Selama lima tahun, Nadira Suryani rela membiayai keluarga mertuanya. Namun, kesabarannya habis setelah mengetahui putrinya, Naya, selalu diperlakukan berbeda dari cucu laki-laki mereka. Bahkan, ibu mertuanya diam-diam mengambil jatah biaya sekolah Naya untuk diberikan kepada cucunya.
Ditambah suaminya yang selalu lebih mementingkan keluarganya sendiri, Nadira akhirnya memutuskan untuk bercerai. Kali ini, ia tidak akan membiarkan keluarga mertuanya terus memanfaatkannya dan akan membuat mereka merasakan akibat dari semua perbuatan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Tidak Mau!
Arhan mengembuskan napas panjang. Ia berusaha menahan emosinya ketika mendengar ucapan sang ibu. Sementara itu, Nadira yang berdiri di sampingnya langsung menatap Imah dengan wajah tidak percaya.
"Bu, kami datang bukan untuk berdebat. Kami hanya ingin mengambil kembali berkas pendaftaran sekolah Naya. Hari ini batas terakhir pendaftarannya. Jadi, tolong jangan mempersulit keadaan," ujar Arhan.
Imah mendengus sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Memangnya kenapa kalau hari ini batas terakhir? Itu bukan urusan Ibu. Lagi pula, buat apa Naya sekolah di tempat mahal seperti itu? Sekolah biasa juga bisa! Lebih baik sekolah itu untuk Arkan saja."
Nadira menatap tajam ke arah mertuanya itu. "Saya tidak ingin basa basi, cepat berikan formulir pendaftaran itu!"
"Jangan ikut campur! Saya sedang bicara dengan anak saya sendiri!"
"Justru karena Ibu sedang mempermainkan masa depan anak saya, saya berhak ikut bicara!Ini demi Naya! " balas Nadira.
Arhan segera menggeser tubuhnya sedikit ke depan, berusaha meredakan ketegangan di antara keduanya.
"Bu, saya mohon. Jangan membuat masalah ini semakin panjang. Saya sudah membawa pengacara untuk membantu menyelesaikan semuanya. Kalau Ibu bersedia menyerahkan berkas pendaftaran Naya, kita bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik-baik."
Imah melirik pria yang berdiri di samping Arhan. Sejak tadi ia memang sudah menyadari keberadaan pria tersebut, tetapi sengaja tidak menghiraukannya.
"Untuk apa kamu membawa pengacara segala? Memangnya kamu mau menggugat ibu kandungmu sendiri?Kamu tidak takut sama dosa?"
"Saya tidak ingin melakukan itu, Bu. Tapi Ibu juga harus mengerti bahwa saya punya kewajiban untuk melindungi anak saya."
"Melindungi anak? Memangnya selama ini Ibu tidak pernah menyayangi Naya? Dia itu cucu Ibu juga! Tapi kamu seharusnya ngerti kalau Arkan yang akan menjadi penerus keluarga kita!"
"Kalau memang Ibu menyayanginya, seharusnya Ibu tidak mengambil berkas pendaftaran sekolahnya," sahut Nadira tajam.
Imah langsung menatap menantunya dengan kesal. "Sudah saya bilang, jangan ikut campur! Kamu ini hanya orang luar, bukannya kamu mau cerai sama anak saya? Ngapain kamu kesini segala."
Nadira hendak membalas, tetapi Arhan lebih dulu mengangkat tangannya.
"Bu, saya tidak akan mengulangi permintaan saya. Tolong berikan berkas pendaftaran Naya sekarang!"
Imah terdiam beberapa saat. Namun, wanita itu justru menggeleng keras.
"Tidak! Ibu tidak akan memberikannya! Ibu akan membuat Arkan yang sekolah di sana!"
Pengacara yang sejak tadi diam akhirnya melangkah maju.
"Maaf, Ibu Imah. Saya ingin mengingatkan bahwa dokumen pendaftaran tersebut dibutuhkan oleh orang tua Naya untuk memenuhi hak pendidikan anak mereka. Apabila Ibu tetap menahan dokumen itu dan menghalangi proses pendaftarannya, kami akan mempertimbangkan langkah hukum sesuai dengan bukti yang ada."
Wajah Imah seketika berubah. "Kamu siapa berani-beraninya mengajari saya?"
"Saya kuasa hukum Bapak Arhan, Bu. Saya hanya ingin membantu menyelesaikan permasalahan ini tanpa harus memperpanjang konflik keluarga."
Belum sempat Imah menjawab, terdengar suara langkah kaki dari arah tangga. Jordi dan Rania muncul hampir bersamaan. Keduanya tampak terkejut melihat kedatangan Arhan dan Nadira bersama seorang pengacara.
" Loh... Loh ngapain lagi kamu kesini Nadira? Bukankah kamu mau cerai sama kak Arhan? Ga jadi ya?" sindir Rania.
Nadira hanya mendengus, ia menatap dingin ke arah adik iparnya itu. "Mumpung kalian disini, balikin formulir pendaftaran Naya dan apartemen Naya! Itu hak Naya bukan anak kalian!" tegasnya.
Rania segera menatap ke arah suaminya, mencoba mencari pembelaan.
"Sudahlah kakak ipar, keluarga kamu kan kaya. Untuk masalah ini pasti kecil lah, relakan saja," jelas Jordi yang segera duduk di sebelah ibunya.
Nadira mengepalkan tangannya, rasanya ia ingin menggampar berulang kali wajah mereka. Namun, Arhan sudah lebih dahulu menggenggam tangannya.
"Jika kalian tidak mau mengembalikannya, saya tidak akan segan segan membawa kalian ke hukum!"
Arhan menatap Jordi dengan rahang mengeras. Ia sudah terlalu lama bersabar menghadapi sikap adik dan ibunya. Namun, kali ini ia tidak akan membiarkan mereka terus merugikan Nadira dan Naya. Jordi mendengus, kemudian menyandarkan punggungnya ke sofa.
"Mas, jangan terlalu berlebihan. Kita ini masih keluarga. Masa hanya karena masalah formulir sekolah dan apartemen, Mas mau membawa ibu dan adik sendiri ke pengadilan?"
"Kalau kalian masih menganggap saya sebagai keluarga, seharusnya kalian tidak mengambil sesuatu yang menjadi hak anak saya!" jawab Arhan tegas.
Rania segera menyela. "Tapi, Kak, Arkan juga cucu Ibu. Apa salahnya kalau dia mendapatkan kesempatan yang sama dengan Naya? Lagi pula, sekolah itu bagus. Arkan juga pantas sekolah di sana."
Nadira tertawa sinis.
"Kesempatan yang sama? Kalian ga tahu apa yang dilakukan Naya sehingga ia bisa keterima di sekolah itu! Dia sudah bersusah payah belajar mati matian untuk bisa mendaftarkan diri disana? Tetapi kalian malah mengambil haknya begitu saja. Kalau kalian mau Arkan sekolah disitu juga seharusnya kalian mengajari ya untuk berusaha masuk kesana juga! Bukan dengan mencuri hal yang bukan miliknya."
"Memangnya kamu pikir semuanya semudah itu?" balas Rania ketus.
"Itu bukan urusan saya!" tegas Nadira.
Imah yang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka akhirnya berdiri dari sofa.
"Sudah cukup! Ibu tidak mau mendengar kalian bertengkar di rumah ini. Arkan juga berhak mendapatkan pendidikan yang bagus. Lagi pula, Naya masih bisa masuk sekolah lain. Tidak harus sekolah itu!"
Arhan menggeleng pelan. Ia menatap ibunya dengan tatapan kecewa.
"Bu, apa sebenarnya alasan Ibu melakukan semua ini? sudah menyiapkan semuanya untuk Naya. Saya sudah membayar biaya pendaftarannya, menyiapkan dokumen yang diperlukan, bahkan memastikan anak saya bisa mendapatkan pendidikan terbaik. Tapi Ibu justru merusak semuanya hanya demi memberikan kesempatan itu kepada Arkan."
"Karena Arkan adalah cucu laki-laki Ibu! Dia yang akan meneruskan nama keluarga ini!" jawab Imah tanpa merasa bersalah.
Nadira langsung menoleh kepada Arhan. "Kamu dengar sendiri, kan, Han? Bahkan sekarang Ibu masih menganggap Naya tidak sepenting Arkan hanya karena anak kita perempuan. Kamu lihat kan seperti apa Naya di hadapan keluargamu?"
Arhan mengepalkan tangannya. Ia kemudian menatap ibunya.
"Bu, saya tidak pernah mempermasalahkan jenis kelamin anak saya. Naya adalah anak saya. Dia punya hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan terbaik. Saya tidak peduli apakah dia perempuan atau laki-laki, dia tetap anak yang harus saya perjuangkan."
Imah mendegus. "Jangan bicara seolah-olah Ibu tidak tahu apa-apa! Selama ini Ibu juga sudah banyak membantu mengurus Naya!"
"Tapi Ibu tidak berhak mengambil keputusan tentang masa depannya!" sahut Arhan.
Pengacara yang sejak tadi memperhatikan perdebatan tersebut akhirnya kembali angkat bicara.
"Maaf, Bapak dan Ibu. Saya rasa pembicaraan ini tidak perlu diperpanjang. Kami datang dengan tujuan yang jelas, yaitu mengambil formulir pendaftaran sekolah milik Naya. Mengingat hari ini merupakan batas terakhir pendaftaran, saya harap Ibu Imah bersedia menyerahkannya sekarang."
Imah menatap pria tersebut dengan kesal. "Sudah saya bilang, saya tidak akan memberikannya!"
Imah segera bangkit dari duduknya dan segera mendorong Arhan, Nadira dan pengacara itu untuk keluar dari rumahnya. Ia segera menutup pintu saat ketiga orang itu sudah berada di luar.
"Kamu lihat kan? Ibumu begitu egois!" kesal Nadira.
Arhan menundukkan kepalanya. Nadira mengusap wajahnya dengan kasar, Nadira yang mulai kehabisan waktu akhirnya menatap suaminya itu.
"Kita hanya punya satu cara agar mereka bisa mengembalikan formulir itu."
aku udh mmpir....slm knal....
dr awl udh d bkin emosi....ko ada y wnita s'ga waras itu,yg lbh syng cucu laki2 drpdd ccu prmpuan.....mna hsil nyolong pula....kl aku jd nadira,dr lma udh usir mreka biar jd gmbel.....😡😡😡