NovelToon NovelToon
Hari Terakhir Bersama Keluarga

Hari Terakhir Bersama Keluarga

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Kutukan / Anak Genius
Popularitas:831
Nilai: 5
Nama Author: my queen

Aku mempunyai kemampuan bisa melihat hari kematian semua orang termasuk diriku sendiri. Tapi justru aku di anggap aneh dan pembawa sial bagi keluarga ku sendiri dan juga orang lain. Tapi hanya satu yang peduli padaku yaitu kakekku sebelum dia meninggal

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 5

"Jangan menghalangi jalanku!" ucap Charles tajam.

Bahu Bella sengaja ditabrak dengan keras saat Charles melewatinya di anak tangga yang sempit. Bella yang tidak siap seketika terhuyung. Pegangannya terlepas, membuat ubi kukus hangat di tangannya meluncur bebas dan mendarat di atas lantai tangga yang berdebu.

"Kak Charles, kamu ngapain, sih?" tanya Olivia protes. Wajah polosnya tampak kesal dan bingung melihat sikap kasar kakak ketiganya itu.

Namun, Charles sama sekali menghiraukan ucapan Olivia. Alih-alih merasa bersalah atau meminta maaf, ia justru menatap Olivia dengan senyum tipis seolah tidak terjadi apa-apa.

"Olivia, hari ini Kakak yang antar kamu ke sekolah. Ayo cepat," ajak Charles, mengabaikan eksistensi Bella seutuhnya.

Melihat satu-satunya makanan yang bisa mengganjal perutnya yang perih kini kotor tak berbentuk, pertahanan Bella runtuh. Rasa lapar yang melilit lambungnya memicu keberanian yang jarang ia tunjukkan.

"Tapi Kakak nabrak Kak Bella dan ubi kukusnya jadi jatuh ke lantai yang kotor!" ucap Olivia membela dengan nada yang semakin tinggi, menunjuk ke arah ubi di lantai.

Charles menghentikan langkahnya. Ia berbalik perlahan, menatap Bella dengan sorot mata yang penuh kebencian mendalam. Alih-alih merasa bersalah kepada Olivia yang menegurnya, ia justru melayangkan kalimat yang sangat menusuk.

"Biarin saja," ucap Charles dengan mulut pedasnya, menatap lurus ke dalam manik mata Bella. "Dasar pembawa sial. Lebih baik kamu menghilang saja dari sini!" Ucap Charles langsung menarik tangan Olivia untuk pergi dari sana meninggalkan bella disana dengan kebenciannya pada Bella

Kalimat itu bagai tamparan keras di wajah Bella. Di bawah tatapan dingin Charles, ubi yang kotor di lantai itu seolah menjadi gambaran nyata dari harga dirinya di rumah ini—hancur dan diinjak-injak tanpa sisa.

Hati Bella terasa sangat sedih dan sakit mendengar ucapan pedas serta tajam dari mulut Charles. Dadanya berdenyut nyeri, menahan sesak yang teramat sangat. Namun, rasa perih di lambungnya jauh lebih menyiksa daripada harga dirinya yang baru saja diinjak-injak.

Dengan langkah goyah, Bella akhirnya turun ke anak tangga bawah untuk mengambil ubi kukusnya yang terjatuh tadi akibat ditabrak oleh Charles.

Ia berlutut di lantai yang dingin. Dengan jemarinya yang gemetar, Bella mengusap debu-debu yang menempel pada ubi kukus tersebut, mencoba membersihkannya sebisa mungkin. Air mata kini menggenang di pelupuk matanya, membuat pandangannya mengabur. Namun, didorong oleh rasa lapar yang sudah tak tertahankan sejak semalam, ia memasukkan ubi kotor itu ke dalam mulutnya dan mulai memakannya.

Setiap kunyahan terasa begitu berat dan seret di tenggorokannya yang kering, bercampur dengan rasa pahit dari takdirnya sendiri. Di rumah megah peninggalan orang tuanya, ia harus mengemis makanan sisa pelayan, bahkan memakannya dari lantai yang kotor hanya demi bertahan hidup.

"Kak Charles, sesuai dengan keinginanmu, aku akan benar-benar menghilang dari hidup kalian semua... dan dari dunia ini," bisik Bella lirih ke arah tangga yang kini sudah kosong.

Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Bella berbalik dan melangkah gontai menaiki anak tangga menuju kamar gudangnya. Namun, baru saja ia hampir sampai di depan pintu kamarnya, rasa sakit yang teramat sangat tiba-tiba menghantam perutnya. Rasa perihnya berbeda dari rasa lapar tadi; ini adalah penyakit lambung kronisnya yang kembali kambuh akibat telat makan dan tekanan batin yang bertubi-tubi.

Sambil memegangi perutnya yang seperti diremas kuat, Bella membuka pintu kamar dan bergegas mencari obat untuk meredakan penyakitnya. Pandangannya mengabur menahan nyeri. Di tengah kepanikannya mencari obat di atas meja yang berantakan, tangan Bella tak sengaja menyenggol sebuah kotak tua.

Prang!

Kotak itu terjatuh dan isinya tercerai-beranih di lantai. Saat Bella membungkuk dengan tubuh gemetar, matanya terpaku pada sebuah benda yang keluar dari kotak tersebut. Itu adalah sebuah gelang rajutan yang sudah rusak parah dan tampak kotor.

Dada Bella seketika semakin sesak, ingatan masa lalu berputar di kepalanya. Ini kan gelang yang mau kuberikan pada Olivia waktu aku masih berumur delapan belas tahun, batin Bella pilu sambil memungut gelang rajutan tersebut.

Ia ingat betul betapa bahagianya ia saat itu. Ia membutuhkan waktu hingga dua bulan penuh untuk merajut gelang itu dengan jemarinya sendiri, khusus sebagai hadiah ulang tahun untuk adik kecilnya. Namun sayangnya, hari itu Olivia sedang tidak ada di rumah. Karena ingin hadiahnya segera sampai, Bella menitipkannya kepada Ethan, kakak pertamanya.

Namun, bukannya menyampaikan hadiah tersebut, Ethan justru menghina usaha Bella. Pria itu merusak gelang rajutan tersebut di depan matanya sendiri, lalu membuangnya ke tong sampah seolah-olah benda itu adalah sampah beracun yang membawa kutukan. Bella yang menangis diam-diam memungutnya kembali dari tempat sampah dan menyimpannya di dalam kotak ini.

Melihat benda hancur itu di tangannya, air mata Bella yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh juga. Fisik dan batinnya benar-benar telah mencapai batasnya malam ini.

Ingatan Bella berputar mundur ke masa empat tahun lalu, saat ia masih berusia delapan belas tahun. Kejadian di ruang kerja Ethan hari itu kembali terbayang dengan begitu jelas di pelupuk matanya.

"Kak Ethan, Olivia sebentar lagi ulang tahun," ujar Bella lirih hari itu. Langkahnya ragu-ragu mendekati meja kerja sang kakak. "Bisa minta tolong berikan ini pada Olivia nanti?"

Ethan tidak langsung menjawab. Pria itu tetap fokus membaca tumpukan laporan perusahaan di tangannya. Suasana ruangan terasa begitu mencekam hingga beberapa saat kemudian, Ethan baru menyahut tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya.

"Iya, aku tahu. Letakkan saja di meja. Nanti aku yang berikan pada Olivia," ucap Ethan teramat dingin dengan raut wajah yang datar.

Mendengar itu, secercah harapan sempat terbit di hati Bella. Dengan sangat hati-hati, ia meletakkan gelang rajutan yang telah ia buat dengan sepenuh hati selama dua bulan itu di atas meja kerja Ethan. Setelah mengucapkan terima kasih yang hanya dibalas keheningan, Bella melangkah keluar dari ruangan tersebut.

Namun, Bella tidak benar-benar pergi. Didorong oleh rasa ingin tahu dan kerinduan terpendam pada saudaranya, ia bersembunyi di balik tembok koridor yang sedikit terbuka, mengintip ke dalam ruangan.

Detik berikutnya, jantung Bella seolah berhenti berdetak.

Melalui celah pintu, ia melihat Ethan meraih gelang rajutan miliknya. Bukannya menyimpannya, pria itu justru mengambil gunting di laci meja, lalu memotong-motong gelang tersebut menjadi beberapa bagian tanpa belas kasihan.

Setelah benda penuh kasih sayang itu hancur tak berbentuk, Ethan melemparkannya begitu saja ke dalam tong sampah di bawah meja, lalu beranjak pergi keluar ruangan lewat pintu penghubung yang lain.Setelah memastikan situasi aman, Bella keluar dari persembunyiannya dengan tubuh bergetar. Ia menghampiri tong sampah itu dan memungut kembali sisa-sisa gelang rajutannya yang telah rusak.

Air matanya luruh tanpa suara. Menyaksikan hadiah yang ia buat dengan jari-jarinya yang sempat terluka demi sang adik dihancurkan begitu saja, hati Bella terasa sangat sakit dan teriris. Di mata kakak-kakaknya, ketulusannya sama sekali tidak berharga. Penghinaan itu terasa jauh lebih dingin daripada udara malam.

"Sejak Papa dan Mama meninggal, apa pun yang kulakukan di rumah ini selalu salah di mata semua kakakku," bisik Bella lirih pada kegelapan kamar gudangnya.

Tangannya mencengkeram erat potongan gelang yang hancur. Air matanya menetes, membasahi rajutan benang yang kotor itu. Di rumah ini, ia diperlakukan tak ubahnya seonggok sampah beracun. Barang apa pun yang pernah ia sentuh akan dianggap kotor oleh mereka.

Bella memejamkan mata, merasakan sesak yang teramat sangat di dadanya. Ia benar-benar tidak tahu di mana letak kesalahan yang telah ia perbuat. Hanya karena ia terlahir dengan kemampuan—atau kutukan—untuk mengetahui tanggal kematian seseorang lewat telapak tangan, mereka langsung membutakan mata dari segala ketulusannya. Mereka begitu membencinya, mencapnya sebagai pembawa petaka yang merenggut nyawa keluarga mereka

Rasa sakit di lambungnya perlahan mulai mereda setelah ia meminum obatnya dengan sisa tenaga yang ada. Namun, rasa sakit di hatinya justru semakin menganga lebar. Pikirannya kini sudah bulat. Keputusasaan yang telah menumpuk bertahun-tahun kini telah mencapai puncaknya.

"Tapi lebih baik aku pergi dari dunia ini dan membawa semua kutukan ini bersamaku," gumam Bella dengan suara yang teramat datar, namun tersimpan ketetapan hati yang kuat di dalamnya. "Setidaknya, aku tidak akan merusak pemandangan mereka lagi jika aku sudah tidak ada di sekitar mereka."

1
M. Al-Farezi
Lanjutkan👍

eh ia nanti mampir di Novel aku yaaa~
my queen 👸: siap kk
total 1 replies
Sayekti 0519
sangat mengenaskan.mili terus air mata Ama ingus ku thooor
my queen 👸: terima kasih sudah mampir kk
pantau cerita ku yang lain ya 🙏❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!