jendela kaca besar ruang kerjanya yang sangat luas dan mewah.

​Ia memegang segelas anggur merah mahal sambil menatap lampu-lampu kota yang berkilauan indah.

​"Hidup memang berputar sangat cepat," ucap Bima pelan dalam hati menikmati kemenangannya.

​Pintu ruang kerjanya diketuk tiga kali dengan sangat sopan dari luar.

​Tok, tok, tok.

​"Masuk," seru Bima dengan suara tenang tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela.

​Rian dan Pak Hartawan melangkah masuk secara bersamaan ke dalam ruangan megah itu.

​"Selamat malam, Tuan Bima," sapa Pak Hartawan hormat sambil membungkuk sedikit.

​"Malam, Pak Hartawan, silakan duduk di sofa," balas Bima berbalik badan dan tersenyum ramah.

​Mereka berdua duduk di sofa kulit hitam yang sangat empuk di sudut ruangan.

​"Laporan ekspansi perusahaan kita ke pasar internasional sudah siap, Tuan Bima," lapor Rian membuka tabletnya.

​Bima berjalan mendekati sofa dan ikut mendudukkan dirinya di hadapan mereka berdua.

​"Bagaimana hasil analisis pasar untuk proyek logistik baru kita di luar negeri?" tanya Bima serius.

​"Sangat luar biasa, Tuan, saham kita melonjak naik tiga puluh persen dalam minggu ini saja," jawab Rian antusias.

​Pak Hartawan mengangguk setuju dengan senyum lebar menghiasi wajah tua berpengalaman itu.

​"Kamu benar-benar pemimpin muda yang luar biasa brilian, Bima," puji Pak Hartawan tulus.

​"Ini semua berkat dukungan penuh dari Anda dan kerja keras tim di lapangan, Pak," balas Bima merendah.

​"Restrukturisasi internal perusahaan juga sudah selesai seratus persen tanpa ada kendala," tambah Pak Hartawan meyakinkan.

​"Bagus, pastikan tidak ada lagi tikus-tikus korup yang tersisa di dalam sistem kita," perintah Bima tegas.

​"Siap, Tuan Bima, kami akan mengawasi setiap divisi dengan sangat ketat," jawab Rian profesional.

​Bima mengambil cangkir kopi hangat yang disiapkan sekretaris di atas meja kaca.

​"Bagaimana kabar keluarga mantan direktur utama di luar sana?" tanya Bima sengaja memancing obrolan.

​Pak Hartawan tersenyum sinis mendengar pertanyaan tentang nasib keluarga Hendra tersebut.

​"Mereka sekarang tinggal di bawah kolong jembatan utara kota sebagai gelandangan," jawab Pak Hartawan puas.

​"Bahkan mereka sering diusir warga sekitar karena kerap membuat keributan dan mengemis," tambah Rian menjelaskan.

​Bima mendengarkan laporan itu dengan ekspresi wajah yang tetap datar tanpa rasa kasihan sedikit pun.

​"Itu adalah balasan yang sangat setimpal untuk orang-orang yang gemar menindas orang lemah," ucap Bima dingin.

​"Apakah Anda punya rencana lanjutan untuk mereka, Tuan Bima?" selidik Pak Hartawan penasaran.

​"Tidak ada, biarkan mereka merasakan kehidupan keras di jalanan sampai akhir hayat mereka," jawab Bima mutlak.

​Rian mengangguk paham dan menutup tablet di pangkuannya dengan rapi.

​"Kalau begitu, kami mohon pamit undur diri untuk melanjutkan pekerjaan di kantor bawah," kata Rian berdiri.

​"Silakan, terima kasih atas kerja keras kalian hari ini," ucap Bima mengantar mereka sampai depan pintu.

​Krek...

Pintu ruang kerja tertutup rapat kembali setelah Rian dan Pak Hartawan keluar.

​Bima kembali duduk di kursi kebesarannya dan membuka laci meja kerja bagian dalam.

​Ia mengeluarkan sebuah kotak kayu tua peninggalan mendiang ibunya yang selalu ia bawa ke mana-mana.

​Bima membuka tutup kotak kayu itu perlahan dan menatap isi di dalamnya dengan penuh kasih sayang.

​"Ibu, lihatlah... aku berhasil merebut semuanya kembali dan membuat mereka membayar air matamu," batin Bima lirih.

​Kotak kayu itu kini berdampingan dengan kunci kesuksesan besar yang ia raih di dunia bisnis modern.

​Tidak ada lagi rasa takut, tidak ada lagi rasa sakit hati, yang ada hanya rasa percaya diri yang tinggi.

​Malam semakin larut menyelimuti seluruh penjuru kota metropolitan yang sibuk.

​Bima mematikan lampu meja kerjanya dan bersiap untuk pulang ke paviliun tempat ia memulai kebangkitannya.

​Meskipun kini ia adalah pemilik perusahaan besar, ia sengaja tetap tinggal di paviliun sederhana itu.

​Tempat itu mengingatkannya dari mana ia berasal dan seberapa besar perjuangan yang telah ia lewati.

​Bima melangkah keluar dari gedung perkantoran mewah menuju mobil pribadinya yang sudah menunggu di lobi.

​Wus...

​Angin malam menyapa wajahnya saat ia masuk ke dalam kabin mobil yang nyaman.

​"Jalan ke paviliun pinggiran kota, Pak," perintah Bima kepada sopirnya yang bersetelan jas rapi.

​"Baik, Tuan Bima," jawab sopir itu ramah sambil menginjak pedal gas perlahan.

​Mobil mewah itu melaju mulus membelah jalanan kota yang dipenuhi lampu-lampu neon warna-warni.

​Bima menyandarkan punggungnya di kursi mobil sambil memejamkan mata dengan tenang.

​Di luar jendela mobil, rintik hujan malam mulai turun membasahi aspal jalanan kota.

​Suara ketukan air hujan terdengar berirama menghiasi perjalanan pulangnya.

​"Dulu aku diusir di bawah hujan lebat tanpa tempat tujuan," kenang Bima dalam hati.

​"Sekarang, seluruh kota ini berada di dalam genggam tangan kekuasaanku," lanjutnya tersenyum tipis.

​Perjalanan malam itu terasa sangat damai dan menyenangkan bagi seorang pemuda yang bangkit dari abu kehancuran.

1
Aman Wijaya
lanjut terus Thor di tunggu updatenya 💪💪💪
Cherlly: iya kak ku😘😘
total 1 replies
Cherlly
makasih kaka suport nya😘😍
Aman Wijaya
gaaas njeduk pooolll Thor lanjut terus semangat semangat semangat dalam berkarya
Cherlly: makasih kaka udah membaca sejauh ini😘😘😘
total 1 replies
Aman Wijaya
top markotop top lanjut terus Thor
Aman Wijaya
jooooz pooolll mantab Thor lanjut terus
Cherlly: trimakasih sudah baca sejauh ini kaka😍😍😍
total 1 replies
Aman Wijaya
lanjut terus
Cherlly: iya kaka kami akan lanjyutin cerita nya sampai tuntas😊😊😊😘
total 1 replies
Aman Wijaya
jooooz pooolll Thor lanjut terus
Cherlly: siap kaka semangat kaka adalah motivasi saya untuk berkarya😍
total 1 replies
Aman Wijaya
jooooz pooolll Bima lanjut
Cherlly: siap kaka ikutin ya keseruan nya😊😊😊

Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
total 1 replies
Aman Wijaya
rahasia Bima mulai terkuak sedikit demi sedikit
Cherlly: iya kaka lanjutin biat nambah seru😍😍

Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
total 1 replies
Aman Wijaya
semangat Bima
Cherlly: makasih kaka

Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
total 1 replies
Tatiek Faruq
aku mampir thor, lama² dibaca seru juga
Cherlly: ttimakasih kaka sudah mampir ikutin keseruan cerita nya ya kaka biar saya nambah semangat untuk berkarya😍😍😍

Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
total 1 replies
༺⬙⃟⛅cap badakℛᵉˣ
kak mampir novelku "Vampir vs Serigala versi novel" makasih
Cherlly: makasih kaka nanti sama2 baca kita
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!