Terbang menuju Italia demi cinta, Evelyn hanya ingin membahagiakan kekasihnya. Namun, takdir berkata lain saat ia menemukan kenyataan pahit di dalam pesawat: sang kekasih berciuman mesra dengan wanita lain di depan matanya.
Saat air mata menetes dan tubuhnya goyah akibat turbulensi mendadak, sepasang lengan kekar menariknya rapat. Ia berada di pelukan Wiliam, pria dewasa berwajah tegas, berkelas, dan memiliki tatapan dingin membunuh. Pria itu tak membiarkan Evelyn lepas begitu saja. Dari sebuah insiden guncangan pesawat, Evelyn justru melangkah masuk ke dalam dunia sang pria paruh baya yang kaya raya, protektif, dan siap memanjakannya tanpa batas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 1
****
Aroma khas kayu cendana yang menenangkan beradu halus dengan wangi sangrai biji kopi pilihan di dalam kabin First Class pesawat megah yang sedang membelah langit malam. Suara lembut denting gelas kristal bertabrakan pelan saat flight attendant menyajikan minuman berkualitas tinggi kepada para penumpang terpilih.
Di salah satu sudut kursi eksklusif, Evelyn duduk memeluk lututnya dengan senyum manis yang tak kunjung pudar. Gadis cantik berusia 21 tahun itu mengenakan gaun kasual berwarna krem yang anggun. Wajahnya yang bersih, matanya yang jernih, serta kepribadiannya yang manis dan lugu memancarkan aura polos yang alami.
Jemari lentiknya yang mungil sibuk mengelus sebuah kotak beludru merah tua di atas pangkuannya. Di dalamnya, tersimpan sebuah jam tangan edisi terbatas yang telah ia incar sejak bulan lalu—hadiah yang ia siapkan khusus untuk kejutan ulang tahun sang kekasih di Italia.
"Permisi, Nona. Apakah Anda membutuhkan sesuatu untuk menemani perjalanan Anda ke Roma?" sapa seorang pramugari bertubuh jangkung dengan senyuman ramah.
Evelyn mendongak, matanya berbinar riang. "Ah, tidak perlu, Mbak. Terima kasih banyak. Saya hanya... sedikit terlalu bersemangat untuk perjalanan ini."
Pramugari itu terkekeh pelan melihat binar bahagia di wajah Evelyn. "Tampaknya ada seseorang yang sangat spesial sedang menunggu Anda di sana, Nona."
"Begitulah," jawab Evelyn dengan rona merah tipis yang menyapu kedua pipinya. "Kami sudah tidak bertemu selama dua minggu karena dia harus mengurus bisnis mendadak di Italia. Saya hanya ingin memberikannya kejutan."
"Semoga kejutan Anda berjalan sempurna, Nona. Kabin sedang sangat tenang malam ini, jadi nikmatilah perjalanan Anda."
"Terima kasih," bisik Evelyn lembut.
Sepeninggal sang pramugari, Evelyn kembali menatap ke luar jendela, memperhatikan hamparan awan putih yang diterpa cahaya bulan. Hatinya membumbung tinggi membayangkan betapa bahagianya pria yang ia cintai—pria yang telah mendampinginya selama dua tahun terakhir—saat melihatnya berdiri di depan pintu hotel nanti.
Namun, pendingin udara di kabin mendadak terasa sedikit lebih menusuk kulit. Evelyn mengusap kedua tangannya yang halus, merasa pendingin udara di kursinya terlalu dingin.
"Mungkin aku harus mengambil selimut tambahan di area penyimpanan kabin depan," gumamnya pelan pada diri sendiri.
Evelyn bangkit dari duduknya. Dengan langkah-langkah kecil yang ringan dan anggun, gadis manis itu melangkah menyusuri lorong karpet tebal kabin kelas utama yang sepi.
Namun, saat ia melintasi area batas antar-sekat kelas atas yang terlindung tirai beludru tebal, pendengarannya menangkap suara tawa manja seorang wanita yang sangat familier. Tawa yang terkesan sangat berani dan menggoda.
"Ah, Honey... hentikan! Nanti ada yang lihat," goda suara wanita itu seraya terkekeh pelan.
"Memangnya kenapa kalau ada yang lihat, Baby? Ini area VIP kita. Tak ada yang berani mengganggu," balas suara pria yang begitu kental di ingatan Evelyn. Suara berat yang biasanya selalu membisikkan kata-kata manis di telinganya setiap malam.
Langkah Evelyn seketika terhenti kaku. Jantungnya berdegup kencang secara tidak merata. Tidak mungkin... itu pasti hanya mirip, batinnya mencoba menolak kenyataan.
Dengan jemari yang gemetar hebat, Evelyn menyibak sedikit celah tirai yang terpasang. Dan di detik itu juga, seluruh dunianya hancur berkeping-keping.
Tepat di depannya, di atas kursi melingkar yang luas, pria yang dipeluknya dua minggu lalu saat pamit pergi untuk bisnis—kekasih yang sangat ia cintai—sedang memangku seorang wanita bergaun merah menyala. Pria itu tidak hanya merengkuh pinggang wanita itu, tetapi juga memiringkan wajahnya dan mencium bibir wanita itu dengan sangat bergairah dan penuh nafsu.
Denting glass kristal yang tadi terdengar merdu kini berganti menjadi dengungan memekakkan di telinga Evelyn.
"Kamu sungguh luar biasa malam ini, Sayang," bisik pria itu di sela-sela ciuman panas mereka, tangannya menyusup tanpa malu ke balik gaun sang wanita. "Evelyn yang polos itu tidak akan pernah bisa memuaskanku seperti kamu."
Wanita di pangkuannya tertawa manja, melingkarkan tangannya di leher sang pria. "Oh ya? Jadi gadis lugu kaya raya itu masih belum memberikan apa-apa padamu?"
"Mana berani dia? Dia terlalu polos, terlalu membosankan. Aku hanya memanfaatkan posisinya saja."
DEG.
Kata-kata itu menghantam dada Evelyn bagaikan pukulan godam yang amat telak. Napasnya tertahan di tenggorokan. Air mata bening menetes tanpa permisi dari pelupuk matanya yang jernih, membasahi pipinya yang mendadak pucat pasi. Kotak beludru berisi jam tangan mahal di genggamannya meluncur begitu saja dan jatuh tanpa suara ke atas karpet.
Dua tahun hubungannya, seluruh rasa percaya dan kepolosannya, hancur hanya dalam hitungan detik di atas langit malam.
Evelyn mundur beberapa langkah dengan tubuh berguncang hebat karena tangisan yang ditahannya setengah mati. Bibir indahnya bergetar memanggil nama pria itu dalam hati, tetapi tak ada suara yang sanggup keluar dari tenggorokannya.
TET! TET! TET!
Tiba-tiba, lampu indikator bahaya berwarna kuning kemerahan menyala terang di sepanjang langit-langit pesawat. Suara sirine peringatan berbunyi nyaring, disusul oleh suara kapten kapal melalui pengeras suara.
"Perhatian kepada seluruh penumpang, harap segera kembali ke kursi masing-masing dan kencangkan sabuk pengaman! Kita sedang memasuki area turbulensi udara yang sangat ekstrem!"
Belum sempat Evelyn mencerna peringatan tersebut, guncangan angin yang amat dahsyat menghantam badan pesawat. Kabin miring secara mendadak.
"Aahkk!" jerit Evelyn panik saat tubuhnya yang kecil kehilangan keseimbangan total. Ia terlempar ke belakang, meluncur di lorong kabin yang miring.
Lantai kaku dan dinding keras membayang di depan matanya. Evelyn memejamkan mata erat-erat, bersiap menerima rasa sakit saat tubuhnya menghantam sudut tajam furniture kabin.
Namun, rasa sakit yang ia tunggu tidak pernah datang.
GRAB!
Sebuah cengkeraman tangan yang sangat kuat dan kokoh menyambar pinggang rampingnya tepat pada waktunya. Sebelum tubuhnya tersungkur, tangan itu menarik Evelyn dengan sentakan protektif yang tegas, membawa tubuh mungilnya melayang dan jatuh tepat ke atas dada bidang yang keras bagaikan dinding batu.
Guncangan pesawat kembali terjadi, tetapi lingkaran lengan kokoh itu mengunci tubuh Evelyn begitu erat hingga tak membiarkannya bergeser sedikit pun.
Seketika, aroma sandalwood yang kaya, elegan, dan terkesan amat mahal menyeruak memenuhi indra penciuman Evelyn. Itu adalah wangi old money yang sangat eksklusif—wangi pria berkelas tinggi yang tak tersentuh.
Evelyn yang masih gemetar hebat karena rasa takut dan patah hati, perlahan mendongakkan kepalanya. Air mata masih menggenang di bulu matanya yang lentik.
Di atasnya, berdiri sesosok pria paruh baya bertubuh tinggi tegap. Pria itu mengenakan setelan jas buatan tangan berkualitas tinggi yang amat mewah. Rambut peraknya berselang-seling kelabu menyisir rapi, mempertegas garis rahangnya yang tajam, hidung mancungnya yang tegas, serta aura dingin yang begitu intimidatif. Pria itu adalah Wiliam.
Mata sehitam jelaga milik Wiliam menatap lurus ke dalam iris mata Evelyn yang basah dan polos. Tidak ada kepanikan sama sekali di wajah tampan berwibawa itu meski pesawat di sekitar mereka sedang berguncang hebat. Yang ada hanyalah tatapan tajam, dominan, dan entah mengapa terasa sangat posesif.
"Apakah kamu selalu seeceran ini saat bepergian, Little Lady?" suara Wiliam terdengar sangat berat, dalam, dan tenang, namun sanggup menggetarkan dada Evelyn.
Evelyn terpaku, napasnya terengah-engah di atas dada bidang Wiliam. "S-saya... saya..."
Wiliam tidak melepaskan cengkeraman tangannya di pinggang Evelyn. Sebaliknya, jemari tangannya yang besar dan tegas justru makin menekan pinggang ramping gadis itu, merapatkan jarak mereka hingga Evelyn bisa merasakan detak jantung stabil dari pria dewasa di hadapannya.
"Tatap mataku dan bernapaslah," perintah Wiliam dingin namun penuh penekanan yang mutlak. Tangannya yang sebelah lagi terangkat, jemarinya yang hangat dan kuat secara perlahan mengusap jejak air mata di pipi mulus Evelyn.
Evelyn menahan napasnya. Sentuhan pria asing itu terasa begitu dominan, seolah-olah pria itu baru saja mengklaim hak atas dirinya secara sepihak.
"Kenapa menangis?" tanya Wiliam lagi, matanya melirik sekilas ke arah tirai kabin tempat kekasih Evelyn masih sibuk menyelamatkan diri dari guncangan tanpa memedulikan hal lain. Wiliam yang sejak awal memperhatikan drama murahan itu tahu persis apa yang baru saja terjadi.
Evelyn menunduk, bibirnya gemetar. "Hati saya... hancur, Tuan..."
Wiliam menatap puncak kepala gadis muda yang nampak begitu rapuh dan lugu di pelukannya itu. Sebuah dorongan posesif yang sangat asing menyergap dada pria paruh baya yang terkenal dingin dan tak berhati itu.
"Hati yang hancur karena pria tak berguna tidak layak mendapatkan air matamu," bisik Wiliam tepat di telinga Evelyn dengan suara yang sangat rendah namun mengintimidasi. "Mulai detik ini, kamu ada dalam pengawasanku."
Pesawat perlahan kembali stabil, namun cengkeraman tangan Wiliam di tubuh Evelyn sama sekali tidak mengendur. Pria berdarah dingin itu telah memutuskan untuk tidak melepaskan tangkapannya.
Bersambung....
itu kata william🙂
enak bacanya
❤️❤️❤️❤️❤️
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻