Dua puluh lima tahun Ryu Jin mengurung jiwanya di dasar jurang terlarang demi menahan kebangkitan Pedang Tulang Hitam. Namun, Aliansi Tiga Sekte membantai seluruh warga desanya demi menguras darah jiwa murni. Tetesan darah warga merobek segelnya. Sang Iblis Purba terbangun dengan mata membara. Mereka tidak tahu bahwa desa itu bukanlah pemukiman biasa, melainkan penjara tempat dikurungnya bencana abadi. Kini, pintunya telah terbuka, dan Ryu Jin siap menagih jiwa para penguasa benua!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JEJAK DUA PENGUASA
Sisa-sisa reruntuhan Puncak Gunung Langit Merah membisu di bawah tirai malam. Asap hitam membubung tipis dari celah-celah batu yang terbelah dua. Tidak ada lagi teriakan perang maupun dentingan senjata; yang tersisa hanyalah hembusan angin dingin membawa bau hangus daging dan besi.
Di tengah-tengah lautan puing itu, Ryu Jin berjalan dengan santai.
Langkah kakinya mengetuk marmer emas yang telah retak tanpa terburu-buru. Jubah kelabunya terkibas pelan, sama sekali tidak tercemar oleh serbuk darah. Di punggungnya, lima pola ukiran mata merah pada sarung pedangnya berkedip lambat, memancarkan redup cahaya darah yang menenangkan.
Ia berhenti di depan sebuah pintu besi raksasa yang tertanam di tebing belakang puncak gunung—gerbang menuju Ruang Perbendaharaan Terlarang milik Sekte Pedang Suci. Pada pintu setebal tiga meter itu, terukir puluhan mantra pengikat dan segel pelindung tingkat tinggi.
Ryu Jin tidak mengangkat tangannya. Ia hanya berdiri tenang.
GZZZZZZ!
Aura hitam dari pedang di punggung Ryu Jin merayap keluar dan menyentuh permukaan pintu.
KRAK! KRAK!
Segel-segel emas meredup dan hancur bagaikan kaca yang diinjak. Pintu besi raksasa mendadak lapuk, berkarat dalam hitungan detik, lalu roboh menjadi tumpukan debu besi yang berhamburan di lantai.
Ryu Jin melangkah masuk tanpa emosi. Di dalam ruangan seluas lapangan itu, terhampar kekayaan luar biasa yang dikumpulkan Sekte Pedang Suci selama ratusan tahun. Tumpukan ribuan Batu Spiritual Tingkat Tinggi memancarkan cahaya biru menyilaukan, berdampingan dengan puluhan kotak obat-obatan penyembuh langka, cincin dimensi, dan puluhan pusaka senjata kelas atas.
Ryu Jin menyapu pandangannya dengan tatapan bosan. Kekayaan yang sanggup memicu perang antar-negara ini, di matanya tak lebih dari sekadar perbekalan perjalanan.
Ia mengeluarkan sebuah kantong penyimpanan dimensi yang dirampasnya dari Duan Feng. Dengan satu kibasan tangan, pusaran tenaga dalam hitam menyedot ribuan batu spiritual, obat-obatan pemulih, dan cincin dimensi masuk ke dalam kantongnya. Dalam waktu kurang dari semenit, separuh dari perbendaharaan raksasa itu berpindah tangan.
Ryu Jin kemudian menatap sisa pusaka senjata di rak besi. Daripada membiarkan pusaka itu diambil oleh orang lain, ia mengalirkan sedikit aura kematian dari jarinya.
SSSTTT!
Pusaka-pusaka kelas atas itu seketika menghitam, kehilangan energi spiritualnya, dan berubah menjadi besi tua yang tak berguna. Penjarahan yang dilakukannya sangat bersih, dingin, dan tanpa meninggalkan sisa sedikit pun.
Saat hendak berbalik keluar, telinga Ryu Jin menangkap detak jantung berdebar kencang dari balik tumpukan peti emas di sudut tergelap ruangan.
Ryu Jin tidak mencabut senjata; ia berjalan santai dan menggeser salah satu peti dengan ujung kakinya. Di baliknya, terduduk seorang pria tua berjanggut putih dengan jubah teratai. Tubuhnya gemetar hebat hingga giginya berkatuk ketakutan. Dialah Tetua Perbendaharaan, satu-satunya yang selamat karena mengunci diri saat pertempuran meletus. Di tangan pria tua itu terdapat sebuah cawan batu berisi anggur spiritual langka.
Ryu Jin menatapnya tanpa senyuman. Tekanan jiwa dari matanya membuat pria tua itu mendadak tak sanggup bernapas, seolah lehernya dicengkeram tangan tak kasat mata.
"T-Tolong... ampun..." rintih Tetua Perbendaharaan dengan suara serak.
Ryu Jin tidak menjawab. Ia mengambil cawan anggur spiritual dari tangan pria tua itu dan meneguknya perlahan. Hawa hangat anggur berkualitas mengalir di tenggorokannya. Ia meletakkan kembali cawan kosong ke atas peti.
"Di mana keberadaan dua pimpinan sekte lainnya?" tanya Ryu Jin datar. Suaranya pelan, namun mampu membuat jantung sang tetua serasa hendak meledak.
Tetua Perbendaharaan berlutut rapat di lantai, menempelkan dahinya tanpa berani mendongak sedikit pun. Dalam ketakutan mutlak, ia membongkar seluruh rahasia aliansi mereka.
"D-Dewi Lian Ji... Pimpinan Sekte Teratai Emas... dia sudah melarikan diri kemarin lusa!" jawabnya histeris. "Dia membawa separuh pasokan darah jiwa menuju Benua Barat untuk bersembunyi di bawah perlindungan Sekte Pelindung Lautan!"
Ryu Jin mendengarkan dengan tenang. "Lalu Pimpinan Sekte Awan Putih?"
"M-Master Yun Cang! Dia tidak melarikan diri ke Benua Barat! Dia bersembunyi di Lembah Awan Kelabu—sebuah benteng melayang di perbatasan utara! Dia sedang mengumpulkan seluruh kekuatan muridnya dan memasang Formasi Badai Terlarang sebelum kabur ke Benua Luar!"
Ryu Jin mengambil sebuah peta kulit naga dari atas meja, lalu mencocokkan posisi Lembah Awan Kelabu. Setelah mendapatkan informasinya, Ryu Jin menatap pria tua yang masih memohon ampun itu.
"Kau sudah menceritakan semuanya dengan jujur," kata Ryu Jin pelan.
Mata Tetua Perbendaharaan memancarkan binar harapan. "T-Terima kasih, Pendekar! Terima kasih telah—"
KLIK.
Ryu Jin menjentikkan jarinya dengan sepele. Sebuah titik aura hitam meluncur masuk ke dalam dahi sang tetua. Pria tua itu seketika membeku. Matanya meredup, jiwanya padam tanpa rasa sakit, dan tubuhnya roboh begitu saja di atas lantai.
Ryu Jin melangkah keluar. Ia tidak pernah berjanji membiarkannya hidup.
Di luar benteng yang hancur, Ryu Jin melempar jimat api spiritual yang dirampasnya ke tumpukan kayu bangunan. Dalam sekejap, api hitam ganas membumbung ke langit, meratakan sisa-sisa Puncak Gunung Langit Merah hingga tak berbekas.
Sekte Pedang Suci yang menguasai benua selama ratusan tahun kini resmi musnah dari peta sejarah.
Ryu Jin menyusuri jalanan bersalju yang membeku, memulai perjalanan santai menuju wilayah utara. Perjalanan menuju Lembah Awan Kelabu membutuhkan waktu beberapa hari melewati hutan terlarang dan kota-kota kecil. Ia memanfaatkan masa perjalanannya untuk menyelaraskan energi.
Sambil melangkah menembus padang rumput es, Ryu Jin merogoh kantong dimensinya dan mengeluarkan puluhan Batu Spiritual Tingkat Tinggi. Hanya dengan menggenggam batu-batu kristal itu, energi murninya mengalir deras masuk ke tubuh Ryu Jin.
KRAK! KRAK!
Batu-batu yang bernilai ratusan ribu keping emas itu hancur menjadi debu putih tak berguna setelah energinya diserap habis. Senjata di punggung Ryu Jin menyerap pasokan itu dengan puas, memadamkan gejolak haus darah yang bergejolak. Kebiasaan Ryu Jin yang menyerap puluhan batu spiritual sambil berjalan santai ini membuat aura di sekitarnya makin pekat dan tak terukur.
Di pertengahan jalan, saat menyusuri Hutan Pinus Hitam yang sepi, perjalanannya mendadak terhenti oleh kejadian tak terduga. Bukan serangan musuh, melainkan sekelompok bandit pemburu yang mengepung sebuah kereta kuda milik pedagang kaya. Di sekitar kereta, beberapa pengawal telah tewas bergelimpangan.
"Serahkan seluruh barang dagangan dan batu spiritual kalian jika ingin selamat!" teriak ketua bandit kekar sambil mengayunkan parang beracunnya.
Ryu Jin berjalan mendekat dari balik pepohonan pinus. Ia sama sekali tidak berniat menjadi pahlawan. Ia hanya ingin melewati jalan setapak tersebut karena itu jalur terdekat ke perbatasan utara.
Namun, ketua bandit mendadak menoleh saat mendengar langkah Ryu Jin.
"Hei! Bocah kusam di sana!" bentak ketua bandit arogan, mengarahkan parangnya ke wajah Ryu Jin. "Jika tidak ingin mati, serahkan barang berhargamu!"
Ryu Jin menghentikan langkahnya. Ia menatap ketua bandit itu dengan pandangan datar.
Para bandit tertawa mengejek, mengira Ryu Jin hanya pemuda pemalas yang tersesat. Namun, pedagang kaya di balik kereta mendadak memucat; instingnya merasakan hawa dingin membekukan memancar dari jubah kusam pemuda tersebut.
"Kau menginginkan barang di kantongku?" tanya Ryu Jin pelan, suaranya halus namun bergema di kepala para bandit.
"Banyak cakap!" Ketua bandit menerjang, mengayunkan parang tepat ke leher Ryu Jin dengan kekuatan penuh.
Ryu Jin tidak mengayunkan pedangnya. Ia hanya menatap langsung ke dalam mata ketua bandit saat parang itu berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya.
SSSTTT!
Pancaran mata merah darah Ryu Jin berkilat!
DUAARR!
Tanpa perlu disentuh, parang beracun hancur menjadi debu besi. Pada saat yang sama, ketua bandit itu membeku di udara, matanya melotot putih, dan seluruh darah di tubuhnya tersedot keluar melalui pori-pori kulitnya, membeku menjadi kristal darah yang melayang di udara!
BRUGH!
Tubuh ketua bandit yang telah menjadi mayat mengering itu roboh terhempas ke tanah bagaikan kayu lapuk.
Belasan bandit lainnya mendadak bungkam. Tawa mereka berganti rasa horor tak terbayangkan. Pimpinan mereka tewas mengering hanya karena ditatap!
"I-Iblis..." jerit salah satu bandit histeris.
Para bandit melempar senjata dan lari kocar-kacir menembus hutan bagaikan gila, saling injak demi bisa kabur. Ryu Jin bahkan tidak mengejar mereka. Ia melangkah melewati bangkai bandit itu dengan tenang, terus menyusuri jalan tanpa memedulikan rombongan pedagang yang berlutut gemetar. Hambatan kecil seperti itu tak lebih dari sekadar debu yang ditiup angin.
Sementara itu, ratusan mil jauhnya di wilayah utara.
Di atas awan tebal pegunungan es, berdiri sebuah benteng raksasa yang melayang di udara—Lembah Awan Kelabu, markas Sekte Awan Putih.
Di dalam aula tertinggi benteng melayang tersebut, Master Yun Cang yang berada di ranah Soul Formation Tingkat Puncak sedang berdiri di hadapan cermin pengintai. Di sekelilingnya, belasan tetua inti sedang menyusun Formasi Badai Terlarang—formasi pelindung raksasa yang memanfaatkan petir untuk menghancurkan siapa pun yang mendekati benteng.
"Bagaimana situasi di Puncak Gunung Langit Merah?!" bentaknya dengan suara menekan.
Seorang murid kepercayaan berlutut dengan tubuh gemetar tak terkendali.
"L-Laporan, Master..." suara murid itu pecah. "Puncak Gunung Langit Merah... telah runtuh. Sekte Pedang Suci dan Tetua Agung Duan Feng... semuanya tewas dibantai!"
PRANG!
Cawan di tangan Master Yun Cang hancur. Seluruh tetua di aula seketika berdiri dengan wajah pucat pasi.
"Duan Feng tewas?!" pekik salah satu tetua melengking. "Dia berada di ranah Soul Formation Puncak! Bagaimana mungkin dia tewas dalam waktu semalam?!"
"Iblis itu... dia telah menjarah perbendaharaan sekte..." lanjut murid itu dengan bibir pecah-pecah. "Dan sekarang... dia sedang berjalan santai menuju benteng kita!"
Suasana aula raksasa itu mendadak hening dan mencekam.
Master Yun Cang melangkah ke jendela yang terbuka, menatap ke arah selatan. Meskipun Ryu Jin masih sangat jauh di balik Hutan Pinus Hitam, Master Yun Cang mendadak merasakan hawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang belakangnya. Garis-garis bulu kuduk di lehernya berdiri tegak. Sebuah rasa merinding yang belum pernah ia rasakan menyergap jiwanya.
Ia menyadari satu fakta mengerikan: pembawa kematian itu tidak sedang terburu-buru. Pemuda itu sedang menikmati perjalanannya yang santai, sementara takdir kematian benteng mereka kini hanya tinggal menunggu waktu sampai langkah kaki sang pencabut nyawa tiba di depan pintu!