NovelToon NovelToon
Lily

Lily

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:583
Nilai: 5
Nama Author: Lili Pinarsih

Tuan!, kau masih saja ya setampan dulu, suara itu menyapa dengan senyum lembut .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Pinarsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Sudah satu minggu Lily mengurung diri di kamar yang berada di kediaman Gento, Belanda.

Selama tujuh hari itu, ia hampir tidak pernah keluar dari kamar. Tirai jendela selalu tertutup setengah, sementara pintu yang menghubungkan kamarnya dengan lorong hanya terbuka ketika seseorang mengantarkan makanan atau ketika ia perlu menggunakan kamar mandi.

Gento telah berulang kali meminta pelayan mengantarkan berbagai hidangan. Mulai dari sup hangat, roti, buah-buahan, hingga makanan kesukaan Lily yang sengaja dipesannya dari restoran di kota. Namun, sebagian besar makanan itu tetap utuh di atas meja.

Kadang-kadang Lily hanya meminum beberapa teguk air. Pada hari lain, ia memaksakan diri menelan sedikit roti sebelum kembali berbaring di tempat tidur.

Ia tidak kehilangan nafsu makan semata-mata karena kesedihan. Ada sesuatu di dalam dirinya yang terasa kosong sejak malam ketika ayahnya meninggal. Seolah-olah sebagian dari hidupnya ikut terkubur bersama Suzuki Yahiko di Jepang.

Lily masih mengingat wajah ayahnya ketika mereka bertemu di ruang bawah tanah. Wajah lelaki itu memang pucat dan tubuhnya kurus akibat penyiksaan, tetapi matanya tetap menunjukkan kasih sayang yang sama seperti yang selama ini ia bayangkan.

Pertemuan mereka terlalu singkat.

Lily menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya. Air matanya kembali membasahi bantal.

“Ayah, mengapa Ayah pergi begitu cepat?” bisiknya.

Tidak ada yang menjawab.

Di luar kamar, seorang pelayan berdiri sambil memegang nampan berisi makanan. Ia telah mengetuk pintu sebanyak tiga kali, tetapi tidak memperoleh jawaban. Akhirnya, ia meletakkan nampan itu di meja kecil di samping pintu sebelum berjalan menuju ruang kerja Gento.

“Tuan, Nona Yahiko belum menyentuh makan siangnya,” lapornya.

Gento yang sedang membaca sejumlah dokumen langsung mengangkat kepala.

“Sejak pagi?”

“Ya, Tuan. Sarapan tadi juga masih utuh. Saya khawatir kesehatannya akan memburuk jika keadaan ini terus berlanjut.”

Gento menutup dokumen di hadapannya.

“Panggil dokter. Minta dia memeriksa keadaan Yahiko tanpa memaksanya melakukan sesuatu yang tidak diinginkan.”

“Baik, Tuan.”

Pelayan itu membungkuk sebelum meninggalkan ruangan.

Gento bersandar di kursinya. Pandangannya beralih pada layar pengawasan yang menampilkan lorong di depan kamar Lily. Ia telah memasang sistem keamanan di kediaman itu sejak kedatangan mereka dari Jepang. Beberapa kamera mengawasi pintu masuk, halaman, dan koridor, tetapi ia tidak mengizinkan kamera dipasang di dalam kamar Lily.

Ia ingin mengetahui keadaan perempuan itu tanpa mengusik privasinya lebih jauh.

Namun, melihat Lily terus mengurung diri justru membuatnya gelisah.

Gento berdiri, kemudian berjalan menuju kamar perempuan itu.

---

Ketika pintu diketuk, Lily mengira pelayan kembali membawa makanan. Ia tidak menjawab dan berharap orang di luar segera pergi.

Namun, ketukan itu terdengar lagi.

“Yahiko, aku ingin berbicara denganmu.”

Suara Gento membuat Lily membuka mata.

Ia menatap pintu beberapa saat sebelum menjawab dengan suara lemah, “Masuklah.”

Gento membuka pintu perlahan. Ia tidak langsung mendekati tempat tidur, melainkan berhenti di dekat meja yang dipenuhi piring makanan yang belum disentuh.

Tatapannya kemudian beralih kepada Lily.

Wajah perempuan itu tampak pucat. Rambut hitamnya berantakan, sementara matanya terlihat sembap akibat terlalu sering menangis. Tubuhnya juga tampak lebih lemah dibandingkan ketika mereka pertama kali tiba di Belanda.

“Kau belum makan lagi?” tanya Gento.

“Aku tidak lapar.”

“Kau sudah mengatakan hal yang sama selama beberapa hari.”

“Kalau begitu, jangan bertanya lagi.”

Jawaban itu membuat Gento terdiam.

Gento menarik kursi dan duduk agak jauh dari tempat tidur.

“Aku sudah memanggil dokter. Dia akan datang untuk memastikan keadaanmu baik-baik saja.”

“Aku tidak membutuhkan dokter.”

“Aku tidak ingin kau jatuh sakit.”

Lily tertawa pelan, tetapi tidak ada kebahagiaan dalam tawanya.

“Apakah kau benar-benar peduli terhadap keadaanku, Gento? Atau kau hanya takut sesuatu terjadi kepadaku sebelum kau mendapatkan apa yang kau inginkan?”

Gento menatapnya.

“Aku memang telah melakukan banyak kesalahan kepadamu. Aku tidak akan berpura-pura bahwa semua tindakanku benar.”

“Kalau kau menyadarinya, mengapa kau masih menahanku di sini?”

Pertanyaan itu membuat Gento kehilangan kata-kata.

Lily perlahan bangkit dari tempat tidur. Ia duduk dengan punggung bersandar pada kepala ranjang, lalu menatap Gento dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

“Aku sudah kehilangan ayahku. Aku tidak ingin kehilangan diriku sendiri juga.”

Gento menunduk.

“Aku tahu kau sedang berduka.”

“Tidak. Kau tidak tahu bagaimana rasanya.” Suara Lily bergetar. “Kau masih bisa berjalan keluar dari kamar ini, berbicara dengan orang lain, mengurus pekerjaanmu, dan melanjutkan hidupmu. Sementara aku bahkan tidak bisa menentukan di mana aku akan tinggal.”

Ia mengusap air mata yang mengalir di pipinya.

“Aku sudah terlalu lama hidup mengikuti keputusan orang lain. Ayahku dibunuh karena dendam dan rahasia masa lalu. Satoshi memperlakukanku seolah-olah aku tidak memiliki hak untuk menolak. Kemudian, kau menculikku dengan alasan ingin mengambil semua warisan yang ditinggalkan ayahku."

Lily menarik napas yang terasa berat.

Gento tetap diam.

“Aku tidak meminta rumah besar. Aku tidak meminta pengawal." Lily menatapnya lekat-lekat. “Aku hanya ingin hidup tenang.”

“Apa yang kau inginkan sekarang?” tanyanya akhirnya.

Lily tidak langsung menjawab. Ia memandang jendela, tempat cahaya matahari musim gugur masuk melalui celah tirai.

“Aku ingin tinggal sendiri.”

Gento mengangkat kepala.

“Sendiri?”

“Ya. Aku ingin tinggal di desa di Belanda. Jauh dari rumah ini, jauh dari pengawalmu, dan jauh dari semua orang yang terus mengatur hidupku.”

Gento terdiam cukup lama.

Lily segera melanjutkan sebelum keberaniannya menghilang.

“Aku tidak meminta kau menghilang selamanya. Jika kau ingin mengunjungiku, kau boleh datang kapan saja selama kau memberitahuku terlebih dahulu. Aku hanya ingin memiliki rumah yang bisa kutinggali tanpa harus merasa sedang diawasi setiap saat.”

Ia meremas ujung selimut.

“Aku tidak akan melarikan diri. Aku hanya ingin diberi kesempatan untuk hidup dengan caraku sendiri.”

Gento menatap perempuan di hadapannya.

Untuk sesaat, ia teringat perkataan Mike di ruang kendali beberapa waktu lalu.

Jika kau terus menganggap keselamatannya sebagai alasan untuk mengendalikan hidupnya, kau tidak jauh berbeda dari orang-orang yang kau benci.

“Aku akan mengabulkan permintaanmu,” katanya.

Lily menoleh cepat, seolah-olah tidak yakin telah mendengar perkataan itu dengan benar.

“Apa?”

“Kau boleh tinggal sendiri di desa yang kau pilih. Aku akan menyediakan rumah yang layak, tetapi kau boleh menentukan bagaimana kau ingin mengaturnya. Kau juga boleh memilih apakah ingin menggunakan uang dariku atau tidak.”

Lily menatapnya dengan curiga.

“Lalu, pengawalmu?”

“Aku tidak akan menempatkan mereka di depan rumahmu atau mengikutimu ke mana pun kau pergi.”

“Benarkah?”

Gento mengangguk.

“Aku akan menghormati permintaanmu.”

Lily langsung merasa lega.

“Aku tidak ingin kau datang tanpa pemberitahuan,” katanya.

“Baik.”

“Dan aku tidak ingin kau membawa orang-orangmu ke rumahku hanya karena kau merasa berhak memeriksa keadaanku.”

Gento menarik napas.

“Aku akan meminta izin sebelum berkunjung. Jika kau menolak, aku tidak akan memaksamu menerima kedatanganku.”

Lily memandangnya cukup lama, mencoba mencari tanda bahwa lelaki itu sedang mempermainkannya. Namun, Gento tidak menunjukkan senyum mengejek atau tatapan yang menuntut kepatuhan.

“Terima kasih,” ucap Lily akhirnya, meskipun suaranya terdengar lemah.

Gento menggeleng perlahan.

“Jangan berterima kasih kepadaku. Aku seharusnya tidak perlu menahanmu selama ini agar akhirnya memahami bahwa kau berhak menentukan hidupmu sendiri.”

Untuk pertama kalinya sejak mereka tiba di Belanda, Lily tidak membalas perkataannya dengan kemarahan.

Ia hanya menunduk dan menangis dalam diam.

Gento tidak berusaha memeluknya. Ia tahu bahwa sentuhan yang tidak diinginkan hanya akan membuat Lily merasa terancam. Ia membiarkan perempuan itu menangis, kemudian berdiri ketika menyadari bahwa percakapan mereka telah menguras tenaga Lily.

“Seseorang akan membawakan alamat beberapa rumah yang bisa kau pilih. Kau boleh melihatnya sendiri sebelum menentukan pilihan.”

Lily mengangguk kecil.

“Baik.”

Gento berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi.

“Yahiko, cobalah makan sedikit. Kau tidak harus menghabiskan semuanya. Aku hanya ingin kau memiliki tenaga untuk menjalani hari-harimu.”

Lily tidak menjawab, tetapi pandangannya beralih ke meja.

Gento keluar tanpa menunggu jawaban.

---

Dua hari kemudian, Gento menepati janjinya.

Ia tidak memilihkan rumah secara sepihak. Sebaliknya, ia memberikan beberapa alamat di sebuah desa yang terletak cukup jauh dari pusat kota. Desa itu dikelilingi padang rumput, kanal kecil, dan deretan rumah dengan taman sederhana. Suasananya tenang, jauh dari keramaian kota besar dan kehidupan yang selama ini membuat Lily merasa terperangkap.

Lily memilih sebuah rumah kecil di pinggir desa.

Bangunannya tidak terlalu luas, tetapi memiliki dua kamar tidur, dapur sederhana, ruang keluarga, dan taman belakang yang menghadap ke hamparan rumput. Di dekat jendela ruang keluarga terdapat tempat yang cukup untuk meletakkan meja tulis. Bagi Lily, hal itu lebih dari cukup.

Ia bisa kembali menulis.

Ia bisa memasak sendiri.

Ia bisa membuka jendela pada pagi hari.

Ketika pertama kali memasuki rumah tersebut, Lily berdiri cukup lama di ruang keluarga.

Cahaya matahari menyinari lantai kayu. Udara segar masuk melalui jendela yang terbuka, membawa aroma rumput basah setelah hujan.

Tidak ada suara langkah pengawal di belakangnya.

Tidak ada kamera yang menatapnya dari sudut ruangan.

Tidak ada orang yang menunggunya untuk memberikan perintah.

Lily meletakkan tas kecil yang dibawanya di lantai, kemudian berjalan menuju jendela. Ia menyentuh bingkainya dengan jemari gemetar.

“Ini rumahku,” bisiknya.

Air matanya kembali jatuh, tetapi kali ini bukan hanya karena kesedihan.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasakan sedikit ruang untuk bernapas.

Gento berdiri di dekat pintu, memperhatikan Lily tanpa mendekat.

“Aku sudah memastikan bahwa rumah ini memiliki persediaan makanan untuk beberapa hari. Jika kau membutuhkan sesuatu, kau bisa menghubungi nomor yang diberikan pelayan tadi.”

Lily mengangguk.

“Aku bisa membeli kebutuhanku sendiri.”

“Aku tahu.”

“Jangan mengirim pelayan setiap hari.”

“Baik.”

“Dan jangan datang tanpa memberitahuku.”

Gento menatapnya, kemudian mengangguk sekali lagi.

“Aku akan menepati janjiku.”

Lily tidak mengatakan apa-apa.

Gento meletakkan sebuah amplop di atas meja. Di dalamnya terdapat dokumen rumah, sejumlah uang untuk kebutuhan awal, dan nomor telepon yang dapat dihubungi jika terjadi keadaan darurat.

“Rumah ini atas namamu. Kau tidak perlu mengembalikan uang yang telah digunakan untuk membelinya.”

Lily membuka amplop itu, memeriksa dokumen yang tertera di dalamnya, lalu menatap Gento.

“Kenapa kau melakukan ini?”

Gento terdiam sejenak sebelum menjawab.

“Karena aku ingin.”

Lily menutup amplop tersebut.

“Aku tidak bisa menjanjikan bahwa aku akan memaafkanmu.”

“Aku tidak memintamu memaafkanku.”

“Aku juga tidak tahu apakah aku akan menganggapmu sebagai keluarga.”

Gento menundukkan kepala.

“Aku mengerti."

Lily mendekat dan tiba-tiba memeluk Gento, Gento merona tubuhnya kaku.

"Bagaimana juga kau tetap kakakku."

"Ya."

Tangannya yang tadi ingin membalas pelukan Lily langsung mengurungkan niatnya, setelah mendengar perkataan Lily tersebut.

"Kakak ya," Batin Gento.

Lily melerai pelukannya.

“Aku akan pergi sekarang. Jika suatu hari kau bersedia menerima kunjunganku, beri tahu aku.”

Lily mengangguk pelan.

Gento meninggalkan rumah itu ia masuk ke mobil yang telah menunggunya di jalan depan, kemudian pergi meninggalkan desa.

Lily berdiri di ambang pintu sampai kendaraan itu menghilang dari pandangan.

Setelah itu, ia menutup pintu rumahnya sendiri.

Bunyi kunci yang berputar terdengar sederhana, tetapi bagi Lily, suara itu menandai sesuatu yang telah lama ia rindukan.

Ia kini dapat memilih siapa yang boleh masuk ke dalam rumahnya.

---

Hari-hari berikutnya tidak langsung menjadi mudah.

Pada pagi pertama, Lily terbangun karena suara burung yang bertengger di dekat jendela. Ia sempat terdiam, kebingungan melihat langit-langit kamar yang berbeda dari kamar di kediaman Gento.

Kemudian, ia mengingat bahwa dirinya telah tinggal sendiri.

Ia bangkit perlahan dan membuka tirai. Cahaya matahari memenuhi ruangan, memperlihatkan taman kecil yang masih dipenuhi embun.

Lily membuat sarapan sederhana berupa roti panggang dan telur. Ia hanya mampu menghabiskan sebagian, tetapi kali ini ia tidak membiarkan seluruh makanan itu tetap utuh.

Setelah sarapan, ia membersihkan rumah, merapikan pakaian, dan membuka jendela agar udara segar masuk.

Pada hari ketiga, Lily membeli bahan makanan di toko kecil dekat pusat desa. Pemilik toko menyambutnya dengan ramah dan tidak mengajukan banyak pertanyaan. Lily hanya mengatakan bahwa ia baru pindah dan ingin memulai kehidupan yang lebih tenang.

Ia pulang membawa roti, sayuran, susu, serta beberapa bunga kecil yang dibelinya karena menyukai warnanya.

Di rumah, ia menaruh bunga itu di dalam vas kaca dan meletakkannya di meja dekat jendela.

Malam harinya, Lily membuka laptop yang selama ini jarang disentuh. Ia menatap halaman kosong di layar selama beberapa menit sebelum mulai mengetik.

Ia tidak langsung menulis tentang kematian ayahnya atau semua penderitaan yang pernah dialaminya. Ia hanya menuliskan kalimat sederhana mengenai seorang perempuan yang ingin membangun rumah kecil di sebuah desa, tempat ia dapat bangun setiap pagi tanpa merasa takut.

Tulisan itu belum selesai ketika air matanya kembali jatuh.

Namun, Lily tidak menutup laptop.

Ia mengusap pipinya, menarik napas, lalu melanjutkan kalimat berikutnya.

Mungkin ia belum siap melupakan masa lalu. Mungkin ia tidak akan pernah benar-benar melupakan orang-orang yang telah menyakitinya maupun orang-orang yang telah pergi.

Namun, ia masih memiliki hari esok.

Dan untuk saat ini, itu sudah cukup.

---

Sementara Lily perlahan menata kehidupannya, Gento tetap tinggal di kediamannya yang berada tidak terlalu jauh dari kota.

Ia menepati janjinya untuk tidak datang ke rumah Lily tanpa izin. Ia juga tidak menempatkan pengawal di depan rumah itu atau mengirim orang untuk mengikutinya ke toko dan tempat-tempat yang dikunjunginya.

Namun, ketakutannya terhadap kemungkinan serangan tidak sepenuhnya menghilang.

Ia mengetahui bahwa rahasia mengenai DNA Abadi belum terungkap seluruhnya. Kematian Suzuki dan Mahito juga tidak menjamin bahwa kelompok yang pernah menyerang keluarga Yahiko telah berhenti mencari Lily.

Karena itu, Gento mengambil langkah yang tidak diketahui Lily.

Ia meminta beberapa orang kepercayaannya memantau jalan utama menuju desa dari kejauhan. Mereka tidak diperbolehkan memasuki rumah Lily, berbicara dengannya, mengambil fotonya dari dekat, atau mengikuti setiap langkahnya. Tugas mereka hanya melaporkan jika terdapat kendaraan mencurigakan atau orang asing yang terlihat berulang kali mengawasi rumah tersebut.

Gento tahu bahwa tindakan itu tetap mengandung risiko melanggar kepercayaan Lily. Ia belum menemukan cara untuk memastikan keselamatannya tanpa kembali mencampuri kehidupannya.

Namun, untuk saat ini, ia memilih menjaga jarak dan tidak mengganggu kebebasan yang baru saja diberikan kepada perempuan itu.

Pada suatu sore, Gento menerima laporan dari salah seorang anak buahnya.

“Keadaan di desa masih tenang, Tuan. Nona Yahiko pergi membeli bahan makanan pagi tadi dan kembali sebelum tengah hari. Tidak ada orang mencurigakan yang terlihat di sekitar rumahnya.”

Gento mengangguk.

“Jangan mendekati rumahnya. Jika tidak ada ancaman nyata, jangan melakukan apa pun.”

“Baik, Tuan.”

Setelah panggilan berakhir, Gento menatap layar teleponnya. Nama Lily masih tersimpan di daftar kontak, tetapi ia tidak berani menghubunginya hanya untuk memastikan perempuan itu baik-baik saja.

Ia telah berjanji akan menghormati permintaannya.

Untuk pertama kalinya, Gento harus belajar bahwa rasa khawatir tidak memberinya hak untuk selalu hadir dalam kehidupan seseorang.

Ia meletakkan telepon di atas meja dan memandang keluar jendela.

Sementara itu, di rumah kecil di desa, Lily sedang duduk di dekat jendela dengan sebuah buku di pangkuannya. Bunga-bunga yang dibelinya beberapa hari lalu mulai mekar, sementara secangkir teh hangat berada di atas meja.

Kesedihan masih tinggal di dalam hatinya. Ia masih merindukan ayahnya, dan ada malam-malam ketika ia terbangun karena mimpi buruk tentang peristiwa di Jepang.

Namun, kini ia dapat membuka jendela, berjalan di taman, dan menentukan sendiri kapan ingin keluar rumah.

Ia belum sembuh sepenuhnya.

Ia juga belum tahu apakah suatu hari nanti ia akan sanggup menghadapi semua kenangan tanpa menangis.

Kehidupan itu miliknya.

Lily menutup buku, lalu memandang langit senja yang mulai berubah jingga. Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara sejuk memenuhi paru-parunya.

“Ayah,” bisiknya pelan, “aku akan berusaha hidup dengan baik.”

Air mata mengalir di pipinya, tetapi ia tidak menyekanya dengan tergesa-gesa.

Ia membiarkan dirinya merasakan kehilangan itu, sebab ia tahu bahwa mencintai seseorang tidak berarti harus berhenti hidup ketika orang tersebut pergi.

Di luar rumah, angin menggerakkan dedaunan dengan lembut.

Lily kemudian berdiri dan menyalakan lampu ruang keluarga. Ia menyiapkan makan malam untuk dirinya sendiri, meskipun hanya berupa sup sederhana dan sepotong roti.

Ia duduk di meja, menyendok makanan sedikit demi sedikit, berusaha mengembalikan kebiasaan yang sempat hilang selama seminggu mengurung diri.

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak kematian ayahnya, Lily menghabiskan sebagian besar makanannya.

Tidak ada yang bertepuk tangan. Tidak ada yang memujinya. Tidak ada yang mengawasi dari dekat.

Namun, ketika ia meletakkan sendok dan memandang rumah kecil yang sunyi itu, Lily menyadari bahwa langkah kecil tersebut merupakan pilihannya sendiri.

1
⌓̈⃝𓆩ImAntifragile𓆪દᵕ̈૩
aku mampir, semangat upnya. tulisannya seruuu😍
mampir juga yuk kak ke new sc akuu😁
Lili Pinarsih: mkasih ya 🥰 aku jugaa udah mampir kok dicerita kamu😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!