Kisah ini menceritakan tentang kisah seorang gadis desa yang gaptek dan dalam keadaan mendesak dia dipaksa menikah dengan CEO muda Arga Mahendra, seorang pengusaha muda yang tengah mencari istri sebagai jaminan kesehatan neneknya.
Mereka terpaksa menikah,disatu sisi Arga membutuhkan istri atas keinginan terahir neneknya dan disisi lain safa terpaksa harus mengorbankan masa mudanya demi mendapatkan uang karna ibunya terlilit hutang pada rentenir dan dia juga butuh biaya untuk berobat.
akankah cinta mereka bersemi diatas kertas kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 Sarapan pagi
Terbiasa tinggal seorang diri Arga selalu melewatkan sarapan paginya,Bahkan selama tiga tahun tinggal di penthouse, ritual paginya selalu sama. Bangun jam lima pagi, olahraga ditempat gym pribadinya selama 1/2 jam setelahnya mandi bersiap diri kemudian minum kopi hitam buatan mesin kopi otomatisnya, lalu berangkat ke kantor jam tujuh tepat. Tidak ada nasi, tidak ada sayur, tidak ada suara apapun yang menggangunya setiapnpagi.Suasana penthouse selalu hening, sunyi dan tenang.
Tapi pagi ini jam enam lewat sepuluh,Arga mulai merasakan sesuatu yang tak biasa di dalam penthousenya ,hidungnya mencium sesuatu.Sesuatu yang merusak indra penciumannya pagi-pagi yaitu bau gosong yang berasal dari dapurnya.
Bukan bau gosong roti panggang yang biasanya dimakan para bule,tapi Ini bau gosong yang khas, bau nasi yang terlalu lama dimasak dan bau bawang goreng yang terlalu matang.
Arga keluar dari kamar dengan kening berkerut dia juga sesekali mengendus, memastikan bau gosong itu benar-benar ada dirumahnya atau hanya halusinasinya saja.
Saat sampai dapur dia melihat pemandangan yang belum pernah dia lihat di penthousenya selama ini,Pemandangan yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Mata Agra memicing saat melihat Safa yang berdiri didepan kompornya,masih mengenakan bagian atas mukenanya yang dililitkan ke leher dan yang lebih membuat arga terkejut adalah Safa yang sedang sibuk berperang dengan mesin pemanggang roti.
"Ya Allah, kok mental lagi sih rotinya!" gumam Safa sambil mencungkil roti yang gosong dengan sumpit.
Arga berdiri di ambang pintu dapur dengan melipat tangan. "Apa yang sedang kamu lakukan!"
Safa terkejut bahkan hampir menjatuhkan roti panggang ditangannya. "Astaghfirullah, Mas Arga! Mas ngagetin aja sih datang-datang tanpa suara." keluh Safa.
"Saya tanya, apa yang sedang kamu lakukan di dapur saya pagi-pagi begini!"
Safa dengan bangga menunjuk ke arah meja. Di sana sudah ada piring-piring. Ada nasi putih yang masih mengepul tapi sedikit gosong,ada telur dadar yang bentuknya tidak karuan, ada sambal terasi yang diulek kasar dan ada kerupuk yang masih dalam plastik belum dibuka.
"Aku masak sarapan buat Mas. Kan kita sekarang suami istri, tugas istri kan nyiapin makanan buat suami .Masa ia sarapannya cuma kopi pahit itu sih. Nggak bikin kenyang,kalau mas ngga mau nasi nih aku lagi bikin roti panggang buat mas." celoteh Safa polos.
Arga menatap meja itu seperti melihat benda asing. "Saya tidak pernah sarapan nasi jam enam pagi."
"Loh, iya begitu? Kenapa? Ooh pantes muka mas itu selalu terlihat pucat dan kaku kebanyakan kopi.Sarapan nasi tuh bikin kuat mas jadi semangat kerjanya!" cletuk Safa tanpa memperhatikan wajah Arga yang tidak bisa dijelaskan ekspresinya.
Safa dengan cekatan mengambil piring dan menyendokkan nasi banyak sekali ke piring itu,lalu menaruh telur dadar di atasnya dan menyodorkannya pada Arga.
"Nih mas,cobain telur dadar buatan aku. Tadi aku sempet bingung, di sini nggak ada wajan cekung, adanya wajan datar anti lengket itu. Jadi bentuknya agak melebar gini. Tapi mas tenang saja,kata ibu telur dadar buatan aku enak ko,krupuknya juga enak loh mas gurih.Itu krupuk udang kesukaan aku mas." papar Safa, mulutnya tidak diam dan tangannya tetap aktif mengambil roti dalam panggangannya.
Arga tidak bergerak,dia hanya menatap telur dadar itu. Di kantor, sarapannya kalau pun ada adalah croissant atau oatmeal. Bukan nasi dengan telur dadar berantakan dan sambal terasi yang aromanya menyengat ke seluruh penthouse.
"Aku tidak makan sambal!" ucap Arga pada akhirnya.
"Lah kenapa? Pedesnya enak lho Mas, bikin melek. Tadi aku bikin pakai cabai rawit dari kampung yang aku bawa. Aku bawa bekal cabai, terasi, sama ikan asin kemarin, takut disini ngga ada.Itu makanan favoritnya aku loh mas."
Arga mulai pusing, Penthouse-nya yang steril dengan aroma diffuser mahal kini bau terasi.
"Siapa yang suruh kamu membawa ikan asin ke penthouse saya?"
Safa tidak perduli dia justru duduk dan mulai makan duluan dengan lahap. "Aku bawa sendiri mas,kan sayang kalau nggak dibawa. Di sini pasti nggak ada. Mas mau coba ikan asinnya? Enak lho, ini digoreng garing."
Arga menghela napas panjang dan dia memutuskan untuk tetap minum kopinya saja. Dia berjalan ke mesin kopi otomatis kesayangannya yang harganya puluhan juta.
Saat mesin itu sedang berbunyi, Safa mendekat dengan rasa penasaran.
"Mas, itu apa? Kok bisa ngeluarin kopi sendiri? Ajaib banget." cletuknya lagi dengan polos.
"Itu mesin kopi otomatis,jangan disentuh!"
Safa malah makin dekat. Matanya berbinar-binar melihat kopi hitam menetes.
"Wah canggih banget ya,di kampung aku kalau mau bikin kopi harus ngrebus air dulu pakai tungku. Ini enak, gampang tinggal pencet. Mas, aku boleh coba pencet gak?"
"Jangan!" larang Arga.
Tapi terlambat,jari Safa sudah meluncur memencet tombol yang salah. Bukan kopi yang keluar, tapi susu panas menyembur dan mengenai jas Arga yang sudah rapi dan wangi.
Satu detik hening.
Jas hitam Arga yang mahal itu kini ada bercak putih susu.
Muka Safa pucat pasi. "Ya Allah, Mas, maaf, maaf banget, aku nggak sengaja. Aku lap ya, aku lap."
Dia panik mencari tisu, tapi tidak menemukan dan dia malah mengambil serbet untuk piring.
Arga memejamkan mata menahan emosi. Kalau ini asistennya di kantor, sudah pasti dia pecat detik itu juga.
"Safa," suaranya pelan tapi terdengar dingin.
"Iya Mas?"
"Keluar dari dapur saya!" bentak Arga, suaranya menggema di seluruh penjuru penthouse.
Safa menunduk, bibirnya mengerucut "Iya, maaf. Aku ngga sengaja bikin baju mas kotor,aku cuman penasaran mas gimana bisa mesin itu mengeluarkan kopi panas.Maaf juga sudah bikin dapur mas berantakan,Aku cuma mau bikinin sarapan,biar kita bisa sarapan pagi sebelum mas berangkat kantor dan ibu aku juga pernah bilang, suami yang nggak disiapin sarapan dirumah itu pasti nanti bisa cari sarapan di luar."
Kalimat itu membuat Arga terdiam. Tidak ada yang pernah menyiapkan sarapan untuknya seperti ini. Ibunya meninggal sejak kecil, neneknya di luar negeri. Selama ini dia hidup sendiri dengan semua kecanggihan itu.
Dia sedikit merasa bersalah melihat Safa yang masih menunduk dengan hijab miringnya.
"Duduk!" titah Arga akhirnya.
Safa mendongak. "Hah! apa mas?"
" Saya bilang duduk! Kamu sudah terlanjur masak, masa tidak dimakan, nanti mubazir sekarang duduk dan makan!"titah Arga yang langsung dituruti oleh Safa.
Safa langsung duduk lagi dengan senyum lebar. "Beneran Mas mau dimakan? Nasi angetnya enak lho."
Arga dengan ragu menarik kursi. Dia duduk di depan piring nasi yang sudah disiapkan Safa. Dia mengambil sendok dan dia yang biasanya makan dengan garpu dan pisau, kini harus makan dengan sendok dengan tangan yang sedikit gemetar.
Safa memperhatikannya dengan antusias. "Gimana Mas? Enak kan? Telurnya agak keasinan dikit sih, soalnya tadi aku bingung garamnya yang mana, botolnya sama semua sih putih-putih."
Arga menyuap satu sendok. Nasi hangat dan telur dadar yang agak asin dan sedikit sambal.
Rasanya sedikit aneh dimulut Arga,tapi terasa hangat dan mengenyangkan. Berbeda dari kopi pahitnya.
Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, penthouse itu ada suara sendok beradu dengan piring dan ada suara orang yang makan sambil bercerita.
"Mas,mas! Mas tau ngga sih,tadi tuh aku bangun agak kesiangan.Aku bangun udah jam 4 lebih sedikit,pas aku buka mata kamarku gelap mas,aku panik dong.Aku cari mukenaku disebelah ranjang tapi ngga ada,nah pas aku coba nyalain lampunya ngga bisa mas tapi anehnya pas q berdiri tepat dibawah lampu ko malah lampunya nyala sendri,ajaib kan mas? Mas ko bisa si kepikiran pasang lampu model begitu?" celoteh Safa tanpa jeda,entah berapa jumlah kosa kata dalam otaknya sehingga mulutnya seolah tak pernah lelah berbicara.
Arga tetap diam tanpa menyela,dia tetap mendengarkan.Arga tidak tertarik menjawab atau menganggapi apa yang Safa ucapankan namun dia juga tidak meminta Safa untuk diam.
Safa terus berceloteh. "Terus keran airnya juga, aku puter-puter nggak keluar airnya. Ternyata harus diangkat gini ya. Aku kira rusak." ucap Safa sambil memperagakan tangannya.
Pagi itu, Arga menghabiskan setengah piring nasinya. Tidak habis satu piring penuh ,tapi itu merupakan kemajuan besar dalam hidupnya.
Saat dia mau berangkat kerja, Safa berlarian menyusul kedepan dan membawakan sepatu Arga karna Safa melihat jelas Arga masih mengenakan salandal rumah.Tapi dia terburu-buru matanya tidak fokus dan dia justru salah mengambil dia membawakan Arga sepasang sandal rumah.
"Mas sepatunya yang ini ya?"ucapnya tanpa menoleh kebenda yang ia bawa.
Arga memicing saat melihat bukan sepatunya yang ada ditangan safa tapi sandal bulu-bulu yang berwarna pink. "Itu sandal kamu."
"Oh iya, kebalik."
Akhirnya Safa memberikan sepatu pantofel yang benar. Saat Arga memakai sepatu, Safa berdiri di dekat pintu.
"Mas kerja yang bener ya. Hati-hati di jalan. Jangan lupa makan siang. Kalau lapar, telpon aku, nanti aku pesenin GoFood. Eh tapi aku nggak bisa pesen GoFood ding, nanti aku belajar dulu."
Arga menatap gadis di depannya. Gadis yang tampilannya berantakan, berisik, gaptek, tapi sorot matanya terlihat tulus.
"Ikan asinnya buang!" titah Arga sebelum keluar.
"Ih nggak mau. Itu enak."
"Buang atau aku buang kamu sekalian."
Safa tidak mendengarkan tapi dia justru menarik pintu dan menutupnya rapat-rapat.
Pintu tertutup. Safa menghela napas lega. Lalu dia melihat piring kotor di meja.
"Yeay, Mas Arga makan masakan aku setengah piring. Berarti lumayan enak dong."
Dia membereskan meja makan dengan semangat. Dia tidak tahu, di dalam lift, Arga sedang menatap bercak susu di jasnya yang sengaja tidak ia bersihkan dan Arga tersenyum kecil.
Menikah kontrak itu ternyata tak seburuk yang dia bayangkan.
Bersambung