NovelToon NovelToon
Cinta Rahasia Bad Boy

Cinta Rahasia Bad Boy

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Bad Boy
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

Devan itu biang kerok kampus. Baju berantakan, muka dingin, dan selalu ditakuti orang-orang. Tapi tak ada yang tahu kalau si cowok urakan ini punya rahasia besar: dia jatuh cinta setengah mati sama Aura, cewek baik-baik yang hidupnya lurus banget.
​Devan sadar diri. Dia merasa terlalu "kotor" buat masuk ke dunia Aura yang terang. Makanya, Devan cuma berani memandangi Aura dari jauh—mengambil ribuan foto Aura secara diam-diam dan menjaganya dari balik layar.
​Sampai suatu hari, rahasia itu terbongkar. Semua orang di kampus akhirnya tahu siapa sosok di balik foto-foto itu. Sekarang Devan cuma punya dua pilihan: mundur dan pura-pura lupa, atau nekat ngejar Aura terang-terangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

aura tak sengaja melihat fotonya

Suara hantaman tubuh Devan yang masuk ke dalam air laut memecah malam yang dingin. Jeritan Aura melengking tinggi, membelah kegelapan dermaga pelabuhan.

​"DEVAN!"

​Aura berlari sekuat tenaga menuju tepi pembatas besi yang sudah bengkok diterjang motor. Di bawah sana, ombak laut pelabuhan bergejolak gelap dan dingin.

Motor sport Devan tenggelam, hanya meninggalkan gelembung-gelembung udara dan cipratan air.

​Bagas yang melihat kejadian gila itu langsung memutar arah motornya, ketakutan, dan melaju kencang melarikan diri bersama anak buahnya.

​Aura tidak memedulikan mereka. Hatinya hancur dipenuhi rasa bersalah dan panik yang teramat sangat. "Devan! Tolong! Siapa saja tolong!" jerit Aura sambil memandangi laut yang makin tenang.

​Tiba-tiba, suara kepakan air yang keras terdengar. Sosok Devan muncul ke permukaan, terbatuk-batuk hebat sambil berusaha mengapung.

Bimo dan Rian yang baru saja tiba di lokasi langsung melompat turun melewati tangga dermaga untuk membantu menarik Devan naik ke daratan.

​Tubuh Devan basah kuyup, napasnya memburu, dan wajahnya sangat pucat. Luka perban di tangan kanannya makin parah terkena air garam. Namun, begitu ia berhasil merayap naik ke lantai dermaga, hal pertama yang dicari matanya adalah sosok gadis yang berdiri gemetar di dekatnya.

​"Aura..." suara Devan amat serak dan lemah.

​Aura berlutut di sebelah Devan. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya tumpah membasahi pipinya. "Kamu gila, Devan! Kenapa kamu malah banting motor kamu?! Kenapa kamu nggak ngerem?!"

​Devan tersenyum tipis—sebuah senyuman sangat lemah di tengah rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya. "Kalau gue nggak banting... gue bakal menabrak kamu, Ra."

​Kata-kata itu membuat Aura makin terisak. Rasa takut, bersalah, dan kehangatan yang tak biasa bercampur aduk memukul dadanya.

​"Udah, udah! Kita harus bawa Devan ke tempat aman sekarang! Polisi bisa saja datang lagi!" seru Bimo panik sambil memapah bahu Devan.

​Karena kondisi Devan yang lemas dan tidak mungkin dibawa ke rumah sakit tanpa memicu kecurigaan pihak kampus, Bimo dan Rian memutuskan membawa Devan ke tempat tinggalnya: sebuah kontrakan kecil di dekat area bengkel tua. Aura menolak untuk pulang dan bersikeras ikut menemani.

​Kamar kontrakan Devan terasa dingin dan sangat sederhana. Hanya ada satu kasur di lantai, beberapa tumpukan baju, dan meja kerja yang dipenuhi peralatan fotografi.

Bimo dan Rian membantu mengganti baju Devan yang basah kuyup dengan kaos kering, lalu memberikan obat seadanya sebelum akhirnya pamit keluar untuk mengurus motor Devan yang tenggelam.

​Kini, hanya ada Devan dan Aura di dalam kamar itu. Suasana mendadak hening. Devan berbaring di atas kasur dengan mata terpejam, napasnya masih agak berat akibat dinginnya air laut.

​Aura duduk di lantai, bersandar pada sisi meja kerja Devan. Ia mengusap air matanya, menatap wajah Devan yang terlihat sangat rapuh saat tertidur. Rasa penasaran yang selama ini mengusik hatinya makin menjadi-jadi.

​Saat Aura hendak mengambil gelas air minum di atas meja, tangannya tanpa sengaja menyenggol sebuah tas kamera tebal yang tergeletak di samping laptop Devan.

Tas itu terbuka sedikit, dan dari dalamnya, beberapa lembar foto fisik berukuran besar terjatuh ke lantai.

​Aura terperanjat. Ia cepat-cepat berlutut untuk merapikan foto-foto tersebut agar tidak kotor. Tapi, gerakan jemarinya mendadak terhenti.

​Mata Aura membelalak sempurna saat menatap lembaran foto-foto itu satu per satu.

​Itu adalah foto-foto dirinya. Namun, berbeda dari foto-foto yang ada di akun Instagram @BehindTheLens, foto-foto di tangan Aura ini diambil dari sudut-sudut yang sama sekali tak pernah ia sangka atau bayangkan sebelumnya.

​Ada satu foto yang diambil dari sudut atas gedung rektorat—memperlihatkan Aura yang sedang menangis sendirian di bangku taman saat ia gagal mempertahankan nilai fungsinya di semester lalu. Sebuah momen yang bahkan sahabatnya, Nisa, tidak pernah tahu.

​Ada foto lain yang diambil dari sudut balik celah jendela kaca perpustakaan—memperlihatkan Aura yang sedang mengusap keningnya yang lelah sambil tersenyum kecil menatap hujan.

​Dan yang paling membuat dada Aura berdesir hebat adalah sebuah foto yang diambil dari sudut sangat dekat—foto wajah Aura yang sedang tertidur lelap di meja perpustakaan.

Di dalam foto itu, bayangan jemari tangan Devan terulur sedikit di udara, seolah sedang membelai rambut Aura tanpa berani menyentuhnya secara langsung.

​Di balik setiap lembar foto fisik tersebut, ada tulisan tangan Devan dengan tanggal dan catatan kecil yang ditulis pakai tinta hitam:

​'Hari ini dia kelihatan capek banget. Gue pengen banget membawakan dia minuman hangat, tapi gue sadar, tangan gue terlalu kotor buat menyentuh kehidupannya.'

​'Dia menangis lagi. Dan seperti biasa, gue cuma bisa diam di sini, menjaga bayangannya dari jauh.'

​Air mata Aura kembali menetes, jatuh tepat di atas kertas foto tersebut.

Hatinya rasanya teriris-iris membaca tulisan jujur yang begitu polos dan tulus dari seorang Devan.

​Selama ini, Aura selalu berpikir Devan hanyalah pengagum rahasia yang memanfaatkan kecantikannya demi estetika fotografi.

Tapi sekarang Aura sadar... Devan bukan sekadar memotret. Devan menjaga dirinya. Devan memperhatikan setiap rasa sakit, lelah, dan kesepian yang selama ini Aura sembunyikan di balik topeng 'mahasiswi sempurna'.

​"Kenapa..." bisik Aura pelan dengan suara bergetar, memeluk foto-foto itu di dadanya. "Kenapa kamu harus menyiksa diri kamu sendiri sampai sejauh ini, Devan?"

​"Karena..."

​Suara serak Devan mendadak memecah keheningan kamar.

​Aura tersentak kaget dan cepat-cepat menoleh. Devan ternyata sudah terbangun. Cowok itu kini duduk bersandar di dinding kasur, menatap Aura dengan mata sayu yang dipenuhi rasa lelah yang teramat dalam.

​Devan memperhatikan foto-foto yang dipegang Aura, lalu menghela napas panjang—sebuah kepasrahan total karena rahasia terbesarnya kini sudah tidak punya benteng lagi.

​"Karena cuma itu satu-satunya cara gue bisa dekat sama kamu, Aura," ucap Devan pelan, suaranya jujur dan tanpa ada lagi pura-pura dingin.

"Gue ini anak broken home, langganan kasus, dan hidup gue jalanan. Dari awal gue tahu... gue nggak pernah punya tempat di dunia kamu."

​Aura melangkah mendekati Devan, masih memegang foto-foto itu. "Kamu jahat, Devan..."

​Devan tersenyum getir. "Gue tahu. Gue jahat karena diam-diam memotret kamu—"

​"Bukan itu!" potong Aura tegas, air matanya makin deras mengalir. "Kamu jahat sama diri kamu sendiri! Kamu rela dibenci satu kampus, kamu rela dipanggil biang kerok, bahkan kamu hampir mati malam ini... cuma buat melindungi aku dan perasaan kamu sendiri!"

​Devan membeku. Ia menatap Aura yang kini menangis di depannya.

​Aura duduk di tepi kasur, menatap Devan lurus-lurus. "Kamu pikir aku bahagia melihat kamu mengorbankan diri kamu kayak gini? Kamu pikir aku nggak punya perasaan melihat kamu terluka gara-gara aku?!"

​"Aura..." Devan kehabisan kata-kata, dadanya bergemuruh hebat.

​Aura menyentuh pelan pergelangan tangan Devan yang dibalut perban basah, mengabaikan rasa canggung di antara mereka. "Mulai hari ini, aku nggak mau kamu bersembunyi lagi di balik lensa kamu, Devan."

​Devan menatap jemari Aura yang menyentuh tangannya. "Maksud kamu apa, Ra?"

​Sebelum Aura sempat menjawab, pintu kontrakan Devan mendadak didobrak keras dari luar dengan suara dentuman memekakkan telinga!

​BRAK!

​"Jangan bergerak! Pihak Kepolisian dan Dekanat Kampus!"

​Beberapa petugas polisi bersama Pak Surya berdiri di ambang pintu yang terbuka lebar. Pak Surya menunjuk ke arah Devan dengan wajah merah padam karena emosi.

​"Devan! Kamu resmi dilaporkan atas tuduhan tuduhan pengeroyokan dan keterlibatan balapan liar malam ini! Dan Aura... kenapa kamu ada di kamar cowok ini jam segini?!"

​Aura dan Devan terperanjat kaget dari duduk mereka, berdiri terpaku menatap bahaya baru yang siap menghancurkan kehidupan mereka berdua.

​Bersambung...

1
Naelong
terimakasi yang udah mampir😍, semoga sehat sehat slalu🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!