Ceisya hacker jenius dan ahli bela diri mati konyol gara-gara emosi membaca novel dark romance The Alpha’s Obsession. Takdir gila melempar jiwanya bertransmigrasi ke dalam tubuh figuran cupu bernasib paling sial mati menjadi tumbal sahabatnya sendiri, Belva.
Namun, Ceisya yang sekarang menolak mati! Dengan otak cerdas dan kemampuan, Ceisya membalikkan keadaan. Ia melumpuhkan para pembunuh bayaran di tengah hutan salju, dan mulai membalas permainan licik Belva serta ancaman Bianca satu per satu.
Tetapi, Aksi Cesiya di atas salju memicu insting predator sang Alpha. Fenrir Volkov—Raja Serigala paling kejam, dingin, dan ditakuti di seluruh Kerajaan Valesia mendadak mengklaim Ceisya sebagai tawanan pribadinya, menyeretnya ke dalam kamar sang Raja, dan menguncinya dalam lingkar obsesi yang teramat posesif.
Di tengah intrik berdarah istana dan jeratan sang Raja Serigala, bisakah Ceisya merebut kebebasannya atau ia justru akan menyerahkan dirinya utuh menjadi milik Sang Alpha sepenuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Antara Kamar Sang Raja dan Kepanikan sang Ular
Langkah kaki Fenrir Volkov yang mantap menapaki deretan tangga marmer hitam Kastil Valesia bergema berat di sepanjang lorong sunyi. Suara dentuman boot kulitnya berirama konstan, bagaikan detak waktu yang menghitung mundur eksekusi bagi siapa pun yang berani mengusik ketenangannya. Di dalam cengkeraman lengan kekarnya, Ceisya diangkat dengan posisi melintang bridal style yang teramat kokoh. Tubuh wanita itu terasa pas dalam dekapan mantel bulu hitam tebal sang Alpha, menyerap kehangatan tubuh Fenrir di tengah dinginnya udara istana.
Aduh, astaga! Ini beneran dilipat kayak karung beras begini?! batin Ceisya merutuki nasibnya yang malang. Kedua matanya berkedip cepat, menatap garis rahang tegas Fenrir yang terpahat sempurna di bawah temaram cahaya obor dinding. Ini mah bukannya romantis kayak novel-novel terjemahan yang biasa kubaca, ini mah leherku busa salah urat kalau digendong gaya arogan begini! Tangan Fenrir kaku banget kayak pilar semen!
"Yang Mulia... bisakah Anda menurunkan saya?" bisik Ceisya dengan suara bergetar yang sengaja diatur nada ketakutannya. "Saya bisa berjalan sendiri. Lagipula, tidak pantas seorang pelayan rendahan seperti saya disentuh apalagi dipeluk oleh Sang Alpha yang agung..."
Fenrir tidak menghentikan langkahnya sedikit pun. Pria tampan itu hanya melirik ke bawah melalui sudut matanya. Sepasang iris mata berwarna merah darah itu berkilat tajam dalam kegelapan lorong, memancarkan aura dominasi murni yang secara alami mampu memaksa serigala terkerdil sekali pun untuk berlutut.
"Tutup mulutmu, gadis kecil," suara bariton Fenrir terdengar rendah, berat, dan dipenuhi ancaman mutlak yang memutus kemungkinan bantahan. "Jika kau bergerak atau bersuara satu kali lagi, aku tidak akan segan melemparmu langsung ke lantai marmer ini."
Ih, galak amat. suaranya bikin telihat hotel bintang enam neraka. Cleletuk Ceisya tanpa ragu di dalam batinnya, walau di permukaan wajahnya ia langsung menunduk dalam-dalam, berpura-pura merinding takut sembari menyembunyikan senyum miring di balik kerah baju pelayannya.
Mereka terus bergerak menaiki tangga melingkar menuju sayap utara kastil—wilayah kekuasaan tertinggi yang paling ditakuti oleh seluruh penghuni Kastil Valesia. Di lantai atas asrama pelayan yang terletak di seberang pelataran tengah, dari balik tirai sutra emas yang setengah terbuka, Belva Vespera berdiri terpaku.
Sepasang mata biru jernih milik Belva yang biasanya dipenuhi kepolosan membelalak lebar dalam kegelapan kamar. Tangannya mencengkeram kain tirai hingga bahan mahal itu kusut dan robek di bagian tepi. Wajah cantiknya yang lembut bagai malaikat kini pucat pasi bagai mayat, berubah menjadi topeng kejam yang dialiri rasa dengki dan teror murni.
"Tidak mungkin..." bisik Belva, suaranya bergetar hebat hingga dadanya naik turun dengan tidak teratur. "Bagaimana bisa si bodoh Ceisya masih bernapas?! Dan... kenapa Yang Mulia Alpha justru menggendongnya sendiri?!"
Rencana yang dirancang Belva malam ini seharusnya berjalan tanpa cela. Ia sendiri yang membocorkan rute kepada pengawal pribadi Bianca Reinhardt bahwa seorang pelayan berjubah khusus akan melintas menuju Hutan Salju Valesia. Menurut perhitungannya, Ceisya seharusnya saat ini sudah menjadi mayat bersimbah darah yang tercabik-cabik oleh belati perak para pembunuh bayaran. Ia berniat memanfaatkan kematian Ceisya untuk menyudutkan Bianca sekaligus menarik simpati Fenrir sebagai gadis malang yang kehilangan sahabatnya.
Namun, pemandangan di depan matanya saat ini menghancurkan seluruh logikanya. Bukan saja Ceisya tidak mati, tetapi gadis cupu yang biasanya selalu menunduk ketakutan itu kini berada di dalam dekapan pria paling berkuasa di kerajaan ini. Dan yang paling membuat darah Belva mendidih: Fenrir membawa Ceisya menuju kamar pribadinya—sebuah area suci yang bahkan tidak pernah diizinkan untuk diinjak oleh Bianca Reinhardt maupun putri bangsawan mana pun di Valesia.
Kepanikan hebat membakar dada Belva. Kuku-kukunya yang terawat rapi meremas tepi meja rias hingga cat kayunya terkelupas. "Ada yang tidak beres... Ceisya pasti memakai cara kotor! Dia tidak boleh merebut perhatian Fenrir... dia cuma bidak murahan yang kuciptakan untuk mati!"
BRAK!
Pintu kayu jati berukir naga emas raksasa terdorong terbuka dan terhempas kembali hingga tertutup rapat dengan dentuman keras yang memantulkan gema di seluruh ruangan. Fenrir melangkah masuk ke dalam kamar pribadinya—sebuah ruangan mahaluas beraroma maskulin yang pekat, perpaduan antara kayu cendana, kulit tua, dan kesegaran salju abadi. Di tengah ruangan yang diterangi oleh perapian besar, membentang sebuah tempat tidur berukuran king-size bertiang empat dengan kelambu dan seprai berwarna hitam kelam.
Tanpa kelembutan sedikit pun, Fenrir mengendurkan cengkeramannya dan membiarkan tubuh Ceisya terlempar begitu saja ke atas kasur tebal tersebut.
"Aduh!" Ceisya memekik pelan saat tubuhnya membal dua kali di atas kasur tebal bermaterial bulu angsa itu.
Ia dengan cepat bersandar pada sandaran ranjang, merapikan jubah wolnya yang agak tersingkap di bagian paha, lalu menatap Fenrir. Selama beberapa detik, Ceisya lupa mengontrol ekspresi wajahnya—sepasang mata cokelatnya memancarkan kejengkelan murni dan tatapan menuntut yang sama sekali tidak mencerminkan sikap seorang pelayan rendah di hadapan tuannya.
Fenrir menghentikan gerakannya. Tangan besarnya bergerak perlahan membuka tali pengikat mantel bulu beratnya, membiarkan pakaian luar itu jatuh ke lantai tanpa kepedulian. Kini, pria itu hanya mengenakan kemeja kain hitam ketat yang tercetak sempurna membingkai dada bidang, paha kokoh, dan susunan otot tubuhnya yang proporsional bagai dewa perang.
Pria itu melangkah mendekati tempat tidur dengan gerakan pelan namun mematikan, bagaikan predator yang sedang memojokkan mangsanya di sudut gua. Fenrir menumpukan satu lutut besarnya di tepi kasur, membungkukkan tubuhnya ke depan hingga jarak di antara wajah mereka hanya tersisa beberapa senti saja.
Aura intimidasi khas seorang Alpha bernilai mutlak merebak memenuhi kamar, memicu efek tekanan udara yang membuat nyala api di perapian bergetar hebat.
"Kau berani menatapku dengan mata telanjang seperti itu, pelayan?" bisik Fenrir rendah. Suaranya sarat akan kombinasi antara bahaya mematikan dan daya pikat yang sangat kuat.
Sensasi panas yang menguar dari tubuh Fenrir menyapu kulit wajah Ceisya. Mantan hacker dan petarung amatir itu dengan cepat menyadari kelalaian konyolnya. Sialan! Akting cupuku hampir jebol cuma gara-gara kesal dilempar ke kasur! batin Ceisya memaki dirinya sendiri.
Namun, Ceisya tahu betul psikologi pria dominan seperti Fenrir. Jika ia mendadak berpura-pura menangis histeris lagi sekarang, Alpha secerdas Fenrir pasti akan langsung mencium kebohongan dan menganggapnya sebagai musuh yang menyusup. Maka, Ceisya memilih mengambil taktik membelokkan emosi, berpura-pura menjadi gadis yang dilanda rasa malu namun memiliki sedikit keberanian liar.
Ceisya memalingkan wajahnya ke samping, membiarkan rona merah—yang sebenarnya timbul akibat emosi menahan kekesalan di dadanya—menghiasi kedua pipi pucatnya.
"S-Saya... saya hanya tidak paham dengan jalan pikiran Anda, Yang Mulia," ujar Ceisya dengan nada suara yang sengaja diatur antara gemetar dan keberanian tertahan. "Saya hanya seorang pelayan asrama bawah yang membersihkan debu. Tempat saya adalah di lantai dasar yang kotor, bukan di atas tempat tidur kemewahan milik sang penguasa Valesia."
Jemari kekar dan kasar milik Fenrir terulur tanpa ragu. Ibu jari dan jari telunjuknya mencengkeram lembut dagu Ceisya, lalu menaikkan dan memutar wajah gadis itu agar kembali menatapnya lurus-lurus. Ibu jari Fenrir yang hangat mengusap tepi bibir bawah Ceisya yang agak kering, menyentuhnya dengan ketelitian ekstrem yang membuat dorongan listrik aneh berdesir tajam di sepanjang tulang belakang Ceisya.
"Mulai malam ini," kata Fenrir dengan nada tegas yang mengunci takdir, "kau bukan lagi pelayan asrama mana pun di kastil ini."
Sepasang iris mata merah Fenrir menatap lekat-lekat ke dalam pupil mata Ceisya, seolah-olah pria itu sanggup membaca setiap helai benang rahasia yang tersembunyi di balik otak cerdas wanita di hadapannya.
"Kau adalah tawanan pribadiku," lanjut Fenrir. Bisikan nadanya begitu intim, menembus indra pendengaran Ceisya dengan dominasi yang tidak terbantahkan. "Kau tidak akan melangkah keluar dari pintu kamar ini tanpa izin dariku. Dan tidak akan ada satu pun makhluk hidup di Kerajaan Valesia ini yang diizinkan menyentuh sehelai rambutmu selain aku."
Ceisya mengerjap pelan, berusaha mencerna rentetan kata-kata gila yang baru saja meluncur dari mulut sang Alpha King. Tawanan pribadi?! Yang bener aja! Ini mah istilah keren dari dikurung di sangkar emas! Mau jadikan aku peliharaan atau gimana nih?! Batin Ceisya kesal bercampur bingung.
"Tapi Yang Mulia, pekerjaan saya di asrama belum selesai," Ceisya mencoba mencari celah untuk menawar, jemarinya bertengger di dada kemeja Fenrir untuk menahan agar pria itu tidak semakin condong ke depan. "Lagipula, Nona Belva pasti akan kebingungan mencari saya besok pagi. Beliau sangat bergantung pada—"
"Aku tidak peduli dengan Belva Vespera atau siapa pun jalang murahan yang ada di kastil ini!" potong Fenrir tajam. Kalimat itu diucapkannya dengan nada dingin yang menyapu bersih nama Belva dari lingkar kepeduliannya.
Fenrir semakin mengikis jarak di antara tubuh mereka. Napas hangat bertemperatur tinggi milik sang Raja Serigala menerpa permukaan bibir Ceisya, mengirimkan aroma khas pinus dan darah yang memabukkan. Posesifitas murni yang liar dan pekat menguar dari setiap celah aura tubuhnya.
"Mata cokelat liar ini... jemari berbahaya yang sanggup mematahkan leher musuh... dan keberanian konyolmu di hutan salju malam ini... semuanya telah berhasil mengunci perhatianku," bisik Fenrir, membuat jarak wajah mereka begitu dekat hingga Ceisya dapat melihat pantulan bayangan dirinya sendiri di dalam mata merah sang Raja. "Dan kau harus tahu satu hukum alam di Valesia, Ceisya... Sekali seekor serigala Alpha mengunci mangsanya, ia tidak akan pernah melepaskannya hidup-hidup."
Jantung Ceisya berdegup kencang secara tidak teratur. Kali ini, detak kencang itu bukan lahir dari kalkulasi pertarungan fisik atau simulasi bahaya, melainkan karena keintiman luar biasa dan tatapan mata Fenrir yang seolah sanggup melucuti seluruh pertahanan mentalnya dalam satu detik.
Buset... Cowok ini beneran tipe posesif gila tingkat akut seperti yang tertulis di bab-bab akhir novel, batin Ceiysa merinding membayangkan harinya ke depan. Gue harus pesan hotel bintang enam vip hotel surga... Gue ogah dah cobain hotel bintang enam neraka karena sikap Raja Alpha ini.
TOK! TOK! TOK!
Di tengah heningnya atmosfer kamar dan ketegangan intim yang kian merayapi udara di antara mereka berdua, pintu kayu jati utama kamar pribadi Fenrir mendadak dihantam dengan ketukan kasar dari arah luar. Suara hantaman itu begitu keras hingga menyebabkan engsel besi di tepi pintu bergetar.
"Yang Mulia Alpha Fenrir Volkov!" Suara seorang wanita yang melengking tinggi, dipenuhi nada kemarahan murni, cemburu, dan keangkuhan khas bangsawan berdarah murni, mengudara menembus celah pintu kayu yang tebal.
Lady Bianca Reinhardt—sang tunangan sah yang memegang kekuasaan aristokrat tertinggi di Valesia—berdiri di luar koridor bersama empat pengawal zirah perak. Matanya menyala membara oleh rasa hina dan amarah yang meledak-ledak.
"Buka pintunya sekarang juga, Yang Mulia!" teriak Bianca dari luar, suaranya menggema di sepanjang koridor sayap utara. "Saya tahu Anda membawa seorang pelayan jorok dan murahan ke dalam kamar pribadi Anda malam ini! Ini adalah penghinaan besar bagi klan Reinhardt!"
Di dalam kamar, Fenrir sama sekali tidak menunjukkan terkejut atau mengalihkan pandangannya dari wajah Ceisya sedikit pun. Senyum tipis yang dingin, berbahaya, dan sarat akan niat membunuh terukir di sudut bibir tampannya.
Fenrir menundukkan kepala sedikit lagi, berbisik tepat di depan permukaan bibir Ceisya yang terkatup rapat:
"Sepertinya pertunjukan sirkus kecilmu baru saja dimulai, manis... Mari kita lihat seberapa jauh kau bisa bertahan di sampingku."
Ceisya menyunggingkan senyum tipis yang tak terlihat oleh Fenrir, sementara di luar pintu, Bianca mulai memerintahkan para pengawal berzirah untuk mendobrak pintu kamar pribadi sang Alpha King, tidak menyadari bahwa di dalam sana, sang Raja Serigala baru saja menjadikan Ceisya sebagai alasan utamanya untuk meratakan siapa saja yang berani mengusik wilayah kekuasaannya.
saran sedikit Bisa gak kalo gaya Bahasanya Ceisya dirubah lebih Elegan tnpa bawa' istilah kehidupan yg lalu, lebih swag lebih tajem, lebih pintar dn berani ngelawan terutama kalo sama Fenrir jgn terlalu nurutlahh biar fenrir yang ngejar tapi Ceisya kyak gak peduli gitu ada hargadirinya
dan tokohnya tangguh gak menye menye
Seru banget apalagi nnti kalo sudah masuk konflik ditunggu kakak kelanjutanya rajin update yaa
Alurnya Tipe aku bangett
Jangan buat mudah untuk fenrir mendapatkan Ceisya yaa kak buat fenrir gedebak gedebuk dulu sampek kecintaan sama Ceisya 😄😄
aku suka Alurnya🥰🥰🥰
karya baru sepertinya Seru
lanjut thor😊