Di tinggal meninggal dunia oleh suami bukan keinginanku. namun terkadang ketika sebuah pilihan datang manusia tidak dapat menolaknya.
Saat pak Burhan dan Bu Salma menemui ku, agar aku menikahi anaknya Prasetio yang sudah beristri aku tidak punya jalan lain kecuali menerimanya.
karena keterbatasanku dalam mencari nafkah, dan demi menolong Prasetio yang kata ibunya butuh pendamping lantaran istrinya sakit parah.
Disinilah letak kesalahanku, tetapi ternyata justru kesalahanku ini adalah petunjuk terang tentang kematian ibuku.
Suatu hari tak sengaja aku menemukan selembaran dokumen, yang tercantum nama ayahku di lemari Pak Burhan, akhirnya sejarah kelam masa lalu terbongkar, aku tahu siapa sebenarnya suamiku Prasetio, Pak Burhan, Prilia istri pertama suamiku, ibunya Prilia, dan Bu Salma ibu mertuaku.
Ada apa sebenarnya di balik kematian ibuku?
Bagai mana selanjutnya hubunganku dengan Prasetio setelah semua terkuak?
Simak kisah panjangku dalam WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aina susiyanti77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 : Luka Yang Menguatkan
Tiba- tiba aku merasakan getaran di layar ponselku, jemariku langsung menyentuh ponsel ku. berharap notifikasi di sana, bukan satu juta, setelah ku beberkan semua tentang kebutuhan di rumah ini.
Rp1.000.000
Tidak lebih dan tidak kurang itulah notifikasi yang ada.
Setelah semua ku beberkan satu persatu tentang kebutuhan di sini, Mas Pras tetap tidak ada rasa kasihan sama sekali. Emosiku yang tadi mulai reda kini timbul lagi.
Tanpa ba bi bu lagi langsung ku tekan nomor nya, terdengar nada sambung dan ponsel di angkat.
"Halo, Maya ada apa lagi? Mas lagi nyetir ini, mau jalan ke arah tol Pekanbaru," ucap Mas Pras terburu-buru dari sebrang sana, aku keluar dari kamar Pak Burhan menuju ke ruang keluarga, aku takut percakapanku mengganggu tidur nya.
"Satu juta itu mau aku pake buat bayar yang mana dulu Mas? Semua tagihan menumpuk, beras habis, punya hati nurani gak sih!"
Hening sejenak di ujung telepon, sebelum terdengar desahan napas Mas Pras yang berat dan terganggu.
"Tidak salah, Maya. Memang segitu dulu yang bisa Mas kirim," jawabnya santai. "Bisnis Mas memang benar benar lagi butuh banyak suntikan modal. Prilia harus rutin kontrol ke dokter spesialis." Terdengar suara tarikan nafas yang panjang dari Mas Prasetio setelah dia mengucapkan kalimat itu
Suara lembut Prilia terdengar dari balik telepon, setengah berbisik namun terdengar jelas di telingaku.
"Pa, sudah, tidak usah di layani, kamu itu lagi nyetir nanti nggak fokus."
"Sudah, ya, Maya. Mas mau fokus nyetir. Jangan telepon-telepon lagi kalau cuma mau minta uang!" cetus Mas Pras dingin, lalu sambungan diputus sepihak.
" Kalau tidak ada jatah waktu ya sudah tidak apa apa, ini jatah bulanan juga mau di kurangi, keterlaluan Kau Mas Pras!"
"Ibu... Rian haus," suara polos Rian menyadarkan ku dari emosi yang sedang tinggi itu"Iya nak Ibu ambil ya?" jawabku dengan suara yang menjadi serak ku gapai gelas minuman nya yang ada di atas meja.
"Maya! Maya!"
Sebuah suara memanggil dari pintu depan, aku menggendong Rian berjalan dari ruang keluarga menuju ruang tamu.
Ceklek
Ku buka pintu ruang tamu itu, terlihat Ibu mertuaku yang datang bersama dua orang wanita kerabatnya. Mereka berdiri di luar teras rumah berjalan ke arah ku yang berdiri di muka pintu.
"Ada apa, Ibu?" tanyaku berusaha bersikap tenang agar jantungku yang berdegup kencang akibat menahan amarah tidak terlihat.
"Kamu ini bagai mana sih? Prilia baru saja telepon Saya sambil menangis! Dia bilang kamu bikin Pras stres karena minta uang belanja berlebihan?!" Bu Salma menatapku tajam.
"Oh Prilia laporan begitu ya? bilang aku yang buat stres tapi pada kenyataannya mereka berdua lah yang membuat aku stres!" Baru saja aku berusaha menenangkan diri, sudah datang lagi angin topan aku mendengus makin kesal.
"Hey berani kau bicara seperti itu pada Ibu mertua May!" wanita yang datang bersama Ibu mertuaku turut bicara.
"Tujuan kamu menikah sama Pras memang cuma mau menggerogoti hartanya, kan?" Bu Salma maju satu langkah, menunjuk mukaku.
"Dulu waktu Paman Burhan belum strok, kamu berakting jadi wanita lugu. Sekarang begitu Paman strok dan Pras sibuk di Pekanbaru, kamu mulai tunjukkan tabiat asli sebagai pelakor pengincar harta!"
Setiap kata yang keluar dari mulut mereka seperti sengatan lebah yang menyengat ku hingga aku teriak karena sengatan lebah itu.
"Cukup, Bu!" suaraku bergetar hebat menahan amarah yang mulai memuncak.
"Yang sakit itu adalah Pak Burhan! Suami Ibu sendiri! Kalau Ibu pulang cuma untuk menghina saya tanpa mau mengerti keadaan silakan pergi!"
" Ibu bisa saja bilang seperti itu, tapi Ibu sendiri di mana letak tanggung jawabmu, suamimu sakit tapi Ibu justru keluyuran tidak jelas!" Emosiku benar benar tidak terkendali lagi.
"Hei tutup mulutmu!" Bu Salma mendelik ke arah ku.
"Ah sudahlah Bu Pergilah kalian! Saya banyak pekerjaan, menantumu ini harus merawat ayah mertua nya yang sakit dulu, karena istrinya adalah wanita bisnis jadi tidak punya waktu sekedar pulang ke rumah!" Aku tersenyum sinis.
Melihat amarah ku Bu Salma berkata melunak "Maya bukan Ibu tidak mau merawat Ayahmu, tapi mbakmu kan wanita sibuk jadi kalau bukan Ibu siapa lagi yang rawat anaknya." Suara nya makin membuat ku seakan mau muntah saja rasanya.
"Sudahlah Bu pulanglah ke rumah anak perempuan mu itu!" Ku lempar pandanganku ke lain arah agar dia tidak melihat api yang sedang membara di ke dua mataku
"Oh berani mengusir sekarang?!" Bu Salma tertawa sinis. "Ingat ya, Maya! Kamu di sini cuma numpang dan kebetulan berguna untuk jadi perawat gratisan Paman Burhan. Jangan pernah mimpi mau geser posisi Prilia!"
Ibu mertuaku yang tambun namun masih ingin tampil cantik itu berujar keras, membalikkan tubuhnya lalu pergi dengan wajah di tekuk.
"Uh.!" Aku menghela nafas kasar, jantung ku berdegup sangat kencang ku gigit bibir ku menahan rasa sakit yang sekarang tidak dapat ku tahan.
Aku semakin menyadari kehadiranku di sini tidak lebih hanya di jadikan perawat tanpa gaji!
"Cukup, aku harus keluar dari rumah ini! " Aku bicara sendiri semakin merasa tidak betah berada di rumah ini lebih lama lagi.
Aku masuk kembali ke dalam rumah sambil menggendong Rian, ku tutup pintu depan itu perlahan tanpa mengunci nya.
Tapi baru saja kakiku hendak melangkah ke dalam terdengar ketukan dari luar "ah siapa lagi." Aku bicara sendiri Masih dengan emosi.
Tanganku kembali membuka pintu yang baru saja ku tutup. Di balik pintu, berdiri Bu Minah tetangga sebelah rumah yang selama ini paling ramah padaku membawa sebuah wadah plastik hangat.
"Maya Maaf, ya, Ibu tadi tidak sengaja mendengar keributan dari luar saat mau ke sini."
ucap Bu Minah dengan pandangan penuh rasa iba. Ia mengusap bahuku dengan lembut.
"Ini ada sedikit kue basah dan nasi uduk buatan Ibu. Diterima, ya, Nak."
Bu Minah menghela napas panjang, menatapku lurus-lurus. "Sabar ya Maya, Kamu itu wanita berpendidikan, kamu punya martabat. Ibu tahu kamu bertahan di sini demi merawat Paman Burhan dan menjaga Rian. Tapi kalau kamu terus-terusan mengandalkan uang lemparan dari Pras, kamu akan selamanya diinjak-injak oleh keluarga itu."
"Saya bingung, Bu... Saya ingin bekerja, tapi Rian masih kecil dan Pak Burhan butuh perawatan penuh, aku tau kalau aku pergi tidak akan ada yang merawat Pak Burhan, sedangkan Beliau masih terhitung kerabat ayahku." keluhku jujur.
Bu Minah tersenyum hangat, menepuk-nepuk tanganku. "Zaman sekarang banyak hal yang bisa dilakukan dari rumah, Maya. Kamu punya keterampilan, kamu pintar memasak dan memegang pembukuan. Kalau kamu butuh bantuan menjaga Rian sejam atau dua jam saat Ayah mertuamu tidur, bawa saja Rian ke rumah Ibu. Ibu bersedia bantu."
Kata-kata Bu Minah yang menyemangati itu terdengar sangat tulus tanpa basa basi.
"Benar Bu aku sepakat dengan pendapat Ibu, memang aku sudah terpikir sejak dua Minggu yang lalu untuk mencari penghasilan sendiri."
Bersambung
kyknya pribahasanya ; "karena setitik TINTA, rusak susu sebelahnya"
atau sudah ganti di era digital?
sekarang prasetyo yg berlutut, lantainya keramik.😇😇😇😇😇