Valentina Sierra punya segalanya: keluarga terpandang, kekasih idaman, dan kursi di Harvard yang menanti. Sampai satu malam mengubah segalanya. Ia terbangun di ranjang asing, pakaian robek, seprai bernoda darah—dan di sisinya berbaring Dorian Cervantes, pria paling ditakuti sekaligus paling dibencinya. Duda dingin berdarah dingin, seorang pengusaha yang menyimpan rahasia jauh lebih gelap dari yang bisa dibayangkan siapa pun.
Dijual oleh keluarganya sendiri atas nama "kehormatan", Valentina dipaksa menikahi sang iblis. Yang tak ia sadari: malam itu bukan kebetulan. Itu sebuah jebakan—dan ia hanyalah satu bidak dalam permainan yang jauh lebih besar, permainan yang berakar pada rahasia kelam tentang jati dirinya yang sebenarnya.
Terperangkap di dunia penuh topeng, senjata, dan pengkhianatan, Valentina harus belajar bertahan. Belajar menembak. Belajar membalas. Dan yang paling berbahaya dari semuanya—belajar bahwa benci dan cinta hanya dipisahkan satu garis tipis.
Dari kebencian menjadi hasrat, dari korban menjadi pemburu. Ketika seluruh kebenaran akhirnya terkuak, siapa yang akan berlutut, dan siapa yang akan menarik pelatuknya lebih dulu?
Sebuah kisah romansa gelap tentang pernikahan paksa, dendam yang membara, dan cinta yang tumbuh di tempat paling mustahil. Untuk pembaca dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SilvinaTracy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: DILECEHKAN
DORIAN CERVANTES
Aku memandanginya dengan geli. Dia sudah memerasku habis-habisan seperti jeruk, dan aku pun memerkosanya.
"Video apa yang kamu maksud?" tanyanya, kemarahannya masih membara.
"Memangnya belum kubilang?" aku berpura-pura berpikir.
"Bilang apa?" dia pasti sedang mempertimbangkan untuk mencekikku dengan seprai.
"Aku pasang kamera di sini, yang bisa menangkap suara dan gambar. Kupasang setelah malam kamu menyusup ke ranjangku." Dia pasti sedang menimbang-nimbang apakah itu benar atau tidak.
"Meski begitu kamu tetap memerkosaku, ini tidak akan berakhir begitu saja." Ancaman kosongnya justru membuatku semakin geli.
"Jelas bukan! Kamu yang memerkosaku, kamu harus bertanggung jawab atas diriku." Dia menatapku penuh benci dan mencoba memukulku, tapi gagal.
Kutahan kedua tangannya di belakang punggung hanya dengan satu tangan, lalu kuraih ponselku yang tergeletak di bawah bantal dan mulai memutar video itu.
"Lihat, di sini kamu sedang minum sesuatu, ada musik dan cokelat perangsang. Bagaimana bisa kamu memakannya? Cokelat itu ditinggalkan perempuan yang mau menjeratku." Matanya terpaku pada layar ponselku.
Kulepaskan dia begitu tak ada lagi niatnya untuk memukul atau apa pun, lalu kuputar video itu di televisi supaya kualitas dan ukurannya lebih bagus.
"Di situ kelihatan kamu kepanasan padahal AC sudah membekukan seisi ruangan. Nah, ini bagian terbaiknya." Matanya membelalak kaget dan wajahnya memerah saat melihat aku terpaksa mengikatnya agar dia tidak menerkam kami.
"Katakan padaku ini tidak akan tambah parah." Dia menutupi wajahnya karena malu, tapi kusingkap tangannya dan kupaksa dia menonton.
"Tambah parah? Bagian terbaiknya baru mau mulai. Dengar apa kata dokter, dia menyuntikkan sesuatu untuk menenangkanmu tapi tak ada efeknya." Dia mendengar penjelasan itu dan kembali menutupi wajahnya.
"Tidak mungkin. Kalau dia datang lagi, akan kubuat botak kepalanya, dasar jalang keparat dengan cokelat-cokelatnya." Dia marah, sangat marah.
"Sekarang perhatikan, aku sudah berusaha menenangkanmu."
"Dan karena itu kamu melepas semua bajumu, bajingan." Dia menatapku penuh amarah lagi.
"Baru saja kusentuh, kamu langsung membuka untukku, kamu begitu kalap." Suara desa*annya terdengar jelas dan kualitas videonya luar biasa.
"Aku sedang teler, matikan itu," pintanya, tapi aku menggeleng.
"Tidak, sedikit lagi saja. Kamu harus tahu kalau kamu kesakitan itu juga bukan salahku." Dia menatapku bingung.
Dia melihat apa yang dia lakukan begitu kulepaskan: dia menggesek-gesekkan tubuhnya dan mendesh tak terkendali. Dia melihat saat aku merenggut habis pakaiannya lalu turun untuk memberinya sks or*l. Yang terjadi berikutnya bahkan lebih mengejutkan, sebab saat itulah dia menarikku ke tubuhnya dan tak memberiku waktu untuk bereaksi ketika dia menyatukan kami secara tiba-tiba tanpa memberiku kesempatan sedikit pun. Bahkan terdengar bagaimana kami sama-sama mengaduh kesakitan.
"Sudah, matikan itu," pintanya malu.
"Kamu yang melecehkanku, kamu membuatku kering kerontang dan kamu sendiri pasti dehidrasi. Selain itu kamu juga melukaiku." Kutunjukkan luka-luka pertempuranku dengan bangga dan jenaka, membuatnya menutup mulut dengan kedua tangan, menahan jeritan kaget.
"Semua ini kamu anggap lucu, bajingan." Dia memakiku, dan aku semakin geli.
"Aku punya bukti serangan itu dan seorang saksi juga," kataku sambil menahan tawa.
"Hapus video itu," pintanya.
"Menghapusnya? Sudah gila kali. Ini lebih bagus daripada film prn dan versi langsung. Sekarang setelah kamu tahu duduk perkaranya, siapa yang melecehkan siapa?" Dia kembali menutupi wajahnya, merah padam.
"Kamu memang berusaha menenangkanku, tapi hapuslah. Lagi pula kamu tak seharusnya melakukan semua yang kamu lakukan. Merobek bajuku itu tak perlu, menelanjangiku, menaruh kepalamu di sana."
"Aku tidak akan menghapusnya." Sekalipun dibayar aku tak akan mau, aku berencana menontonnya kapan pun kubutuhkan.
"Aku tak mau tahu lagi soal itu. Aku paham kamu melakukan apa yang kubutuhkan dan mungkin aku bisa saja mati, tapi itu tak mengubah apa pun di antara kita. Hapus." Dia berusaha memaksaku melakukannya.
"Mungkin satu malam s*ks tanpa obat bisa membuatku berubah pikiran, atau kamu bisa makan satu cokelat saja supaya ingat semuanya."
"Sekarang kamu memerasku."
"Kamu yang melecehkanku, seharusnya kamu dipenjara."
"Pergi ke neraka. Seluruh tubuhku sakit dan kamu malah memikirkan untuk melakukannya lagi."
Setelah pergulatan sedahsyat itu, aku justru akan heran kalau dia tak merasakan sakit sedikit pun. Itu semacam kegagalan.
"Aku merasa lengket. Kamu tidak bisa pakai pengaman? Yang paling tak kuinginkan adalah punya anak."
"Tak ada waktu untuk membuang-buang waktu. Nanti kubeli pil dan masalah selesai. Kamu mau sarapan di ranjang atau masih bisa jalan?" Aku bangkit sambil tertawa lalu masuk ke kamar mandi.
Kurasa dia tak akan sanggup bangun dari ranjang, apalagi banyak bergerak. Itu berjam-jam olahraga berat, padahal dia belum pernah melakukannya sama sekali. Untuk ulang tahunku nanti akan kuhadiahi dia cokelat, kejutan yang luar biasa setelahnya.