Ophelia (31), karyawan biasa di perusahaan terkaya di Indonesia, sudah kebal dengan pertanyaan "kapan nikah?" di setiap pertemuan keluarga. Ia tidak anti-cinta, ia hanya terlalu sering mendengar keluhan tentang beratnya pernikahan.
Lalu datanglah Navin (28), CEO dingin dengan lidah setajam silet. Dalam pertemuan pertama, kalimatnya melukai Lia. Yang tidak Lia tahu, sejak detik itu Navin tidak bisa berhenti memikirkannya. Navin jatuh lebih dulu, menyangkalnya, lalu jatuh jauh lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan. Ketika restu keluarga menjadi tembok, dialah yang hancur paling parah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 Gosip Lantai Tiga
Kabar bahwa Ophelia Puspa berpelukan dengan seorang pria di koridor lantai tiga memerlukan waktu kurang dari empat jam untuk menyebar ke seluruh gedung. Kabar bahwa pria itu adalah pacarnya memerlukan dua hari lagi.
Lia baru mengetahuinya Senin pagi, ketika ia datang lebih awal untuk menyelesaikan draf negosiasi dan turun ke pantry untuk mengisi cangkir. Dari balik pintu setengah terbuka, terdengar dua suara berbisik. Widya dan Rini dari bagian administrasi, yang dikenal seantero lantai sebagai pusat siaran berita resmi.
"Aku dengar mereka sudah pacaran sejak SMA."
"Serius? Pantas Bu Lia judes. Sudah punya yang di rumah."
"Katanya bulan depan tunangan."
"Bulan depan? Cepat sekali. Pak Bastian itu kan baru tiga hari di sini."
"Justru itu. Dia pindah ke sini gara-gara Bu Lia. Mana ada orang pindah kota gara-gara pekerjaan."
"Aduh, romantis sekali. Kayak drama."
Lia berdiri di balik pintu dengan cangkir kosong di tangan, dan pada detik itu, sesuatu di dalam dirinya memutuskan antara tertawa keras atau menyiram mesin kopi dengan air panas.
Ia memilih yang ketiga. Ia mendorong pintu dan masuk dengan langkah tenang, membuat kedua perempuan itu terlompat dan menjatuhkan sendok.
"Selamat pagi."
"Se... selamat pagi, Bu Lia."
"Wah, saya tidak tahu ada acara seminar di pantry." Lia berjalan ke mesin kopi, menekan tombol kopi hitam, dan menunggu cairannya turun sambil menatap mereka lewat bahunya. "Kalau tadi kalian membicarakan saya, saya senang. Setidaknya saya jadi bahan yang menarik."
Widya memerah sampai ke telinga. "Bu, kami tidak..."
"Tidak apa-apa. Tapi ada beberapa koreksi." Lia mengambil cangkirnya dan mencondongkan tubuh sedikit. "Pertama, saya dan Bastian tidak pacaran sejak SMA. Sejak SMA dia baru belajar mencuci baju sendiri. Kedua, tunangan bulan depan itu tidak ada. Kalau ada, saya pasti tahu, karena saya orang yang akan ditanya." Ia tersenyum, senyum manis yang membuat bulu kuduk berdiri. "Dan ketiga, kalau kalian penasaran soal status saya, tanya langsung. Jangan tanya dinding. Dinding tidak pandai menjaga rahasia."
Sunyi total. Rini menunduk menatap sepatu. Widya membuka mulut, menutupnya, lalu berbisik, "Maaf, Bu."
"Tidak perlu minta maaf. Tinggal pilih gosip yang lebih menghibur lain kali." Lia melangkah ke pintu. "Contohnya, Pak Rangga ternyata punya kucing bernama Tuan Grafik."
"Apa? Serius?"
"Tidak. Tapi tadi kalian percaya sepuluh detik, kan?"
Ia keluar sambil menahan tawa, dan baru ketika pintu pantry menutup di belakangnya, ia bersandar ke dinding dan menutup mulut dengan telapak tangan agar tawanya tidak menggema. Dinda, yang baru datang dari lift, memergokinya.
"Kamu kenapa?"
"Ada yang bilang aku dan Basti bulan depan tunangan."
Dinda ternganga. "Kamu tahu?"
"Aku baru tahu tiga puluh detik lalu."
"Aku sudah dengar dari Jumat." Dinda menggigit bibir. "Tapi aku pikir kamu tahu."
"Kenapa kamu tidak bilang?"
"Karena kupikir kamu senang." Dinda memandang ke arah lain. "Kamu tampak begitu bahagia waktu dia datang, Lia. Kayak orang yang ketemu rumah."
Lia terdiam. Ia tidak menyangkal, karena Dinda benar. Ia teringat pelukan itu, bau sabun cuci dan udara lama yang ikut terbawa, seperti pulang ke tempat yang tidak pernah berubah.
"Basti itu saudaraku," ujarnya pelan. "Bukan dalam arti darah. Dalam arti dia orang yang tahu aku umur delapan tahun, dan tetap mau berteman."
"Aku percaya. Tapi orang lain tidak melihat begitu."
"Apa yang orang lihat bukan urusanku."
"Bagaimana dengan urusannya?" Dinda mengangkat dagu ke arah dinding kaca di ujung lantai.
Lia menoleh. Di balik kaca, sosok Navin berdiri di depan mejanya dengan tangan terlipat, menatap keluar. Tidak menatap ke arahnya, tepatnya. Menatap sesuatu yang lain, dengan rahang kaku. Ketika ia menyadari Lia melihat, ia berbalik cepat dan duduk.
"Mungkin dia sedang berpikir," gumam Lia.
"Sejak Kamis dia berpikir dengan cara yang sangat mengganggu."
"Dinda."
"Aku diam."
Menjelang sore, Basti menghampiri mejanya dengan dua cangkir kopi dan wajah seperti anak yang baru berhasil melakukan sesuatu yang nakal. "Aku dengar namaku dibicarakan."
"Kamu dengar dari siapa?"
"Dari semua orang. Aku baru tiga hari di sini dan sudah punya reputasi sebagai kekasihmu." Ia menyerahkan salah satu cangkir. "Jujur, aku terkesan."
"Kamu tidak terganggu?"
"Ophelia, aku pernah dibilang pacar guru piano tetangga kita. Guru piano yang umurnya enam puluh."
"Itu Bu Yati."
"Itu Bu Yati." Basti menyesap kopinya. "Dibandingkan itu, ini kemajuan besar."
Lia tertawa, lalu menghela napas. "Aku sudah meluruskan dua orang. Tapi rasanya seperti menyapu daun di musim gugur."
"Kalau begitu jangan disapu."
"Maksudmu?"
"Biarkan saja. Kalau mereka sibuk mengurus kita, mereka tidak akan sibuk menanyakan kapan kamu menikah." Basti mengangkat bahu dengan santai. "Atau menjodohkanmu dengan dokter gigi yang menyuruhmu resign."
"Kamu tahu soal Fadli?"
"Ibumu menelepon ibuku."
"Astaga."
"Jadi, ide bagus, kan? Kita tidak berbohong. Kita hanya tidak membantah."
Lia menatapnya lama, sambil memutar cangkir di antara jemarinya. Godaan itu nyata. Ia membayangkan Tante Ratna berhenti bertanya. Ia membayangkan Nenek tersenyum lega. Ia membayangkan malam pertemuan keluarga tanpa jurus savage yang melelahkan. Tidak ada lagi tatapan mengasihani. Tidak ada lagi pertanyaan usik. Tidak ada lagi bisik-bisik tentang perempuan tiga puluh satu yang belum menikah.
Tapi ada satu hal yang mengganggunya, sesuatu yang tidak ingin ia namai.
"Bagaimana dengan Nica?"
Wajah Basti mendadak berubah, sedikit pucat, sedikit merah. "Nica tidak akan tahu."
"Dia akan tahu. Grup alumni tahu segalanya."
"Aku akan jelaskan."
"Kamu takut Nica salah paham?"
"Aku tidak takut."
"Bas."
"Aku hanya... berhati-hati."
"Kamu pengecut."
"Kamu juga."
Lia membuka mulut untuk membantah, tapi tidak ada bantahan yang jujur.
"Aku tidak sedang membicarakan diriku."
"Kamu sedang," kata Basti pelan, dan Lia mendadak terdiam. Basti selalu tahu di mana harus menusuk dengan lembut.
"Aku akan mikir," katanya akhirnya, lebih pelan daripada yang ia inginkan. "Jangan mengambil keputusan dulu."
"Baik."
Basti kembali ke mejanya. Lia menunduk menatap kopi. Di ujung lantai, di balik kaca, ia tahu ada sepasang mata yang baru saja memalingkan pandangannya lagi, dan entah kenapa, hal itu mengganggunya lebih dari semua gosip.
Ponselnya bergetar.
Nica: Ophelia Puspa. BASTI PINDAH KE BANDUNG DAN AKU TAHU DARI GRUP ALUMNI?
Lia: Dia mau kasih kejutan!
Nica: Kejutan macam apa yang datang lewat grup alumni?
Lia menutup mata. Ia sudah bisa membayangkan Basti berdiri di depan apartemen Nica membawa martabak yang sudah dingin. Ia memutuskan tidak akan ikut campur, setidaknya sampai sore.
Ia meneguk kopinya dan berbisik pada dirinya sendiri, "Tidak penting."
Tapi kopi itu pahit, dan kali ini, bukan karena bubuknya.