NovelToon NovelToon
Dewi Perang Tidak Pernah Takut

Dewi Perang Tidak Pernah Takut

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Transmigrasi
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aida

Iris Quinn hanyalah sekretaris culun yang mudah diinjak-injak. Di rumah ia dijadikan keset oleh keluarganya, di kantor ia jadi samsak perundungan. Bahkan sang CEO, Ethan Cole, memilihnya hanya karena yakin gadis itu tidak akan punya nyali untuk menggodanya.

Tapi mereka tidak tahu, Iris yang asli sudah mati.

Tubuh ringkih itu kini dikuasai oleh jiwa Valerie Crowe, jenderal perang wanita kejam yang tewas diterkam harimau di medan tempur. Bagi Valerie, menghadapi drama kantor dan keluarga picik bukanlah masalah besar. Ini hanyalah medan perang baru yang sangat mudah ditaklukkan.

Dengan kecerdasan otak Iris dan insting membunuh seorang jenderal, Valerie mulai mematahkan satu per satu harga diri orang yang pernah menindasnya. Saat Ethan Cole menyadari sekretaris penurutnya berubah menjadi wanita berdarah dingin yang bisa melumpuhkan lawan dengan tangan kosong, sang CEO justru mulai terobsesi.

Mereka pikir Iris bisa terus ditindas? Selamat datang di neraka. Permainan baru saja dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kenekatan Ellen

Setelah kepergian Iris, Ethan memejamkan matanya karena merasa mengantuk. Saat ia hampir tertidur, ia mendengar suara pintu terbuka dan tiba-tiba ia merasa ada yang memeluknya.

"Ethan, aku takut sekali saat Ayah menghajar mu tadi. Kenapa kau diam saja dan tidak menghindar ? Ini semua karena wanita jalang itu" itu suara Ellen. Kakak tirinya, sekaligus wanita yang dibenci oleh Ethan.

Ethan segera membuka matanya dan mendorong Ellen yang tengah memeluk tubuh bagian atasnya yang tidak mengenakan apapun.

"Kurang ajar. Siapa yang mengizinkan mu masuk !" teriak Ethan. Wajahnya terlihat memerah, matanya berkilat amarah. Ia mendekati Ellen yang masih terduduk di lantai dan mencengkeram lehernya.

"Kau mau membunuh wanita yang sudah memberikan kepuasan untuk mu, Ethan ? Apa kau tidak takut kehilangan kepuasan mu itu ?" tanya Ellen dengan terbata-bata.

"Jangan mengatakan hal yang tidak benar. Kau tau betul diantara kita tidak ada apa-apa " kata Ethan mencoba menahan amarahnya. Perlahan cengkeramannya melonggar hingga Ellen mendorongnya.

"Aku tau betul jika diantara kita ada apa-apa. Dan kau mencoba melupakannya" kata Ellen tersenyum penuh arti. Ia beranikan diri menyentuh rahang tegas Ethan meskipun dengan perasaan takut.

Ethan masih diam. Rahangnya semakin mengeras mendengar perkataan Ellen. Pikirannya melayang pada kejadian dua bulan lalu dimana ia terbangun di dalam kamar hotel Ellen dalam keadaan telanjang.

Pada saat itu Ethan benar-benar tidak mengingat apapun. Ia tiba-tiba saja ia sudah ada di kamar yang bukan miliknya.

Ia meminta Kevin menyelidiki hal itu namun sampai sekarang masih belum menemukan titik terang. Mereka menduga bahwa kejadian itu pasti berkaitan dengan rekan bisnisnya yang sama-sama punya kuasa.

Dan pernikahannya dengan Iris pun juga sebagai tameng jika seandainya ada berita buruk tentang dirinya mengenai apapun.

"Jika aku sudah mendapatkan bukti kau bekerja sama dengan seseorang untuk menghancurkan ku, maka ingatlah aku yang akan menghancurkan mu lebih dulu" kata Ethan penuh penekanan.

"Ethan, mana mungkin aku bersekongkol untuk menghantarkan mu. Kau tau kalau aku mencintaimu. Justru aku akan berusaha melindungi mu" kata Ellen dengan lembut. Ia juga menggigit bibir bawahnya dan menatap Ethan dengan tatapan menggoda.

"Kau pikir siapa dirimu ? Mau melindungi ku ? Cih pikirkan saja nasibmu saat aku akan menendang mu dan ibumu dari hidup Ayahku" balas Ethan.

Wajah Ellen yang tadinya penuh senyum berubah risau. Kenapa Ethan berubah lagi seperti sebelumnya. Bukankah hampir dua bulan ini Ethan akan selalu kalah jika ia bicara tentang kejadian di hotel itu.

"Kau tidak bisa bayangkan bagaimana jika Ayah dan Kakek tau" kata Ellen mencoba mengancam.

"Memangnya apa yang bisa mereka lakukan ?" Ethan balik mengancam. Wajahnya tidak menunjukkan kegelisahan seperti sebelum-sebelumnya.

"Aku ingin tau apa yang ingin kau lakukan ?" bentaknya kemudian.

"Ethan, tinggalkan Iris dan menikahlah denganku. Aku mencintaimu dari dulu. Dari sejak kita pertama kali bertemu. Kenapa kau tidak pernah melihat ku sebagai wanita yang mencintaimu, Ethan ?" Teriak Ellen putus asa. Wajahnya pun sudah bersimbah air mata.

Ethan muak mendengar kata-kata yang sama dari Ellen. Wanita itu sudah gila di mata Ethan. Bagaimana mungkin mengatakan cinta pada saudara tirinya.

Tiba-tiba saja Ellen maju dan memeluk Ethan dengan erat. Tapi Ethan bisa menangkisnya lalu mendorongnya dengan kuat hingga punggung Ellen membentur rak kecil di dekat pintu hingga ia jatuh.

Ellen merasa malu, apalagi melihat wajah Ethan yang seperti sedang menertawainya.

Pelan-pelan Ellen bangkit sembari memegangi punggungnya yang terasa sakit. Iris datang dengan membawa sebaskom es batu dan kain. Ia heran melihat keberadaan Ellen di kamar Ethan.

"Ada apa ?" tanya Iris. Ia mendekat kearah Ethan dan mengamati wajah Ethan yang kusut. Mungkin telah terjadi sesuatu saat ia pergi.

"Tidak ada. Aku hanya mengusir tikus pengganggu yang tidak tau diri" jawab Ethan pelan namun menusuk.

Ellen merasakan sakit tidak hanya di tubuhnya. Tapi juga di hatinya. Bagaimana bisa Ethan mempermalukannya di depan orang asing.

"Ethan, kau keterlaluan. Aku pastikan kau akan membayar semuanya" kata Ellen sebelum ia keluar kamar.

Ethan dan Iris hanya menatap kepergian Ellen. Lalu Ethan tersentak saat tiba-tiba tangannya di tarik oleh Iris kearah tempat tidur.

"Berbaringlah, aku akan mengompres perutmu. Mungkin bisa sedikit membaik nanti" kata Iris dan Ethan hanya mengangguk.

Ethan diam saja dan menikmati setiap perhatian Iris padanya. Ada sesuatu aneh yang Ethan rasakan saat jari-jemari Iris menyentuh kulitnya. Seperti sengatan listrik yang membuatnya candu. Tubuhnya juga terasa melayang dengan diiringi degupan jantung yang bertalu kencang.

"Apa sakit ? Kau terlihat tegang" kata Iris saat tidak sengaja menatap wajah Ethan.

"Ekhem tidak sakit. Mungkin aku hanya mengantuk" balas Ethan. Mana mungkin ia mengatakan sangat nyaman dengan perlakuan Iris tersebut.

Iris menempelkan handuk basah yang sudah diberi es batu. Menekannya perlahan kearah yang membiru dan bergantian.

Bersama Iris, entah mengapa Ethan merasa nyaman dan aman. Ia tidak takut jika Iris akan melakukan hal buruk padanya meskipun awalnya ia tidak terlalu mengenal siapa Iris itu.

Hingga tidak disadari perlahan mata Ethan mulai terpejam karena saking nyamannya. Iris tertawa tanpa suara. Pria dewasa yang dingin di kantor itu, rupanya tidak jauh berbeda seperti anak-anak saat bersama ibunya.

Setelah dirasa cukup, Iris membersihkan tubuh Ethan dengan handuk kering. Lalu mengoleskan minyak aromaterapi pada tubuh Ethan agar tidak masuk angin setelah itu menyelimuti nya.

Hari hampir petang, dan Iris juga merasa mengantuk. Jadi ia putuskan tidur juga daripada tidak tau harus berbuat apa.

Iris tidur diatas sofa yang empuk sekali menurutnya. Sangat nyaman. Jauh lebih nyaman daripada kasur lamanya di apartemen dulu

Tidak membutuhkan waktu lama akhirnya Iris menyusul Ethan ke alam mimpi. Sama seperti Ethan, Iris pun merasa aman dan nyaman berada di dekat Ethan.

Tadinya sebenarnya Iris menanyakan kenapa ada Ellen disini dan kenapa keduanya seperti bertengkar. Tapi niat itu ia urungkan karena Ethan sudah tidur.

Firasat Iris mengatakan jika Ellen berbahaya. Wajahnya saja yang dibungkus dengan kelembutan. Dan lagi, melihat tatapannya pada Ethan, Iris sempat berpikir jika Ellen menaruh rasa suka terhadap adik tirinya itu.

Tapi ia tepis semua prasangka nya itu sebab merasa jika itu bukan urusannya. Berbeda lagi jika nanti Ethan meminta nya mengusir Ellen dari sisinya.

..

Iris mendengar pintu diketuk dengan keras. Matanya langsung terbuka dan ia mendapati dirinya ada diatas ranjang. Tubuhnya pun tertutup selimut yang dipakai Ethan tadi.

Karena tidak melihat keberadaan Ethan, jadi Iris turun dan membuka pintu dengan malas. Seorang pelayan berdiri di depan pintu. Wajahnya yang tadi terlihat sebal kini ia tundukkan saat melihat Iris.

"Nona, semua keluarga sudah menunggu anda dan Tuan Ethan untuk makan malam bersama" kata pelayan itu.

"Iya, terimakasih" kata Iris pendek. Ia masih mengantuk tidak punya energi meladeni apapun.

"Siapa ?" tanya Ethan saat Iris menutup pintu. Ia seperti habis mandi dan terlihat berbeda dengan pakaian kasual. Tangannya sibuk mengeringkan rambutnya yang basah.

"Oh itu, pelayan bilang kita ditunggu di ruang makan" jawab Iris sambil menguap.

"Ethan, kau memindahkan ku kesini ?"

"Tidak. Mana mungkin aku mau serepot itu !" balas Ethan sambil melempar handuk kecil ke wajah Iris.

...

1
Noey Aprilia
Hhhmmm.....
abs pnya apartmen baru,abs tu blnju baju yg bgus...trs k salon,kl prlu ptong rmbut biar buang sial.....
kl kluarganya mnta uang,jgn d ksih...lbh baik pke buat dri sndri aja...ok jendral....
Noey Aprilia
Hai kk...
Aku udh mmpir lg....crtanya seru,sm ky crtamu yg lain....😁😁😁...
ska bgt kl cwek tngguh ky gni,ga menye2 trs kl ada yg ngusik lngsng d bls....d tnggu up'ny y....smngttt....😘😘😘
Noey Aprilia: sama2...😁😁😁
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!