NovelToon NovelToon
Terikat Pernikahan Dengan CEO Dingin

Terikat Pernikahan Dengan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aqilaa Kezia

Alisha Amanda hanyalah seorang gadis sederhana yang bekerja di sebuah toko roti demi menghidupi dirinya dan sang ibu. Sejak kepergian ayahnya, ibunya menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Namun, hidup Alisha berubah ketika penyakit sang ibu semakin parah. Operasi dengan biaya yang sangat mahal menjadi satu-satunya harapan untuk menyelamatkan wanita yang paling ia cintai. Sayangnya, tabungan Alisha tidak cukup, bahkan untuk membayar sebagian kecil dari biaya tersebut.
Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran tak terduga datang kepadanya.
Adrian Mahendra, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa, membutuhkan seorang istri demi mempertahankan posisinya di perusahaan keluarga. Terdesak oleh tuntutan orang tuanya dan ancaman kehilangan jabatan, Adrian menawarkan pernikahan kontrak selama satu tahun kepada Alisha.
Sebagai gantinya, Alisha akan mendapatkan uang yang cukup untuk membiayai operasi ibunya.
Bagi Adrian, pernikahan itu hanyalah kesepakatan bisnis. Tidak ada cinta, tidak ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilaa Kezia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21 — Sebelum Segalanya Berubah

Suara notifikasi ponsel terdengar dari atas meja kerja.

Adrian yang sedang membaca laporan keuangan melirik layar ponselnya. Sebuah pesan dari Daniel masuk, berisi jadwal rapat yang harus dihadirinya pada pagi itu.

Dia membalas singkat, lalu kembali memusatkan perhatian pada dokumen di hadapannya.

Di luar ruang kerja, rumah masih relatif tenang.

Sejak menikah dengan Alisha, tidak banyak yang berubah dalam rutinitas Adrian. Dia tetap bangun pada waktu yang sama, berangkat ke kantor, menghadiri rapat, memeriksa laporan, dan pulang ketika sebagian besar pekerjaannya selesai.

Perbedaannya hanya satu: sekarang ada orang lain yang juga tinggal di rumah tersebut.

Adrian tidak merasa terganggu dengan keberadaan Alisha. Perempuan itu tidak pernah menghalangi pekerjaannya atau menuntut waktunya secara berlebihan.

Alisha memiliki kesibukan sendiri.

Dan Adrian menganggap hal itu sebagai sesuatu yang baik.

---

Alisha sedang menyiapkan sarapan ketika Adrian keluar dari ruang kerjanya.

Dia menoleh sebentar.

"Selamat pagi."

"Pagi."

Adrian berjalan menuju meja makan dan duduk di kursi yang biasa digunakannya.

Alisha meletakkan sepiring roti panggang di atas meja, kemudian duduk di seberangnya.

"Apakah hari ini kamu pulang terlambat lagi?" tanyanya.

Adrian mengangkat pandangan.

"Kemungkinan iya. Ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan."

"Oh, begitu."

Alisha mengangguk kecil.

Dia bertanya bukan karena mengharapkan Adrian pulang lebih awal. Dia hanya ingin mengetahui apakah mereka akan makan malam bersama atau tidak.

"Aku mungkin juga pulang sedikit terlambat," lanjut Alisha. "Ada pesanan kue yang harus kami selesaikan di toko."

Adrian meletakkan cangkir kopinya.

"Kalau begitu, beri tahu orang rumah."

"Iya."

Percakapan itu selesai dengan sendirinya.

Alisha melanjutkan sarapannya, sementara Adrian memeriksa waktu sebelum mengambil tas kerjanya.

Ketika hendak pergi, Adrian berhenti sebentar di dekat pintu.

"Jangan lupa makan siang."

Alisha mendongak.

Dia sedikit terkejut mendengar ucapan tersebut, tetapi Adrian sudah kembali melihat ponselnya.

"Maksud saya, kalau pekerjaanmu ramai, jangan sampai kamu melewatkan waktu makan."

Alisha tersenyum kecil.

"Iya. Aku akan makan."

Adrian mengangguk.

"Baik."

Setelah itu, dia meninggalkan rumah.

Alisha masih memandang pintu yang baru saja tertutup selama beberapa detik.

Ucapan Adrian bukan sesuatu yang istimewa. Bisa jadi dia hanya menyampaikan hal yang menurutnya wajar.

Namun, Alisha tidak menyangkal bahwa dia merasa sedikit terkejut.

Selama ini, Adrian jarang menanyakan hal-hal sederhana di luar urusan yang perlu mereka bicarakan.

Mungkin laki-laki itu mulai mengingat bahwa mereka tidak hanya berbagi rumah, tetapi juga perlu mengetahui keadaan satu sama lain.

Alisha tidak ingin menarik kesimpulan terlalu jauh.

Dia menghabiskan sarapannya, lalu bersiap berangkat kerja.

---

Di Sweet Morning Bakery, suasana sudah ramai sejak pagi.

Alisha membantu menyiapkan adonan, sementara Mira memeriksa daftar pesanan yang harus diselesaikan hari itu.

"Alisha, nanti kamu yang membantu menghias kue ulang tahun ini, ya," kata Mira.

Alisha melihat kue yang diletakkan di meja.

"Baik. Ada permintaan khusus dari pelanggan?"

"Katanya ingin hiasan sederhana dengan tulisan berwarna putih."

Alisha mengangguk.

"Kalau begitu, aku akan menyiapkannya."

Dia segera mengenakan sarung tangan dan mulai bekerja.

Beberapa jam berlalu tanpa terasa. Ketika akhirnya mendapatkan waktu istirahat, Alisha duduk bersama Mira dan Rani di ruang belakang.

Mira membuka bungkus makan siangnya.

"Ngomong-ngomong, Alisha, aku mau tanya sesuatu."

Alisha menoleh.

"Apa?"

"Kamu pernah tidak merasa kesepian di rumah?"

Pertanyaan itu membuat Alisha berhenti membuka botol minumnya.

"Kenapa kamu bertanya begitu?"

Mira mengangkat bahu.

"Karena kamu sering cerita kalau Adrian sibuk bekerja. Aku cuma penasaran."

Rani ikut memandang Alisha.

"Kalau tidak mau menjawab, tidak apa-apa."

Alisha tersenyum tipis.

"Tidak masalah. Kadang memang terasa sepi, apalagi kalau kami pulang pada waktu berbeda."

Mira mengangguk.

"Lalu, apa yang kamu lakukan?"

"Aku biasanya menelepon Ibu, mengerjakan sesuatu di kamar, atau menyiapkan jadwal untuk besok."

"Kamu tidak pernah mengajak Adrian bicara?"

Alisha terdiam sejenak.

"Pernah, kalau memang ada yang perlu dibicarakan."

Mira menghela napas.

"Kalau aku, mungkin sudah banyak hal yang ingin kuceritakan."

Alisha tertawa kecil.

"Kamu memang suka bercerita."

"Tentu saja! Kalau aku diam terlalu lama, rasanya aneh."

Rani ikut tertawa mendengar jawaban Mira.

Alisha tersenyum melihat kedua temannya.

Dia tidak merasa tersinggung dengan pertanyaan mereka. Mira dan Rani hanya belum memahami sepenuhnya bagaimana kehidupan pernikahannya berjalan.

Dan Alisha sendiri juga masih belajar.

Dia belum tahu apakah suatu hari nanti dirinya akan merasa lebih dekat dengan Adrian. Untuk sekarang, mereka masih menjalani hari-hari dengan cara masing-masing.

Setelah waktu istirahat selesai, mereka kembali bekerja.

Alisha tidak ingin terlalu lama memikirkan hal-hal yang belum memiliki jawaban.

---

Siang itu, rapat Adrian berlangsung lebih lama daripada yang diperkirakan.

Beberapa keputusan penting mengenai proyek perusahaan harus dibahas bersama para kepala divisi. Adrian mendengarkan setiap laporan dengan saksama, kemudian memberikan arahan yang diperlukan.

"Periksa kembali angka pada laporan ini," katanya kepada salah satu manajer. "Ada perbedaan dengan data yang disampaikan pekan lalu."

Manajer tersebut membuka dokumennya.

"Baik, Pak. Kami akan memeriksanya kembali."

"Saya ingin hasil revisinya dikirim sebelum akhir hari."

"Siap."

Rapat dilanjutkan hingga seluruh pembahasan selesai.

Setelah kembali ke ruangannya, Adrian duduk dan mengusap pelipis sebentar sebelum membuka dokumen berikutnya.

Daniel masuk membawa secangkir kopi dan beberapa berkas.

"Pak, Anda belum makan siang?"

Adrian tidak mengangkat wajah.

"Nanti."

Daniel meletakkan berkas di meja.

"Rapat berikutnya masih dua jam lagi. Anda sebaiknya makan terlebih dahulu."

Adrian akhirnya menoleh.

"Apakah ada dokumen mendesak?"

"Tidak ada yang harus diselesaikan dalam waktu dekat."

"Kalau begitu, saya akan makan setelah memeriksa ini."

Daniel menghela napas pelan, tetapi tidak membantah.

Dia sudah cukup lama bekerja bersama Adrian untuk mengetahui bahwa atasannya sulit berhenti ketika sedang berkonsentrasi.

Daniel kemudian teringat sesuatu.

"Pak, Ibu Alisha masih bekerja seperti biasa?"

Adrian menatapnya.

"Kenapa kamu bertanya tentang dia?"

"Saya hanya memastikan apakah ada jadwal yang perlu disesuaikan untuk keperluan rumah."

Adrian menggeleng.

"Tidak ada. Dia bisa mengatur jadwalnya sendiri."

"Baik, Pak."

Daniel hendak keluar, tetapi Adrian kembali berbicara.

"Daniel."

"Ya, Pak?"

"Kalau nanti ada undangan atau acara keluarga yang melibatkan kami berdua, beri tahu saya lebih awal. Saya perlu memastikan jadwalnya tidak bertabrakan dengan pekerjaan Alisha."

Daniel tampak sedikit terkejut, meskipun dia segera kembali bersikap profesional.

"Baik, Pak. Saya akan mencatatnya."

Adrian mengangguk, lalu kembali membaca dokumen.

Dia tidak merasa sedang melakukan sesuatu yang luar biasa.

Baginya, menyelaraskan jadwal merupakan hal sederhana yang perlu dilakukan agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.

Namun, tanpa disadarinya, dia mulai mempertimbangkan keberadaan Alisha ketika menyusun beberapa rencana yang melibatkan mereka berdua.

Perubahan itu masih kecil.

Bahkan Adrian sendiri mungkin tidak akan menyebutnya sebagai perubahan.

---

Menjelang sore, Alisha menerima telepon dari rumah sakit.

Dia sedang merapikan kotak kue ketika ponselnya bergetar.

"Halo, selamat sore."

Petugas rumah sakit memberitahukan bahwa jadwal pemeriksaan Ratih yang berikutnya sudah dipastikan. Alisha mencatat informasi tersebut agar tidak lupa.

"Baik, Bu. Terima kasih sudah menghubungi saya."

Setelah menutup telepon, Alisha segera membuka kalender di ponselnya.

Dia perlu memastikan jadwal pemeriksaan ibunya tidak bertabrakan dengan pekerjaannya.

Untungnya, pemeriksaan itu dijadwalkan pada pagi hari ketika toko belum terlalu ramai. Dia bisa datang lebih awal ke rumah sakit, lalu melanjutkan pekerjaan setelahnya jika keadaan memungkinkan.

Alisha menghela napas lega.

"Semoga semuanya berjalan lancar," gumamnya.

"Alisha, kamu bicara dengan siapa?" tanya Rani yang baru kembali dari depan toko.

Alisha tersenyum.

"Tadi dari rumah sakit. Mereka memberi tahu jadwal pemeriksaan Ibu."

"Bagaimana keadaan ibumu?"

"Masih stabil. Aku berharap pemeriksaan berikutnya juga berjalan baik."

Rani mengangguk.

"Semoga cepat pulih, ya."

"Amin. Terima kasih."

Alisha memasukkan ponselnya ke dalam tas, lalu kembali membantu menyelesaikan pekerjaan.

Selama masih bisa bekerja dan melihat keadaan ibunya secara langsung, dia merasa memiliki alasan untuk terus bersemangat.

---

Malam tiba ketika Alisha pulang ke rumah.

Dia melepas sepatu di dekat pintu dan menyapa pekerja rumah sebelum naik ke kamarnya untuk berganti pakaian.

Ketika turun kembali, dia mendapati Adrian sedang duduk di ruang makan.

Laki-laki itu tampak baru saja tiba dari kantor. Kemeja kerjanya masih rapi, tetapi jasnya sudah dilepas dan diletakkan di kursi sebelah.

Alisha berhenti sejenak.

"Kamu sudah pulang?"

Adrian mengangguk.

"Baru saja."

"Aku kira kamu akan pulang terlambat."

"Ada beberapa pekerjaan yang selesai lebih cepat."

Alisha berjalan menuju meja makan.

"Aku belum makan malam. Kamu juga?"

"Belum."

Salah seorang pekerja rumah kemudian datang untuk menyiapkan makanan mereka.

Alisha duduk berseberangan dengan Adrian.

Malam itu, mereka makan pada waktu yang sama untuk pertama kalinya setelah beberapa hari menjalani jadwal yang berbeda.

Awalnya, tidak ada percakapan.

Namun, ketika Alisha hendak mengambil mangkuk sup yang berada agak jauh, Adrian menggesernya sedikit mendekat agar mudah dijangkau.

Alisha berhenti sebentar.

"Terima kasih."

Adrian mengangguk.

"Sama-sama."

Mereka kembali makan.

Setelah beberapa saat, Adrian mengangkat wajah.

"Bagaimana pekerjaanmu hari ini?"

Alisha sempat terdiam.

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi tidak sering mereka bicarakan sebelumnya.

"Baik. Toko cukup ramai, tapi semua pesanan selesai tepat waktu."

Adrian mengangguk.

"Bagus."

"Kalau pekerjaanmu?"

"Rapat cukup panjang. Ada beberapa laporan yang harus diperiksa kembali."

Alisha mengangguk pelan.

"Oh, begitu."

Percakapan berhenti sebentar, tetapi kali ini suasananya tidak terasa seasing sebelumnya.

Alisha tidak merasa harus segera mengisi keheningan, dan Adrian juga tidak terlihat terganggu oleh keberadaan orang lain di meja makan.

Mereka hanya melanjutkan makan malam masing-masing.

Setelah selesai, Alisha meletakkan sendoknya.

"Besok aku harus datang ke rumah sakit lebih awal untuk menemani Ibu menjalani pemeriksaan."

Adrian menatapnya.

"Jam berapa?"

"Sekitar pukul delapan pagi. Setelah itu, aku akan langsung berangkat ke toko."

Adrian mengangguk.

"Kalau kamu membutuhkan waktu lebih lama di rumah sakit, jangan memaksakan diri untuk langsung bekerja. Beri tahu tempat kerjamu jika memang perlu."

Alisha sedikit terkejut mendengar sarannya.

"Aku akan melihat keadaan Ibu besok. Kalau semuanya berjalan lancar, aku masih bisa masuk kerja."

"Baik. Sesuaikan saja dengan keadaan."

Alisha tersenyum kecil.

"Terima kasih."

Adrian tidak memberikan tanggapan panjang. Dia hanya mengambil gelasnya sebelum berdiri.

"Saya masih harus memeriksa satu dokumen."

Alisha mengangguk.

"Iya. Aku juga akan beristirahat."

Mereka kemudian berpisah menuju ruangan masing-masing.

---

Di kamar, Alisha memeriksa kembali barang-barang yang perlu dibawanya ke rumah sakit.

Dia menyiapkan dompet, ponsel, dan dokumen pemeriksaan ibunya. Setelah memastikan semuanya lengkap, dia meletakkan tas di dekat pintu agar tidak terburu-buru pada pagi hari.

Sebelum tidur, dia menelepon Ratih untuk memastikan ibunya mengetahui rencana kedatangannya.

"Besok aku datang lebih awal, Bu."

"Jangan lupa sarapan dulu, ya, Nak."

Alisha tersenyum.

"Iya. Ibu juga harus istirahat."

Setelah berbicara beberapa menit, dia mengakhiri panggilan dan meletakkan ponsel di meja.

Hari itu melelahkan, tetapi ada beberapa hal yang membuatnya merasa sedikit lebih tenang.

Keadaan ibunya masih stabil.

Pekerjaannya berjalan baik.

Dan meskipun hubungan dengan Adrian masih terasa jauh, mereka mulai bisa berbicara tentang kegiatan sehari-hari tanpa selalu merasa canggung.

Alisha tidak tahu apakah perubahan kecil itu akan berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar.

Dia juga tidak ingin terlalu berharap.

Untuk sekarang, dia hanya ingin menjalani hari esok dengan baik.

Di ruang kerja, Adrian menyelesaikan dokumen terakhir sebelum menutup laptop.

Dia teringat bahwa Alisha harus pergi ke rumah sakit pada pagi hari.

Tanpa banyak berpikir, Adrian mengambil ponselnya dan memeriksa jadwal rapat besok. Rapat pertamanya dimulai pukul sembilan, sehingga dia tidak perlu berangkat terlalu pagi.

Dia meletakkan kembali ponselnya.

Tidak ada alasan untuk mengubah jadwalnya.

Alisha sudah memiliki rencana sendiri, dan Adrian percaya dia bisa mengaturnya.

Setelah mematikan lampu ruang kerja, Adrian menuju kamar pribadinya.

Seperti malam-malam sebelumnya, mereka beristirahat di kamar terpisah.

Namun, kehidupan bersama yang awalnya hanya berisi percakapan singkat mulai memiliki sedikit ruang untuk saling mengetahui keadaan.

Tidak banyak.

Belum cukup untuk membuat mereka benar-benar dekat.

Tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa dua orang yang tinggal di bawah satu atap perlahan mulai mengenali kebiasaan satu sama lain.

---

Keesokan harinya, Alisha akan kembali mengunjungi rumah sakit.

Dia belum mengetahui bahwa di luar rutinitas yang terasa tenang itu, ada seseorang dari masa lalu Adrian yang sedang bersiap kembali ke kota.

Seseorang yang pernah memiliki tempat penting dalam kehidupan laki-laki itu.

Seseorang yang belum mengetahui bahwa Adrian kini telah menikah.

Dan ketika kabar itu akhirnya sampai kepadanya, kehidupan tenang Adrian dan Alisha mungkin tidak akan terasa sama lagi.

1
Grend Levn
ceritanya menarik membuat ku penasaran bagaimana kelanjutannya kerenn
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Clarissa, sedemikian ga lakunya kamu ya sama bujangan, sampai orang udah punya istri juga kamu ganggu, hanya alasan masa lalu? Bodohnya kebangetan kamu
Aqilaa Kezia: Hehehe, sabar ya, Kak 😂 Clarissa memang bikin emosi. Terima kasih sudah membaca novelku! ❤️
total 1 replies
Ariany Sudjana
skak mat, bagus Alisha, kamu harus tegas menghadapi si pelacur murahan itu, tunjukkan kamu itu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, meskipun kamu istri CEO, tapi kelas kamu jauh di atas si pelacur murahan itu, yang hanya bisa berharap jadi istri CEO, tapi ga kesampaian
Aqilaa Kezia: makasih banyak Kak Arianya udah selalu dukung Alisha😍
total 1 replies
Ariany Sudjana
Adrian dan alisha harus tegas dan waspada, si pelacur murahan itu ingin menghancurkan rumah tangga kalian
Aqilaa Kezia: terimakasih ka Adriany udah membaca😊
total 1 replies
Ariany Sudjana
jangan menyerah Alisa, buktikan kamu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, dan cocok mendampingi Adrian, jangan biarkan pelacur murahan itu menghancurkan rumah tangga kamu dengan Adrian
katya
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!