NovelToon NovelToon
Madu Yang Pahit

Madu Yang Pahit

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nittagiu

Alya Kirana menerima Arga Pratama sebagai suaminya dengan harapan membangun rumah tangga yang bahagia. Namun, dia tidak pernah tahu bahwa sebelum menikah dengannya, Arga telah lebih dahulu memiliki seorang istri bernama Nadira Permata. Di antara rahasia yang disembunyikan, janji yang tak kunjung ditepati, dan cinta yang terbagi, Alya dihadapkan pada kenyataan pahit yang tak pernah dia bayangkan. Dia tidak ingin menjadi musuh bagi perempuan lain. Namun, apakah itu berarti dia harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri? Sementara Arga berusaha mempertahankan dua pernikahannya, seorang pria dari masa lalu Alya kembali hadir membawa perasaan yang tak pernah benar-benar padam. Ketika cinta terasa manis di awal, siapa yang harus menanggung pahitnya di akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nittagiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kenyataan itu Menyakitkan

Nadira tiba di rumah sakit lebih awal dari jadwal konsultasinya. Sejak bangun tidur, pikirannya terus tertuju pada hasil pemeriksaan sebelumnya. Dia berusaha menjalani pagi seperti biasa, tetapi sulit mengabaikan penjelasan dokter tentang kondisi jantung dan pembuluh darah paru-parunya.

Di ruang tunggu, Nadira duduk sambil memegang tas di pangkuan. Sesekali dia melihat layar ponselnya, memastikan jadwal pemeriksaannya tidak terlewat. Tidak ada pesan baru dari Arga, dan dia sendiri belum berniat menghubungi laki-laki itu.

Sejak mengetahui dirinya hamil, Nadira merasa hidupnya berubah dalam waktu singkat. Hubungannya dengan Arga belum menemukan kejelasan, sementara sekarang dia harus memikirkan kehidupan kecil yang tumbuh di dalam tubuhnya. Dia belum tahu bagaimana menghadapi semuanya, tetapi setidaknya dia ingin mengetahui kondisi kesehatannya terlebih dahulu. Ketika namanya dipanggil, Nadira segera bangkit dan masuk ke ruang konsultasi.

Dokter sudah menyiapkan hasil evaluasi lanjutan. Setelah mempersilakan Nadira duduk, dokter kembali menanyakan keluhan yang dialaminya, termasuk kapan napas pendek mulai terasa dan apakah kelemahan tubuhnya semakin mengganggu aktivitas sehari-hari.

Nadira menjawab dengan jujur. Dia juga menjelaskan bahwa sebelumnya tidak pernah merasa memiliki masalah kesehatan yang berarti.

Dokter kemudian memaparkan hasil pemeriksaan yang telah dilakukan. Temuan tersebut menunjukkan adanya tekanan tinggi di pembuluh darah paru-paru, kondisi yang membuat jantung bagian kanan harus bekerja lebih keras untuk memompa darah.

“Dari hasil pemeriksaan sejauh ini, kami mencurigai adanya hipertensi arteri pulmonal,” jelas dokter. “Namun, kita masih perlu memastikan diagnosis dan menilai tingkat keparahannya melalui pemeriksaan khusus.”

Nadira terdiam. Istilah yang didengarnya terasa asing. Dia berusaha memahami penjelasan dokter, tetapi pikirannya mulai dipenuhi kecemasan.

“Apakah itu penyakit yang berbahaya, Dok?”

Dokter menjelaskan bahwa kondisi tersebut memang serius dan membutuhkan penanganan khusus. Jika tekanan di pembuluh darah paru-paru terlalu tinggi, jantung dapat mengalami kesulitan menjalankan tugasnya. Karena itu, pemeriksaan lanjutan diperlukan untuk mengetahui kondisi Nadira secara menyeluruh.

Nadira menggenggam tali tasnya. Selama ini, dia menganggap rasa lelah yang dialaminya hanya akibat kurang tidur dan tekanan pikiran. Dia tidak pernah membayangkan bahwa keluhan tersebut mungkin berkaitan dengan masalah pada jantung dan paru-parunya.

Lalu, dokter kembali membahas kehamilannya. Karena Nadira sedang hamil, kondisinya membutuhkan perhatian yang jauh lebih besar. Kehamilan meningkatkan beban kerja jantung, sedangkan hipertensi arteri pulmonal dapat membuat jantung kesulitan menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut.

“Jika diagnosis ini terkonfirmasi, kehamilan Anda termasuk berisiko sangat tinggi,” kata dokter dengan hati-hati. “Kita perlu melibatkan tim spesialis yang berpengalaman menangani kondisi jantung-paru pada ibu hamil.”

Nadira menunduk. Tangannya terasa dingin. “Bagaimana dengan bayi saya, Dok?”

Dokter menjelaskan bahwa kondisi Nadira dan perkembangan kehamilannya perlu dinilai bersama. Belum ada jawaban sederhana yang dapat diberikan sebelum pemeriksaan lengkap dilakukan. Nadira membutuhkan penanganan terkoordinasi dari dokter spesialis jantung, paru-paru, dan kebidanan.

Dokter juga menjelaskan bahwa apabila hipertensi arteri pulmonal benar-benar terkonfirmasi, melanjutkan kehamilan dapat menimbulkan risiko serius bagi keselamatan Nadira. Karena itu, dia perlu mendapat konseling menyeluruh mengenai risiko dan pilihan medis yang tersedia, termasuk kemungkinan mengakhiri kehamilan.

Nadira terdiam lama sebelum akhirnya mengangkat wajah. “Apakah saya bisa meninggal karena penyakit ini?” Pertanyaan itu keluar dengan suara pelan. Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi dia berusaha menahan air matanya.

Dokter memberinya waktu sebelum menjawab. Risiko komplikasi berat memang nyata dan dapat mengancam nyawa, terutama selama kehamilan, persalinan, serta masa setelah melahirkan. Namun, dokter tidak mengatakan bahwa sesuatu yang buruk pasti akan terjadi. Kondisi Nadira masih perlu dinilai lebih jauh, dan setiap keputusan harus dibuat setelah dia memahami risiko serta pilihan penanganannya.

Nadira mengangguk perlahan. Meski demikian, penjelasan itu tidak serta-merta menghilangkan ketakutannya. Dia datang ke rumah sakit untuk mencari tahu mengapa tubuhnya terus melemah. Kini, dia justru dihadapkan pada kemungkinan bahwa kehamilan yang baru diketahuinya dapat membawa risiko besar bagi dirinya sendiri.

⸻

Setelah konsultasi selesai, Nadira duduk sendirian di ruang tunggu. Dia belum mampu langsung berdiri dan meninggalkan rumah sakit. Penjelasan dokter masih berputar di kepalanya, terutama ketika mengingat bahwa ada seorang anak yang sedang tumbuh di dalam tubuhnya. Dia belum pernah membayangkan harus membuat keputusan seperti ini.

Selama ini, dia mengira masalah terbesarnya adalah pernikahan Arga dengan Alya. Dia bahkan sempat berpikir untuk mengakhiri hubungan mereka agar tidak terus terluka. Namun, sekarang ada persoalan lain yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan menjauh dari Arga.

Nadira mengusap air matanya. Dia tidak ingin mengambil keputusan ketika pikirannya masih dipenuhi ketakutan. Dia perlu memahami kondisinya, mendengar penjelasan tim medis, dan mempertimbangkan semua pilihan yang tersedia.

Ponselnya bergetar di dalam tas. Nadira mengeluarkannya dan mendapati sebuah pesan dari Arga yang menanyakan kabarnya. Dia membaca pesan itu berkali-kali.

Ada keinginan kuat untuk menjawab dan menceritakan semuanya. Bagaimanapun, Arga adalah ayah dari anak yang sedang dikandungnya. Namun, hubungan mereka sedang berada dalam keadaan yang tidak menentu. Nadira belum tahu apakah dirinya sanggup kembali membuka hati kepada laki-laki itu, apalagi membicarakan masa depan mereka.

Akhirnya, dia hanya membalas singkat bahwa dirinya baik-baik saja dan sedang ada urusan. Setelah mengirim pesan itu, Nadira mematikan layar ponselnya.

Untuk sementara, dia memilih menyimpan semuanya sendiri. Bukan karena ingin menghukum Arga atau membuat laki-laki itu merasa bersalah, melainkan karena dia membutuhkan waktu untuk memahami kenyataan yang baru saja diterimanya.

⸻

Sore harinya, Nadira kembali ke apartemen. Dia meletakkan tas di atas meja, lalu duduk di sofa tanpa menyalakan televisi. Suasana yang sunyi membuat pikirannya kembali tertuju pada penjelasan dokter.

Dia menyentuh perutnya perlahan. Di dalam sana, ada kehidupan yang belum pernah dia lihat, tetapi sudah mulai mengubah cara pandangnya terhadap masa depan. Nadira belum tahu keputusan apa yang akan diambilnya. Dia juga belum mengetahui seberapa berat kondisi kesehatannya setelah seluruh pemeriksaan selesai. Namun, dia tahu bahwa dia tidak bisa terus berpura-pura semuanya baik-baik saja.

Nadira mengambil ponsel dan membuka percakapan dengan Arga sekali lagi. Jemarinya sempat bergerak, hendak menulis pesan yang mungkin akan mengubah hubungan mereka selamanya.

Namun, dia berhenti. Dia belum siap memberi tahu Arga tentang kehamilannya, apalagi tentang dugaan penyakit yang masih perlu dipastikan. Untuk sekarang, dia ingin mendengar penjelasan dokter sampai tuntas sebelum menentukan langkah berikutnya. Ponsel itu akhirnya diletakkan kembali di meja.

Nadira menyandarkan tubuhnya dan memejamkan mata. Untuk pertama kalinya sejak mengetahui dirinya hamil, dia benar-benar takut pada apa yang akan terjadi selanjutnya.

Dia masih harus memutuskan masa depan hubungannya dengan Arga. Dia juga harus menghadapi kenyataan bahwa kondisi tubuhnya mungkin jauh lebih serius daripada yang pernah dia bayangkan.

Dan di antara semua ketidakpastian itu, Nadira belum tahu bahwa keputusan yang kelak diambilnya akan membawa konsekuensi besar bagi dirinya, anaknya, dan laki-laki yang selama ini dicintainya.

1
Setyowati Setyowati
dari kemarin ngintip trs sy kira keman Thor ...tp syukurnya up juga ..jangan Hiatus Thor 🙏🙏
Setyowati Setyowati
kalau bisa jangan simpan semua sendiri Nadira...karena kamu akan banyak pikiran jadi akan berimbas pada janinmu dan dirimu ..bagi bebanmu pada Arga juga ..biar sama " mencari solusinya
Setyowati Setyowati
lanjut 🙏🙏
Setyowati Setyowati
kemungkinan Nadira hamil ..dan tidak ada alasan untuk minta pisah ...Alya dan Nadira sama" terjebak pada laki" yg egois ..tidak ada pemenang maupun yg kalah ..karena kedua" nya posisinya sama ..di tipu di sembunyikan dari istri lainnya
Setyowati Setyowati
maaf .. sampai lupa kasih bintang 5 ..keasikan baca
Setyowati Setyowati
masih merasa enak ya si Arga Tengo sana sini masih oke ..tp kalau semua sudah ketahuan sama orangtua dan Nadira ...apa alasan yg keluar dari mulutmu
Setyowati Setyowati
angga lagi mampir ya thor
Anita Giu: Ah typo 🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!