Hampir tiga tahun menikah, Laras dan Robby belum juga memiliki anak. Hingga suatu hari, terjadi kesalahpahaman. Robby dan Soraya, ibu Laras mengira jika Laras mengalami masalah kesuburan.
Robby memanfaatkan kekurangan Laras untuk berpura-pura menjadi suami setia yang mau menerima Laras apa adanya. Ia bahkan mengajak Laras untuk mengadopsi anak.
Hal itu membuat Robby mendapat nilai plus dari Soraya. Ia bahkan menjanjikan jabatan tinggi untuk Robby di perusahaan.
Tentu, Robby sangat senang. Ia lalu mengajak keluarga dan selingkuhannya untuk bekerjasama merebut harta dan perusahaan milik keluarga Laras.
Tapi sayangnya, Laras mengetahui semuanya. Dan kali ini, Laras tidak akan menjadi korban. Justru, Laras yang akan memastikan keluarga parasit itu kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membuat Kesal
Di pusat perbelanjaan, Diah dan Maya langsung menuju deretan toko yang menjual barang-barang mewah. .
Mereka sibuk memilih beberapa gaun model terbaru yang menarik perhatian. Sesekali, mereka menempelkan gaun-gaun tersebut ke tubuh di depan cermin, bahkan meminta pelayan toko mengambilkan ukuran lain agar bisa mencoba lebih banyak pilihan.
Sementara itu, Bima juga sibuk memilih baju untuk dirinya sendiri. Pria itu tampak menikmati kesempatan berbelanja dengan kartu milik Laras tanpa perlu mengeluarkan uang sepeser pun dari kantongnya.
Dan, Robby hanya tersenyum melihat antusiasme keluarganya. Ia mendorong stroller bayi sambil sesekali melirik barang-barang yang mereka pilih.
"Kamu mau beli apa lagi?" tanyanya pada Maya.
Maya menoleh dengan senyum lebar. "Aku mau membeli beberapa gaun dan jam tangan. Boleh, kan?"
"Tentu saja." Robby mengangguk santai. "Pilih saja yang kamu suka."
Senyum Maya semakin lebar. "Terimakasih, sayang."
Setelah selesai memilih beberapa pakaian, mereka membawanya ke kasir.
Transaksi pertama berjalan lancar. Lalu, mereka melanjutkan kegiatan berbelanja ke toko-toko lainnya.
Diah dan Bima masuk ke sebuah toko yang menjual tas bermerk. Mata mereka berbinar begitu melihat deretan tas mewah yang terpajang di etalase.
Di sisi lain, Robby dan Maya mengunjungi toko jam tangan mewah. Maya tertarik pada sebuah jam tangan yang berkilau elegan. Ia mengangkat pergelangan tangannya, membayangkan benda itu mempercantik penampilannya.
"Mas, lihat yang ini. Bagus, bukan?" Maya menunjukkan jam tangan pilihannya pada Robby.
Robby melihat sekilas, lalu mengangguk. "Kalau kamu suka, ambil saja."
Maya tersenyum puas. Tanpa membuang waktu, ia meminta pegawai toko menyiapkan jam tangan tersebut.
Namun, kegembiraan mereka tidak berlangsung lama.
Setelah mendapatkan barang yang mereka inginkan, Diah dan Bima berjalan menuju kasir untuk melakukan pembayaran.
Diah menyerahkan kartu Laras dengan percaya diri seperti sebelumnya. Tetapi, kasir menggeleng pelan sambil mengembalikan kartu tersebut.
"Maaf, Bu. Transaksinya tidak bisa diproses."
Diah mengernyitkan keningnya. "Apa maksudnya? Coba sekali lagi!"
"Baik, Bu. Saya coba kembali."
Kasir itu kembali memasukkan kartu ke mesin pembayaran. Namun, hasilnya tetap sama. Transaksi ditolak.
"Maaf, Bu. Sepertinya batas transaksi harian kartu ini sudah tercapai."
Diah menatap kartu itu dengan tidak percaya. "Batas transaksi? Bagaimana mungkin?" protesnya. "Bukankah saldo di kartu ini masih banyak?"
"Maaf, Bu. Saya hanya menerima pemberitahuan bahwa transaksi tidak dapat diproses karena batas harian telah tercapai."
Wajah Diah langsung berubah masam. Tanpa menunggu lebih lama, ia segera mengeluarkan ponsel dan menghubungi Robby.
"Robby! Cepat telepon istrimu. Kenapa kartu yang dia berikan tidak bisa digunakan?" serunya begitu panggilan tersambung.
Robby yang sedang berdiri di depan etalase jam tangan langsung mengernyit.
"Tidak bisa digunakan bagaimana maksud Ibu?"
"Kata kasir, batas transaksi hariannya sudah tercapai. Cepat hubungi Laras dan tanyakan apa yang sebenarnya terjadi?"
"Baik, Bu. Aku telepon dia sekarang."
Setelah panggilan berakhir, Robby langsung mencari nama Laras di daftar kontak.
Maya yang berdiri di sampingnya memperhatikan perubahan ekspresi pria itu.
"Ada apa, Mas?" tanyanya penasaran.
Robby hanya mengangkat satu tangan, memberi isyarat agar Maya diam. Ia kemudian menempelkan ponsel ke telinganya, menunggu Laras menjawab panggilannya.
Sementara itu, di ruang keluarga, Laras sedang duduk santai di kursi sambil memantau pekerjaan para teknisi yang memasang kamera pengawas di rumahnya.
Ia memastikan CCTV terpasang di sejumlah titik strategis, terutama di area yang berpotensi menjadi tempat terjadinya sesuatu yang mencurigakan.
Laras menyeruput kopinya dengan tenang. Tapi, tiba-tiba, ponsel yang tergeletak di atas meja bergetar.
Laras melirik layar ponselnya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis saat melihat nama Robby di sana.
Ia meletakkan cangkirnya kembali ke atas tatakan, kemudian meraih ponsel itu. Ia sengaja mengubah ekspresinya menjadi sedikit lemah sebelum menerima panggilan.
"Halo, Mas?" sapanya dengan suara lemas.
"Sayang, kartu yang kamu berikan tadi tidak bisa digunakan. Apa saldonya habis?"
Laras mengerutkan kening, berpura-pura terkejut. "Masa, sih? Bukannya masih ada uang di sana? Coba tanya petugasnya, Mas. Mungkin ada kesalahan."
"Sudah, kata kasir, batas transaksi hariannya sudah tercapai." Nada suara Robby mulai terdengar tidak sabar. "Sekarang, bagaimana kami membayar semua belanjaan ini?"
"Astaga, maaf, Mas. Aku benar-benar tidak tahu kalau batas transaksinya sudah tercapai." Ia sengaja menghela napas pelan. "Kalau memang tidak bisa, sebaiknya, sebagian barangnya dikembalikan dulu. Atau, Mas bayar pakai uang Mas sendiri saja untuk sementara."
Robby langsung terdiam.
Ia sebenarnya ingin meminta Laras mentransfer uang tambahan. Namun, jika ia melakukannya, ia khawatir Laras akan mengira jika ia memanfaatkannya karena terus-menerus meminta uang tanpa alasan yang masuk akal.
"Ya sudah kalau begitu," jawab Robby akhirnya, menahan kekesalannya.
Tanpa menunggu jawaban Laras, ia langsung memutuskan sambungan telepon.
Robby memasukkan ponselnya ke saku, lalu menghembuskan napas panjang dengan raut wajah yang terlihat muram. .
"Ada apa, Mas?" tanya Maya.
Robby menoleh dengan wajah kesal. "Kita tidak jadi membeli jam tangan."
Mata Maya langsung membelalak. "Kenapa begitu?"
"Kartu Laras tidak bisa digunakan lagi karena batas transaksi hariannya sudah tercapai."
"Lalu, bagaimana dengan jam tangannya?" Maya menunjuk etalase di depan mereka. "Aku sudah memilihnya!"
"Lain kali saja kita membelinya. Uangku juga tidak cukup. Sekarang, kita susul Ibu dan Bapak."
Maya menggeram kesal. Padahal, ia sudah membayangkan akan pulang membawa jam tangan mahal yang bisa ia pamerkan. Tapi, semua harus tertunda gara-gara Laras.
Dengan wajah masam, ia akhirnya mengikuti Robby menuju toko tas tempat Diah dan Bima berada.
Begitu Robby tiba, Diah langsung menghampirinya dengan wajah penuh harap.
"Bagaimana, Rob? Kamu sudah menghubungi Laras? Dia akan mengirim uangnya, kan?"
Robby menggeleng. "Tidak, Bu. Katanya, dia tidak tahu kalau batas transaksinya sudah tercapai." Ia melirik barang-barang yang menumpuk di dekat kasir. "Lebih baik sebagian belanjaannya dikembalikan saja."
"A-apa?" Diah menatap putranya dengan tidak percaya. "Kenapa begitu? Kamu bisa meminta Laras mentransfer uang lagi, kan?"
"Memangnya Ibu pikir semudah itu?" balas Robby, mulai kesal. "Kalau aku terus meminta uang, nanti dia akan curiga. Sudahlah, Bu! Pilih saja barang yang benar-benar ingin dibeli. Sisanya kembalikan."
Diah terpaksa menahan rasa kecewanya. Begitu juga dengan Bima. Mereka akhirnya memilah kembali barang-barang yang sebelumnya sudah di pilih dengan susah payah agar total pembayaran tidak melebihi batas transaksi yang tersisa.
Diah bahkan tidak bisa menyembunyikan kekesalannya. Ia terus menggerutu sepanjang proses pembayaran, seolah Laras sengaja mempermalukannya.
Mereka tidak tahu saja kalau wanita yang sedang mereka salahkan itu, saat ini justru tengah duduk santai sambil menikmati kopinya.
Ia meletakkan ponsel setelah panggilan Robby berakhir sambil tersenyum tipis, membayangkan betapa kesalnya keluarga suaminya karena tidak bisa membeli barang yang mereka inginkan.
Tapi, semua itu baru permulaan.
Laras mengalihkan pandangan ke arah para teknisi, sebelum tertuju pada asisten ibunya.
"Anita!" panggilnya.
Anita menoleh lalu, menghampiri Laras. "Iya, Bu?" jawabnya.
"Apa pun yang kamu lihat atau kamu ketahui tentang hari ini, jangan ceritakan pada siapapun, terutama Mama."
Anita terdiam sejenak.
Ia sudah cukup lama bekerja untuk keluarga Adiguna. Dan, selama Soraya berada di luar negeri, ia bertugas mendampingi Laras dalam mengurus berbagai urusan perusahaan.
Itu sebabnya, ia menyadari perubahan sikap Laras akhir-akhir ini. Tapi, ia tidak berani mencampuri urusan pribadi atasannya tanpa diminta.
"Baik, Bu," jawabnya akhirnya.
Laras mengangguk kecil. Ia tidak ingin ibunya mengetahui rencananya sebelum semuanya benar-benar siap.
Untuk saat ini, ia harus bergerak diam-diam agar Robby dan keluarganya tidak menyadari apa yang sedang ia lakukan.
"Oh, ya, Bu. Ada satu hal lagi yang ingin saya sampaikan." Anita mengalihkan pembicaraan. "Perusahaan Megantara mengajukan proposal kerja sama."
Laras mengerutkan keningnya. "Perusahaan Megantara?" ulangnya, memastikan.
"Benar, Bu. Tadi, perwakilan mereka datang ke perusahaan. Namun, karena Ibu sedang tidak berada di tempat, Sekretaris Jessica meminta mereka untuk datang kembali di lain waktu."
Anita menyerahkan tabletnya kepada Laras. "Ini salinan proposal kerja sama dari perusahaan Megantara."
Laras menerima tablet tersebut, lalu mulai membaca isi proposal secara sekilas.
"Perusahaan Megantara ..." gumamnya pelan. "Bukannya itu perusahaan keluarga Salsa. Kenapa dia tidak langsung menghubungiku?"
Anita menggeleng pelan. "Saya kurang tahu, Bu. Yang jelas, perwakilan mereka tadi hanya menyerahkan proposal dan meminta jadwal pertemuan."
Laras meletakkan tablet di atas meja, kemudian menatap Anita.
"Baiklah. Tolong sampaikan kepada Sekretaris Jessica agar menghubungi pihak Megantara. Katakan bahwa besok aku bersedia meluangkan waktu untuk bertemu dengan mereka."
"Baik, Bu. Akan saya sampaikan."
😒😒
itulah klo othor tdk tidur, pasti akan terbongkar wlo blm semua terbukti