Namaku sari, umur 19 tahun menikah dengan suami yang aku cintai. tapi baru 6 bulan menikah , tetangga janda kaya sebelah rumah terus menggoda suamiku dengan uang. apakah rumah tanggaku akan hancur? Kisah nyata dari mamuju yang bikin menangis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Lam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Mantan Suami Datang Merebut Bayiku
Pintu apartemen terbuka keras. Arya pulang dengan wajah lelah dari kantor, tapi wajah lelahnya langsung berubah menjadi merah marah besar saat melihat Rizal duduk di sofa ruang tamu apartemen mewahnya.
"Rizal! Apa yang kamu lakukan di rumah saya! Berani-beraninya kamu datang dan ganggu istri saya yang lagi sakit! Keluar kamu!" bentak Arya dengan suara sangat keras sampai seluruh apartemen bergema.
Rizal langsung berdiri ketakutan, tubuh kurusnya gemetar. "Maaf Pak Arya, saya... saya hanya ingin bertemu Una dan calon anak saya. Saya kasihan dengar kandungan Una bermasalah. Saya hanya ingin tanggung jawab Pak."
Arya berjalan mendekati Rizal dengan mengepalkan tangan, "Anak kamu? Anak apa? Sejak kapan anak dalam perut istri saya jadi anak kamu? Istri saya Una adalah istri sah saya! Anak dalam perutnya adalah anak saya! Kamu sudah tidak punya hak apapun! Kamu yang usir dia hujan-hujanan dulu ingat? Kamu yang bikin dia menderita!"
Aku yang duduk di sofa sambil memeluk perutku menangis, "Cukup kak Arya, jangan bertengkar. Aku takut bayinya kenapa-kenapa. Kandungan ku lagi bermasalah kak."
Mendengar kata bermasalah, Arya langsung lari memelukku dan meninggalkan Rizal.
"Sayang kamu kenapa? Perutmu sakit? Mulas? Ayo kita ke rumah sakit sekarang ya! Saya takut bayinya kenapa-kenapa," kata Arya panik sambil mengelus perutku yang membuncit 4 bulan.
Rizal melihat kemesraan kami, air matanya menetes. Dia cemburu melihat mantan istrinya yang dulu dia sia-siakan kini disayang begitu tulus oleh pengacara kaya.
"Una, lihat kan? Dia sayang sekali sama kamu. Saya dulu bodoh, saya sia-siakan kamu. Saya pilih janda kaya yang jahat itu hanya karena uangnya. Padahal kamu tulus sayang sama saya. Beri saya kesempatan kedua Una, saya akan berubah. Saya akan jadi suami yang baik, saya akan kerja keras untuk kamu dan anak kita," kata Rizal sambil berlutut di depan kami.
Arya semakin marah, "Kesempatan kedua? Kamu mimpi! Kamu sudah bikin Una hampir keguguran karena stres kamu usir dia! Kamu sudah bikin kontrakan dia dibakar oleh istri simpananmu itu! Sekarang kamu datang mau merebut dia lagi? Tidak akan saya biarkan!"
Rizal tidak menyerah, dia menatapku dengan mata memelas, "Una, kamu ingat dulu waktu kita nikah? Kita janji sehidup semati? Kamu ingat kamu bilang akan selalu setia sama aku apapun yang terjadi? Sekarang aku butuh kamu Una. Bu Ratna sudah cerai kan saya dan bawa semua uangnya. Saya tidak punya siapa-siapa lagi. Hanya kamu dan calon anakku yang aku punya."
Kata-kata Rizal membuat hatiku goyah. Aku ingat masa-masa awal menikah dengan Rizal, dia memang suami yang baik sebelum mengenal Bu Ratna. Kami pernah bahagia.
Tapi aku juga ingat betapa kejamnya dia mengusirku hujan-hujanan, betapa sakitnya aku melihat dia tidur dengan janda kaya itu di depan mataku.
Aku harus memilih. Memilih Arya, pengacara tampan kaya raya yang tulus mencintaiku dan anakku walau anak ini bukan darah dagingnya, yang memberiku apartemen mewah dan kasih sayang tulus. Atau memilih Rizal, mantan suamiku, ayah kandung dari bayi dalam perutku, yang kini miskin dan menyesal?
Perutku tiba-tiba terasa sakit yang sangat hebat. Sakit seperti ditusuk-tusuk pisau.
"Akh... sakit... perutku sakit sekali kak Arya... sakit..." aku menjerit sambil memegangi perutku.
Darah segar keluar dari kakiku, membasahi sofa mewah Arya.
Arya panik luar biasa, "Una! Darah! Kamu pendarahan! Astagfirullah! Rizal panggil ambulans cepat! Cepat!"
Rizal juga panik melihat darah, "Una! Ya Allah Una! Ini semua salahku! Aku bikin kamu stres! Aku bikin kamu pendarahan!"
Arya langsung menggendongku ala bridal style, membawaku turun ke mobilnya sambil terus memanggil namaku, "Una bertahan ya sayang, jangan tidur, kita ke rumah sakit sekarang! Bayi kita harus selamat! Kamu harus selamat!"
Rizal ikut lari di belakang mobil Arya, "Tunggu saya! Saya ikut! Itu anak saya!"
Mobil Arya melaju kencang ke rumah sakit. Darah terus mengalir dari kakiku. Aku merasa pandangan ku mulai gelap.
Apakah bayiku bisa selamat? Apakah aku akan kehilangan calon bayiku karena pertengkaran dua laki-laki yang memperebutkanku?