NovelToon NovelToon
Jerat Asmara Sang CEO Dingin

Jerat Asmara Sang CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rey Nanda

Reynand, CEO dingin yang anti-cinta, terpaksa menikahi asisten pribadinya, Aira, demi meredam skandal kantor.

​Bagi Reynand, pernikahan ini hanyalah kontrak sementara. Namun, keteguhan hati Aira perlahan meruntuhkan pertahanan sang CEO.

​Saat intrik dan masa lalu mengancam, sanggupkah Reynand mengakui perasaannya sebelum kehilangan wanita yang telah menjerat hatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19: Percikan Api di Balik Senyum Palsu

Kegagalan total di meja perundingan tidak serta-merta membuat Clarissa Vance mundur. Bagi wanita yang terbiasa mendapatkan segala hal yang diinginkannya itu, kekalahan telak akibat kecerdasan Aira justru membakar amarah dan obsesinya. Jika pintu persaingan bisnis tertutup oleh dinding hukum yang kokoh, maka jalur pribadi dan manipulasi psikologis adalah senjata berikutnya yang siap ia tikamkan.

​Malam itu, sebagai bentuk formalitas diplomasi atas kedatangan jajaran eksekutif Vancorp Asia, sebuah jamuan makan malam privat digelar di ballroom eksklusif hotel bintang lima kawasan Senayan. Suasana ruangan dipenuhi pendar lampu kristal nan hangat, alunan musik klasik gesekan biola yang lembut, serta denting gelas kristal yang saling bertukar sapa di antara para pengusaha papan atas.

​Aira berdiri mendampingi Reynand dengan penampilan yang memukau. Ia mengenakan gaun malam berpotongan simpel namun sangat elegan berwarna emerald green yang membingkai indah lekuk tubuhnya. Rambut hitamnya disanggul rapi menyingkap leher jenjangnya, sementara cincin pertunangan berlian warisan keluarga Aristha memantulkan pendar cahaya di jari manisnya.

​Reynand, yang berdiri gagah dalam balutan setelan tuxedo kustom buatan Italia, tak pernah membiarkan telapak tangannya lepas dari pinggang Aira. Sorot mata pria itu yang biasanya dingin membeku bagaikan perisai, kini memancarkan rasa hangat dan kebanggaan tiada tara setiap kali ia menatap calon istrinya.

​"Kamu tampak sangat luar biasa malam ini, Aira," bisik Reynand pelan di dekat telinga Aira, membiarkan napas hangatnya menyapu lembut kulit pipi gadis itu hingga merona. "Semua mata di ruangan ini mengagumi calon permaisuriku."

​Aira terkekeh pelan, mengusap lengan kekar Reynand. "Kamu hanya sedang merayuku, Reynand. Padahal aku sedikit gugup menghadapi sisa-sisa kolega Vancorp malam ini."

​"Kamu tidak perlu gugup," jawab Reynand tegas dan penuh janji. "Di mana pun kamu berdiri, aku akan selalu ada di sampingmu."

​Namun, ketenangan momen manis itu mendadak buyar ketika aroma parfum mawar mewah yang sangat menyengat tercium mendekat.

​Clarissa Vance melangkah menghampiri mereka. Wanita itu mengenakan gaun malam backless berwarna merah menyala yang sangat berani, memamerkan lekuk tubuh serta bahunya. Di tangannya, ia menggenggam dua gelas piala berisi champagne mahal. Senyum manis terukir di bibirnya—sebuah senyuman yang tampak begitu sempurna namun menyimpan racun mematikan di baliknya.

​"Selamat malam, Tuan CEO yang terhormat... dan Nona Aira yang sangat cerdas," sapa Clarissa dengan suara renyah nan mendayu.

​Reynand seketika menegakkan posisinya, merapatkan tubuh Aira ke sisinya. Aura dingin yang mencekam kembali menyelimuti wajah tampannya. "Nona Vance. Saya kira Anda sudah kembali ke hotel bersama delegasi Vancorp lainnya."

​Clarissa tertawa kecil, suara tawa yang sengaja dibuat terdengar manja untuk memancing perhatian orang-orang di sekitar mereka.

​"Oh, ayolah, Reynand. Mengapa kamu selalu begitu formal padaku?" Clarissa mengibaskan tangannya pelan, lalu menyodorkan salah satu gelas piala ke arah Reynand. "Kita memang berseberangan di meja perundingan tadi siang, tapi bukankah tidak ada salahnya merayakan 'kemenangan' calon tunanganmu ini dengan segelas minum?"

​Reynand menatap gelas itu tanpa niat sedikit pun untuk menjangkaunya. "Saya tidak minum saat sedang mendampingi tunangan saya."

​Clarissa memutar bolanya pelan, menyunggingkan senyum miring yang bernada mengejek. Ia lalu mengalihkan pandangannya penuh intimidasi lurus ke arah Aira.

​"Nona Aira," ujar Clarissa dengan intonasi yang mendadak berubah menjadi lembut, namun sarat akan provokasi. "Apakah kamu selalu membiarkan Reynand bersikap protektif seperti ini? Atau kamu sebenarnya takut... takut jika Reynand mengingat kembali kenangan-kenangan manis yang dulu pernah kami lalui bersama selama tiga tahun di Paris?"

​Aira merasakan genggaman tangan Reynand di pinggangnya mendadak mengetat keras. Namun, Aira menepuk pelan punggung tangan Reynand, memberikan sinyal bahwa ia sanggup mengatasi jebakan emosional ini sendiri.

​Aira melangkah satu jengkal ke depan, menyambut tatapan tajam Clarissa dengan raut wajah yang sangat tenang dan bermartabat.

​"Masa lalu adalah lembaran yang sudah selesai dibaca, Nona Vance," sahut Aira dengan suara jernih dan tegas yang terdengar begitu anggun. "Reynand bukan pria yang hidup dari bayang-bayang masa lalu, apalagi merindukan kenangan yang ditinggalkan oleh seseorang yang memilih pergi demi ambisi pribadinya."

​Seketika itu juga, senyum palsu di wajah Clarissa membeku. Kalimat Aira menohok tepat di titik terlemahnya—kenyataan pahit bahwa dialah yang dulu mencampakkan Reynand, dan kini ia harus menelan kenyataan bahwa Reynand telah menemukan cinta sejati yang tak terabaikan.

​Clarissa mengepalkan jemarinya di tangkai gelas kristal hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya memancarkan kilat amarah yang membara di balik riasan mewahnya.

​"Kamu sangat percaya diri, Aira," bisik Clarissa dengan suara rendah yang penuh ancaman terselubung. "Tapi ingat... di dunia bisnis kelas atas ini, cinta tulus saja tidak cukup untuk mempertahankan seorang pria seperti Reynand Aristha. Kita lihat seberapa bertahan dirimu saat badai yang sesungguhnya menghantam Aristha Group besok pagi."

​Tanpa menunggu jawaban, Clarissa memutar badannya dan melangkah pergi dengan hentakan stiletto yang memburu.

​Aira menatap punggung Clarissa yang menjauh dengan dada bergemuruh pelan. Ia tahu, ancaman terakhir dari Clarissa bukanlah gertakan kosong. Sebuah jebakan baru yang lebih licik dan destruktif tengah disiapkan untuk menghancurkan kebahagiaan mereka.

​Reynand membalikkan tubuh Aira, menangkup kedua pipi gadis itu dengan jemarinya yang hangat dan penuh kelembutan. "Jangan dengarkan kata-katanya, Aira. Apapun yang direncanakannya, aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun memisahkan kita."

​Aira menatap manik mata hitam Reynand yang sarat akan janji setia, lalu mengangguk yakin. Perang belum berakhir, tetapi cinta mereka kini berdiri di atas landasan yang tak tergoyahkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!