Lyana Shaqiera, mahasiswi fakultas hukum.
Di tahun keduanya menempuh pendidikan, Qiera justru mendapat gelar baru. Bukan gelar Sarjana Hukum, melainkan "istri" dari dosennya, tepatnya dosennya yang sangat menyebalkan, Ravian Aryasatya?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syshy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAL02. Malam Menyebalkan
Saat malam semakin larut, keluarga Ravi mulai berpamitan. Kakeknya juga akhirnya dibawa pulang lebih dahulu karena kondisinya yang membutuhkan banyak istirahat. Sebelum pergi, lelaki tua itu sempat menggenggam tangan Qiera cukup lama sambil tersenyum. “Jaga Ravi juga, ya, Nak.”
Qiera yang sedang berusaha tersenyum manis hanya bisa mengangguk. “Iya, Kek.”
Sementara di sampingnya, Ravi justru terlihat santai seolah tidak ada sesuatu yang aneh dengan seluruh situasi malam ini. Bahkan ketika Kakeknya menggodanya agar tidak terlalu serius kepada Qiera, pria itu hanya tertawa kecil. Pemandangan tersebut kembali membuat Qiera heran. Selama menjadi mahasiswinya, ia hampir tidak pernah melihat Ravian tertawa selepas itu. Di kampus, pria tersebut seperti memiliki persediaan ekspresi yang sangat terbatas: datar, serius, dan sesekali menaikkan sebelah alis ketika mendengar jawaban mahasiswa yang menurutnya tidak masuk akal.
...🌃🌃🌃...
Setelah semua keluarga benar-benar pergi, rumah yang sejak pagi dipenuhi kesibukan akhirnya menjadi jauh lebih tenang. Papa dan Mama juga mulai beristirahat setelah memastikan semua keperluan mereka telah selesai. Tinggallah Qiera dan Ravi yang masih berada di lantai dua, tepat di depan kamar Qiera.
Qiera berdiri di ambang pintu sambil menatap koper milik Ravi yang sudah diletakkan di dekat lemari. Pandangannya kemudian berpindah kepada tempat tidur, lalu kembali kepada koper tersebut. Berkali-kali ia menarik napas seolah sedang mencoba menerima kenyataan yang sebenarnya sudah tidak bisa diubah.
“Ini serius?” gumamnya bermonolog.
Ravi yang sedang membawa beberapa pakaian menoleh. “Apa?”
“Koper itu.”
“Iya.” Bahkan disaat seperti ini pun, jawaban Ravi masih sangat singkat dan santai.
“Kenapa ada di kamar aku?”
“Karena saya akan tidur di sini.”
Qiera menatapnya tidak percaya. “Aku tahu. Maksudku, kenapa harus di sini?”
Ravi menatap kamar itu sebentar sebelum menjawab dengan tenang, “Karena ini kamar kamu.”
“Nah, itu.”
“Kenapa?”
“Karena ini kamar aku,” ujar gadis itu dengan telunjuk menunjuk dirinya.
Ravi mengangguk. “Saya tahu.”
“Terus kenapa Bapak malah tidur di sini?”
“Karena kamu istri saya.”
Qiera langsung memejamkan mata. “Ck! Jangan mulai.”
“Saya belum mulai apa-apa.”
“Kalau sudah menyebut status itu, pasti setelahnya menyebalkan.”
“Berarti kamu sudah mengenal saya cukup baik.”
Qiera menatapnya tajam. “Aku kenal Pak Ravi sebagai dosenku.”
“Bagus, tapi sekarang tambah satu lagi.”
“Apa?”
“Suami kamu.”
Qiera menggerutu pelan lalu masuk ke kamar. “Aku tidur duluan.”
“Silakan.”
Qiera berhenti sebentar dan menoleh. "Bapak tidur di mana?”
Ravi menunjuk sofa kecil di sudut kamar. “Di sana.”
Qiera menatap sofa tersebut. Ukurannya jelas tidak terlalu besar untuk seorang pria dengan tubuh seperti Ravi. Namun pria itu tampaknya sama sekali tidak mempermasalahkannya. Ia malah mulai mengeluarkan beberapa barang dari kopernya dengan santai.
“Serius?”
“Serius.”
“Enggak apa-apa?”
“Kenapa harus apa-apa?”
“Punggung Pak Ravi sakit nanti?” gumam Qiera ragu-ragu.
Ravi menoleh dan tersenyum tipis. “Khawatir?”
“Bukan.” Qiera buru-buru memalingkan wajah. “Aku cuma enggak mau besok Bapak menyalahkan aku karena sakit punggung.”
Ravi hanya menyimpan senyumannya. "Atau.. Kamu mau saya tidur di ranjang juga? De-"
"NGGAK! Nggak ada! Ngga usah aneh-aneh!"
Wajah Qiera menghangat tanpa ia sadari. Harus tidur seranjang dengannya? No way! Membayangkannya saja ia tak mampu dan tak mau.
Bukan marah atau tersinggung, Ravi justru terkekeh mendengar penolakan Qiera dengan wajah bersemu.
“Saya bercanda. Malam ini kamu saja yang diranjang. Tenang, saya tidak akan menyalahkan kamu.”
“Janji?”
“Janji.”
Qiera mengangguk puas. Setidaknya untuk malam pertama ini, masalah tempat tidur tidak perlu menjadi perang dunia ketiga.
Tak ada percakapan lagi antara keduanya. Ravi kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Qiera memanfaatkan waktu tersebut untuk mengganti pakaian dan merapikan meja belajarnya. Ia mencoba bersikap normal, tetapi suasana kamar terasa begitu asing. Ini adalah kamar yang selama bertahun-tahun menjadi tempatnya membaca, mengerjakan tugas, menangis diam-diam ketika stres, bahkan mengobrol dengan teman melalui telepon sampai larut malam.
Sekarang ada seorang pria di dalamnya.
Seorang pria yang kebetulan adalah suaminya.
Dan lebih parahnya lagi, pria itu adalah dosennya sendiri.
“Gila,” gumam Qiera sekali lagi.
Beberapa saat kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Qiera yang sedang merapikan buku refleks menoleh.
Ravian keluar dengan rambut basah dan mengenakan bathrobe putih sederhana, satu tangan masih menggosok rambutnya menggunakan handuk kecil. Beberapa tetes air masih menetes dari ujung rambutnya ke pelipis, sementara wajahnya terlihat jauh lebih segar setelah mandi.
Qiera langsung membeku menatap kejadian itu.
Ravian berhenti. Ditatap dengan tatapan tak biasa, membuatnya cukup bingung apakah ia melakukan hal yang salah. Keduanya saling menatap selama beberapa detik.
Kemudian sudut bibir Ravian terangkat. “Kenapa?”
Qiera buru-buru memalingkan wajah. “Enggak kenapa-kenapa.”
“Terus kenapa lihat saya seperti baru melihat hantu?”
“Karena...” Qiera berhenti, lalu menghela napas. “Kenapa pakai begitu?”
Ravian melihat bathrobe yang dikenakannya sendiri seolah baru menyadarinya. “Ini?”
“Iya.”
“Karena saya habis mandi.” Lagi, pria itu menjawab dengan santai.
“Ya, aku tahu!”
“Kalau tahu, kenapa bertanya?”
Qiera menggeram pelan. “Maksudku, kenapa enggak langsung pakai baju di kamar mandi??”
“Baju saya masih di koper.”
“Ambil.”
“Malas.”
Ravian justru berjalan mendekat sambil membawa handuk di bahunya. Qiera refleks mundur setengah langkah ketika pria itu berhenti di dekatnya. Bukannya langsung mengambil pakaian dari koper, Ravi malah menatap tumpukan buku hukum yang memenuhi meja, kemudian melirik laptop yang masih terbuka di sana. Rambutnya yang basah membuat beberapa tetes air masih menempel di pelipis dan lehernya, sementara bathrobe putih yang dikenakannya membuat Qiera semakin tidak nyaman untuk sekadar berdiri di tempat yang sama.
“Masih belajar?” tanyanya santai.
“Enggak. Lagi merapikan,” jawab Qiera sambil berusaha memusatkan perhatian pada buku-buku di hadapannya.
Ravi mengangguk kecil, lalu pandangannya beralih pada laptop. “Besok ada kelas?”
Qiera mengangguk. “Ada.”
“Dengan saya.”
“Sayangnya.”
Ravian langsung terkekeh. “Kenapa sayangnya?”
“Karena besok aku harus melihat muka dosen menyebalkan setelah malam ini.” Qiera mengatakannya tanpa berpikir panjang, tetapi begitu menyadari Ravi justru menatapnya dengan senyum tipis, ia langsung menghela napas. “Sudahlah.”
“Memangnya malam ini saya menyebalkan?”
Qiera hendak menjawab, tetapi matanya kembali tanpa sengaja jatuh pada penampilan pria itu. Rambut basah, bathrobe yang menampilkan sebagian dadanya, dan wajah yang terlihat santai daripada ketika berada di depan kelas. Ia segera mengalihkan pandangan dan pura-pura sibuk merapikan buku. “Enggak tahu. Pokoknya menyebalkan.”
“Berarti kesimpulannya sudah dibuat tanpa penelitian.”
“Jangan mulai jadi dosen lagi.”
“Saya cuma bertanya.” Ravian tersenyum kecil. Kemudian, dengan sengaja, ia menundukkan wajah sedikit agar pandangannya sejajar dengan Qiera. “Lily..”
Qiera langsung menatapnya. “ Ckk! Jangan panggil begitu.”
“Kenapa?”
“Aneh.”
“Saya suka.”
“Ya, tapi aku enggak!”
“Nanti juga terbiasa.”
Ia akhirnya mundur dan berjalan menuju koper yang tadi diletakkan di samping lemari. Qiera mengembuskan napas lega, lalu kembali merapikan bukunya. Baru saja tangannya hendak mengambil satu novel yang terselip di antara buku kuliah, suara Ravi kembali terdengar dari belakang.
“Lily,”
“Apa lagi?!” Sungguh, Qiera tidak suka dengan panggilan itu.
“Jangan panggil saya Pak.”
Qiera mengerutkan dahi dan menoleh. "Kenapa? Kan emang Pak Ravi dosen saya."
"Itu di kampus, sekarang saya suami kamu."
Qiera kembali menghadap meja, tetapi pikirannya justru mulai sibuk memikirkan sesuatu yang sebenarnya sederhana. Selama ini ia selalu memanggil pria itu Pak karena Ravian adalah dosennya.
“Terus aku harus panggil apa?” tanyanya akhirnya.
Ravian yang sedang membuka koper berhenti sejenak. “Banyak pilihan.”
“Misalnya?”
“Ravi.”
Qiera langsung menggeleng. “Nggak sopan.”
“Suami.”
Qiera menoleh cepat. “Enggak mungkin.”
“Kenapa?”
“Karena aku bukan orang yang suka ngomong begitu.”
“Padahal faktanya benar.”
“Jangan mulai lagi.”
Ravian tertawa pelan. “Kalau begitu, panggil Mas.”
Qiera langsung menatapnya seolah pria itu baru saja mengusulkan sesuatu yang paling tidak masuk akal malam ini. “Mas?”
“Iya.”
“Mas Ravi?”
“Bisa.”
Qiera mencoba mengucapkannya dalam hati. Mas Ravi. Namun belum juga terucap, ia langsung bergidik memikirkannya.
Tidak!
Sama sekali tidak cocok.
“Enggak!”
“Kenapa?”
“Aneh.”
“Aneh bagaimana?”
“Ya aneh saja. Aku enggak pernah manggil begitu.”
“Mulai sekarang bisa.”
“Enggak mau!”
Ravian tersenyum. “Jadi maunya apa?”
Qiera terdiam. Itulah masalahnya. Ia sendiri tidak tahu. Nama panggilan yang biasanya digunakan untuk seorang suami terasa terlalu dekat baginya, sedangkan “Pak” sudah terlanjur melekat karena kebiasaannya selama berada di kampus. Memanggil nama langsung pun terasa seperti menghilangkan jarak yang selama ini ia pertahankan dengan pria tersebut.
Akhirnya Qiera mengangkat bahu. “Aku pikir-pikir dulu.”
“Silakan.”
“Tapi untuk sementara aku tetap panggil Pak.”
Ravian menoleh perlahan.
Qiera tahu tatapan itu. Ia langsung menyeringai kecil, sengaja ingin menguji kesabarannya. “Pak.”
Ravian diam.
“Pak Ravi.”
Masih diam.
Qiera semakin ingin tertawa. “Kenapa? Enggak boleh?”
Ravian menutup koper dengan tenang, kemudian berjalan mendekat. Qiera yang semula ingin terus menggoda mulai kehilangan keberanian ketika pria itu berhenti beberapa langkah di depannya. Namun Ravi tidak melakukan apa-apa selain melipat tangan di dada sambil menatapnya dengan ekspresi seolah sedang menghadapi mahasiswa yang sengaja menguji aturan kelas.
“Kamu sengaja?”
“Enggak.”
“Yakin?”
“Yakin.”
“Baik.”
Satu kata itu justru membuat Qiera curiga.
“Baik apanya?”
“Kalau begitu, kita buat aturan.”
“Aturan lagi?”
“Supaya kamu tidak lupa.” Ravi mengangkat satu jari. “Kalau kita berada di kampus, kamu bebas memanggil saya Pak. Itu memang posisi saya sebagai dosenmu.”
Qiera mengangguk.
“Kalau di rumah, jangan.”
“Terus kalau aku lupa?”
Ravian tersenyum tipis. “Ada hukuman.”
Qiera langsung menyipitkan mata. “Hukuman apa?”
.....
Ravian tersenyum puas, sedangkan Qiera langsung mengambil bantal sofa dan memeluknya erat-erat sambil memalingkan wajah. “Aku benci aturan ini.”
“Padahal mudah.”
“Buat kamu.”
“Memang.”
Qiera melotot, namun Ravi justru tertawa.
Malam itu, untuk pertama kalinya Qiera menyadari bahwa Ravian di rumah ternyata jauh lebih menyebalkan daripada Ravian di kampus. Bedanya, jika di kampus pria itu membuatnya kesal karena selalu berhasil menemukan kelemahan argumennya, di rumah pria itu membuatnya kesal hanya karena terlalu menikmati setiap kesempatan untuk menggodanya.
Dan yang lebih membuat Qiera bingung adalah kenyataan bahwa ia tidak benar-benar merasa tidak nyaman.
Justru itulah yang membuatnya semakin waspada.
Sebab jika terus seperti ini, ia takut suatu hari nanti dirinya akan lupa bahwa Ravian Aryasatya adalah orang yang selama ini selalu membuatnya ingin mengomel setiap kali berada di ruang kuliah.
Malam pertama mereka bahkan belum benar-benar selesai, tetapi Qiera sudah merasa bahwa kehidupan setelah pernikahan ini akan jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan.
Ravian kembali sibuk mencari pakaian, sedangkan Qiera memandangnya dengan kesal. Pria itu benar-benar memiliki kebiasaan aneh. Bahkan setelah menikah, ia masih seperti dosen yang sedang memberikan aturan kepada mahasiswa.
...🌃🌃🌃...
Lampu kamar diredupkan. Qiera berbaring sambil menarik selimut sampai ke bahu. Ia masih belum terbiasa dengan kenyataan bahwa beberapa meter dari tempat tidurnya ada seorang pria yang hari ini resmi menjadi suaminya.
Ia menatap langit-langit kamar cukup lama.
Hari ini terlalu banyak hal terjadi.
Pernikahan.
Suami baru.
Dosen yang sama.
Rumah yang sama.
Dan panggilan aneh bernama Lily.
Qiera masih belum mengerti kenapa Ravi memanggilnya seperti itu. Ia juga belum tahu bagaimana kehidupan mereka akan berjalan mulai besok.
Namun satu hal sudah pasti.
Pagi nanti, ia tetap harus pergi ke kampus.
Dan di sana, Ravian Aryasatya akan kembali menjadi dosen menyebalkan yang selalu mencari celah dalam setiap argumennya.
Sedangkan malam ini, untuk pertama kalinya, Qiera tidur dalam satu kamar dengan pria yang sama sambil berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa tidak ada yang berubah.
Padahal semuanya sudah berubah.
Termasuk statusnya.
Karena sejak hari ini, pria yang paling sering membuatnya ingin berdebat itu bukan lagi hanya dosennya.
Dia adalah suaminya.
.
.
To be continued
See you🍀
saling support yuk,
biar semangat nulisnya😊