NovelToon NovelToon
Dipaksa Menerima Wanita Itu

Dipaksa Menerima Wanita Itu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mandul / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati
Popularitas:140.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Empat tahun lamanya mengarungi bahtera rumah tangga, dan tepat di ulang tahun pernikahan yang seharusnya disambut bahagia, Arjanti harus menelan kecewa, dipaksa memberi izin suaminya menikah lagi.

Mertuanya terus menekan, melimpahkan kekurangan ada pada dirinya yang tak kunjung hamil, sementara mereka ingin segera menggendong cucu.

Sang suami yang awalnya menentang keras saat dipaksa menikah lagi, lama kelamaan setuju dengan alasan ingin menimang anak.

Pada akhirnya, Arjanti harus berbagi suami. Tinggal satu atap dengan wanita bermuka dua, berambisi menjadi istri tunggal.

Lantas, bagaimana kehidupan Arjanti pasca pria yang dicintai segenap jiwa itu menghadirkan wanita lain selain dirinya?
Apa benar kalau dia memang mandul?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DMWI : 24

Dari kedua pembantu itu, Astuti lah yang paling bersemangat. Bahkan dia sudah bersiap menggeledah kamar istri pertama Herlan Doko.

“Tunggu putramu pulang dulu kalau mau memeriksa kamar itu!” dia tidak menghalangi, tetapi mengharuskan kehadiran Herlan.

“Pasti ada sesuatu disembunyikan, makanya si Janti keberatan,” Tanira terus memanasi keadaan yang sudah tegang.

Astuti pun menambahkan bahan bakar di hati Darti yang sudah membara. Dia merasa posisinya kian terancam, Janti tak lagi bisa dibungkam. “Kalau gak ada yang kamu sembunyikan, ngapain nunggu den Herlan, semakin mencurigakan.”

Sementara Lasti berdiri kaku di belakang sofa sang nyonya. Inginnya tidak ikut-ikutan, namun dipaksa oleh keadaan serta kebutuhan.

“Jangan pakai nanti-nanti! Sekarang dorong kursi rodaku, Astuti!” Darti memutuskan ikut menggeledah.

“Bu, dimana sopan-santun yang Ibu junjung tinggi? Itu kamar tempatku beristirahat, gak selayaknya digeledah seperti aku ini seorang penjahat saja!” Janti berdiri di depan pintu kamarnya.

“Minggir atau aku telepon polisi, biar kalau sampai kamu terbukti mencuri, langsung digelandang!” ancam wanita memakai daster kuning motif bunga.

Arjanti bergeming, ia tatap lekat wajah tua wanita yang sudah 4 tahun membersamainya di rumah ini. Berjalannya waktu selama itu, rasa hormat yang dijunjung tinggi perlahan tergerus oleh sikap sinis, enggan menerima kehadirannya, dan selalu menyakiti lewat kata-kata kejam.

“Jika Ibu tak mengindahkan permintaanku, dan tetap memaksa masuk — ini hari terakhir aku menganggapmu sebagai orang yang wajib dihormati tanpa tapi. Silahkan tentukan pilihanmu, Bu!” Janti bergeser ke tembok, tak lagi menghalangi jalan.

Darti menelisik tubuh bagian bawah lalu naik menatap wajah tenang namun matanya berkaca-kaca. Ada perasaan bimbang, Janti tak menunjukkan kemarahan, justru itu yang membuatnya merasa tidak nyaman.

“Kebanyakan ini ya, biasanya kalau memang sudah ahli mencuri, maka dia akan menyamar seperti orang lugu, malah membuat calon korbannya merasa menjadi tersangka karena telah melakukan hal salah,” celetuk Tanira.

“Sama seperti kita memberi hutang ke orang tidak tahu diri. Pas memohon dipinjami mereka mengiba, giliran jatuh tempo pembayaran, malah kita yang seperti pengemis demi meminta uang sendiri,” sambungnya lagi.

Keraguan Darti pun lenyap, dia memutuskan untuk masuk tanpa menunggu putranya pulang.

Pintu kamar dibuka lebar. Tak ada yang aneh, ruangan tak seberapa luas itu tampak bersih, rapi.

Bantal diangkat, sarungnya digeledah. Kasur sprei di lepas dan kasur digeser demi mencari barang berharga yang bukan milik menantu pertama keluarga Doko.

Laci-laci meja rias diperiksa, bawah kolong diintip, lalu penggeledahan beralih ke lemari pakaian.

Janti berdiri diambang pintu. Matanya terasa panas. Ia menyaksikan dengan perasaan mulai mendingin. Hubungan harmonis yang diusahakan dengan cara mengalah, hari ini, detik ini, semua tak lagi berarti.

Koper dari bahan kain tersimpan dibawah barisan pakaian tergantung, ditarik keluar oleh Astuti. Dia yang tadi sudah kesal, sebab tak mendapatkan apa-apa bisa dijadikan bukti agar Janti dihukum, paling parah diusir dari rumah, kini tengah tersenyum lebar.

“Bu, ini kopernya dikunci,” Astuti melaporkan sambil memperlihatkan angka-angka pada kait pengunci.

“Berapa nomor kuncinya? Sebutkan saja. Jangan kamu yang buka!” volume suaranya naik, dan Darti enggan menatap ke belakang.

Janti menyebutkan tanpa berniat mendekat. Dia memberikan akses penuh.

Setelah angka dicocokkan dengan yang baru saja disebutkan oleh Arjanti, koper pun dibaringkan dan ternyata benar, kunci pun terbuka.

Astuti tak langsung menarik resleting, pura-pura menjaga adab padahal raut muka telah mengatakan betapa tidak sabaran dirinya.

“Buka sekarang!” titah Darti, matanya nyaris tak berkedip melototi benda di bawah kakinya.

Bagian atas koper telah terbuka, dan isi dalam tempat penyimpanan pakaian itu terdapat baju-baju model lama.

Pakaian Janti dikeluarkan, lipatannya tak lagi rapi, baju-bajunya teronggok di lantai.

“Ada amplop, Bu.” Astuti memberikan amplop besar, tebal berwarna coklat muda.

Gegas Darti merobek bagian ujung, bukan membuka simpul tali. Ia terbelalak, tumpukan uang diikat karet gelang terpampang di depan mata.

“Uang siapa yang kamu curi ini, Janti?!” tanyanya sembari memandang menghakimi sang menantu.

“Kalau pemberian suami untuk istri disebut mencuri, maka tetapkan mas Herlan sebagai seorang tersangka. Itu uang dari dia,” jawabnya tak gentar.

Darti pun berpikir keras. Rautnya berubah-ubah, dari bingung sampai kening berkerut hingga menahan napas ketika pemikiran busuk meracuni otak. “Jadi ini niatmu menikah dengan putraku, karena harta, iya?”

“Apalagi, Jeng. Namanya juga orang desa, ketemu jodoh dari kota mana anak tunggal keluarga kaya, ya sudah pasti tujuan utama gak jauh-jauh tentang uang,” sambar Tanira.

“Kurang ajar kamu, Janti! Sengaja sok lugu, tapi diam-diam morotin putraku! Pasti dirimu memaksa Herlan, kan?” tuduhannya bertambah menjadi dan tak berdasar.

“Sudahkah Ibu hitung uang itu? Gak lebih dari 13 juta rupiah. Sementara aku menikah dengan putramu 4 tahun lamanya. Apa nominal tersebut pantas dibilang cukup banyak?” muak sudah dia diam.

“Tetap saja banyak, terlebih bagi wanita kere sepertimu!” sergah wanita kepalang emosi, tak bisa lagi berpikir jernih.

“Apalagi yang kamu sembunyikan? Katakan dimana letaknya?!” Darti tambah curiga, uang ini bukti kecurangan Arjanti yang langsung dicap menantu gila harta.

“Cari saja, bila perlu keluarkan semua barang dalam lemari!” ujarnya mantap.

Tantangan pun diterima, kembali Astuti dan Lasti mengeluarkan barang-barang pribadi Arjanti yang sedikit itu.

Hasilnya tak ditemukan apa-apa selain benda-benda berharga murah.

“Uang ini aku ambil! Enak saja, anakku yang kerja keras, kamu tinggal menikmati tanpa ada kontribusi apa-apa. Makan tinggal makan, tempat tinggal disediakan, masih juga kurang. Dasar perempuan matre!” hina Darti. Tumpukan uang tadi dipangkunya.

“Dorong kursi rodaku keluar dari kamar perempuan gak tau diri itu! Sudah dipungut, diangkat derajatnya, bukannya terima kasih, malah maling uang suami,” umpatnya masih berlanjut.

Namun Arjanti tidak mau tinggal diam. Dia nyeletuk. “Uang itu untuk bayar hutang keluargaku. Sisa 3,5 juta lagi. Tolong tanda tangani bukti cicilannya!” Janti hendak melangkah ke tempat tersembunyi dimana dia menyimpan dokumen penting yang dipisah dengan uang pemberian Herlan.

“Itu lain lagi! Hutang kalian masih 16, 5 juta!” Darti menolak, baginya uang yang baru saja dikuasai, tak terhitung bayar hutang.

Janti pun menyahuti dengan suara menekan. “Mana bisa seperti itu! Mas Herlan memberi tanpa aku paksa, dan memang sudah kewajibannya sebagai seorang suami memenuhi kebutuhan istrinya!”

Namun dasarnya Darti pelit, tetap bersikeras menolak niat Arjanti.

“Ibu anggap apa aku selama ini, hah?! Melayani keluarga ini tetapi gak dianggap, apalagi diapresiasi. Bahkan gaji mbak Astuti, mbak Lasti lebih besar daripada uang bulanan pemberian mas Herlan!” ia pun protes, uang itu sangat berarti untuk membeli harga diri telah tergadai akibat terjerat hutang.

“Sudah tugas istri berbakti ke suami. Kamu perhitungan sekali, makanya gak dikasih keturunan! Perempuan licik sepertimu gak pantes jadi seorang ibu, penuh intrik kotor!” balasnya kejam.

Janti kembali hendak menyanggah, membela diri, namun suara berwibawa, sedikit berat, mengejutkannya.

“Jangan sekali-kali merendahkan diri kepada mereka yang tak pernah menghargaimu, Nduk!”

.

.

Bersambung.

1
Fitriyazahra
4 bab untuk hari ini...yeayy mksh kaka
Sri Rahayu
maju trus jnti gx usah tanya2 biar tak bantu dari sini..🤣🤣 emosi Uda diubun2.. hbis ne Thor buatt Janti ketemu orka dan jdi juragan kaya dikampung..law author na yg tak datangi 🤭🤭🤭
Andriani
👍👍👍👍
Lilik Lailiyah
mantep janti
🍤⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
bagus janti, pilihan yang tepat, klo herlan g mau, kamu yg dluan maju ke PA. sdh cukup kamu bersabar dan jadi wanita bodoh yang cuma di manfaatin.
mamaqe
cakeeppp...tokoh utama pilihan otor sll luar biasaaahhh karakternya
Sri Wahyuni
hajar 🫵👊👊👊
Eli Rahma
alhamdulillah akhirnya janti sadar
Eli Rahma
jijik bgt denger ngomong sayang,tapi gda buktinya
Rahmawati
bagus janti bulatkan Tekadmu, jgn mau lagi diam drmh itu begelar istri tl tdk dihormati
yuyun Rahayu
ditunggu updatenya ny lagi kak cublik buat si Parlan itu mendem kecubung , kehilangan si njati,dn setelah itu hdp Parlan di peloroti sma jablay nya itu biar nyaho
Arin
Dirimu pun berhak bahagia Janti..... Tunjukkan pada Herlan nanti bahwa dirimu bukan lah mandul. Dirimu bisa mendapatkan keturunan. Tapi pasangan mu bukan Herlan. Biar mantan suamimu nanti berfikir jadi..... siapa yang sebenarnya mandul???? 😁😁😁
Engkar Sukarsih
dasar bahlul kamu herlan 🤬🤬🤬dulu kamu dah di buang seperti sampah sama tu kunti.eh...do...do..e malah di pungut lagi sampahnya😤😤😤
Nabila Nabil
aku... aku tak maju neng pengadilan... kesuwen... aku tak seng dadi Hakime... tak ketok palu gadangku neng sirahe herlan.... 😤😤😤😤
Engkar Sukarsih
bagus Janti lepaskan lelaki brengsekmu itu 😤😤😤😤
Nabila Nabil
janti.... langsung sat set tendang manukke..... 😤😤😤😤
Arin
Akhirnya Janti mengambil keputusan yang tepat. Biar pun itu berat. Tapi itu adalah keputusan yang baik. Daripada terus makan hati.....
Nabila Nabil
Herlan mandul.... 🤣🤣🤣
Nabila Nabil
alhamdulillah ya allah... pulang janti... pulang wae ketimbang mangan ati... mending mangan tahu tempe tapi kumpul....
Nabila Nabil
ibumu aja melarang mereka duduk disofa kampret😤😤😤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!