Sebagian besar cerita berdasarkan TEORI KONSPIRASI ELIT GLOBAL nyata.
(SERI KE 7 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)
Sepuluh tahun berlalu.
Kini Harumi bertugas sebagai penyidik Jatanras, sementara Haruma menjadi dokter forensik kepolisian. Di balik meja autopsi dan olah TKP, dua bersaudara ini menghadapi serangkaian pembunuhan sadis dan aneh.
Petunjuk misterius pada jasad para korban membawa mereka membongkar konspirasi gelap sebuah keluarga Taipan (penguasa bisnis) yang diam-diam menjadi bagian dari sekte penyembah iblis internasional bernama "THE ONE".
Berbekal keahlian forensik, analisis hukum, serta mata batin spiritual, Haruma dan Harumi berjuang meruntuhkan cengkeraman sihir hitam dan kekuasaan elit global demi menegakkan keadilan.
Sanggupkah mereka berdua menghentikan sekte penyembah iblis "THE ONE" tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 PERINGATAN DARI DAYANG PUTRI DAN SEKAR MAYANG
Malam semakin larut.
Suara jangkrik bersahut-sahutan dari balik semak-semak pekarangan, berpadu seirama dengan hembusan angin malam yang membawa aroma tanah dingin dan dedaunan basah.
Rumah keluarga Zaki telah diselimuti keheningan. Lampu-lampu utama di ruang tengah sudah dipadamkan, menyisakan pendaran temaram dari lampu dinding kuning yang menyorot lembut di lorong kamar.
Di dalam kamar tidur masing-masing, Dek Niza, Haruma, dan Harumi telah terlelap tidur dengan nyenyak. Wajah-wajah mereka memancarkan kedamaian utuh usai melalui seharian penuh momen kebahagiaan dan kehangatan persaudaraan yang luar biasa.
Nisa masih terjaga di ruang tamu.
Wanita paruh baya itu duduk di sofa kayu seraya melipat beberapa potong pakaian bersih. Sesekali matanya melirik ke arah jam dinding berbingkai kayu yang terus berdetik konstan.
Brummm...
Tepat pukul 21.20 WIB, suara deru mesin mobil MPV perak memasuki pekarangan depan. Sinar lampu mobil menerobos masuk lewat celah ventilasi pintu kayu dan menembus jendela depan yang tertutup gorden.
Nisa seketika menghentikan lipatannya, berdiri dari sofa seraya menyunggingkan senyuman hangat penuh kasih sayang. Ia melangkah cepat menuju pintu depan, membukakannya tepat saat suaminya menaiki tangga teras.
Klek...
"Assalamu'alaikum..." sapa Zaki dengan suara parau bernada letih.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah, Mas," jawab Nisa lembut.
Zaki melangkah masuk ke dalam rumah. Pria paruh baya itu tampak sangat kelelahan usai seharian penuh memimpin tim teknisi mengawal audit jaringan dari pagi hingga malam. Kemeja biru dongker berlogo perusahaan penyedia jasa internet yang dikenakannya tampak agak kusam oleh debu jalanan, dan lingkaran hitam tipis mengiringi sepasang matanya yang sayu.
Nisa menjangkau tas kerja suaminya dengan cekatan, lalu memegang lengan Zaki penuh rasa perhatian.
"Aduh, Mas... kelihatan capek banget kamu," tutur Nisa dengan nada lembut. "Audit di kantor lancar kan, Mas?"
Zaki mengusap dahinya yang berkeringat, menyunggingkan senyuman bahagianya melihat sambutan sang istri. "Alhamdulillah lancar penuh, Sayang... Dari pagi sampai jam delapan malam tadi semua jalur fiber optic di tiga kecamatan diperiksa teliti sama auditor pusat. Capeknya lumayan kerasa di pinggang."
Nisa menepuk pelan bahu suaminya. "Ya sudah, Mas nggak usah mikir pekerjaan lagi. Tasnya biar Adek simpan. Mas langsung mandi air hangat saja di kamar mandi belakang ya, biar badannya segar kembali."
"Iya, Dek... Makasih ya, Sayangku," pangkas Zaki tersenyum sambil melangkah menuju kamar mandi.
Selagi Zaki membersihkan diri dengan guyuran air hangat, Nisa bergegas melangkah ke dapur.
Dengan kelembutan dan rasa cinta yang tak pernah luntur, Nisa menghangatkan kembali sayur asam bening, menggoreng dua butir telur dadar gurih yang harum, serta menyiapkan secangkir teh manis hangat. Lalu Nisa menyiapkan makan malam untuk suaminya itu di atas meja kayu ruang tengah.
Sepuluh menit kemudian, Zaki keluar dari kamar dengan penampilan yang sudah jauh lebih segar. Pria itu mengenakan sarung tenun hijau dan kaos katun santai, melangkah menuju ruang tengah lalu duduk bersila di atas sofa.
"Diminum teh hangatnya dulu, Mas," ajak Nisa seraya meletakkan piring-piring makan malam di hadapan suaminya.
"Iya, Istriku tercinta," ujar Zaki tersenyum lebar. Pria itu menjangkau cangkir teh manis hangatnya, menyesapnya perlahan, merasakan kehangatan cairan manis itu membasuh dahaga dan rasa lelah di tenggorokannya.
Zaki mulai menyantap makan malam sederhananya dengan lahap.
Namun, baru dua suapan nasi hangat masuk ke mulutnya...
Pandangan mata Zaki mendadak terhenti pada tumpukan barang yang berada di sekeliling ruangan.
Di atas sofa kayu ruang tengah, tersusun lima kantong plastik belanjaan berukuran besar berisi pakaian-pakaian baru yang masih terbungkus rapi. Sementara di atas meja dapur saat ia keluar kamar mandi, Zaki melihat berjejer berbungkus-bungkus sisa jajanan sore: martabak manis keju cokelat, wadah kue pancong, hingga kotak batagor kuah kacang.
Zaki memiringkan kepalanya heran, menoleh menatap istrinya seraya terkekeh pelan.
"Dek..." panggil Zaki seraya menunjuk ke arah sofa. "Itu kantong-kantong baju baru siapa banyak banget di sofa? Terus bungkusan jajan di meja dapur juga melimpah begitu? Ada hajatan apa ini di rumah kita?"
Nisa yang duduk di samping Zaki seketika tertawa renyah, matanya berbinar-binar penuh kebahagiaan saat menceritakan kejadian seharian tadi.
"Aduh, Mas! Mas nggak tahu saja..." cerita Nisa antusias dengan gaya renyah khas ibu-ibu desa. "Itu semua belanjaan sama jajanan hasil ulah Haruma sama Harumi seharian tadi!"
Zaki menghentikan sendoknya, makin tertarik mendengarkan. "Haruma sama Harumi? Memangnya mereka seharian ini ngapain saja, Dek?"
Nisa membungkuk sedikit, menceritakan rangkaian kejadian dari pagi hingga sore dengan raut wajah bangga dan haru.
"Tadi pagi kan Haruma sama Harumi antar Dek Niza berangkat sekolah pakai mobil dinas polisinya," tutur Nisa. "Pas jam sepuluh Niza pulang, ternyata Niza sempat dikerjai sama dua kakak kelas lima SD-nya. Uang jajannya ditarik paksa!"
Zaki terbelalak kaget, alisnya bertaut. "Hah?! Apa, Dek?! Ditarik paksa?! Terus gimana?!"
"Nah! Harumi langsung pasang badan, Mas!" sambung Nisa gembira. "Tapi Harumi bicaranya sopan banget. Dia ajak Pak Kepala Sekolah bicara baik-baik di ruangannya. Pak Kepala Sekolah sampai usap dahi dan minta maaf berkali-kali, terus janji bakal tertibkan semua murid sama guru biar nggak ada lagi yang ugal-ugalan merundung Niza!"
Zaki mengangguk-angguk gembira, matanya memancarkan rasa bangga yang luar biasa. "Masya Allah... mantap banget anak-anak kita. Terus soal baju baru itu gimana?"
Nisa tersenyum semakin lebar, air mata keharuan menggenang di pelupuk matanya.
"Habis Zhuhur tadi, Haruma sama Harumi ajak Niza jalan-jalan seharian, Mas," beber Nisa lembut. "Niza diajak ke toko baju Pasar Raya Parung, disuruh pilih baju, kemeja, celana kargo, sampai jaket hoodie sesukanya! Terus diajak berenang sepuasnya di Ciseeng! Pas pulang sore, semua jajanan di jalanan Parung diborongkan buat Niza!"
Zaki mendengarkan cerita itu dengan napas menahan haru.
"Dan yang paling bikin Adek menangis terharu tadi sore, Mas..." bisik Nisa dengan suara bergetar bahagia, "...pas sampai di teras rumah, Niza langsung memeluk erat Haruma sama Harumi, sambil menangis sesenggukan. Niza minta maaf soal kelakuannya semalam, terus bilang terima kasih dan bilang kalau Niza bangga banget punya kakak seperti mereka berdua..."
Deg!
Mendengar cerita akhir tersebut, dada Zaki berdesir hebat oleh kehangatan yang amat sangat mendalam. Pria paruh baya itu meletakkan piring makannya, menarik napas panjang seraya mengelus dadanya penuh rasa syukur yang tak terhingga kepada Sang Pencipta.
"Alhamdulillah ya Allah..." ucap Zaki tulus, matanya berkaca-kaca oleh kebahagiaan seorang ayah. "Anak-anak kita benar-benar saling menyayangi dengan tulus, Sayang... Nggak ada lagi ganjalan atau rasa cemburu di antara mereka. Rumah kita benar-benar penuh berkah."
"Iya, Mas," timpal Nisa tersenyum haru. "Adek juga bahagia banget melihat mereka bertiga rukun dan tertawa lepas seharian tadi."
"Mumpung mereka lagi libur dua hari ini, biar besok Mas belikan ikan segar buat dibakar besok malam di pekarangan ya, Dek," usul Zaki penuh semangat.
"Boleh banget, Mas! Nanti Adek siapkan bumbunya!" sahut Nisa gembira.
Usai menyelesaikan makan malamnya dan meminum air putih, Zaki merapikan piring-piring kotor ke dapur. Rasa lelah di fisiknya kini menguap berganti dengan kedamaian jiwa usai mendengar cerita keharmonisan anak-anaknya.
"Yuk, Dek... kita istirahat ke kamar. Sudah jam sepuluh malam lewat ini," ajak Zaki lembut.
"Iya, Mas... Ayo," sahut Nisa sambil mematikan pendaran lampu dinding ruang tengah.
.....
.....
Lampu kamar tidur utama telah dipadamkan, menyisakan pendaran redup dari lampu tidur di atas meja sudut kamar.
Suara hembusan angin malam bergesekan pelan dengan dinding rumah.
Di atas ranjang kayu tebal, Zaki sudah terlelap tidur dengan sangat nyenyak. Pria itu tertidur miring seraya melingkarkan salah satu lengan kokohnya memeluk erat pinggang Nisa—memberikan kehangatan seorang suami yang selalu siap melindungi keluarganya.
Namun...
Di saat Zaki sudah terbuai dalam mimpinya...
Nisa justru sama sekali tidak bisa memejamkan kedua matanya!
Ibu paruh baya itu terbaring kaku di atas bantal. Penglihatannya menatap lurus ke arah plafon kamar yang gelap.
Sebab, sejak sepuluh menit yang lalu...
Secara yang teramat sangat mendadak dan tidak masuk akal...
Batin Nisa mendadak bergejolak hebat oleh kegelisahan yang luar biasa!
Dada Nisa terasa terhimpit batu raksasa yang amat berat.
Jantungnya berdebar-debar kencang tanpa alasan yang jelas.
Buih-buih keringat dingin mulai bercucuran membasahi pelipis dan lehernya, sementara seluruh bulu kuduk di lengan dan leher Nisa berdiri tegak bagaikan disiram air es membeku!
Nisa menarik napas panjang berulang kali, mencoba menenangkan detak jantungnya seraya merapalkan doa-doa.
"Astagfirullahal'adzim... Ada apa ini...?" bisik Nisa di dalam hatinya yang bergetar hebat. "Kenapa dada rasanya sesak dan gelisah begini...?"
Nisa mencoba memejamkan matanya kembali, namun gejolak batin di dalam sanubarinya justru semakin menjadi-jadi.
Gelombang energi ghaib yang teramat dingin dan pekat merayap pelan menembus dinding-dinding kamar utama.
Sebagai seorang wanita keturunan Jawa yang memiliki kepekaan batin tinggi sejak usia muda, Nisa tahu betul apa arti dari fenomena gejolak batin tanpa sebab di tengah malam seperti ini!
Nisa menyadari sepenuhnya...
Jika hatinya terasa amat sangat gelisah, sesak, dan merinding hebat tanpa alasan fisik di jam-jam keramat menuju tengah malam...
Itu artinya...
Dua perewangan pelindung gaibnya—Dayang Putri dan Sekar Mayang—sedang berusaha berkomunikasi dan memberikan peringatan gaib kepada jiwanya!
Nisa menoleh melirik suaminya. Zaki masih tertidur sangat pulas.
Dengan gerakan yang teramat sangat halus dan hati-hati, Nisa mengangkat lengan Zaki dari pinggangnya, lalu memindahkan lengan suaminya ke atas bantal di sebelahnya agar tidak terbangun.
Nisa bergeser perlahan, melangkah turun dari atas ranjang tanpa menimbulkan derit kayu sedikit pun.
Ia merapikan selimut yang menyelimuti bahunya, melangkah pelan keluar dari kamar tidur utama.
Ruang tengah rumah tampak sangat gelap dan hening. Pendaran sinar lampu teras yang bercampur sinar rembulan dari luar menerobos masuk lewat celah kaca jendela, memancarkan bayang-bayang panjang di atas lantai ubin.
Nisa melangkah perlahan menembus kegelapan ruangan. Matanya melirik ke arah jam dinding berbingkai kayu di dinding tengah.
Jarum panjang dan jarum pendek jam dinding itu hampir menyatu tegak lurus di angka dua belas.
Pukul 23.55 WIB. Tinggal lima menit lagi menuju tengah malam.
Nisa menarik napas dalam-dalam, memantapkan hatinya.
Langkah kakinya yang tenang mengarah lurus ke pintu depan rumah.
Klek... sret...
Nisa membuka pintu depan pelan-pelan, lalu melangkah keluar menuju teras rumah.
Hawa malam di luar teras terasa begitu pekat dan sangat dingin. Pendaran lampu pijar kuning menerangi teras dan pekarangan depan yang sepi. Angin malam sepoi-sepoi berhembus konstan, menggoyangkan dahan-dahan pohon mangga di depannya.
Nisa duduk di atas salah satu kursi kayu jati teras. Ia menopang kedua tangannya di paha, memejamkan mata seraya memfokuskan ketenangan batinnya pada dimensi spiritual.
"Dayang Putri... Sekar Mayang..." bisik Nisa di dalam hatinya dengan ketulusan dan ketenangan batin yang jernih. "Aku sudah di sini... Ada peringatan apa yang ingin disampaikan kepadaku...?"
Seketika itu juga...
Tepat saat kalimat batin Nisa terucap...
Wussssshhh!
Secara yang teramat sangat mendadak, suhu udara di sekeliling teras rumah anjlok drastis hingga mencapai titik beku yang amat ekstrem!
Lapisan embun es tipis membumbung keluar dari embusan napas Nisa.
Hawa dingin yang menyergap kali ini sama sekali bukan dingin biasa—hawa es itu berbaur dengan semerbak keharuman wangi bunga kantil, kenanga, dan melati suci yang memancar amat pekat memenuhi seluruh area teras!
Pendaran lampu kuning di teras mendadak berkedip-kedip redup.
Dari balik kegelapan pekarangan rumput di depan teras, merayap keluar dua pendaran gulungan kabut aura gaib yang teramat sangat anggun dan berkilau!
Pendaran aura pertama memancarkan cahaya hijau zamrud yang sangat sejuk, sementara pendaran aura kedua memancarkan cahaya merah yang berkilat-kilat oleh pendaran sinar rembulan.
Dua gulungan kabut aura gaib itu memusar naik di udara teras, lalu perlahan-lahan mewujud sempurna menjadi dua sosok entitas gaib beraras cantik nan berwibawa!
Sosok di sebelah kiri adalah Dayang Putri—perewangan pelindung berwujud wanita anggun berbusana kemben sutra hijau zamrud bermahkota emas dengan dihiasi rantai melati.
Sementara sosok di sebelah kanan adalah Sekar Mayang—perewangan berwujud wanita jelita bergaun sutra merah dengan perhiasan mahkota emas dan rantai bunga kencana.
Dua entitas gaib tersebut melayang-layang sangat anggun beberapa sentimeter di atas lantai teras, memancarkan aura wibawa spiritual yang menggetarkan dada.
Nisa membuka matanya perlahan.
Wajah wanita paruh baya itu tampak sangat tenang dan tegar melihat keberadaan dua perewangan pelindungnya.
"Dayang Putri... Sekar Mayang..." sapa Nisa lembut seraya menundukkan kepalanya penuh rasa hormat. "Ada hal besar apa yang terjadi hingga kalian berdua mengusik batinku di tengah malam begini?"
Wujud gaib Dayang Putri melayang maju setengah langkah. Sepasang mata hijau cerahnya memancarkan kekhawatiran dan ketegangan spiritual yang teramat sangat mendalam.
"Dengarkan kami baik-baik, Nisa..." gema suara Dayang Putri membelah keheningan teras, suaranya terdengar jernih, bergema merdu bagaikan dentuman genta perunggu keraton. "Batinmu bergejolak hebat karena ikatan batin ibu-anak di dalam jiwamu, merasakan adanya bahaya raksasa yang sedang mengintai keselamatan anak-anakmu!"
Deg!
Nisa tersentak pelan di kursi kayunya. Raut wajahnya seketika tegang. "Bahaya raksasa?! Maksud Dayang Putri... keselamatan Haruma dan Harumi?!"
Sekar Mayang menyambung dengan intonasi suara yang bergetar berwibawa:
"Tepat sekali, Nisa!" tegas Sekar Mayang. "Dua putri angkatmu... Haruma dan Harumi... saat ini sedang melangkah di atas jurang bahaya yang teramat sangat pekat! Jiwa dan raga mereka berdua sedang menjadi incaran utama dari cengkeraman sihir hitam tingkat tinggi milik para penyembah iblis!"
Dada Nisa berdesir hebat!
Rasa panik dan cemas seorang ibu seketika meledak membakar dadanya.
Nisa berdiri dari kursi kayunya, melangkah mendekat ke tepi teras dengan mata berkaca-kaca.
"Ya Allah... Bahaya sihir apa?! Dari mana asal sihir jahat itu?!" cecar Nisa dengan suara bergetar cemas. "Siapa orang-orang kejam yang mau mencelakai anak-anakku?! Tolong katakan secara jelas padaku!!"
Dayang Putri dan Sekar Mayang saling bertukar pandangan gaib.
Namun...
Saat Nisa menuntut penjelasan rinci mengenai identitas musuh dan jenis sihir tersebut...
Dua perewangan gaib itu justru menggelengkan kepala mereka secara perlahan!
Pendaran cahaya hijau dan merah di sekeliling tubuh mereka berguncang redup.
"Kami tidak bisa memberikan penjelasan rinci atau menyebutkan nama-nama para pelaku itu kepadamu malam ini, Nisa..." tutur Dayang Putri dengan nada suara yang sarat akan kerahasiaan gaib.
Nisa membelalakkan matanya heran. "Kenapa nggak bisa, Dayang Putri?! Aku ini ibunya mereka! Aku berhak tahu apa yang sedang mengancam nyawa anak-anakku!"
Sekar Mayang melayang mendekati Nisa, menatap wanita paruh baya itu dengan pandangan mata merahnya yang sangat dalam dan penuh kearifan.
"Sebab tabir gaib dan persekongkolan hukum di sekitar langkah Haruma dan Harumi saat ini teramat sangat tebal dan rumit, Nisa..." terang Sekar Mayang jernih. "Bukan tugas kami untuk membocorkan takdir dan pertempuran yang sedang mereka jalani."
Sekar Mayang mengangkat tangan gaibnya, menunjuk ke arah pintu kamar depan tempat Haruma dan Harumi sedang terlelap tidur.
"Segala jawaban, segala fakta kebenaran mengenai musuh-musuh yang sedang mereka hadapi, serta alasan kenapa nyawa mereka terancam..." tegas Sekar Mayang, "...ada di dalam dada dan ingatan kedua putrimu sendiri!"
Dayang Putri menyambung memberikan arahan tegas:
"Haruma dan Harumi telah bertarung melawan cengkeraman sihir pencuri usia itu di tempat mereka bekerja..." ungkap Dayang Putri membocorkan sebaris fakta. "Mereka sengaja menyembunyikan kenyataan pahit dan bahaya raksasa itu darimu dan Suamimu, karena mereka tidak ingin membuat kalian berdua cemas di rumah ini!"
DEGGG!!!
Kata-kata Dayang Putri bagaikan hantaman kebenaran yang membuka mata batin Nisa secara sempurna!
Nisa teringat kembali bagaimana kemarin sore ia melihat lengan kemeja Harumi sobek bersimbah darah.
Nisa teringat bagaimana Haruma dan Harumi selalu tersenyum tegar dan mengalihkan pembicaraan setiap kali ditanya mengenai detail BAP kasus di kota!
Rupanya...
Dua putri angkat kesayangannya itu selama ini diam-diam bertarung mempertaruhkan nyawa menantang kekuatan sihir hitam raksasa, demi melindungi kedamaian keluarga!
Air mata keharuan dan cemas menetes deras membasahi kedua pipi Nisa.
"Anak-anakku... Ya Allah... Mereka menyembunyikan semua penderitaan itu sendirian..." bisik Nisa terisak-isak pelan.
Dayang Putri melayang mundur, pendaran aura kehijauannya mulai melarut perlahan di udara malam.
"Masuklah kembali ke dalam kamarmu, Nisa..." pesan Dayang Putri dengan suara lembut yang bergema pelan. "Tenangkan batinmu, tidur dan beristirahatlah di samping suamimu malam ini."
Sekar Mayang menyambung pesan terakhirnya sebelum menghilang:
"Esok hari... saat matahari pagi sudah terbit..." tegas Sekar Mayang, "...duduklah berhadapan dengan Haruma dan Harumi. Tanyakan langsung kepada mereka berdua secara jujur dan terbuka! Paksa kedua putrimu untuk membongkar seluruh kebenaran itu dan ancaman sihir yang sedang mengintai keselamatan jiwa mereka!"
"Hanya dengan keterbukaan di antara kalian..." gema suara dua perewangan itu menyatu merdu, "...benteng doa dan perlindungan keluarga ini bisa berdiri utuh sempurna menahan badai kegelapan yang akan datang!"
Kemudian...
Wussssshhh!
Dengan satu hempasan angin malam yang lembut, wujud gaib Dayang Putri dan Sekar Mayang melarut sempurna menjadi pendaran asap uap wangi melati yang perlahan-lahan musnah tak bersisa di udara malam.
Suhu dingin yang membekukan di teras rumah seketika sirna.
Lampu pijar kuning kembali menyala terang benderang.
Suara jangkrik malam kembali bergema merdu menyejukkan pekarangan.
Nisa berdiri sendirian di atas lantai teras depan rumahnya.
Wajahnya disapa angin malam.
Nisa mengusap air mata di pipinya, menarik napas panjang berulang kali untuk menetralkan gejolak emosi di dalam dadanya.
Peringatan gaib dari Dayang Putri dan Sekar Mayang telah meresap sempurna di dalam sanubari Nisa. Firasat kegelisahan batinnya kini telah berganti dengan tekad baja seorang ibu yang tak tergoyahkan.
Nisa menoleh menatap pintu rumah kayu jati di belakangnya.
Di dalam kamar depan sana, Haruma dan Harumi sedang tertidur pulas.
Dan esok pagi...
Saat fajar menyingsing di ufuk timur...
Nisa telah membulatkan hatinya untuk duduk berhadapan dengan kedua putri angkatnya, membongkar seluruh rahasia, dan berdiri bersama mereka menantang badai bahaya apa pun demi keselamatan jiwa keluarga tercinta.
Lalu...
Nisa memutar tubuhnya, melangkah masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu depan dengan rapat.
Ia berjalan kembali menuju kamar tidur utama, membaringkan tubuhnya di samping Zaki, lalu memeluk lengan suaminya dengan keheningan doa yang terus bergema di dalam dadanya menyongsong datangnya fajar esok hari.
intinya korbannya itu yg sekiranya bisa jadi saksi kejahatan mereka gitu ya
berat juga ya wkwkwk sihir modern mungkin klo zaman.
penampilan nya udah elit kok nama nya itu