Selama 15 tahun, Adelia Zuri Latisha mengabdi penuh sebagai istri, melepas karier dan tampil sederhana demi menghemat pengeluaran keluarga. Namun, pengorbanannya dibalas pengkhianatan menyakitkan. Sang suami, Arkananta Ethan Pradana, berselingkuh dengan Clara Selvania, rekan kerjanya yang muda dan menawan. Arkananta menceraikan dan mengusir Adelia tanpa harta sedikit pun, mencapnya "ketinggalan zaman" dan tidak selevel lagi. Dihina oleh mantan mertua, Adelia menolak terpuruk. Mengandalkan keahlian menjahitnya di masa muda, ia bangkit merintis bisnis hingga bertransformasi menjadi pemilik butik ternama yang anggun dan berwibawa. Saat roda berputar, Arkananta bangkrut akibat ulah Clara yang boros. Ketika sang mantan suami datang bersimpuh memohon rujuk, ia harus menelan pil pahit. Adelia telah menemukan kebahagiaan sejati bersama pria mapan lain yang jauh lebih menghargainya, sementara karma instan bersiap meruntuhkan kesombongan mantan mertuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zuri Couture
Bagaimana, Bu? Logo mereknya sudah pas posisinya di bagian kerah?" tanya Kenzie sambil menunjuk layar ponselnya yang menampilkan cetakan label hitam berhuruf keemasan.
Adelia mengangguk mantap, melepaskan gunting kain dari genggamannya lalu tersenyum puas. "Sempurna, zie. Pas sekali ukurannya. Terima kasih ya, Nak."
Malam itu, di bengkel jahit kontrakan kayu yang menjadi saksi bisu perjuangan mereka, Adelia resmi merilis label busananya sendiri bernama "Zuri Couture".
Nama itu diambil dari gabungan doa dan tekad baru; sebuah identitas yang menandai kebangkitan Nyonya Adelia dan kelahiran seorang perancang busana mandiri yang bermartabat.
Nama itu diambil dari nama tengahnya Zuri yang berarti gabungan antara doa dan tekad baru,identitas yang menandai kebangkitan seorang istri yang disia siakan.
Namun, ruang sempit berdinding papan itu tidak lagi memadai untuk menampung tumpukan pesanan yang datang silih berganti pasca pameran bisnis Maya. Mengetahui hal itu, Faris Zayn El-Amin bergerak cepat memberikan dukungan langsung bagi mitra kerjanya.
Keesokan paginya, Faris mendatangi Adelia dengan membawa segepok kunci gantung dan map surat perjanjian.
"Bu Adelia, saya tahu kontrakan ibu ini sudah mulai sesak dengan gulungan kain," ujar Faris ramah saat mereka berdiri di depan sebuah bangunan ruko dua lantai di kawasan komersial strategis kota.
"Bagaimana kalau Ibu menempati ruko ini untuk dijadikan toko sekaligus tempat untuk menampung pesanan busana?"
Adelia tertegun, menatap ruko berlantai dua dengan cat putih bersih dan kaca etalase yang luas.
"Tapi Pak Faris... harga sewa ruko di kawasan strategis ini pasti sangat mahal. Saya belum punya cukup uang untuk membayarnya di muka."
Faris tersenyum tenang, menggelengkan kepala pelan.
"Tenang saja, Bu Adelia. Saya menyewakan ruko dua lantai ini dengan harga bersahabat dan sistem bagi hasil yang sangat ringan untuk Ibu. Anggap saja ini investasi awal saya untuk perkembangan Zuri Couture."
Adelia menelan ludah, terharu oleh kebaikan dan dukungan profesional yang diberikan Faris. "Terima kasih banyak, Pak Faris. Kepercayaan Bapak ini tidak akan saya sia-siakan."
Hanya dalam waktu tiga hari, Adelia memindahkan mesin jahit engkol tuanya beserta seluruh gulungan kain ke toko baru yang jauh lebih layak. Sadar bahwa ia tidak bisa lagi bekerja seorang diri menghadapi lonjakan pesanan, Adelia merekrut tenaga tambahan.
Adelia menyewa dua orang penjahit berpengalaman,dua wanita paruh baya tetangga sebelah ruko yang memiliki keahlian jahit halus,untuk membantunya menyelesaikan pesanan yang menumpuk.
"Ibu Adelia, pola gamis brokat untuk pesanan klien Bu Maya sudah saya selesaikan obrasannya," lapor Ani, salah satu penjahit baru, sambil menunjukkan hasil kerjanya.
"Bagus sekali, Mbak Ani. Rapat dan rapi," puji Adelia puas memeriksa jahitan tersebut. "Tolong lanjutkan ke bagian kancing depan ya."
Di lantai dua ruko tersebut, Kenzie mengambil alih peran di bidang pemasaran digital. Remaja itu memanfaatkan waktu luangnya sepulang dari kedai kopi untuk memegang kendali penuh promosi usaha ibunya.
Kenzie membuatkan akun media sosial profesional untuk mempromosikan hasil karya ibunya dengan nama resmi akun @ZuriCouture.official.
Tidak hanya mengunggah foto baju jadi, Kenzie merekam proses menjahit ibunya secara estetik: suara putaran mesin jahit manual, ketelitian jemari Adelia saat memotong pola kain katun sutra, hingga detail sulaman benang emas yang dikerjakan penuh ketulusan.
Video pendek berdurasi satu menit itu diunggah Kenzie dengan latar musik instrumental yang menenangkan.
Tak disangka, video proses menjahit Adelia menjadi viral di media sosial karena estetika dan kerapian kerjanya.
Ribuan warganet membanjiri kolom komentar, memuji ketelatenan Adelia serta keindahan desain busana yang tampak berkelas tanpa berlebihan.
"Bu! Lihat ini!" seru Kenzie heboh sambil berlari menghampiri Adelia yang sedang merapikan benang di meja kerja lantai satu. "Akun Zuri Couture baru saja tembus seratus ribu penonton dalam waktu dua jam! Ada lima puluh pesan masuk yang mau pesan baju kerja dan gaun pesta!"
Adelia menghentikan pekerjaannya, menatap layar ponsel Kenzie dengan mata terbelalak tak percaya. Kolom komentar dipenuhi pertanyaan dari calon pembeli di berbagai kota besar.
"Alhamdulillah..." bisik Adelia penuh rasa syukur, mengusap pundak putranya dengan mata berkaca-kaca. "Semua kerja keras kita mulai membuahkan hasil,Zie."
Kesuksesan kecil itu mendatangkan Semangat baru bagi keluarga kecil mereka. Kayla yang sudah pulih total tampak riang membantu merapikan gantungan baju di etalase toko lantai bawah.
Hari berganti hari, Zuri Couture menjelma menjadi topik perbincangan hangat di kalangan sosialita dan wanita karier kota tersebut. Pelanggan berdatangan silih berganti, membuat Adelia harus sibuk melayani konsultasi desain dari pagi hingga sore hari.
Hingga pada suatu sore yang cerah, ketika Adelia sedang merapikan manekin di depan kaca etalase tokonya, sebuah mobil sedan hitam berhenti mendadak di depan ruko.
Pintu mobil terbuka, dan sesosok pria berjas kusut dengan raut wajah keras melangkah turun dengan langkah lebar.
"Wah Wah Sudah kaya kamu del,bisa buka toko sendiri,Tapi saya penasaran berapa malam kamu menjual diri Sama Faris Sampai dia sudi membelikan toko mewah ini Untuk perempuan sekelas kamu!!"
Semoga usaha butik semakin berkembang dengan dukungan Pak Faris ,Adel