Selama bertahun-tahun, Bellona terbiasa menjalani hidup tanpa sosok ayah yang benar-benar hadir. Sampai suatu hari, keadaan memaksanya untuk tinggal bersama lelaki yang selama ini hanya ia kenal dari cerita orang lain.
Pertemuan mereka tidak berjalan seperti yang Bellona bayangkan.
Ada banyak pertengkaran, kecanggungan, dan hal-hal yang terlalu sulit untuk dibicarakan. Mereka bahkan tidak tahu bagaimana caranya menjadi keluarga setelah bertahun-tahun hidup sebagai orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Kerja
"Yakin ini bajunya kagak kependekan?" bisik Bellona sambil meremas ujung rok hitam yang melingkar di paha atasnya.
Keduanya kini sudah berdiri di dalam ruang ganti karyawan sebuah kafe gelato estetik yang bertema vintage. Seragam kerja di sana rupanya berupa kemeja putih berlengan pendek dengan kerah sailor, dipadu rok lipat hitam yang jatuh sedikit di atas lutut, lengkap dengan celemek mini berlogo kafe di bagian pinggang.
Viola yang sedang mengikat rambutnya jadi gaya ponytail menoleh dari cermin. "Gak kependekan kok, Bell! Ini emang standar seragam kasir sama server di sini. Lagian cocok banget tahu di kamu, kelihatan lucu!"
Bellona menarik-narik ujung roknya ke bawah, berusaha membuatnya sedikit lebih panjang walau sia-sia. "Gue kagak biasa pake rok setinggi ini, Vi. Mana agak risih lagi."
"Awal-awal emang kerasa kaku, tapi nanti pas udah sibuk melayani pembeli juga kamu bakal lupa sendiri," sahut Viola santai sambil merapikan celemeknya. "Yuk, aku kenalin ke Manajer Andre dulu. Dia orangnya baik kok, yang penting kamu cepat paham cara nulis pesanan sama nempatin es krimnya ke wadah."
Bellona menghela napas pasrah, menepuk-nepuk roknya sekali lagi sebelum mengekor di belakang Viola.
Manajer Andre—pria muda berusia dua puluhan yang ramah—langsung menyambut Bellona dengan hangat setelah Viola memberikan jaminan bahwa Bellona rajin dan cepat belajar. Tanpa proses yang berbelit-belit, Bellona langsung diterima untuk masa percobaan shift sore itu juga.
Tugasnya sederhana: berdiri di balik konter kaca berisi puluhan rasa gelato yang berwarna-warni, merapikan cangkir kertas dan cone, serta mengambilkan scoop es krim sesuai pesanan pengunjung.
"Nah, Bell, kamu pegang konter sebelah kiri ya," ujar Viola ceria sambil memegang scoop es krim. "Kalau ada yang bingung, panggil aku aja. Aku di konter kasir kok."
"Sip," balas Bellona pendek.
Ia memakai sarung tangan plastik higienis, berdiri tegak di balik konter. Walau masih sedikit risih dengan roknya yang di atas lutut setiap kali harus membungkuk mengambil cup di rak bawah, Bellona merasa ada kepuasan tersendiri saat memegang scoop gelato pertama.
Di tempat ini, di antara aroma manis vanila dan wafel renyah, ia bisa melupakan sejenak masalah Devan, tentang Sarah, dan kekacauan di rumah. Ia fokus pada satu tujuan: mencari uangnya sendiri.
Hari pertama kerja di kafe gelato rupanya sukses membuat kaki Bellona pegal setengah mati. Berdiri berjam-jam sambil bolak-balik membungkuk menyendok gelato membuat otot pahanya berasa mau putus. Tapi di sisi lain, kesibukan itu benar-benar ampuh membuat otak Bellona bersih dari bayangan Devan.
Saat jam menunjukkan pukul tujuh malam, shift sore mereka akhirnya selesai.
Bellona dan Viola kembali ke ruang ganti karyawan untuk mengganti baju seragam. Begitu melepas rok lipat di atas lutut yang membuat risih itu dan berganti ke celana jins lamanya, Bellona mendesah lega luar biasa.
"Gimana hari pertama, Bell?" tanya Viola sambil menyisir rambutnya di depan cermin. "Capek banget ya?"
"Lumayan," sahut Bellona pendek sambil mengikat tali sepatunya. "Tapi asik sih. Daripada melamun kagak jelas."
Viola tersenyum senang. "Bagus deh kalau kamu suka! Besok kita masuk shift sore lagi jam tiga ya."
Mereka berdua keluar dari kafe bersama. Di luar, jalanan kota sudah penuh lampu-lampu kendaraan malam. Viola dijemput oleh supir keluarganya, sementara Bellona memilih jalan kaki sebentar ke perhentian angkot.
Sementara itu, di rumah tua, Devan sudah seperti cacing kepanasan.
Pria itu jalan bolak-balik dari ruang tamu ke teras rumah sambil memegang ponsel tuanya yang tidak ada respons. Jam dinding menunjukkan pukul delapan malam, tapi Bellona belum kelihatan batang hidungnya. Padahal Devan tahu persis anak SMA harusnya sudah pulang awal gara-gara guru rapat.
"Ini bocah ke mana sih anjir..." umpat Devan panik sendiri, meremas rambutnya kusam. "Apa dia kabur gara-gara gue semalem? Atau dia ngambek gara-gara bentakan kemarin?"
Devan baru saja berniat menyalakan motor tuanya untuk mencari Bellona keliling kota. Namun tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari ujung gang.
Sosok Bellona muncul dengan ransel sekolah terikat di punggungnya, berjalan santai walau mukanya kelihatan capek parah.
Devan langsung menghembuskan napas lega yang panjang, tapi sedetik kemudian raut panik di mukanya berubah jadi mode omel-omel khas Devan. Pria itu berkacak pinggang di teras.
"Woy, Bocah! Dari mana aja lo jam segini baru pulang?!" bentak Devan kencang saat Bellona sampai di depan pagar. "Lo tahu kagak ini udah jam berapa?! Gue kira lo diculik om-om gatal atau hanyut di got!"
Bellona melempar tatapan judes andalannya, melewati Devan begitu aja tanpa rasa bersalah.
"Kagak usah bising deh," cetus Bellona ketus sambil melepas sepatunya di teras. "Gue ada urusan."
"Urusan apaan sampai malam begini?!" Devan mengekor di belakang Bellona masuk ke rumah, mukanya masih tertekuk kesal. "Lo kan baru sembuh dari nangis-nangis kemarin, sekarang malah kelayapan kagak ada kabar!"
Bellona berbalik mendadak, menatap Devan dengan dagu terangkat. "Gue habis kerja."
Devan yang hendak nyerocos langsung tertahan. Matanya membelalak kaget. "Kerja?! Kerja apaan lo masih sekolah?!"
Devan mematung di tempatnya, menatap Bellona dengan raut wajah tidak percaya. Lipatan di dahinya semakin dalam, memancarkan rasa terkejut sekaligus cemas yang bercampur aduk.
"Kerja apaan?" tanya Devan dengan suara yang sedikit meninggi. "Lo masih SMA, Bellona. Ngapain lo pake kerja segala?"
Bellona menyilangkan kedua tangannya di dada, melemparkan pandangan dingin tanpa minat untuk menjelaskan lebih rinci.
"Kagak usah kepo," sahut Bellona ketus. "Yang jelas gue cari duit sendiri. Jadi lo kagak usah sok ngatur-ngatur hidup gue."
"Gue bukan mau sok ngatur!" Devan memotong cepat, mengusap wajahnya yang tampak frustrasi. "Tapi lo itu tanggung jawab gue selama tinggal di sini. Kalau ada apa-apa sama lo di luar sana pas malam-malam begini, gimana?"
"Tanggung jawab?" Bellona terkekeh sinis, menyuarakan nada ejekan yang begitu tajam. "Sejak kapan lo punya hak buat ngomongin tanggung jawab? Gue bisa jaga diri gue sendiri. Lagian duit yang gue cari juga buat kebutuhan gue, bukan buat nyusahin lo."
Kata-kata itu seketika mengunci mulut Devan. Pria itu menyandarkan badannya di tepi meja, menatap Bellona yang berbalik melangkah menuju kamar tanpa menunggunya merespons lebih lanjut. Ada rasa perih yang menjalar di dada Devan—ia sadar betul bahwa keinginan Bellona untuk bekerja adalah bentuk penolakan terang-terangan atas kehadirannya sebagai sesosok ayah.
"Terserah lo mau kerja apa," kata Devan pelan, menatap punggung gadis itu sebelum pintu berjarak beberapa senti dari penutupnya. "Tapi ingat batas waktu. Jangan pulang kemalaman lagi. Gue kagak mau Sarah atau siapa pun menyalahkan gue kalau lo kenapa-napa."
Bellona tidak menghentikan tangannya. Ia memutar gagang pintu dan menutupnya rapat-rapat tanpa memberikan sahutan balik.
BRAK!
Devan menghembuskan napas berat, menatap pintu kamar yang terkunci rapat sebelum akhirnya berjalan lesu menuju dapur untuk menyeduh kopi. Sementara di balik pintu, Bellona merebahkan tubuhnya yang lelah di atas kasur, memejamkan mata sembari merapatkan jemarinya di atas dada.