NovelToon NovelToon
Aku Bisa Tanpamu

Aku Bisa Tanpamu

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Tamat
Popularitas:501k
Nilai: 5
Nama Author: Iin Nuryati

Menikah dengan orang yang aku cintai, hidup bahagia bersama, sampai akhirnya kami dikaruniai seorang putra tampan. Nyatanya setelah itu justru badai perceraian yang tiba-tiba datang menghantam. Bagaikan sambaran petir di siang hari.

Kehidupanku seketika berubah 180 derajat. Tapi aku harus tetap kuat demi putra kecilku dan juga ibu serta adikku.

Akankah cinta itu kembali datang? Sementara hatiku rasanya sudah mati rasa dan tidak percaya lagi pada yang namanya cinta. Benarkah cinta sejati itu masih ada?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iin Nuryati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Meminta Restu

Dengan bantuan dari Hamzah, akhirnya Awan pun sudah berhasil memperoleh restu dari Aminah. Aminah pun sempat meragu pada awalnya, sama seperti Hamzah kemarin. Tetapi untunglah Awan bisa meyakinkan Aminah akan keseriusan dan niat baiknya tersebut.

Dan siang ini giliran Awan untuk memberitahu tentang niatnya untuk menikah itu kepada papanya. Awan datang menemui sang Papa di restoran milik beliau. Sengaja Awan memberitahu papanya terlebih dahulu sebelum keluarganya yang lain.

"Assalamu'alaikum, Pa," salam Awan seraya membuka pintu ruangan papanya.

"Wa'alaikumsalam. Eh, Awan? Ayo masuk," jawab Surya, papa Awan, yang langsung mempersilahkan masuk begitu melihat putra bungsunya itu datang.

Awan kemudian masuk ke dalam ruangan Surya lalu mencium punggung tangan kanan papanya tersebut.

"Duduk, Wan."

"Makasih, Pa," kata Awan yang kemudian mendudukkan dirinya di kursi di depan meja kerja Surya.

"Apa apa? Tumben kamu nemuin Papa kesini? Mau ngobrolin masalah apa sampai Mama kamu nggak boleh tau dulu?" tanya Surya yang langsung bisa menebak maksud kedatangan putranya itu.

Ya, Surya hafal betul dengan kebiasaan semua anggota keluarganya. Mereka semua terbiasa terbuka dan membicarakan semua masalah yang terjadi secara bersama-sama.

"Ishh Papa mah, selalu aja bisa menebak lebih dulu," gerutu Awan.

"Habisnya apa lagi? Kamu nemuin Papa kesini pasti karena nggak mau Mama kamu tau dulu, iya kan?" tebak Surya tepat sasaran. "Jadi, ada apa? Apa yang mau kamu bicarain sama Papa?"

"Awan mau nikah, Pa," kata Awan mantap.

"Apa? Beneran?" tanya Surya yang begitu terkejut mendengar perkataan putra keduanya itu.

"Beneran, Pa."

"Subhanallah. Syukurlah kalau gitu. Akhirnya kamu mau nikah juga. Nggak sia-sia Mama kamu ngomelin kamu tiap hari, nyuruh kamu buat nikah. Oh iya, ngomong-ngomong siapa gadisnya? Anak mana? Papa kenal nggak?"

Awan meringis. Kegembiraan papanya pasti akan berubah menjadi sebuah keterkejutan setelah ini. Dan Awan juga masih belum bisa menduga, reaksi seperti apa yang akan papanya tunjukkan dan bagaimana keputusan beliau pada akhirnya nanti.

"Awan?" panggil Surya bingung karena dia melihat putranya itu justru terdiam.

"Hmm, sayangnya dia bukan seorang gadis, Pa," kata Awan pelan, sedikit ragu-ragu juga.

Awan kemudian menjeda ucapannya. Dapat Awan lihat papanya itu membulatkan kedua matanya karena terkejut.

"Dia seorang janda, Pa. Dengan satu orang anak laki-laki berusia empat tahun," lanjut Awan lagi.

Surya begitu terkejut mendengar perkataan Awan. Akan tetapi dia tidak ingin langsung menghakimi, sebelum mendengar penjelasan dari putranya itu terlebih dahulu.

"Oh, pantas saja kamu tidak ingin Mama-mu tau lebih dulu tentang hal ini. Oke, coba ceritakan sama Papa. Siapa dia dan kenapa kamu akhirnya memutuskan untuk menikah dengan dia?"

"Namanya Shofi, Pa. Dia kakaknya Hamzah. Papa masih ingat kan, adik tingkat Awan dulu yang sering bawain gado-gado buat Awan?"

"Oh, Hamzah yang itu, iya Papa masih ingat."

"Shofi diceraikan oleh suaminya, bahkan ketika Keinan, putra mereka, masih berumur satu bulan," Awan kembali melanjutkan ceritanya.

"Awan lebih dulu bertemu dengan Keinan sebelum Awan bertemu lagi dengan Hamzah. Bahkan, ternyata Awan pun juga sudah bertemu dengan Shofi, sebelum Awan tau kalau dia adalah kakaknya Hamzah sekaligus bundanya Keinan. Pun dengan ibu Aminah, ibu Hamzah dan Shofi. Awan juga sudah bertemu lebih dulu dengan beliau sebelum Awan tau kalau beliau adalah ibunya Hamzah."

Awan kemudian menceritakan bagaimana pertemuan pertama antara dirinya dengan Keinan, dengan Shofi, dan juga dengan Aminah. Bagaimana Keinan yang sering murung karena diejek oleh teman-temannya. Dan bagaimana Shofi yang katanya sering dimarahi oleh ibu-ibu di sekitar tempat tinggalnya hanya karena mereka cemburu dan merasa suami mereka tergoda oleh Shofi.

"Lalu, apa yang membuat kamu akhirnya memutuskan untuk menikah dengan Shofi?" tanya Surya.

"Awan ingin melindungi Shofi dan juga Keinan. Agar mereka berdua tidak mendapat stigma yang buruk dari masyarakat lagi, dan juga teman-teman Keinan. Awan ingin mewujudkan keinginan Keinan untuk memiliki seorang ayah yang baru dan juga mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari seorang ayah."

"Terlepas dari itu semua, tentu saja Awan menikah karena untuk menjalankan perintah dari Allah Subhanahu wata'ala dan menjalankan sunnah Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam. Untuk menyempurnakan separuh agama Awan. Untuk menghindari perbuatan zina. Dan tentu saja untuk melanjutkan garis keturunan Awan, Pa," lanjut Awan lagi.

Surya membuang nafasnya seraya mengusap wajahnya.

"Papa sangat mengerti dan menghargai niatan kamu itu, Wan. Jujur, Papa nggak masalah dengan status Shofi. Tapi mungkin mamamu nanti yang agak sulit. Kamu tau sendiri kan gimana mamamu dan keinginan dia tentang sosok seorang istri untuk anak-anaknya?"

"Awan tau, Pa. Itu kenapa Awan lebih dulu ngomongin masalah ini sama Papa."

"Huft. Oke, nanti Papa bantuin kamu buat ngeyakinin Mama ya," janji Surya.

Senyum Awan seketika langsung terkembang.

"Oke, Pa. Makasih banyak ya, Pa, sebelumnya," kata Awan sumringah.

Surya menganggukkan kepalanya. Mereka pun kemudian melanjutkan obrolan mereka. Sampai akhirnya, beberapa saat kemudian, Awan pun pamit untuk kembali ke kafenya. Surya mengiyakan dan hendak mengantar Awan sampai ke depan. Tetapi, baru saja keduanya keluar dari ruangan Surya, Awan tiba-tiba menghentikan langkahnya.

"Eh," kaget Awan karena melihat Shofi yang sedang makan siang bersama dengan dua orang temannya di salah satu meja di rumah makan Surya tersebut.

"Kenapa, Wan?" tanya Surya heran.

"Baru juga diomongin, udah ketemu disini aja. Itu dia yang namanya Shofi, Pa. Yang Awan ceritain ke Papa tadi," jawab Awan.

"Yang mana?" tanya Surya penasaran seraya celingukan mencari keberadaan Shofi.

"Itu, yang pakai baju warna navy. Yang lagi makan sama dua temennya itu," jawab Awan seraya menunjuk ke arah meja Shofi.

"Loh, itu kan... Jadi yang kamu maksud itu Shofi yang itu?"

"Iya. Emangnya Papa kenal ya?" tanya Awan yang gantian bingung.

"Kenal dekat sih enggak. Tapi iya, Papa kenal. Dia sering makan siang disini sama teman-temannya," jawab Surya.

Awan nampak ber-oh ria seraya menganggukkan kepalanya.

"Kalau yang kamu maksud 'Shofi' yang itu sih Papa setuju banget, Wan," kata Surya kemudian.

"Eh? Kenapa emangnya, Pa?" tanya Awan kembali dibuat bingung oleh papanya itu.

"Karena yang Papa tau dia anaknya baik, sopan, dan bertanggung jawab dengan pekerjaannya. Atasan dia di kantor kebetulan teman Papa. Kamu masih ingat kan sama Om Azril? Om Azril sering cerita masalah kantor sama Papa, termasuk para anak buahnya juga. Dan salah satunya ya yang bernama Shofi itu, yang kebetulan juga sering makan siang disini," jawab Surya menjelaskan.

"Oh, gitu ya. Subhanallah. Rencana Allah Subhanahu wata'ala memang selalu tidak terduga," ucap Awan.

"Kalau memang dia yang kamu maksud tadi, Papa janji pasti bakalan serius bantuin kamu buat ngeyakinin Mama, Wan," kata Surya mengulangi janjinya.

"Oke, Pa. Terima kasih banyak pokoknya."

Awan tersenyum senang. Dalam hatinya semakin yakin dan mantap untuk menikah dengan Shofi. Apalagi setelah mendapat restu dari papanya dan juga keluarga Shofi.

'Hmh, tinggal aku yang ngomong langsung sama Shofi tentang niatku ini. Semoga aku juga bisa meyakinkan Shofi nanti,' kata batin Awan.

1
⚔️𝔸฿ł_må§🏹🪈
keren cara mu awan
⚔️𝔸฿ł_må§🏹🪈
di anggap nya anak itu ikan apa? untuk pancingan 🤦‍♀️
⚔️𝔸฿ł_må§🏹🪈
keren shofi
⚔️𝔸฿ł_må§🏹🪈
wkwkwk ngambek 🤣
⚔️𝔸฿ł_må§🏹🪈
janda juga manusia mah
⚔️𝔸฿ł_må§🏹🪈
air minum tuh obat syok
⚔️𝔸฿ł_må§🏹🪈
yang sebenernya kamu juga ada rasa sama shofi, iya kan awan
⚔️𝔸฿ł_må§🏹🪈
jodoh itu Wan
⚔️𝔸฿ł_må§🏹🪈
gitu amat yak
⚔️𝔸฿ł_må§🏹🪈
hebat juga tebakan papa nya Awan
⚔️𝔸฿ł_må§🏹🪈
aamiin🤲
⚔️𝔸฿ł_må§🏹🪈
Alhamdulilah dapat restu dari calon adik ipar
⚔️𝔸฿ł_må§🏹🪈
restu orang tua wajib, tanpa restu kedua orang tua, rumah tangga tak kan damai
⚔️𝔸฿ł_må§🏹🪈
suamimu saja yang kegatelan
⚔️𝔸฿ł_må§🏹🪈
anak gue🤔
⚔️𝔸฿ł_må§🏹🪈
mainan ini pintar, mandiri lagi
⚔️𝔸฿ł_må§🏹🪈
berjodoh mereka berdua
⚔️𝔸฿ł_må§🏹🪈
kasihan nya tuh bocah
⚔️𝔸฿ł_må§🏹🪈
janda emang menggoda, mau jelek apa lagi cantik dengan gelar janda bisa menghebohkan
⚔️𝔸฿ł_må§🏹🪈
rasanya pengen nonjok muka nya Bayu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!