Astiana Larasati turun ke ibu kota dengan ilmu bela diri kuno, pengobatan ajaib, dan kemampuan mendengar niat jahat untuk mencari orang tua kandungnya. Berpandukan liontin yang bisa menyala hijau, Astiana menavigasi intrik para elit kota sambil mati-matian menekan kekuatannya demi mematuhi amanat kakek angkatnya untuk hidup rendah hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Jari telunjuk Tuan Kusuma mulai menekan pelatuk pistol perak itu ke arah kepala pria pelelang yang sedang bersujud.
Waktu seolah melambat di mata Astiana.
Jika dia diam saja, pria malang ini akan mati dan rahasia Nyonya Besar mungkin akan ikut terkubur.
Tapi jika dia bertindak, penyamarannya akan terbongkar total di tengah sarang musuh.
"Aku tidak suka melihat orang dibunuh di depan mataku."
Astiana bergumam pelan membulatkan tekadnya.
Dia menggeser kaki kanannya ke belakang dan memutar pinggangnya dengan kekuatan penuh.
Astiana melemparkan nampan besi beserta tiga botol minuman keras itu langsung ke arah Tuan Kusuma layaknya sebuah peluru meriam.
Wushhh.
Nampan beserta isinya itu melayang dengan kecepatan tidak wajar menembus jarak dua meter di antara mereka.
Prang.
Botol kaca tebal itu menghantam keras pergelangan tangan kanan Tuan Kusuma hingga hancur berkeping-keping.
Tuan Kusuma menjerit tertahan saat tangannya terhentak kuat ke arah atas.
Dor.
Tembakan peluru dari pistol peraknya meleset jauh dan hanya menghancurkan lampu kristal di langit-langit lorong.
Pecahan kaca berjatuhan menimpa karpet merah di bawahnya.
"Sialan, apa yang kau lakukan pelayan gila."
Salah satu pengawal berteriak marah melihat bos mereka diserang.
Keempat pengawal berjas hitam itu langsung merogoh balik jas mereka untuk mencabut senjata api masing-masing.
Namun Astiana tidak memberikan mereka kesempatan sedetik pun untuk menarik pelatuk.
Dia melesat maju bagaikan bayangan hitam yang menyatu dengan remangnya cahaya lorong.
Tap.
Kaki Astiana mendarat tepat di depan pengawal pertama.
Sebelum pengawal itu bisa mengarahkan senjatanya, Astiana memukul leher pria itu dengan sisi telapak tangannya.
Bruk.
Pengawal pertama langsung pingsan dengan mata mendelik dan tubuhnya ambruk ke lantai.
"Tembak dia, cepat tembak."
Tuan Kusuma berteriak panik sambil memegangi pergelangan tangannya yang berdarah dan gemetar.
Pengawal kedua berhasil mengeluarkan pistolnya dan membidik dada Astiana.
Namun Astiana merendahkan tubuhnya dengan sangat luwes dan menyapu kaki pengawal itu dari bawah.
Brak.
Pengawal kedua jatuh terlentang dengan keras hingga pistolnya terlempar dari genggamannya.
Astiana langsung menekan titik saraf di dada pengawal itu dengan tumit sepatunya.
Pria bertubuh besar itu langsung kejang sesaat sebelum kehilangan kesadarannya total.
"Nona Astiana, suara tembakan apa itu, apa kau tidak apa-apa."
Suara Raka terdengar sangat panik berteriak dari dalam earpiece di telinga Astiana.
"Aku sedikit sibuk sekarang, Tuan Muda Raka."
Astiana menjawab dengan tenang sambil menghindari pukulan dari pengawal ketiga.
"Tunggu di mobil, jangan ke mana-mana."
Pengawal ketiga dan keempat memutuskan untuk menyerang Astiana secara bersamaan menggunakan pisau lipat.
Sring sring.
Bilah pisau itu memantulkan cahaya sisa lampu lorong yang berkedip-kedip.
"Gadis jalang, kau cari mati menyusup ke markas kami."
Pengawal ketiga menusukkan pisaunya ke arah perut Astiana.
Astiana memutar tubuhnya ke samping membiarkan pisau itu hanya merobek udara kosong.
Dia lalu menangkap lengan pengawal itu dan memelintirnya ke belakang dengan satu sentakan keras.
Krak.
Tulang lengan pengawal itu patah seketika menimbulkan suara yang sangat mengerikan.
"Argh."
Pengawal itu menjerit kesakitan namun Astiana langsung mendorong tubuh besar itu ke arah pengawal keempat yang sedang berlari mendekat.
Bruk.
Kedua pengawal itu bertabrakan dan jatuh bergulingan di atas karpet.
Hanya dalam waktu kurang dari satu menit, empat pengawal elit bayaran itu tumbang tanpa perlawanan berarti.
Pria pelelang yang tadinya hampir mati kini duduk meringkuk di sudut lorong dengan wajah pucat pasi.
Dia gemetar hebat melihat seorang pelayan wanita menghabisi empat pembunuh bayaran dengan tangan kosong.
Tuan Kusuma berdiri mematung di depan pintu ruang VIP dengan rahang yang jatuh terbuka.
Dia menatap Astiana dengan sorot mata penuh ketakutan dan rasa tidak percaya.
"Siapa kau sebenarnya, pelayan sialan."
Tuan Kusuma mundur selangkah saat Astiana mulai berjalan pelan mendekatinya.
"Aku tamu yang kau undang dari acara lelang semalam, Tuan Kusuma."
Astiana menjawab dengan nada datar sambil mengusap debu di bahu kemeja putihnya.
Mata Tuan Kusuma membelalak lebar mengenali sorot mata dingin yang sangat familiar itu.
"Gadis dari Keluarga Darma."
Tuan Kusuma menelan ludahnya menyadari bahwa target yang dia anggap remeh ternyata adalah monster sungguhan.
Dia segera membalikkan badannya berniat kabur masuk ke dalam ruang VIP dan mengunci pintu.
Namun sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, Astiana sudah berada tepat di belakangnya.
Grep.
Astiana mencengkeram kerah jas belakang Tuan Kusuma dan menariknya dengan sangat kasar.
Bugh.
Tuan Kusuma terpelanting ke belakang dan punggungnya menghantam dinding lorong dengan keras.
"Aku punya beberapa pertanyaan untukmu, Tuan."
Astiana menekan bahu Tuan Kusuma ke dinding agar pria itu tidak bisa bergerak ke mana-mana.
"Siapa Nyonya Besar yang kau sebutkan tadi."
Astiana bertanya dengan nada suara yang sangat rendah dan mengancam.
Tuan Kusuma meringis kesakitan namun dia masih berusaha mempertahankan kesombongannya.
"Kau pikir aku akan memberitahumu, gadis bodoh."
Tuan Kusuma meludah ke arah lantai dengan wajah yang penuh kebencian.
"Kau akan mati di sini malam ini juga, anak buahku di bawah pasti mendengar suara tembakan tadi."
Benar saja, dari arah tangga utama mulai terdengar suara langkah kaki yang sangat riuh.
Tap tap tap.
"Cepat naik ke atas, lindungi Bos Kusuma."
Terdengar teriakan puluhan preman yang sedang berlari menaiki tangga menuju lantai dua.
"Nona Astiana, puluhan preman sedang menuju ke tempatmu, kau harus keluar dari sana sekarang."
Suara Raka kembali terdengar di earpiece dengan nada yang semakin histeris.
"Aku tahu, aku bisa mendengarnya, Tuan Muda."
Astiana tetap tenang dan tidak melepaskan cengkeramannya dari bahu Tuan Kusuma sama sekali.
Dia justru menatap tepat ke dalam mata pria berkacamata hitam itu dan memusatkan pendengarannya.
Astiana mulai membaca semua kepanikan dan rahasia yang melintas di dalam kepala Tuan Kusuma.
"Gadis ini tidak boleh tahu tentang markas utama Nyonya Besar di Mansion Bukit Hijau."
Suara hati Tuan Kusuma bergema sangat jelas menembus pertahanan pikirannya sendiri.
"Kalau Keluarga Darma tahu operasi gelap kami ada di sana, Nyonya Besar pasti akan membunuhku."
Astiana tersenyum tipis mendengar informasi berharga yang baru saja bocor dari kepala musuhnya ini.
Mansion Bukit Hijau.
Itu adalah petunjuk baru yang sangat spesifik dan pasti mudah dicari oleh jaringan informasi Raka nanti.
"Terima kasih atas informasinya, Tuan Kusuma."
Astiana berbisik di telinga pria itu membuat Tuan Kusuma membelalak kaget.
"Apa maksudmu, aku sama sekali tidak mengatakan apa-apa padamu."
Tuan Kusuma kebingungan karena dia merasa belum membuka mulutnya sama sekali.
"Kau memang tidak bicara, tapi pikiranmu terlalu berisik."
Astiana segera menarik tangan kanan Tuan Kusuma dengan kasar.
Sret.
Dia meloloskan cincin perak berukir burung elang dan ular itu dari jari telunjuk Tuan Kusuma.
"Hei, kembalikan cincin itu, itu lambang otoritas dari Nyonya Besar."
Tuan Kusuma meronta mencoba merebut kembali cincinnya.
selamat untuk memperbaiki semua kerusakannya pak manajer 🤣🤣