Seorang Pemuda Pengangguran Terdesak pinjol ia pun nekat menjadi Dukun Palsu/Gadungan karena menemukan beberapa barang kuno lalu muncul ide menjadi Dukun..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al-Ashar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ekspansi Program dan Jaringan Nusantara
Kehidupan di Umalas mengalir semakin tenang namun penuh dengan dinamika baru yang jauh lebih bermakna. Brajamukti Cultural & Mindset Center yang berawal dari sebuah villa pelatihan di Bali kini mulai dilirik oleh berbagai instansi pemerintah daerah dan organisasi pengusaha muda dari berbagai pulau.
Pagi itu, suasana di kantor pusat yayasan tampak sibuk. Darto sedang memeriksa berkas-berkas kerja sama ekspansi program pelatihan untuk wilayah Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat, sementara Bowo sibuk mengkoordinasikan pengiriman bahan-bahan produksi UMKM binaan dari Bali menuju pelabuhan.
"Mat," panggil Darto dari balik meja kerjanya. "Ada permintaan dari Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi buat bikin program pendampingan usaha berbasis komunitas di lima kabupaten. Mereka mau kamu sendiri yang pimpin sesi pembukaannya di Surabaya bulan depan."
Mamat yang sedang duduk memandangi peta Indonesia di dinding ruangan membalikkan badan perlahan. Kemeja linen putihnya tampak rapi, dipadukan dengan celana kain santai yang elegan.
"Ambil program itu, To," jawab Mamat tegas. "Tapi buat formatnya beda. Jangan cuma kasih seminar satu jam selesai. Kita bikin pendampingan intensif tiga bulan. Ajarkan mereka cara baca laporan keuangan sederhana, strategi pemasaran digital yang jujur, sama cara mengelola mental pas jualan lagi sepi."
Bowo melangkah masuk sambil membawa segelas kopi hitam panas. "Bos, tim dari Gianyar juga baru kirim kabar. Produk kerajinan bambu sama minyak aromaterapi murni buatan kelompok usaha wanita binaan kita minggu ini tembus pasar ekspor ke Australia!"
Mamat tersenyum puas, menerima gelas kopi dari Bowo. "Iku baru jenengne hasil nyata (Nah itu baru namanya hasil nyata). Tanpa perlu bumbu sihir atau aura gaib, barang kalau dibuat dengan kualitas bagus dan dikemas jujur pasti ketemu pasarnya sendiri."
Keberhasilan yayasan tersebut terbukti bukan sekadar keberuntungan sesaat. Mamat memanfaatkan pengalaman bertahun-tahun membaca karakter manusia saat menjadi penipu jalanan untuk menciptakan metode analisis perilaku konsumen yang sangat akurat dan mudah dipahami oleh masyarakat awam.
Sesuai rencana, bulan berikutnya Mamat, Darto, dan Bowo berangkat ke Surabaya untuk memimpin pembukaan program pendampingan UMKM. Acara yang digelar di gedung konvensi besar di pusat kota itu dihadiri oleh ratusan pelaku usaha kecil dari berbagai penjuru Jawa Timur.
Mamat berdiri di atas panggung utama tanpa dekorasi mistis atau ornamen berlebihan. Di hadapannya, ratusan pasang mata menatap dengan penuh harapan dan rasa ingin tahu.
"Bapak dan Ibu sekalian," seru Mamat dengan suara bernada mantap dan ramah. "Banyak orang bilang modal utama bikin usaha itu uang. Saya tegaskan di sini: uang itu modal nomor sekian. Modal paling utama adalah kejujuran pada diri sendiri dan pemahaman atas kebutuhan pelanggan."
Para peserta mengangguk-angguk khusyuk, mencatat setiap poin yang disampaikan Mamat.
Namun, di tengah-tengah sesi tanya jawab, seorang pria berjas mahal dengan cincin emas besar di jarinya berdiri dan mengambil mik. Pria itu adalah Haji Gofur, seorang investor lokal ternama yang dikenal sering membiayai proyek-proyek bisnis berisiko tinggi.
"Pak Mamat," panggil Haji Gofur dengan nada menantang. "Saya dengar cerita dari kawan-kawan pengusaha di Bali. Dulu Anda ini dikenal punya 'keahlian khusus' membongkar masalah bisnis dalam sekali pandang. Kenapa sekarang malah jualan teori manajemen biasa? Kenapa tidak pakai 'cara cepat' itu saja buat bantu UMKM di sini?"
Suara bisik-bisik seketika memenuhi ruangan. Darto dan Bowo di samping panggung sempat menegang, khawatir masa lalu Mamat akan kembali dijadikan bahan gundah.
Mamat tidak menghindar. Ia justru tersenyum tenang, melangkah dua tindak mendekati tepi panggung.
"Pak Haji yang hormati," jawab Mamat dengan intonasi yang begitu santun. " 'Cara cepat' yang Bapak maksud itu sebenarnya tidak pernah ada. Yang ada dulu adalah kepandaian membaca ketakutan orang. Ketika seseorang berada dalam masalah, mereka cenderung mencari pembenaran cepat daripada menyelesaikan akar masalahnya."
Mamat memandangi seluruh peserta di dalam ruangan.
"Saya pernah berdiri di jalan yang salah," lanjut Mamat jujur tanpa rasa malu. "Saya pernah memanfaatkan ketakutan orang demi keuntungan pribadi. Dan saya tahu persis, 'cara cepat' itu cuma memberi rasa tenang sementara, tapi merusak fondasi dalam jangka panjang. Di yayasan ini, kami tidak menawarkan keajaiban. Kami menawarkan proses belajar yang nyata agar usaha Bapak dan Ibu bisa bertahan bertahun-tahun ke depan."
Jawaban yang begitu jujur dan berani itu disambut oleh tepuk tangan meriah yang bergemuruh dari seluruh sudut ruangan! Haji Gofur yang tadinya berniat menguji Mamat pun akhirnya tersenyum lebar dan menganggukkan kepala memberikan hormat atas keberanian Mamat mengakui perjalanan hidupnya.
Setelah rangkaian kegiatan di Surabaya selesai, Mamat memutuskan untuk melakukan perjalanan darat menuju Kampung Kalisari. Ia ingin melihat langsung perkembangan program bantuan modal dan pendampingan yang dialokasikan yayasannya untuk warga desa kelahirannya.
Mobil yang dikendarai Bowo menyusuri jalanan desa yang kini sudah beraspal mulus. Pohon-pohon rindang di tepi jalan menyambut kedatangan mereka, membawa kenangan masa lalu saat ketiganya masih berlari tunggang-langgang dikejar penagih utang pinjaman daring.
Saat mobil berhenti di depan balai desa, Pak Bintoro, Pak RT Sugino, dan belasan warga sudah berkumpul menyambut.
"Mamat!" sapa Pak Bintoro dengan wajah gembira. "Lihat ini! Balai usaha desa yang dibantu dari yayasamu sudah berdiri!"
Mamat melangkah turun dari mobil, menjabat tangan Pak Bintoro dan Pak RT Sugino erat-erat. Di samping balai desa, tampak sebuah bangunan sentra pengolahan hasil tani dan kerajinan warga yang dilengkapi dengan peralatan modern.
"Piye, Pak? Usaha warga lancar?" tanya Mamat ramah.
Pak RT Sugino tertawa lebar. "Lancar banget, Mat! Anak-anak muda karang taruna sekarang tidak ada yang menganggur lagi. Mereka mengelola penjualan hasil tani lewat internet, diajari sama tim dari yayasanmu minggu lalu. Tidak ada lagi yang tergiur pinjol atau percaya dukun-dukun tidak jelas!"
Mbah Jambrong yang duduk di kursi kayu balai desa sambil mengisap rokok klobot menimpali dengan suara seraknya. "Iyo, Mat! Dukun-dukun palsu di kecamatan sebelah pada bangkrut gara-gara warga sekarang sudah pintar-pintar semua!"
Gelak tawa pecah di halaman balai desa. Mamat memandangi wajah-wajah berseri warga kampungnya dengan rasa haru yang teramat dalam. Kampung yang dulu menjadi saksi kebingungan dan kemiskinannya kini telah bertransformasi menjadi desa yang mandiri dan berdaya.
Malam harinya, sebuah acara syukuran sederhana digelar di balai desa Kalisari. Seluruh warga berkumpul menikmati hidangan tumpeng dan lauk pauk lokal. Mamat, Darto, dan Bowo duduk bersama para sesepuh desa di atas tikar pandan.
Di tengah suasana hangat itu, Pak Bintoro berdiri menyerahkan sebuah bingkisan kain pada Mamat.
"Mat," kata Pak Bintoro tulus. "Ini dari warga Kalisari. Baju batik buatan ibu-ibu PKK desa kita sendiri. Sebagai tanda terima kasih karena kamu tidak pernah lupa sama tanah kelahiranmu."
Mamat menerima bingkisan itu, membukanya perlahan, dan memandangi motif batik tulis halus buatan warga desa.
"Pak Bintoro, Mbah Jambrong, dan semua warga yang saya hormati..." panggil Mamat, suaranya agak bergetar menahan haru. "Saya yang justru harus terima kasih. Kalau dulu warga Kalisari tidak mengejar dan menegur saya, mungkin saya bakal terus-terusan jadi penipu yang merusak hidup orang lain. Teguran dan amarah warga dulu adalah awal dari proses penyadaran hidup saya."
Mbah Jambrong mengacungkan tongkat kayunya pelan. "Wis, Mat... sing wis ya wis (yang sudah ya sudah). Kamu sekarang sudah jadi manusia yang memberi manfaat buat orang banyak. Itu sudah lebih dari cukup buat menebus semua kelakuan konyolmu zaman dulu."
Darto dan Bowo yang duduk di samping Mamat saling melempar senyum. Tiga pemuda yang dulu dianggap sebagai beban masyarakat kini berdiri sebagai pilar perubahan yang membanggakan bagi kampung halaman mereka.
Sebelum acara berakhir, Mamat mengumumkan penambahan dana beasiswa pendidikan untuk seluruh anak-anak kurang mampu di Kampung Kalisari agar bisa melanjutkan sekolah hingga tingkat perguruan tinggi.
"Saya tidak mau ada lagi anak muda di desa ini yang terpaksa menipu atau menempuh jalan sesat cuma gara-gara tidak punya akses pendidikan dan pekerjaan," tegas Mamat yang disambut tangis haru dan tepuk tangan meriah warga.
Beberapa hari kemudian, Mamat, Darto, dan Bowo kembali ke Bali. Kehidupan berjalan semakin teratur dan penuh kepastian. Brajamukti Cultural & Mindset Center kini telah berkembang menjadi lembaga konsultasi dan pendampingan terpercaya dengan jaringan yang tersebar di sepuluh provinsi.
Sore itu, Mamat sedang duduk di teras belakang villanya di Umalas, menikmati pemandangan matahari terbenam yang memancarkan warna jingga keemasan di atas hamparan sawah.
Darto melangkah mendekat sambil membawa laporan tahunan yayasan. "Mat, laporan keuangan tahunan kita sudah selesai diaudit sama akuntan publik. Hasilnya bersih seratus persen, dan alokasi dana sosial kita tahun ini naik lima puluh persen."
Bowo ikut bergabung, meletakkan nampan berisi kopi dan kudapan hangat. "Dan yang paling keren, tempat kita dapat penghargaan dari kementerian sebagai lembaga pendampingan UMKM paling inovatif tahun ini!"
Mamat menyunggingkan senyum tulusnya, memandangi dua sahabat terbaiknya itu.
"Kalian ingat ndak," kata Mamat pelan, "waktu kita pertama kali sampai di Jakarta pakai bus antarkota cuma bawa uang lima puluh juta di dalam ransel?"
Darto tertawa pelan. "Ingat banget, Mat. Waktu itu kamu masih pakai jas sewaan sama keris bengkok tua."
"Atau waktu kita dikejar-kejar Bang Tato di Semarang?" timpal Bowo sambil terkekeh.
"Semua itu masa lalu yang bikin kita paham," ujar Mamat penuh kearifan. "Bahwa kebohongan terbesar di dunia ini bukanlah saat kita menipu orang lain, tapi saat kita membohongi diri sendiri bahwa kita tidak bisa berubah menjadi lebih baik."
Mamat berdiri dari kursinya, melangkah ke tepi teras dan memandangi indahnya pemandangan alam Bali.
Ia telah menempuh perjalanan panjang dari seorang pengangguran yang terlilit utang pinjaman daring di lorong sempit desa, menjadi dukun gadungan di kota, sebelum akhirnya menemukan takdir sejati sebagai manusia yang bermanfaat bagi sesama.
Tidak ada lagi bayang-bayang ketakutan, tidak ada lagi kecemasan akan kebohongan yang terbongkar. Yang tersisa hanyalah kedamaian jiwa, keberkahan usaha, dan persahabatan sejati yang abadi.
Mamat mengangkat cangkir kopinya, menatap mentari yang perlahan tenggelam di ufuk barat dengan senyuman syukur yang paling murni dalam hidupnya. Perjalanan gila sang Master Motivator Jalanan telah mencapai kesempurnaannya—sebuah cerita tentang keberanian untuk berhenti menipu dan mulai berkarya dengan jujur demi masa depan yang terang.