Tiga pemuda bokek di Desa Kertajaya nekat mencari cara mendapatkan uang. Alih-alih menemukan keberuntungan, mereka justru selalu terjebak dalam masalah kocak yang bikin hidup mereka semakin kacau. Tanpa mereka sadari, petualangan aneh yang lebih besar sudah menunggu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Bawah Tenda Terpal Pasar Desa
Suasana pasar pagi di Desa Kertajaya selalu berhasil menyajikan sirkus kecil tanpa tiket masuk.
Di bawah deretan tenda terpal warna-warni yang menaungi lapak-lapak pedagang, ribuan suara beradu menjadi satu teriakan tukang ayam potong yang menawarkan bagian sayap, bunyi hantaman pisau daging di atas talenan kayu, tawar-menawar sengit antara emak-emak dasteran dan penjual ikan asin, disusul deru mesin angkutan umum yang ngetem sembarangan di tepi jalan aspal.
Raka berjalan di barisan depan dengan tatapan lurus, menyapu setiap sudut lapak pedagang yang mungkin membutuhkan tenaga tambahan untuk mengangkat karung atau menata barang. Di samping kanannya, Dimas melangkah dengan santai sambil kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket, mengamati kerumunan orang berlalu-lalang.
Sementara itu, Bayu mendadak berhenti di depan sebuah lapak penjual mainan plastik anak-anak yang memajang berbagai macam benda aneh berlampu warna-warni. "Wah, keren juga pistol air model bazoka ini. Kalau saya tembakkan ke muka Bu Ratna pas nagih utang, kira-kira ampuh nggak ya?" gumam Bayu sambil mengangkat sebuah pistol mainan plastik berwarna hijau terang.
"Kalau lo tembak pakai itu, yang ada bukan Bu Ratna yang takut, tapi dompet lo bakal makin menipis karena harus ganti rugi mainan orang," komentar Dimas tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.
Di belakang mereka bertiga, Zahmira berjalan dengan dagu terangkat tinggi. Perempuan bergaun ungu itu sibuk mengipas-ngipas udara di depan wajahnya menggunakan telapak tangan, memasang ekspresi jijik yang luar biasa.
"Tempat apa ini sebenarnya?!" gerutu Zahmira setengah berbisik, menghindari cipratan air kubangan becek di dekat lapak tukang udang basah. "Bau amis ikan berpadu dengan keringat manusia di ruang sempit ini benar-benar menyiksa indra penciumanku! Kenapa kalian suka sekali mendatangi sarang kekacauan seperti ini?"
Raka menoleh ke belakang sekilas, tersenyum tipis melihat Zahmira yang berjalan berjinjit agar gaun ungunya tidak terseret lumpur. "Namanya juga pasar tradisional, Mbak. Kalau mau yang wangi dan sejuk, silakan balik ke istana gaib atau ke mal kota kabupaten yang ber-AC. Di sini tempatnya cari rezeki."
Zahmira mendengus tajam, melirik Raka dengan tatapan sebal. "Aku ikut bukan untuk mendengarkan ceramahmu, manusia praktis! Aku hanya ingin melihat seberapa payah usaha kalian demi mendapatkan beberapa lembar kertas bergambar angka itu."
"Kalau begitu, tolong jangan bikin onar atau menatap pedagang sayur itu kayak mau ngajak duel," timpal Bayu sambil meletakkan kembali pistol mainan ke tempatnya. "Bisa-bisa kita dikira rombongan dukun santet yang lagi survei lokasi."
Mereka terus melangkah menyusuri lorong pasar hingga tiba di sebuah toko sembako berukuran cukup besar yang plang namanya bertuliskan Toko Sembako Berkah - Hj. Marni. Di depan toko tersebut, tampak puluhan karung beras dan dus-dus mie instan tertata rapi. Seorang wanita paruh baya bertubuh subur dengan kalung emas melingkar di lehernya Haji Marni sedang duduk di balik meja kasir sambil menghitung uang kembalian.
Raka merapikan kerah jaketnya, lalu melangkah mendekati meja kasir dengan senyum paling ramah yang ia miliki. "Pagi, Bu Haji Marni. Wah, tokonya kelihatan makin laris saja hari ini."
Haji Marni mendongak, melihat Raka, Bayu, dan Dimas berdiri di depannya. Wajahnya langsung menyunggingkan senyum lebar. "Eh, anak-anak kos nomor empat! Pagi juga, Raka. Tumben kalian mampir ke toko saya. Mau belanja bulanan lagi? Kemarin kan katanya dompet lagi krisis, sekarang sudah senyum-senyum aja."
"Ah, itu... alhamdulillah ada rezeki sisa kemarin, Bu," dalih Raka cepat sambil nyengir canggung.
"Sebenarnya kedatangan kami bertiga ke sini mau nawarin diri, Bu. Kali aja toko Bu Haji butuh tenaga tambahan buat ngangkut karung beras atau nata barang hari ini. Tenaga kami dijamin kuat dan anti-letoy."
Haji Marni menatap ketiga pemuda itu bergantian dari atas ke bawah, lalu tertawa renyah. "Wah, kebetulan banget! Dua hari lalu kuli panggul reguler saya lagi pulang kampung karena anaknya sunatan. Karung beras kiriman dari gudang baru saja turun di belakang, butuh tenaga buat dipindah ke dalam."
Bayu langsung berbinar-binar penuh semangat. "Nah, pas banget tuh, Bu! Soal angkat-mengangkat karung, serahin ke kita berdua. Dimas bagian mikir, saya bagian gaya, Raka bagian kerja!"
"Heh, enak aja!" protes Raka menyenggol bahu Bayu. "Kerjanya bareng-bareng, dong!"
Dimas hanya mengangguk tenang. "Berapa upahnya, Bu Haji? Biar kami tahu estimasi keringat yang harus dikeluarkan."
"Tenang soal upah, pasti pas buat makan siang kalian bertiga plus es teh manis di warung sebelah," jawab Haji Marni ramah. "Pintu gudang belakang sebelah sana, ya. Silahkan langsung mulai kalau sudah siap."
"Siap, Bu Haji! Laksanakan!" seru Bayu bersemangat, langsung memimpin jalan menuju bagian belakang toko.
Di sudut luar dekat pintu gudang, Zahmira berdiri melipat tangan di dada, mengamati tiga pemuda itu yang mulai bersiap mengangkat karung-karung beras putih berukuran lima puluh kilogram. Sang putri jin memutar bola matanya malas.
"Pekerjaan yang sangat memprihatinkan," gumam Zahmira pelan. "Para bangsawan di alamku menggunakan mantra angin untuk memindahkan ribuan ton hasil bumi dalam sekejap, sementara kalian malah memilih merusak punggung demi beberapa keping koin."
Baru saja Zahmira hendak melanjutkan gerutuannya, ekor matanya menangkap sosok seorang gadis muda berseragam kasual yang sedang berjalan mendekat ke arah toko sembako membawa keranjang belanjaan plastik. Gadis itu berambut dikuncir kuda, berwajah manis, dan tampak sangat familiar bagi warga sekitar Maya, anak pemilik warung kelontong sebelah yang juga mahasiswi tingkat akhir di perguruan tinggi swasta setempat.
Maya menghentikan langkahnya tepat di dekat Zahmira berdiri (meskipun ia tidak bisa melihat wujud sang putri jin), lalu tersenyum ramah kepada Raka yang baru saja keluar dari gudang membawa karung beras di pundaknya.
"Pagi, Raka! Rajin banget pagi-pagi sudah ngeborong atau jadi kuli di toko Bu Haji?" sapa Maya riang, meletakkan belanjaannya sebentar di atas meja kayu.
Raka menurunkan karung beras tersebut dengan hati-hati, lalu menyeka keringat di pelipisnya dengan punggung tangan. "Pagi juga, Maya. Bukan ngeborong, tapi lagi cari kesibukan biar badan nggak pada kaku. Tahu sendiri kan, anak kos kalau nggak gerak badannya gampang masuk angin."
Melihat interaksi akrab antara Raka dan gadis berambut kuncir kuda itu, Zahmira yang sejak tadi berdiri diam tiba-tiba merasakan sensasi aneh di dalam dadanya. Alis ungunya berkedut tidak suka.
Matanya menatap tajam ke arah Maya, mengamati setiap gerak-gerik gadis manusia tersebut dengan sorot penuh selidik.
Siapa perempuan fana berwajah ceria ini? batin Zahmira mendengus kesal di tempatnya. Mengapa ia datang dan tersenyum sok akrab kepada manusia praktis itu? Apakah di desa ini setiap perempuan bebas menyapa siapa saja tanpa izin dari penguasa wilayah?
Tanpa menyadari kehadiran tatapan tajam sang putri jin di sampingnya, Maya masih asyik mengobrol dengan Raka soal tugas kuliah dan harga cabai yang naik minggu ini, membuat Zahmira semakin merapatkan bibirnya rapat-rapat dengan dada yang bergemuruh aneh.