Arabella (18th), gadis SMA yang haus kasih sayang akibat diabaikan keluarga, dia mencari kasih sayang itu dari luar. tanpa dia berpikir panjang bahwa dia di manfaatkan oleh dunia luar yang ia percaya sebagai rumah.
Merasa putra pertamanya, Nathan tak dekat dan mengabaikan bella. orang tua Nathan mengirim sang adik untuk membatu mengurus Bella.
Karena sikap liar Bella dengan kekasihnya itu membuat christian menyimpan rasa pada Bella. hingga perasaan itu berubah menjadi obsesi terlarang.
.
.
Happy reading ✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32.
Cipratan air yang besar perlahan mereda, menyisakan riak-riak kecil yang memantulkan cahaya sore di permukaan kolam. Di dalam air yang jernih, tubuh mereka terperangkap dalam jarak yang teramat dekat.
Christian merengkuh pinggang ramping Bella dengan satu tangan, menariknya semakin rapat hingga tidak ada lagi ruang tersisa di antara tubuh basah mereka. Kemeja gelap yang dikenakan Christian menempel ketat di dada bidangnya, sementara Bella bisa merasakan debar jantung pria itu bergemuruh kuat di balik pakaian yang basah kuyup.
Tatapan mereka beradu dalam sepersekian detik yang terasa begitu panjang dan menghipnotis. Manik mata cokelat gelap Christian memancarkan kilatan hasrat yang begitu membara—sebuah tatapan lapar dari seorang pria matang yang sudah terlalu lama menahan diri, memendam hasrat terhadap tubuh gadis dalam dekapannya itu.
Napas mereka saling berkejaran, berhembus hangat di antara kulit wajah yang basah. Christian tak lagi sanggup menahan dorongan liar di dalam dirinya. Bayangan lekuk tubuh Bella saat berenang tadi kembali berputar di kepalanya, memicu api penguasaan yang sulit dikendalikan.
Perlahan namun pasti, Christian mendekatkan wajahnya. Hidung mereka hampir bersentuhan, dan aroma maskulin pria itu bercampur aroma air kolam memenuhi indra penciuman Bella. Bibir Christian bergerak mendekat, semakin menipiskan jarak hingga bibir mereka hampir menempel satu sama lain. Sensasi panas dan tegang langsung menjalar ke seluruh tubuh Bella.
Namun, di detik-detik terakhir sebelum bibir mereka bersentuhan, kesadaran Bella mendadak menyentak kewarasannya. Jantungnya berdegup panik. Dengan gerakan cepat, Bella memalingkan wajahnya ke samping dan memejamkan mata rapat-rapat, menolak sentuhan terlarang itu.
"Om... jangan..." cicit Bella gemetar, suaranya nyaris tenggelam oleh desau angin sore.
Mendengar bisikan putus asa itu, kewarasan Christian seolah disiram air dingin. Pria paruh baya itu mengerjap cepat, menarik napas dalam-dalam untuk menetralkan gejolak gairahnya yang nyaris meledak. Ia langsung menegakkan tubuhnya, melonggarkan cengkeraman di pinggang Bella, lalu mengusap wajahnya yang basah dengan sebelah tangan.
"Maafkan aku, Arabella..." ucap Christian dengan suara serak yang sarat akan penyesalan semu. "Aku... kehilangan kendali."
Bella masih mematung, menunduk dalam-dalam dengan pipi merona merah padam, tidak berani menatap mata sang paman.
Christian berniat segera mengakhiri situasi canggung dan berbahaya ini. Ia bergerak hendak meraih tepi kolam untuk naik ke atas. Namun, begitu ia mencoba mengangkat tubuhnya, gerakannya terhenti seketika.
Sial, batin Christian mengumpat dalam hati.
Efek kedekatan intens dan gairah yang sempat memuncak di dalam air membuat tubuhnya memberikan respons biologis yang sangat nyata. Di balik kemeja gelapnya yang basah dan menempel ketat, ia mengalami ereksi yang jelas. Tidak mungkin baginya untuk naik ke atas permukaan kolam dalam kondisi seperti itu di hadapan Bella. Ia harus menunggu beberapa saat hingga keadaannya mereda.
Di sisi lain, Bella yang melihat Christian tiba-tiba menghentikan niatnya untuk naik, menoleh dengan kening berkerut bingung.
"Kenapa tidak jadi naik, Om?" tanya Bella polos, menatap Christian dengan mata berkedip-kedip di permukaan air.
Christian menelan ludah, berusaha memasang wajah setenang mungkin di balik rahangnya yang mengeras. "A-aku... nanti saja. Sebaiknya kamu naik duluan, Arabella."
Bella mengerjap, lalu menatap tubuhnya sendiri yang hanya mengenakan pakaian renang minimalis di dalam air. Wajahnya kembali memerah padam karena malu. "Tapi... aku nggak ada handuk, Om. Pakaian ku..."
Christian menghela napas panjang. Ia berbalik, lalu meraih handuk besar berbulu lembut yang tadi sempat ia ambilkan dan jatuh mengapung di dekat pinggir kolam.
"Pegang ini," kata Christian tenang, mengulurkan handuk tersebut ke hadapan Bella. "Tutup tubuhmu, lalu naiklah ke atas. Aku akan menyusul setelah beberapa menit."
Bella mengangguk ragu. Dengan tangan gemetar, ia menerima handuk tersebut dan melilitkannya ke tubuh bagian atasnya, menutupi lekuk tubuhnya dari pandangan sang paman.
Namun, karena lantai kolam yang licin dan tubuhnya yang masih lemas akibat insiden tadi, kaki Bella terpeleset saat ia mencoba meraih sisi tepi kolam.
"Aaah—!"
Sebelum Bella sempat terjatuh kembali ke dalam air, tangan kokoh Christian dengan sigap menyambar pinggangnya, mengangkat tubuh gadis itu dengan mudah dan mendudukannya langsung di pinggir kolam.
Otomatis, posisi mereka kini menjadi sangat intim; Bella duduk di atas tepi kolam dengan kaki masih terendam air, sementara Christian berdiri tepat di antara kedua kaki Bella, menopang tubuhnya dengan kedua tangan yang bertumpu di sisi paha gadis itu.
Kain handuk yang melilit tubuh Bella sedikit merosot, memperlihatkan bahu mulus yang basah dan leher jenjangnya dari jarak yang begitu dekat. Napas Christian kembali memburu saat wajahnya kini berada tepat sejajar dengan dada Bella.
"Kamu benar-benar menguji kesabaranku, Arabella..." bisik Christian dengan suara berat yang sarat akan dominasi dan rasa lapar yang kembali membara, membuat Bella terpaku tanpa bisa berkata apa-apa di bawah kungkungan sang paman.
*
*
*
kesel banget liat keluarga allegra
tadi aja pada diem Bae pas Bella di maki"
pake acara marah segala pas Bella di culik orang