Selama 365 hari, Arga hanya memiliki satu tujuan: menceraikan Nisa.
Terjebak dalam perjodohan keluarga yang tak diinginkannya, Arga secara sepihak menganggap pernikahan mereka tak lebih dari sekadar "kontrak". Baginya, Nisa hanyalah penghalang yang merampas kebebasannya untuk bersama Adelia—satu-satunya wanita yang benar-benar ia cintai. Segala sikap dingin, pengabaian, hingga wacana perpisahan Arga lemparkan demi membuat Nisa menyerah.
Dan malam itu, doa Arga terkabul.
Sadar bahwa memperebutkan hati pria yang jelas-jelas dimiliki wanita lain adalah sebuah kesia-siaan, Nisa akhirnya berhenti berjuang. Tanpa air mata, tanpa perdebatan, dan tanpa drama, ia menandatangani surat cerai itu dan melangkah pergi membawa sisa harga dirinya.
Anehnya, saat keinginannya benar-benar terkabul, Arga justru menyadari satu hal. Dia tak bisa hidup tanpa Nisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
"Adelia..." Arga mengulang nama itu dengan suara serak, persis seperti kaset kusut.
Hening kembali merajai kamar itu. Dua menit berlalu. Selama seratus dua puluh detik yang terasa mencekik leher, Arga hanya bisa berdiri mematung.
Otaknya berputar keras, menabrak jalan buntu demi jalan buntu mencari jalan keluar dari labirin yang ia ciptakan sendiri. Ia tidak mungkin melepaskan Adelia, wanita yang selama ini ia puja. Tapi malam ini, ia juga sadar bahwa ia tak sanggup membiarkan Nisa pergi meninggalkannya.
Lalu, di tengah keputusasaan yang menggelapkan akal sehatnya, sebuah ide gila meluncur begitu saja dari bibir pria itu.
"Adelia itu pengertian, Nis," bisik Arga, melangkah satu tindak mendekati istrinya. Matanya memancarkan secercah harapan yang salah alamat. "Kalau aku jelaskan semuanya dari awal... tentang Kakek, tentang harapan Mami dan Papi... dia pasti akan paham. Dia pasti akan terima dan cukup puas jadi istri kedua. Kita bisa tetap bersama sebagai keluarga utama, dan Adelia—"
"Cukup, Mas."
Potongan kalimat Nisa terdengar begitu pelan, namun efeknya bagaikan sabetan pedang yang langsung memutus lidah Arga.
Nisa menatap pria di hadapannya dengan sepasang mata yang membelalak, dipenuhi oleh rasa tak percaya, kekecewaan yang sangat pekat, dan rasa jijik yang tak lagi bisa disembunyikan.
"Nis, dengarkan aku dulu—"
"Aku bilang cukup!" suara Nisa bergetar hebat. Ia mencengkeram dadanya sendiri yang terasa seperti dihantam batu godam. "Kamu pikir ini cuma soal Adelia yang mau atau tidak menjadi yang kedua?"
Arga menelan ludah, tak berani menjawab.
"Aku yang nggak pernah sudi berbagi suami dengan wanita mana pun, Mas," desis Nisa tajam, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes satu per satu membasahi pipinya yang pucat. "Kamu pikir aku ini apa? Barang loakan yang bisa kamu simpan di rumah sementara kamu bersenang-senang di luar sana? Apalagi..."
Nisa menarik napas patah-patah, mengusap air matanya dengan punggung tangan secara kasar. "...aku tahu pasti, kalau suamiku akan jauh lebih berat sebelah pada siapa."
"Nisa, tidak. Aku janji akan adil. Aku akan—"
"Berhenti membual!" potong Nisa keras, membuang muka. "Malam ini sudah cukup membuktikan betapa serakah dan egoisnya kamu, Mas. Kamu menginginkan segalanya, tapi kamu menolak membayar harganya. Silakan simpan mimpimu itu, karena aku tidak akan pernah ikut campur lagi di dalamnya."
Nisa membalikkan badan, berjalan cepat menuju sofa, dan membanting tubuhnya ke sana. Ia menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya, menolak mendengarkan apa pun lagi dari mulut pria yang kini hanya bisa mematung layaknya patung bernapas di tengah ruangan.
*****
Tiga hari berlalu dengan ketegangan yang menyesakkan, hingga akhirnya hari kepulangan orang tua Arga pun tiba.
Di teras depan rumah yang disinari matahari pagi, suasana haru begitu kental terasa. Kakek duduk di kursi rodanya sambil menggenggam kedua tangan Nisa dengan sangat erat. Air mata menggenang di pelupuk mata pria sepuh itu.
"Kakek pulang dulu ya, Nduk," ucap Kakek dengan suara serak. "Jaga kesehatanmu baik-baik. Jangan terlalu capek mengurus rumah sebesar ini sendirian."
"Iya, Kek. Kakek juga rajin minum obatnya ya," balas Nisa lembut, memaksakan seulas senyum hangat seraya mencium punggung tangan Kakek dengan takzim.
Mami Kintan melangkah maju, memeluk Nisa erat-erat hingga wanita itu sedikit terhuyung. "Mami tunggu kabar baik dari kalian, ya. Pokoknya, kalau ada apa-apa, kalau Arga berani macam-macam atau menyakitimu, langsung telepon Mami. Biar Mami yang terbang ke sini dan memukul kepalanya."
Nisa tertawa kecil, meski dadanya terasa sesak. "Iya, Mi. Pasti."
Papi Tommy menepuk pundak Arga dengan keras. "Jaga istrimu, Ga. Dia itu permata keluarga kita. Ingat itu."
"Iya, Pi," jawab Arga kaku. Tangannya terasa dingin.
Setelah serangkaian perpisahan yang menguras air mata itu, Mami dan Papi masuk ke dalam mobil, disusul oleh perawat yang membantu Kakek naik. Mobil perlahan bergerak mundur, melaju meninggalkan pekarangan rumah, hingga akhirnya benar-benar hilang dari pandangan di ujung jalan perumahan.
Begitu ekor mobil itu tak terlihat lagi, senyum hangat di wajah Nisa luntur seketika.
Tidak ada lagi kata-kata. Tanpa melirik Arga sedikit pun, Nisa memutar tubuhnya, melangkah masuk ke dalam rumah, dan berjalan lurus menaiki tangga menuju kamar utama. Arga yang menyadari perubahan drastis itu bergegas menyusul dari belakang.
Di dalam kamar, Nisa sudah menarik koper sedang miliknya dari dalam lemari. Ia membuka ritsletingnya dengan cepat, lalu memindahkan pakaian-pakaiannya dari laci ke dalam koper tanpa membuang waktu sedetik pun.
"Nis..." panggil Arga panik. Ia berdiri di ambang pintu, melihat istrinya berkemas dengan gerakan yang sangat efisien. "Kamu mau apa?"
"Pulang," jawab Nisa singkat tanpa menoleh.
"Pulang ke mana? Ini rumahmu!"
"Ini rumahmu, Mas. Bukan rumahku," ralat Nisa datar. Ia menekan tumpukan bajunya, lalu menutup koper itu. Bunyi ritsleting yang ditarik terdengar begitu nyaring di telinga Arga.
"Nis, Mami dan Papi baru saja pergi! Kenapa kamu harus buru-buru?!" Arga melangkah masuk, dadanya bergemuruh hebat. Ia ingin menahan tangan wanita itu. Ia ingin merampas koper itu dan membuangnya ke luar jendela.
Nisa menegakkan tubuhnya, memegang gagang koper, lalu menatap Arga dengan pandangan yang kosong.
"Perjanjian kita hanya sampai mereka pulang, Mas. Mereka sudah pulang, dan tugasku di sini sudah selesai," ucap Nisa tenang. Ia melangkah maju, melewati Arga begitu saja. "Surat cerai itu, tolong segera urus ke pengadilan. Semakin cepat sidang pertama digelar, semakin baik untuk kita berdua."
Arga memutar tubuhnya. Ia melihat Nisa menyeret koper itu menuju tangga.
"Nisa, tunggu! Aku—"
Arga membuka mulutnya, mencoba meneriakkan sesuatu. Ia ingin memohon Nisa untuk tinggal. Ia ingin mengatakan bahwa ia tidak akan menemui Adelia lagi. Ia ingin merengkuh tubuh istrinya dan meminta maaf.
Namun, lidahnya terasa begitu kelu. Rahangnya membeku seolah disuntik mati rasa. Kata-kata itu tersangkut di tenggorokan, mencekiknya hidup-hidup. Arga hanya bisa berdiri mematung, menatap nanar punggung Nisa yang perlahan menuruni anak tangga, membawa pergi seluruh nyawa dari rumah yang kini terasa seperti sebuah kuburan megah.
biar kedua orang tuanya thu kelakuannya selama mnjdi suami km nis😡
aku suka karya2 mu thoorrr
semangat berkarya terus ya thorrrr
asyik....
hajar Bu, Pak anakmu perlu dikasih pelajaran klu perlu usir dr rumah , sita semua aset si Arga