hayyyyy hayyyy hayyyyy semuanya jangan lupa follow aku dulu biar enak ahayyyy !!! 👋🤍
Siapa sangka, di kehidupan yang cuma sekali ini, kamu malah harus dipaksa menikah sama seseorang yang bahkan nggak kamu kenal?
Itulah yang terjadi sama Ema.
Awalnya Ema pikir pernikahan ini cuma urusan bisnis antara keluarganya dan keluarga Damian. Setelah menikah, mereka bisa menjalani kehidupan masing-masing seperti biasa.
Tapi ternyata, Ema salah besar.
Semenjak tinggal bersama Damian dan keluarganya, Ema mulai merasa ada yang aneh.
Mereka terlalu banyak menyimpan rahasia.
Dan semakin Ema mencoba mencari tahu, semakin ia sadar kalau keluarga yang sekarang menjadi keluarganya itu... sama sekali bukan keluarga biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon crowell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 18
Di dalam sebuah mal, Emma tampak antusias memasuki bagian tanaman dan bibit bunga. Matanya berbinar saat melihat berbagai jenis bunga yang berjajar rapi di rak-rak toko. Ada banyak pilihan, mulai dari bunga yang berwarna cerah hingga bunga-bunga cantik yang selama ini hanya ia lihat melalui gambar.
Emma mengambil beberapa bungkus bibit, lalu berbalik menghadap Sonia yang berdiri tak jauh darinya.
“Sonia,” panggil Emma.
“Iya, Nyonya?”
“Menurut kamu, bunga lily atau tulip?” tanya Emma sambil memperlihatkan dua bungkus bibit di tangannya.
Sonia memperhatikan keduanya sebentar sebelum menjawab, “Dua-duanya bagus, Nyonya.”
“Iya, sih. Okelah, aku ambil dua-duanya. Mawar juga, deh!” putusnya, lalu mengambil beberapa bungkus bibit bunga mawar.
Sonia hanya bisa tersenyum kecil melihat tingkah majikannya. Sejak tadi, Emma terlihat begitu bersemangat. Perempuan itu bahkan sudah membayangkan bagaimana jadinya taman di rumah mereka setelah semua bibit tersebut ditanam.
Setelah selesai memilih bibit bunga, keduanya beralih ke bagian buah-buahan. Emma berjalan menyusuri rak sambil memperhatikan buah-buah segar yang tersusun rapi. Sesekali, ia mengambil sebuah apel, memeriksanya, lalu memasukkannya ke dalam keranjang belanja.
Tanpa Emma sadari, beberapa pengawal yang ditugaskan Damian telah menyebar di berbagai sudut mal. Ada yang berjalan beberapa meter di belakang mereka, ada pula yang berpura-pura menjadi pengunjung biasa.
Mereka menjalankan tugas sesuai perintah Damian memastikan Emma tetap aman tanpa membuat perempuan itu merasa sedang diawasi.
Berbeda dengan Emma, Sonia tentu saja menyadari keberadaan para pengawal tersebut. Ia hanya memilih diam karena tidak ingin merusak suasana hati majikannya.
Saat Emma sedang sibuk memilih buah, ponselnya tiba-tiba berbunyi.
Ting!
Sebuah pesan masuk.
Emma mengeluarkan ponselnya, lalu mengerutkan kening saat membaca nama pengirimnya.
08******
Emma, ini aku Damian. Mengapa kau nekat sekali keluar tanpa memberitahuku? Jangan mengangkat barang belanjaan yang terlalu berat.
Emma terdiam beberapa detik sebelum mendongak dan melirik ke sekelilingnya.
“Orang ini punya CCTV di mana-mana, apa?” gumamnya kesal.
Ia lalu menoleh kepada Sonia sambil menunjukkan layar ponselnya.
“Sonia, lihatlah tuanmu itu. Rasanya ingin sekali kutumbuk orang ini!” gerutu Emma. “Sayangnya, pernikahan kami sekarang bukan sekadar pernikahan kontrak lagi. Kalau masih kontrak, mungkin aku sudah meninggalkannya dari kemarin!”
Sonia langsung menatap Emma dengan wajah panik.
“Nyonya, jangan asal bicara sembarangan!” tegurnya pelan.
“Memangnya kenapa? Dia juga nggak ada di sini.”
“Tapi saya yakin Tuan Damian akan mengetahui kalau Nyonya mengatakan hal seperti itu.”
Emma mendengus. “Huh! Memangnya dia dukun?”
Belum sempat Sonia menjawab, ponsel Emma kembali berbunyi.
Ting!
Kali ini, pesan dari Damian jauh lebih singkat.
Balas pesanku, Emma. Tunggu saja kau. Aku akan memberimu hukuman.
“Ya ampun, galak banget jadi orang!” omelnya sambil memutar bola matanya malas
Meski kesal, ia tetap mengetik balasan.
Iya, iya. Aku minta maaf. Tadi aku cuma ingin bebas sebentar. Aku akan segera kembali.
Setelah mengirim pesan tersebut, Emma kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia hendak mengambil beberapa buah pir ketika tanpa sengaja menabrak seseorang yang berjalan dari arah berlawanan.
Bruk!
“Aw!”
Emma mundur selangkah. Keranjang belanjaannya hampir terlepas dari tangan, tetapi Sonia segera membantu menahannya.
“Maaf, saya tidak sengaja,” ucap Emma spontan.
Namun, begitu melihat siapa orang yang ditabraknya, senyum di wajah Emma perlahan menghilang.
Raisa.
Perempuan itu juga tampak terkejut sebelum sudut bibirnya terangkat membentuk senyum mengejek.
“Wah, kebetulan macam apa ini?” Raisa menyilangkan tangan di depan dada. Tatapannya menyapu Emma dari atas sampai bawah. “Aku kira kau sudah hidup miskin bersama suamimu yang berwajah cacat itu.”
Emma mengangkat sebelah alisnya.
Lagi-lagi perempuan ini.
Sepertinya Raisa benar-benar tidak punya pekerjaan lain selain mengurusi kehidupan orang lain.
“Hm, berwajah cacat, ya?” Emma memiringkan kepala, pura-pura berpikir. “Sepertinya yang berwajah cacat itu kamu, deh. Coba lihat bekas jerawatmu itu. Iuuh, menjijikkan!”
Wajah Raisa seketika berubah.
“Ka-kau!”
“Aku kenapa?” potong Emma cepat. “Apa? Mau marah? Silakan. Aku nggak melarang, kok.”
Raisa mengepalkan tangannya, jelas tidak terima dengan perkataan Emma.
“Berani sekali kau bicara seperti itu kepadaku!”
Emma justru tersenyum manis.
“Lho, memangnya kenapa? Kamu boleh menghina suamiku, tapi aku nggak boleh membalas? Aturannya dari mana? Dari planet sebelah?”
Sonia yang berdiri di samping Emma langsung menunduk, berusaha keras menahan ekspresinya. Ia tahu betul bahwa jika Emma sudah mulai membalas perkataan orang, akan sulit menghentikannya.
Raisa mendengus kasar.
“Kau pikir kau sudah menjadi orang kaya hanya karena menikah dengan pria itu?”
“Lho, siapa yang bilang begitu?” Emma menjawab santai. “Aku ke sini mau belanja, bukan mengadakan konferensi pers tentang kekayaanku.”
Ia kemudian melirik keranjang belanjaannya sendiri.
“Lagi pula, aku datang ke sini untuk membeli barang. Bukan untuk mencari-cari kesalahan orang lain.”Emma kembali menatap Raisa, lalu tersenyum tipis.“Atau jangan-jangan kamu datang ke sini cuma buat lihat-lihat tanpa membeli apa pun? Aduh, aku sih malu, ya. Kalau memang nggak punya uang, bilang saja. Nggak perlu cari perhatian dengan menghina orang lain.”
“Emma!” bentak Raisa.
Beberapa pengunjung di sekitar mereka mulai menoleh. Raisa yang menyadari hal itu segera merendahkan suaranya, tetapi tatapan matanya masih penuh kemarahan.
“Kau benar-benar sudah berubah sejak menikah!”
Emma mengedikkan bahu.
“Terima kasih. Berarti pernikahanku membawa perubahan positif.”
Raisa sampai terdiam karena tidak tahu harus membalas apa Sementara itu, Sonia mulai gelisah. Ia melirik jam tangannya, lalu memandang Emma dengan raut memohon.
“Nyonya, sebaiknya kita segera kembali. Kalau tidak, Tuan Damian akan memarahi saya.”
Emma menoleh kepadanya.
“Kenapa kamu yang takut? Aman santai saja”
“Tetap saja, Nyonya. Saya yang bertanggung jawab menemani Nyonya.”
Emma menghela napas panjang. Sebenarnya, ia masih ingin membalas beberapa perkataan Raisa, tetapi melihat wajah Sonia yang semakin cemas, akhirnya ia mengalah.
“Baiklah, baiklah. Kita pulang.”
Sebelum pergi, Emma kembali menoleh kepada Raisa.
“Oh, ya, satu lagi. Kalau nanti kamu bertemu suamiku, tolong sampaikan salamku, ya.”
Raisa mengernyit curiga. “Salam apa?”
Emma tersenyum lebar.
“Bilang saja, suamiku memang berwajah cacat menurutmu, tapi setidaknya dia nggak sibuk mengurusi hidup orang lain.”
Setelah mengatakan itu, Emma berbalik dan berjalan pergi bersama Sonia, meninggalkan Raisa yang berdiri dengan wajah merah padam.
Namun, baru beberapa langkah meninggalkan bagian buah-buahan, ponsel Emma kembali bergetar.
Sebuah pesan baru muncul dari Damian.
Lima menit lagi. Aku ingin kau sudah berada di mobil.
Emma membelalakkan mata.
“LIMA MENIT?!” serunya spontan.
Sonia buru-buru mendekat. “Nyonya, tolong jangan berteriak. Semua orang melihat kita.”
Emma menatap layar ponselnya dengan wajah tidak percaya.
“Dia pikir aku naik roket? Dari sini ke parkiran saja butuh waktu!”
Jauh di tempat lain, Damian yang sedang duduk di ruang kerjanya menatap layar ponsel sambil mengetukkan jari ke meja. Ia sudah menerima laporan dari pengawalnya bahwa Emma bertemu Raisa para pengawal itu memberikan sebuah video bagaimana istrinya membalas hinaan perempuan itu.
Anehnya, bukannya langsung marah karena Emma kembali terlibat masalah, sudut bibir Damian justru terangkat tipis ketika pengawalnya menceritakan bahwa Emma membela dirinya.
Namun, senyum itu segera menghilang saat ia melihat pesan balasan Emma.
Wanita cerewet
^^^jika kamu marah marah pada ku terus jangan harap aku mau pulang ke rumah mu lagi^^^
Damian memejamkan mata sejenak.
Perempuan itu benar-benar menguji kesabarannya.
“Vandes,” panggilnya dingin.
"iya tuan "
"aku sangat kesal sekarang kau tau kan harus apa ?"tanya Damian
Vandes mengangguk kan kepala nya seperti biasa Jika sedang kesal terkadang Damian tidak mampu mengontrol diri nya sebelum ia menghisap darah manusia yang ada di kantor nya lebih baik vandes mencari stok darah.
eh thor update gih utusan istrahat nanti di akhirat 😍🤭