Abimana Rahardjo adalah putra pemilik sebuah pesantren dan merupakan penerus dari pondok pesantren milik keluarganya karena dia merupakan putra satu-satunya keluarga tersebut.
Sejak kecil dia telah di jodohkan dengan seorang gadis yang merupakan putri asuh keluarga Rahardjo yakni Kemala Putri Dewi yang merupakan putri sahabat kedua orangtuanya.
Kemala yang telah lama jadi yatim piatu sejak usia 10 tahun harus merelakan cita-citanya yang ingin jadi dokter karena sebuah balas budi.
Pernikahan karena dijodohkan itu benar-benar mencekik Kemala dikarenakan sang suami yang rupanya memilih poligami dengan perempuan yang telah lama ada dihati Abimana.
Hati Kemala hancur karena cinta suami yang tak kunjung dia dapatkan dan karena kehadiran orang ketiga dalam rumah tangga mereka.
Hingga suatu hari, seorang pemuda mampu menggoyahkan hati Kemala.
Laki-laki yang dianggap urakan dan bertato layaknya preman.
simak kisahnya di Memeluk Bayangan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
nama gadis lain
"Karina Ayu...."
Nama itu, nama yang di sebut oleh Abimana ketika laki-laki itu tidur.
Nama yang membuat hati Kemala mencelos dan patah tepat dimalam pengantinnya.
Kemala semakin menenggelamkan wajahnya diantara dua lututnya.
Meredam tangis dengan air keran yang sengaja dihidupkan.
Dinginnya ubin kamar mandi tak lagi dirasakannya.
Yang ada hanya sesak, perih dan sakit dihatinya.
Kemarin dia jatuh hati pada suaminya tapi seketika itu juga cinta itu patah, hancur berkeping-keping tanpa berkembang.
"Kenapa menikahiku jika telah ada nama perempuan lain dihatimu..." batin Kemala terus bertanya-tanya yang dia sendiri tak tahu jawabannya.
Kemala mengangkat wajahnya.
Menghapus sisa-sisa airmata yang masih mengalir deras dipipinya.
Tidak....!
Dia tidak boleh kalah!
Abimana sudah jadi suaminya dan dirinya harus jadi istri yang baik agar nama perempuan itu tergantikan oleh namanya.
Kemala membulatkan tekadnya untuk merebut hati suaminya.
Dengan susah payah, dia bangkit dan mulai membersihkan diri.
Pandangan Kemala jatuh pada sosok Abimana yang masih tertidur ketika kakinya melangkah keluar dari kamar mandi.
"Mas.... Mas Abi.. Ayo bangun... Sudah subuh" panggilnya lembut mencoba membangunkan Abimana.
Tak susah membangunkannya.
Hanya dalam sekali, Abimana mulai mengerjapkan mata.
"Sudah pukul berapa?" tanya Abimana dengan suara serak khas bangun tidur.
Kemala melirik jam di dinding.
"Pukul empat subuh... Mas mandilah, air hangatnya sudah saya siapkan" jawabnya masih berdiri di sisi ranjang.
Abimana dengan gerakan pelan mencoba bangkit.
"Kamu... Sudah wudhu?" tanyanya kepada Kemala.
"Sudah mas... " suara Kemala teredam oleh suara tilawah di masjid ponpes.
Kemala mencoba bersikap sewajarnya meski ingin sekali menanyakan kepada Abimana makna nama perempuan yang dia panggil dalam tidurnya.
"Kita sholat di kamar saja ya.. Kamu pasti lelah begitupun saya..."
"Tapi.... bagaimana jika Ummi dan Abah menanyakan kita?"
"Mereka pasti mengerti..." Abimana sempat memperhatikan wajah Kemala yang muram "Lagipula, kamu pasti kurang tidurkan? Apa masih sakit?" raut khawatir tertera jelas diwajah Abimana.
Pipi Kemala bersemu karena pertanyaan tersebut.
"Kita sholat dulu mas.... Nanti waktunya habis" Kemala mencoba mengalihkan pembicaraan.
Abimana tak bertanya lagi. Dirinya berjalan ke kamar mandi guna membersihkan diri.
Kedua suami istri baru itu melaksanakan ibadah dengan begitu khusyu tepat setelah iqamat dikumandangkan.
Usai sholat, Kemala kembali meraih tangan suaminya dan menciumi punggung tangan lebar tersebut dengan harapan, tangan itulah yang akan tetap merangkulnya meski dunia meninggalkan dirinya.
Darah Abimana kembali berdesir terlebih ketika Kemala mengangkat wajahnya.
Mata itu begitu jernih, begitu tanpa cela sedikitpun. Ada rasa bersalah bercokol didalam dadanya.
"Mas kenapa? Apa ada yang salah dengan wajahku?" tegur Kemala karena Abimana terdiam cukup lama memandanginya.
"Oh... Tidak... " sahut Abimana tergagap dan segera melepaskan genggam tersebut.
"Mas tidak ingin menceritakan sesuatu? Tentang kehidupan mas, tentang keseharian mas Abimana selama berada di Kairo atau apapun itu. Saya ingin mendengarnya... Mungkin, suatu hari nanti kita bisa mengunjuginya bersama...."
Kening Abimana berlipat.
Dia terdiam sejenak.
Mencoba memilih dan memilah apa yang harus disampaikan dan apa yang harus dipendamnya sendiri.
"Tidak ada yang istimewa. Saya belajar sama seperti para pelajar umumnya dan sempat menjadi asisten dosen disana.. Jika tidak ada kegiatan belajar, saya mengajar anak-anak disekitaran mesjid... Mereka sangat pintar... Atau bekerja paruh waktu untuk mengisi waktu luang" senyum terkembang dibibir Abimana mengenang kegiatannya selama belajar dan tinggal di negeri orang.
"Mas punya sahabat dekat atau seseorang yang bisa diajak bercerita jika mengalami hal sulit disana?"
"Hmm... punya..." sahut tegas Abimana dengan mata berbinar yang bisa ditangkap oleh Kemala.
"Laki-laki atau perempuan?"
Abimana terdiam kembali, menatap Kemala dengan tatapan yang tak dapat dimengerti.
"Kamu sebenarnya mau bertanya apakah saya memiliki teman dekat atau ingin bertanya apakah selama disana saya pernah dekat dengan seorang perempuan? Begitukah?" suara Abimana kembali dingin, seiring dengan wajah memandang waspada.
"Hanya bertanya. Tidak ada maksud apapun.... Jika tidak ingin jawab, tak apa.... Ayo kita siap-siap... Mas mau bertemu Abah kan....?" Kemala hendak berdiri dan merapikan sajadahnya namun suara Abimana berhasil menghentikan gerakannya.
"Saya punya teman dan dia perempuan..." suaranya begitu tegas dan begitu pasti tanpa keraguan.
Kemala mematung.
Dadanya kembali bergemuruh.
Takut jika apa yang dipikirkannya menjadi nyata.
"Apakah...." Kemala menelan ludah yang terasa seperti duri dalam tenggorokannya. "Apakah perempuan itu,.. Karina Ayu...?" lanjut Kemala memandang lurus kewajah suaminya yang sepertinya terkejut.
"Darimana kamu mendengar nama itu?" tanya Abimana tak menyangka jika Kemala mengetahui nama yang tersimpan lama dalam hatinya.
Kemala tersenyum kecut.
"Benar ternyata" bisiknya.
Kemala kembali memandang Abimana. "Kemarin, beliau datang bersama ibunya yang juga sahabat Ummi... Dan... "
"Dan apa?" potong Abimana cepat.
"Dan... Bu Halimah bercerita, jika mas Abi serta putrinya, Mbak Karina adalah teman sejawat bahkan sejak kalian masih di Tsanawiyah...." akhirnya kalimat itu meluncur jelas dari bibir Kemala.
Perlahan, dia memperhatikan setiap perubahan wajah Abimana.
Kemala mencoba untuk tersenyum. "Ayo mas... Kita siap-siap... Saya keluar dulu mau bantu Ummi... Setelan pakaian mas sudah saya siapkan.. Saya permisi, assalamualaikum...." dia memutuskan mengalihkan pembicaraan dan memilih keluar dari situasi yang menyakiti dirinya meninggalkan Abimana dengan isi kepala yang teramat penuh.
Dibalik pintu kamar yang ditutup, Kemala mengusap pipinya yang kembali dibasahi cairan bening yang jatuh tanpa bisa dicegah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sarapan pagi keluarga inti Rahardjo seperti biasa, hangat dan kekeluargaan tapi tidak dengan pasangan pengantin baru Kemala dan Abimana.
Meski Kemala berusaha bersikap biasa saja dengan tetap melayani makan suaminya namun resah dimata gadis manis itu sangat begitu kentara.
"Abah sudah siapkan rumah untuk kalian tinggal dan sudah bisa kalian tempati... Rumah itu yang ada di dekat gerbang pintu masuk pondok.... " suara Abah memecah kesunyian meja makan.
Kemala tanpa sadar menekan sendok ditangannya.
"Abah ingin kalian hidup mandiri dan rukun. Saling berbagi kasih sayang dan selalu berbahagia...." lanjut Abah lagi.
"Terima kasih Abah... Kami akan segera menempatinya hari ini jika boleh...." sahut Abimana.
"Boleh... Sebelum kalian menikah, Ummi sudah bayar orang untuk membersihkannya. Jadi kalian bisa langsung menempatinya...." Ummi melirik Kemala yang duduk diseberangnya "Ummi yakin, rumah itu pasti akan sangat disukai oleh Kemala...." ucapnya tersenyum hangat pada menantunya.
Kemala hanya bisa membalas dengan senyum tipis sebagai bentuk penghargaan kepada mertuanya.
Usai sarapan, Abah dan Ummi langsung menuju pondok untuk mengecek kegiatan belajar mengajar sementara pasangan Kemala dan Abimana yang memang masih cuti bergegas membereskan pakaian dan beberapa barang yang akan dibawa pindah kerumah pemberian orangtua mereka.
Begitu kaki Kemala melangkah masuk, matanya memandang takjub pada dekorasi rumah. Ini seperti rumah impiannya.
Meski bukan rumah mewah bertingkat, setidaknya ini sangat nyaman dan hanya dihuni oleh mereka berdua karena memang Kemala menolak usulan Ummi untuk memakai asisten rumah tangga.
"Istirahatlah, kamu pasti lelah..." suara Abimana terdengar dari ambang pintu kamar.
Kemala hanya mengangguk kecil.
Entah kenapa, hatinya masih diliputi rasa kesal dan marah pada Abimana sejak kejadian tadi malam dan pembicaraan mereka tadi pagi.
"Kemala..." panggil Abimana.
"Ya..."
Abimana berjalan mendekat. "Soal pembicaraan kita tadi pagi, saya mohon jangan sampai Abah dan Ummi mengetahuinya... Dan juga...."
Kemala masih menunggu kelanjutan kalimat yang akan diucapkan oleh suaminya.
"Dan juga, saya akan melakukan kewajiban saya sebagai suami kamu tapi tolong, jangan paksa saya untuk mencintaimu..." kalimat itu akhirnya meluncur jelas dan tajam dari bibir Abimana.
Kemala tersenyum kecut.
"Mas mau saya harus bagaimana? Mas sadarkah dengan sikap mas? Mas sudah jadi suami dan apakah tindakan mas ini tidak disebut dengan selingkuh meski hanya dengan pikiran..." ucap Kemala menohok.
"Mas tahu maka dari itu, mas mohon, beri mas waktu... Mas akan berusaha melupakannya dan kita akan bersama-sama membina keluarga kita..."
"Beri saya waktu mas... Saya mau istirahat dulu..." Kemala masuk kedalam kamar dan memilih membaringkan diri diatas ranjang dibawah tatapan Abimana yang hanya bisa menghela nafas panjang dan berat.
Dia sadar bahwa ini telah menyakiti hati Kemala tapi dirinya juga tidak bisa menutupi hal ini kepada perempuan yang hidup dan tinggal satu atap dengannya.
bersambung.