Berhati-hatilah dengan ponselmu saat frekuensi malam sedang kosong.
Di sudut kamar kos yang sempit di kawasan Teladan, Medan, Faris ketagihan membuang waktu di media sosial untuk mengalihkan rasa cemas akibat PHK. Hingga suatu malam, sebuah mitos urban tentang nomor pemanggil kematian melintas di layarnya. Sebuah ketukan tidak sengaja memicu dering ke nomor 0000.
Sambungan itu tidak pernah memanggil operator. Sambungan itu justru mengundang sesosok iblis tak berkulit yang mencari saluran suara untuk berpindah ke dunia nyata.
Sejak malam itu, ponsel Faris menjadi gerbang teror. Panggilan terus berjalan tanpa bisa dimatikan, dan setiap detik yang berlalu menuntut imbalan darah dari orang-orang di sekitarnya. Terjebak dalam perburuan waktu antara kejaran entitas supranatural dan ancaman menjadi pembunuh tak sengaja, Faris harus membongkar rahasia di balik frekuensi 0000—sebelum giliran jiwanya yang ditarik masuk ke dalam layar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M Rizky Ferdiansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Korban Dijalur Sinyal
Pemuda berjaket hitam itu berbalik dan melompat menerobos kerumunan Pasar Sambu dengan kecepatan yang tidak wajar. Langkah kakinya seperti mengambang, menabrak lapak-lapak pedagang hingga keranjang buah dan komponen radio bekas berserakan di lorong yang sempit.
"Kejar dia!" teriak Faris sembari melompati tumpukan kardus yang roboh.
Suasana pasar mendadak kacau balau. Teriakan makian pedagang membumbung ke udara, namun kekacauan sebenarnya baru saja dimulai. Saat pemuda terinfeksi itu melintasi lorong-lorong pasar, seluruh perangkat elektronik di sekitarnya bereaksi liar.
Radio-radio tua di kios barang bekas menyala serentak, menyemburkan nada dengung berfrekuensi rendah yang memekakkan telinga. Layar-layar ponsel milik para pembeli dan pedagang yang berada dalam radius lima meter mendadak berkedip-kedip merah, memancarkan tulisan pendek yang berulang secara masif:
0000: RE-TRANSMITTING...
"Tutup telinga kalian! Jangan angkat telepon!" jerit Maya pada orang-orang di pasar sembari terus berlari mengejar bayangan pemuda itu.
Beberapa warga tampak mengerang kesakitan, memegangi kepala mereka saat gelombang elektromagnetik tingkat tinggi menghantam saraf pendengaran mereka. Dua orang pedagang roboh di trotoar dengan darah segar meleleh dari lubang hidung.
Faris dan Maya mengejar inang terkutuk itu hingga keluar dari labirin Pasar Sambu menuju Jalan Gudang. Pemuda itu tidak berhenti. Ia mencegat sebuah angkutan kota (angkot) yang sedang melaju pelan, menyambar pintu samping, lalu memaksa supir angkot menginjak gas sebelum Faris berhasil menggapainya.
Angkot berwarna kuning itu melaju kencang ke arah utara—menuju kawasan Pelabuhan Belawan.
"Sialan!" Faris memukul tiang listrik di pinggir jalan, napasnya tersengal-sengal.
Maya berlari mendekati minibus tuanya yang terparkir tak jauh dari lokasi. "Masuk, Faris! Kita tidak boleh kehilangan jejaknya!"
Minibus tua Maya meluncur membelah arus jalan raya Medan-Belawan. Maya menempatkan alat RF Signal Detector di atas dashboard. Jarum indikator pada alat itu terus bergetar hebat, menunjuk lurus ke arah jalur transportasi logistik Belawan.
"Kenapa dia bergerak ke arah Belawan, Kak?" tanya Faris sembari mengusap keringat dingin di dahinya.
"Di Belawan ada stasiun relay pemancar seluler utama yang terhubung langsung dengan kabel serat optik bawah laut," jawab Maya dengan wajah tegang, matanya menatap tajam ke jalan tol di depannya. "Sirkuit ketiga yang dibawa pemuda itu bukan cuma stasiun penerima. Jika dia berhasil memanjat dan menyambungkan sirkuit itu langsung ke amplifier menara utama Belawan, kodenya tidak hanya akan menginfeksi Kota Medan... tapi menyebar ke seluruh Sumatra Utara melalui jalur sinyal maritim!"
Dua puluh menit kemudian, mereka tiba di kawasan industri dan pelabuhan Belawan. Udara asin laut bercampur bau solar dan debu peti kemas yang menyengat.
Di kejauhan, berdiri kokoh sebuah menara pemancar seluler (telecommunication tower) setinggi enam puluh meter yang dikelilingi pagar kawat berlistrik. Lampu merah di puncak menara itu berkedip-kedip lambat di bawah langit sore yang mendung.
Minibus Maya berhenti tepat di luar gerbang stasiun relay. Pagar kawat pemancar tampak sudah dirusak; selot besinya terputus seperti dihantam beban yang sangat berat.
"Kita terlambat..." bisik Faris saat melihat pos penjaga di depan gerbang.
Seorang teknisi menara berseragam biru tergeletak kaku di atas meja pos. Matanya terbuka lebar menatap langit-langit, sementara dari kedua earphone pelindung telinga yang masih menempel di kepalanya, darah segar mengalir menggenangi meja kerja. Radio panggil (handie-talkie) di tangannya mengeluarkan desis statis yang berulang:
Tek... tek... tek...
Maya dan Faris melangkah masuk ke area menara dengan hati-hati. Udara di sekitar tapak menara besi itu terasa sangat dingin, membuat bulu kuduk berdiri tegak. Di dasar menara, pintu ruang kendali utama (server room) telah jebol.
"Faris, dengar," panggil Maya seraya menyerahkan sebuah tabung pemadam api busa dan tang isolasi besar dari bagasi mobilnya. "Sirkuit ketiga itu meminjam energi dari tubuh pemuda tadi. Dia sudah bukan manusia lagi, tapi wadah biologis untuk kode 0000. Begitu kau melihat sirkuit itu terpasang di panel utama, hancurkan tanpa ragu!"
Mereka melangkah masuk ke dalam ruang kendali yang penuh dengan rak-rak server yang berdegung nyaring. Lampu indikator hijau pada server-server itu satu per satu berubah warna menjadi merah darah.
Di sudut ruangan, di depan panel distribusi daya bertegangan puluhan ribu volt, pemuda berjaket hitam itu berdiri membelakangi mereka.
Kedua tangannya telah menempel menyatu dengan kabel-kabel tembaga panel utama. Papan sirkuit tua milik Hendra telah tertanam separuh di dalam dada pemuda itu, memancarkan denyut pendar merah yang seirama dengan detak jantungnya yang abnormal.
Pemuda itu memutar kepalanya ke belakang. Suara yang keluar dari mulutnya bukan lagi suara manusia, melainkan raungan ribuan suara ghaib yang menyatu melalui frekuensi radio:
"Saluran tiga telah aktif penuh... Selamat datang di jaringan baru."