Revan (30), pimpinan tentara elit yang lima tahun tak pulang, mendapat misi mengintai kelompok pemberontak di hutan desa kelahirannya. Selama ini, Revan terlalu sibuk bertugas hingga tidak sempat memikirkan cinta, sang ibu khawatir dan ingin menjodohkan nya.
Di sisi lain, Nara ...bidan ASN cantik yang jago bela diri,pindah tugas ke desa tersebut. Karna menghindar dari beberapa laki laki yang selalu mendekatimya ,maraknya kasus KDRT dan perselingkuhan membuat ia trauma hingga tak percaya cinta dan enggan menikah.
Takdir mempertemukan mereka di gerbong kereta api. Demi menghindari desakan nikah ibunya via telepon, Revan nekat mengambil diam diam gambar dengan wanita di sampingnya yang sedang tertidur,agar sang ibu tenang, Ia tak menyadari bahwa wanita tersebut adalah Nara, bidan baru yang siap mengubah jalan hidup dan misinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Usulan pernikahan
Suasana malam di rumah keluarga Nara terasa hangat dan hidup. Selepas menyantap makan malam bersama, ruang tamu mendadak ramai dengan aktivitas masing-masing.
Di sudut ruangan, Aris dan Revan tampak akrab duduk bersama.....
Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Dari arah kamar tengah, suara omelan Nara tiba-tiba melengking tinggi, memecah keheningan malam.
"Yolaaa! Pakai baju sendiri enggak, sih?! Kenapa baju Kakak lagi yang kamu comot?!" protes Nara dengan nada gemas, melangkah keluar kamar dengan tangan berkacak pinggang menatap adiknya tajam.
Yola yang tertangkap basah mengenakan blus kesayangan sang Kakak langsung terkikik geli. Tanpa rasa bersalah, ia berlari dan berlindung di balik punggung sang Ibu, menjadikan ibunya sebagai perisai .
Ibu Nara yang sedang merapikan meja hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah kedua putrinya. "Udah, udah... Pinjemin aja adiknya, Nara. Biarin....nanti belik lagi bisa,...," bela Ibu dengan senyuman penuh kasih.
Nara pasrah, sementara Yola menjulurkan lidahnya dari balik bahu sang Ibu, merasa menang.
Tok, tok, tok.
Di tengah keriuhan kecil itu, suara ketukan pintu utama terdengar disusul dengan salam dari luar.
"Assalamu'alaikum..."
Pintu terbuka, dan sesosok pemuda rapi dengan senyuman ramah melangkah masuk ke dalam rumah. Dialah Ivan, kekasih Yola yang datang berkunjung.
"Malam, Bu... kak Nara, ..." sapa Ivan dengan sopan, menebar senyum hormat kepada setiap anggota keluarga yang ada di ruang tamu.
"Izin bawa Yola jalan sebentar ya, Bu," lanjutnya meminta izin dengan santun.
Melihat ada tamu di rumah, Nara yang tadinya masih memasang wajah cemberut langsung menarik napas panjang dan mengalah.
Ia merapikan rambutnya sebentar, lalu menyambut kedatangan Ivan dengan senyuman ramah khas seorang kakak.
"Iya, Van, silakan. Hati-hati di jalan ya," jawab Nara mengizinkan.
Sebelum Ivan dan Yola berpamitan untuk pergi keluar, Yola yang terkenal usil tak mau melewatkan kesempatan emas untuk menggoda kakaknya di depan sang pacar baru.
Ia menarik lengan Ivan pelan, lalu menunjuk ke arah Revan yang duduk tenang di sofa.
"Oh iya, Bang Ivan... Kenalin, ini calon kakak ipar Nara, namanya Bang Revan!"
seru Yola riang dengan nada bangga, sengaja mengerling usil ke arah Nara.
Ivan tertegun sejenak, melihat sosok Revan berwajah tegas dan gagah yang kini tersenyum tipis kepadanya.
Dengan cepat, Ivan langsung merapatkan diri untuk bersalaman penuh hormat dengan Revan.
"Ivan..." sapa Ivan ramah sambil menjabat tangan tegap pria di depannya.
"Revan," balas Revan mantap dengan senyuman ramah.
Yola yang melihat interaksi itu langsung menyambar lengan pacarnya dengan cengiran usil.
"Kami pergi dulu ya, Bang Revan... Kak Nara!" serunya jahil sebelum menarik Ivan keluar rumah.
Tak lama setelah kepergian Yola dan Ivan, Aris berpamitan untuk masuk ke kamar. Begitu pula dengan Ibu Nara yang melangkah ke peraduan untuk beristirahat. Suasana rumah yang tadinya riuh perlahan mereda, meninggalkan keheningan malam yang tenang.
Kini, tinggal Revan dan Nara yang duduk berdua di ruang tamu. Cahaya lampu yang temaram membiaskan suasana hangat dan romantis di antara mereka. Keheningan di antara keduanya tidak lagi terasa canggung, melainkan dipenuhi oleh rasa nyaman yang mendalam.
Secara perlahan, Revan meraih jemari halus Nara, mengusapnya lembut lalu menggenggamnya erat. Tatapan mata Revan terkunci pada wujud cantik wanita di sampingnya.
"Nara..." panggil Revan lembut dengan suara yang bergetar penuh kesungguhan.
"Ya, Bang?" jawab Nara pelan, mendongak menatap netra cokelat tegas milik Revan.
"Abang mau serius sama Nara... Kalau Nara mau, kita urus persyaratannya secepatnya,"
ucap Revan tulus, menyampaikan niat sucinya tanpa ada keraguan sedikit pun.
Nara terdiam sejenak. Ia menarik napas panjang, meresapi rasa hangat dari genggaman tangan Revan.
"Jujur Nara ragu... Tapi Nara mau coba sama Abang,"
tutur Nara jujur. Matanya menatap Revan dalam-dalam sebelum melanjutkan dengan nada tegas,
"Tapi Nara langsung cut kalau ada pengkhianatan."
Revan tersenyum tipis. Binar ketulusan terpancar dari matanya saat ia meremas pelan jemari Nara.
"Nara tahu sendiri, Abang enggak pernah pacaran... Baru Nara yang buat Abang luluh, dan itu bakal Abang perjuangkan sampai kapan pun."
Nara terkekeh keci
, mencoba mencairkan suasana.
"Ya aslinya enggak tahu juga sih, Bang..."
ejek Nara sambil tersenyum manis.
Di tengah obrolan manis itu, suara pintu depan terbuka. Ayah Nara baru saja pulang setelah menyelesaikan urusannya di luar.
"Ayah..." panggil Nara menyapa.
"Iya... Ayah makan dulu ya. Kalian ngobrol-ngobrol saja dulu,"
sahut Ayah ramah sembari melangkah menuju dapur.
Dari meja makan, Ayah dan Ibu Nara mencuri pandang ke arah ruang tamu. Melihat Nara bisa tertawa lepas kembali bersama Revan membuat dada kedua orang tua itu bergemuruh haru. Kebahagiaan putri mereka adalah hal paling berharga.
"Kita segera nikahkan saja yah, jika Nara setuju," bisik Ibu pelan di samping Ayah.
Ayah tersenyum hangat lalu mengelus bahu istrinya. "Kita tanya Nara dulu ya, Bu..."
Selesai menyantap makan malamnya, Ayah Nara melangkah menuju ruang tamu dengan membawa dua cangkir kopi hangat yang aroma semerbaknya memenuhi ruangan.
"Wah... Seru sekali kayaknya ini, boleh Ayah gabung?"
tanya Ayah menyapa hangat.
"Minum dulu, Nak Revan..."
serunya sambil menyodorkan satu cangkir kopi ke atas meja.
"Terima kasih, Pak,"
jawab Revan sopan dan berdiri sebentar menyambut Ayah Nara.
Nara yang teringat kenangan lama tiba-tiba terkekeh manis. Ia menoleh ke arah sang Ayah dengan mata berbinar.
"Nara teringat waktu pertama ketemu, Yah... Abang bohong kalau Nara itu pacarnya. Nara lucu banget lihat wajah panik Abang waktu itu!"
Revan hanya bisa tersenyum simpul sambil menggaruk belakang telinganya seperti ada serangga ,.
"Revan.".......
Kata ayah Nara. Revan serius sama Nara.
Revan terdiam kaku.
"Serius, Pak...".
jawabnya dengan sangat sopan.
"Segera nikahi Nara," lanjut ayah Nara mantap.
"Tapi apa Nara setuju, Pak?" Revan beralih melihat Nara.
Nara yang tak tahu harus berkata apa, begitu terkejut atas pertanyaan ayahnya. Nara terlihat bingung.
Melihat kebingungan di wajah Nara, Revan perlahan mengulurkan tangannya. Jemari tegapnya menggenggam lembut jemari dingin Nara, memberikan usapan halus di punggung tangannya untuk menyalurkan rasa hangat, ketenangan, dan kepastian tanpa ada paksaan sedikit pun.
" Nara ...... bagaimana nak "..
Ayah Nara menanyai dengan tamp Paksaan.
" bang,....apa bisa buat surat perjanjian"
seru Naya , dengan kepolosan.
Revan tersenyum,
Senyum paling manis
" bisa ....banget ,apapun persyaratan Nara Abang bakal setujui "
Mantaf Revan .
"Tapi......, "...Nara ragu.
" Uda GK usah ragu , ayah dan ibu yakin Revan jodoh terbaik untuk kamu " sambung ayah Nara sebelum Nara menyambung kan kalimat berikutnya.
genggaman tangan Revan dilepas oleh Nara ...
Revan....gugup ,Ia takut Nara menolak ...napasnya tercekal,Tapi dia harus siap, apapun keputusan dari pujaan hatinya .