Ketika kebocoran fasilitas riset menyebarkan mutasi jamur pembawa wabah kematian, dunia runtuh dalam hitungan hari dan mengubah manusia menjadi mayat hidup yang dikendalikan spora ganas. Di tengah kekacauan Kota Mati, Luna harus memimpin empat penyintas lain, Steve si petarung, Nancy sang peretas, Endru si tenaga medis, dan Onad sang mekanik humoris. untuk bertahan hidup dari kejaran monster cordyceps dan ancaman kejam kelompok penyintas manusia lainnya. Di antara semak sisa peradaban, adegan penjarahan yang menegangkan, serta benih-benih cinta yang hangat di tengah malam kelam, mereka harus memperebutkan satu-satunya wilayah safe zone yang tersisa. Mampukah naluri survival dan ikatan manusiawi membawa kelimanya selamat, ataukah mereka justru hancur oleh kejamnya sesama penyintas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 - PENTUNGAN DAN AYUNAN
Otot-otot di kedua lengan Steve terasa panas bagaikan terbakar. Cengkeramannya pada pipa besi tebal sepanjang satu meter itu kian mengerat, hingga buku-buku jarinya memutih di balik lapisan noda darah kehitaman dan oli mesin yang lengket. Napasnya memburu kencang melalui hidungnya yang kembang kempis, membawa aroma amis dan debu spora yang menyesakkan dada. Di lantai dua gedung parkir bertingkat yang remang-remang itu, Steve berdiri tegak bagaikan benteng terakhir di antara himpitan bangkai-bangkai mobil yang saling berdesakan.
"Maju kalian semua, bangsat!" teriak Steve seraya mengayunkan pipa besinya secara melingkar.
BUK!
Pipa besi padat itu menghantam telak pelipis sesosok zombie yang mencoba merangkak naik dari atas kap mobil sedan. Benturan keras logam beradu dengan tempurung kepala berbunyi amat nyaring, melempar tubuh makhluk terinfeksi itu hingga tersungkur hebat menghantam kaca depan kendaraan di belakangnya. Kaca mobil retak seribu, menampung lelehan darah hitam berbau busuk yang keluar dari kepala sang monster.
Namun, tidak ada waktu bagi Steve untuk menarik napas lega.
Tiga zombie lainnya menerjang serentak dari celah antara dua mobil minibus. Kerak jamur Cordyceps berwarna cokelat kehitaman menutupi sebagian besar wajah mereka, memancarkan bau busuk tanah lembap yang menyengat. Gerakan mereka kaku tetapi dipenuhi dorongan keberingasan murni yang tidak mengenal rasa sakit.
Steve menarik kakinya satu langkah ke belakang, mengambil tumpuan kokoh di atas lantai semen yang licin oleh ceceran oli. Sebagai mantan pekerja konstruksi yang terbiasa dengan kerja fisik berat dan pertarungan jalanan, ia tahu betul cara memaksimalkan bobot tubuhnya dalam setiap seruan serangan.
SRET! BRAM!
Ayunan mendatar pipa besi Steve membelah udara fajar, menghantam dada zombie terdepan hingga tulang rusuk makhluk itu patah berkeping-keping. Dorongan tenaga Steve melempar zombie pertama mundur, merobohkan dua zombie di belakangnya bagaikan efek domino.
"Sialan, tidak ada habisnya makhluk-makhluk ini!" umpat Steve sambil menyapu darah yang menetes ke matanya dengan paha lengan baju.
Darah di pelipis Steve sendiri mengucur tipis akibat goresan pecahan kaca mobil beberapa menit lalu. Bau darah segar manusia itu menjadi pancingan yang semakin membakar gairah memburu gerombolan terinfeksi di lantai dua gedung parkir. Rintihan parau berkepanjangan dan gesekan langkah kaki menyeret bersahut-sahutan dari arah tangga darurat, menandakan gelombang zombie baru sedang bergerak naik.
Steve melirik cepat ke sekelilingnya. Posisinya benar-benar tidak menguntungkan. Ia terkunci di sudut ramp jalan turun gedung parkir. Di belakangnya hanya ada dinding beton pembatas setinggi dada yang menghadap langsung ke area jalan luar, sementara di depannya lorong parkir dipenuhi oleh belasan monster yang haus darah.
"Paling tidak aku akan membawa kalian semua bersama ke neraka." bisik Steve dengan senyum getir yang menggaris kaku di bibirnya.
Ia kembali menegakkan punggungnya yang pegal. Refleks fisiknya yang tangguh ditempa dari bertahun-tahun mengangkat material bangunan berat dan perkelahian amatir. Setiap gerakan Steve sangat efisien—tidak ada gerakan tarian yang terbuang percuma. Ia tidak mencoba melakukan manuver indah; ia hanya mengayunkan pipa besi berat itu dengan gaya tebas dan hantam yang mematikan.
BUK! CKLAK!
Ayunan bawah pipa besi Steve menghantam lutut seorang zombie wanita yang menerobos dari samping. Sendi lutut makhluk itu patah terbalik, membuatnya ambruk tersungkur di lantai. Tanpa membuang detik, Steve mengangkat pipa besinya tinggi-tinggi dengan kedua tangan, lalu menghantamkannya secara vertikal tepat ke tengah kepala zombie yang terkapar tersebut.
PRANG!
Kepala makhluk itu hancur berhamburan di atas semen, menghentikan kejang tubuhnya seketika.
Namun, keletihan fisik mulai menggerogoti stamina Steve. Lengannya terasa makin berat bagaikan ditumpuki batangan timah. Setiap kali ia mengangkat pipa besi, sendi bahunya menjerit kesakitan. Keringat dingin mengalir deras membahasi kemeja hitamnya yang sudah robek di bagian dada.
Dari balik kegelapan lorong parkir, dua zombie jenis pelari cepat mendadak melompat keluar. Kerak spora di leher mereka belum terlalu tebal, menandakan mereka baru saja terinfeksi beberapa jam yang lalu. Mereka meluncur deras menuruni ramp, memanfaatkan kecepatan fisik yang melampaui batas manusia biasa.
"Awas!" teriak Steve refleks seraya mendorong kap mobil sedan ke arah mereka untuk menghalangi rute.
Namun, salah satu zombie pelari itu melompati kap mobil dengan kelincahan gila, mendarat tepat dua langkah di hadapan Steve. Tangan zombie itu yang berkuku tajam dan kehitaman terulur lurus mengincar tenggorokan Steve.
Steve mencoba mengayunkan pipa besinya dari sisi kanan untuk menangkis.
JLEK!
Sial baginya, ujung pipa besi tebal itu malah tersangkut kuat di antara celah besi bumper depan mobil sedan. Daya dorong ayunan Steve yang terlalu kuat membuat pipa itu terkunci rapat, tak bisa ditarik kembali dalam hitungan detik yang sangat krusial.
"Bangsat! Lepas!" seru Steve sambil menarik pipa besinya dengan sekuat tenaga hingga urat lehernya menonjol.
Pipa besi itu tetap tersangkut kaku.
Zombie pelari itu menggeram nyaring, membuka mulutnya yang dipenuhi cairan kehitaman berbau tengik. Gigi-giginya melayang hanya beberapa sentimeter dari leher Steve. Tanpa senjata di tangan dan posisi tubuh yang tidak seimbang, Steve terdesak hebat. Ia terpaksa melepaskan pegangan pipa besinya, mengandalkan kedua tangan telanjang untuk menahan rahang makhluk itu dengan segenap sisa tenaganya.
"Jangan mimpi bisa menggigitku, monster kotor!" geram Steve dengan gigi gemeretak, menahan tekanan rahang zombie yang berusaha menancapkan giginya ke lehernya.
Cairan spora pahit dari mulut zombie itu menetes mengenai lengan Steve, membakar kulitnya dengan rasa perih yang hebat. Steve mengerahkan seluruh kekuatan otot dadanya, membanting tubuh zombie itu ke samping hingga menghantam pintu mobil.
Namun, zombie pelari kedua sudah berada di atas kap mobil, siap melompat dan menerkam Steve yang kini tanpa perlindungan sama sekali dari arah samping.
Steve memejamkan mata sekejap, bersiap menerima hantaman tak terelakkan itu.
STAS!
Suara siulan tajam yang amat presisi membelah udara fajar dari luar gedung parkir.
Sebuah anak panah karbon berujung broadhead melesat tanpa suara dari arah pos penjaga di bawah, menembus tepat di pelipis zombie pelari kedua saat makhluk itu baru saja melayang di udara. Daya dorong anak panah itu begitu dahsyat hingga melempar kepala sang zombie ke samping, membuat tubuhnya jatuh terhempas tak bernyawa di atas lantai semen sebelum sempat menyentuh Steve.
Steve terbelalak kaget. Ia menoleh menatap zombie yang tumbang di sampingnya dengan anak panah hitam yang menancap dalam di kepalanya.
"Tembakan panah?" bisik Steve terkejut.
Kesempatan emas itu tidak disiakan oleh Steve. Adrenalinnya kembali memuncak. Ia memutar tubuhnya, meraih kembali gagang pipa besi yang tersangkut di bumper mobil, lalu menyentaknya ke atas dengan satu entakan brutal hingga besi bumper itu terbelah patah.
BRAM!
Dengan pipa besi yang sudah bebas, Steve memutar tubuh tiga ratus enam puluh derajat, mengayunkan pentungannya dengan seluruh sisa tenaga yang dimilikinya. Ayunan penuh amarah itu menghantam dada zombie pelari pertama yang baru saja mencoba bangkit kembali.
Tubuh makhluk itu remuk dan terlempar sejauh dua meter menghantam dinding benteng parkiran.
Napas Steve terengah-engah hebat. Dada bidangnya naik turun tidak teratur, sementara tangannya gemetaran memegang pipa besi yang kini dipenuhi noda darah kehitaman tebal. Sisa-sisa zombie lain di lantai dua itu tampak tertahan sejenak, ragu oleh pemandangan pembantaian brutal di depan mereka dan ancaman tembakan tersembunyi dari luar.
Steve menyapu darah dan minyak di wajahnya dengan punggung tangan, lalu perlahan berjalan mendekati dinding pembatas beton gedung parkir. Ia menyandarkan dadanya yang lelah di atas dinding beton, melemparkan pandangan tajamnya turun ke arah pos penjaga di bawah.
Di balik celah jendela pos yang hancur, ia melihat sesosok figur wanita berdiri tegap dengan busur recurve terangkat anggun di tangannya.
"Siapa wanita itu?" gumam Steve pelan di tengah desah napasnya yang berat, matanya menyalakan rasa takjub dan penasaran yang mendalam.