**"Bagaimana jika seseorang yang ingin kau sembuhkan justru menjadi alasan hatimu sendiri terluka?"**
Setiap orang memiliki masa lalu yang ingin dilupakan. Namun, tidak semua orang mampu melepaskan kenangan yang pernah membuatnya bahagia.
Begitu pula dengan seorang lelaki yang masih terjebak dalam penyesalan masa lalunya. Di balik sikap dingin dan tatapan kosongnya, tersimpan sebuah kisah cinta yang belum selesai. Ia terus menunggu seseorang yang entah akan kembali atau tidak, seolah waktu berhenti sejak hari ketika ia kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.
Hingga suatu hari, seorang murid baru datang ke sekolahnya.
Gadis pendiam yang awalnya hanya ingin menjalani kehidupan sekolah dengan tenang itu tanpa sengaja menaruh rasa penasaran pada sosok lelaki yang selalu terlihat menyendiri.
"Aku datang karena pena dengan kisahmu. Namun tanpa sadar, aku justru ingin menjadi bagian dari kisah yang baru dalam hidupmu"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bammoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kenalan?
hikari yang berjalan sendiri menuju toilet, bahkan sebenarnya dia tidak tau dimana letak toilet di sekolah ini, karna sekolah nya lumayan luas dan ini hikari murid baru disini.
karna hikari tidak bertanya pada neta dimana toilet jadi hikari mencoba untuk mencari sendiri, meskipun ada beberapa siswi di koridor hikari tidak berani untuk bertanya, agak terlalu canggung menurut nya.
beberapa saat bel masuk kedua berbunyi hikari bergegas mencari nya. saat di perjalanan mencari toilet hikari berpaspasan dengan keiran, hikari tampak terus menatap keiran yang masih agak jauh, tidak ada sapaan di antara mereka berdua, saat keduanya berdekatan hanya tatapan sekilas dari keiran.
Keiran menghentikan perjalanannya saat berdekatan dengan hikari, keiran pertama kali yang membuka mulutnya untuk bertanya "apa hidung kamu baik-baik aja"
Sedikit terkejut hikari menatap mata keiran begitu pun sebaliknya, keiran yang menatapnya tanpa ekpresi itu sedikit membuat hikari tercengang "oh, ini hidung aku gak apa-apa" agak canggung dengan ucapannya
dengan nada ketus, keiran menjawab singkat "syukurlah"
keiran segera kembali berjalan menuju kelasnya saat hendak berjalan, hikari menghentikannya "tunggu, boleh tanya em dimana toilet cewe" sedikit agak canggung tapi itu cara agar dia sedikit lagi untuk mengobrol dengan keiran
keiran berbalik matanya melihat kanan kiri, kei tidak langsung menjawab pertanyaan hikari. lalu terdengar suara seorang perempuan yang sedang bersenandung sembari berjalan pelan.
keiran berbalik memanggilnya "fio, anterin dia ke toilet cewe" ucap keiran dengan nada khasnya. Fio menghentikan perjalanan nya lalu menghampiri mereka berdua dan berbicara "oh boleh, anak baru ya" ucap fio dengan wajahnya yang selalu ceria, fio punya sifat extrovert yang tinggi jadi dia akan nyambung dengan siapa saja.
Disisi lain hikari hanya terdiam melihat mereka berdua yang berbicara normal tidak ada kecanggungan di antaranya, keiran juga terlihat agak banyak bicara saat dengan fio.
fio berbalik ke arah hikari dengan senyuman nya lalu menggandeng tangan hikari "ayo kebetulan gue juga mau ke toilet"
hikari agak terkejut dengan reaksi nya yang semudah itu menggandeng seseorang yang lalu mengajak nya berbicara tanpa ada kecanggungan sama sekali "oh! iya"
karna bel masuk kedua sudah berbunyi fio dan hikari agak cepat menggunakan toilet, sebenarnya fio hanya mencuci tanganya lalu menunggu hikari.
Setelah hikari selesai, fio segera menegakkan tubuhnya untuk segera pergi bersama hikari. hikari terkejut karna fio ternyata menunggunya samapai selesai dan membuat hikari kembali canggung dengan keadaan "padahal kamu gak perlu nunggu aku" ucap hikari yang agak sedikit canggung saat mulai berbicara
"kenapa? kita kan kesini bareng dan keluar juga harus bareng" ucap fio tanpa rasa canggungnya dia kembali menggandeng tangan hikari sembari tertawa "ayolah meskipun lo anak baru kan kita bisa temenan"
Hikari menatap fio sekilas lalu tersenyum kecil "nama kamu fio ya aku hikari"
fio dengan senang hati saat berkenalan dengan hikari senyuman khasnya tidak pernah hilang di wajahnya "oke hikari kita bisa jadi temen kan"
Hikari tersenyum setelah mendengar ucapan fio.
setelah keluar dari toilet kedua nya masuk kedalam kelas masing-masing, hikari agak terlambat masuk tapi untung nya guru tidak menegornya, mungkin neta memberitahu guru kalo dia sedang di toilet.
hikari segera duduk di bangku, dan bertanya apa pelajaran sudah jauh, neta pun berbisik pada hikari "engga kok gurunya aja baru dateng"
hikari merasa lega dan ia pun kembali belajar bersama.
----------------
Kring..
Bel pulang akhirnya berbunyi, rasa nya waktu sangat cepat semua murid di kelas segera bergegas menyimpan bukunya pada tas untuk segera pulang.
hikari dan neta keluar kelas bersama sembari mengobrol tipis, neta hanya minta maaf karna dia tadi gak anter dia ke toilet karna terlalu fokus pada handphone nya saat itu "maaf banget pasti lo nyari nyari toilet ya tadi" katanya
hikari menjawab dengan senyuman agar neta tidak terlalu merasa bersalah "iya, tapi ada orang baik yang anterin aku tadi"
Neta menghentikan langkahnya sebentar, lalu memiringkan kepalanya dengan tatapan makin penasaran. "Orang baik? Siapa? Anak kelas kita juga atau kelas sebelah?"
Hikari tersenyum tipis, teringat kejadian tadi di koridor. "Namanya Fio. Dia ramah banget, tadi pas ketemu di koridor langsung mau anterin aku sampai ke depan toilet, bahkan ditungguin sampai selesai."
"Ooh, Fio!" Mata Neta langsung berbinar kenal. "Fio yang kelas 9.A1 itu kan? Yang rambutnya agak sebahu dan anaknya ceria banget? Wah, kalo dia sih emang terkenal ramah banget ke siapa aja. Suara dia aja kalau ketawa kedengeran sampai lorong sebelah" Tertawa kecil
Hikari mengangguk setuju. "Iya, dia emang kelihatan ceria banget. Tapi..." Hikari agak ragu melanjutkan kalimatnya, memegang tali tasnya sedikit lebih erat.
"Tapi kenapa?" usik Neta sambil menyenggol pelan lengan Hikari.
"Sebenarnya..." Hikari menatap lantai koridor sebelum kembali menatap Neta, "sebelum ketemu Fio, aku ketemu Keiran dulu."
Langkah Neta spontan terhenti. Wajahnya yang tadinya santai berubah terkejut. "Tunggu... Keiran? Keiran yang tadi lo tanyain"
Hikari mengangguk pelan. "Iya. Dia sempat berhenti dan nanya keadaan hidung aku..."
Neta membelalakkan mata, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Demam apa tuh anak? Keiran ngomong duluan sama lo? Beneran?!" Neta menggeleng-gelengkan kepala. "Setahu gue, Keiran itu paling malas urusan sama orang lain, apalagi sama murid baru. Dia tuh pendiam banget dan jarang banget mau mulai obrolan kalau gak penting-penting amat."
Hikari teringat bagaimana nada suara Keiran yang tetap ketus saat membalas ucapannya tadi, namun di sisi lain, Keiran juga yang berinisiatif memanggil Fio untuk membantunya. Ada rasa hangat yang aneh di dada Hikari, walau Keiran bersikap dingin, tindakannya secara tidak langsung telah menyelamatkannya dari kebingungan.
"Tapi ya..." Neta melanjutkan pembicaraannya sambil menepuk bahu Hikari, "meskipun nadanya gitu, berarti dia ngecek keadaan lo gara-gara kejadian tadi kan? Mungkiiiin... dia ngerasa khawatir karna inget seseorang" ucap neta yang agak membuat hikari penasaran
Hikari melihat ke arah neta dengan rasa penasaran "seseorang? Siapa itu?" Dengan nada yang begitu penasaran, tapi neta hanya menjawab singkat pertanyaannya "yang istimewa"
Hikari terdiam dengan penasaran dan hanya bergumam 'yang istimewa siapa' hikari sedikit memikirkan nya karna tidak ada penjelasan lagi dari neta.
Keduanya terus berjalan menyusuri koridor sekolah menuju gerbang utama. Matahari sore mulai membiaskan warna jingga di sepanjang jalan. Bagi Hikari, hari pertamanya di sekolah baru yang luas ini memang penuh dengan canggung dan kebingungan, tetapi perlahan rasa asing itu mulai terkikis—terlebih setelah mengenal Neta, Fio, dan sosok Keiran yang penuh teka-teki.