NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali Untuk Membalas Dendam

Terlahir Kembali Untuk Membalas Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Hamzari20

Isabella Catherine Davis, dikhianati oleh pria yang ia cintai dan saudari angkatnya. Di penjara, di siksa hingga meninggal. Saat dia menganggap itu adalah akhir segalanya. Ternyata keajaiban yang tak pernah terbayangkan terjadi padanya. Dia mengulang kembali waktu ke masa lalu dan dia bersumpah akan membalas setiap pengkhianatan, tetes air mata dan penderitaan yang ia alami pada mereka yang sudah berkhianat. Lalu apakah Isabella akan berhasil mengubah segalanya? Atau kelahirannya hanya akan mengulang luka lama terbuka kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hamzari20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 Sofia

Isabella tiba di sebuah tempat yang terpencil. Tempat dimana anak-anak tanpa orang tua ada di sana.

Saat Isabella turun dari mobil beberapa anak yang tengah bermain di sana menoleh, wajah mereka di penuhi rasa penasaran yang tak biasa.

"Selamat datang Nona Isabella!" seorang wanita paruh baya yang menjadi kepala panti menyapa sosok Isabella yang cantik.

"Terima kasih, Bu Nena!" ucapnya, senyum ramah dan apa adanya menarik perhatian Nena kepala panti rumah panti asuhan itu.

"Mari Nona kita bicara di ruangan saya saja!" kata Nena ramah.

Isabella mengangguk, dia meminta sang supir untuk pulang saja karena dia akan di jemput kembali oleh Arion nanti.

Isabella melihat sekeliling tempat itu. Di sini memang menenangkan dan begitu nyaman tak akan pernah ada yang menduga jika dari tempat ini akan lahir seorang pemberani seperti seseorang di kehidupan pertamanya.

"Bawa kan minum untuk Nona Isabella!" kata Bu Nena pada salah satu orang yang juga petugas panti.

"Baik," angguknya.

Isabella tersenyum ramah dengan anggukan pelan, dari belakang dia menatap punggung wanita paruh baya yang baru saja berlalu itu. Matanya berkilat tapi hanya sebentar sebelum akhirnya kembali tenang.

"Bu Nena," panggil Isabella.

"Iya, Nona Isabella," angguknya.

"Dia tadi? Siapa?" tanya Isabella, matanya kembali menoleh pada orang tadi.

"Vera, dia juga pengurus panti ini, wanita rajin yang datang karena merasa terpanggil," jelas Bu Nena.

"Vera? Darimana asalnya?" tanpa sadar Isabella bertanya lebih jauh.

"Saya kurang tahu, tapi sepertinya dia tidak berasal dari kota ini, atau bahkan negara ini jika di lihat dari struktur wajahnya," kata Bu Nena.

Isabella akhirnya hanya bisa kembali diam, dia tak akan bertanya lebih jauh lagi karena takut seseorang mungkin mengawasi dirinya dari jauh.

Ruangan milik Nena begitu luas, hangat dan terasa menyenangkan. Satu sofa panjang yang cukup usang dengan meja kayu di sana menjadi tempat duduk satu-satunya bagi para tamu yang datang.

"Silakan! Maaf, sofa nya sudah tua!" ucapnya tak enak.

"Sofa tua ini jauh lebih baik dari pada sofa mahal yang mengorbankan banyak Hal," jawaban yang tak pernah wanita paruh baya itu dengar. Dia tahu ini bukan hanya tentang sofa.

TOK

TOK

Ketukan pintu mengalihkan pembicaraan keduanya tentang sofa yang memiliki arti lain dalam pembahasan itu.

"Masuk!" kata Nena.

Pintu kayu yang agak terlihat rapuh itu terbuka menampilkan sosok wanita tadi yang tengah menyapu di koridor panti asuhan.

Vera?

"Bu Nena, ini minumannya!" kata Vera, wanita paruh baya yang mungkin seusia dengan Melody itu tersenyum hangat.

"Letakkan saja! Terima kasih," ucap Nena.

Vera mengangguk, dia melirik pada Isabella yang juga hanya memandang dirinya dalam diam.

Saat Vera sudah keluar. Keheningan kembali terjadi, hanya ada deru kipas angin di atas platform ruangan itu.

Teh di atas meja mengepulkan asam hangat, aromanya menenangkan dengan warna yang cukup pekat.

"Silakan!"

"Terima kasih!" ucap Isabella, mengambil gelas itu dan menyeruput isinya dengan gerakan tenang.

"Jadi apa tujuan Nona kemari? Saya rasa jika Nona mau mengadopsi anak bukan itu jelas tujuan Nona, kan?" tebak Nena. Melihat bagaimana usia Isabella dan dia yang datang sendiri.

"Saya memang bukan mau mengadopsi anak, tapi saya mencari seseorang!" jawaban yang membuat Nena tersenyum tipis.

"Katakan Nona! Siapa yang anda cari?"

"Sofia, apa dia ada?"

Mata Nena berkilat, tapi hanya sebentar sebelum akhirnya dia kembali mengulas senyum hangat.

"Ada, dia seorang remaja berusia sebelas tahun," jelasnya.

"Boleh saya bertemu?" tanya Isabella.

"Boleh, mari saya antar!" katanya Nena.

Isabella mengucapkan terima kasih dan dia segera mengikuti langkah Nena untuk mencari Sofia.

Sebuah kamar sederhana yang memiliki dua empat ranjang susun di sana.

Di salah satu ranjang susun, Isabella melihat dia gadis yang pernah menyelamatkan hidupnya dulu saat dia bekerja dirumah sebagai pekerja rumah tangga.

DEGH!

'Sofia?' batin Isabella, matanya mendadak memanas saat melihat Sofia masih hidup.

***

Mata gelap Sofia menatap pada rumah di depannya. Rasa asing langsung menyergap tanpa ampun karena merasa rendah diri.

"Ayo masuk! Kenapa diam saja?" tanya Isabella.

"Nona, sa—saya merasa tempat ini tidak cocok untuk saya!" cicit Sofia, wajahnya menunduk dalam. Menyembunyikan rona tak nyaman.

"Kamu cocok, ayo! Jangan menolak!" kata Isabella, membujuk Sofia dengan lembut.

Sofia agak ragu, tapi hanya sesaat sebelum akhirnya dia menerima uluran tangan Isabella dengan nyaman.

Sedangkan Arion, dia hanya diam tak banyak bertanya dengan apa yang tengah calon istrinya itu lakukan pada gadis panti asuhan itu.

Di dalam rumah.

"Dia siapa?" tanya Melody, dia merasa asing dengan wajah gadis itu, pakaian lusuhnya membuat Melody iba.

"Ma, ini bawa dia dari panti asuhan dan aku mau dia tinggal di sini sebagai Asisten ku!" kata Isabella, dia membawa Sofia bukan sebagai adik. Tapi sebagai teman dan sang Asisten pribadi.

"Lalu Marsya? Kenapa mendadak?" tanya Melody, tak tahu apa yang sebenarnya putrinya rencanakan.

"Ma, Marsya tetap bekerja, lagian dia manager kan? Jadi karena itu Aku juga butuh Asisten," jelasnya.

"Baiklah, terserah kamu saja!" kata Melody. Dia tak akan ikut campur karena itu keputusan putrinya.

Isabella memeluk Melody, senang rasanya dia bisa membuat kedua orang tuanya bertahan sejauh ini, jika dia lengah kembali hari itu jelas dia akan mengulang hal sama.

Isabella bersyukur tuhan memberikan kesempatan ini dan dia bisa mengubah segalanya juga melakukan hal yang seharusnya dia lakukan sejak dulu.

Sedangkan Arion, dia hanya mengawasi dan mengikuti semua rencana Isabella. Dalam hati dia sudah berjanji akan terus Melindungi Isabella apapun keadaan nya.

"Arion, ayo pergi makan siang!" ajaknya, menyentak lamunan Arion.

Arion mengangguk, dia menggenggam tangannya Isabella dengan erat tak lupa melabuhkan kecupan di kening wanita cantik yang menjadi tunangannya itu.

Sedangkan Sofia, Isabella sudah memerintahkan pelayan untuk mengantarkan Sofia ke kamar yang sudah dirinya siapkan beberapa hari lalu.

1
Irsyad layla
ini sebenarnya keluarga de luca apa Marco bingung jadinya
Hamzari20: Marga Marco untuk Darel dan Marga De Luca untuk Arion
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!