NovelToon NovelToon
Suddenly Married

Suddenly Married

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Romansa / Tamat
Popularitas:3.8M
Nilai: 4.9
Nama Author: Ichageul

Evan dipaksa menikah oleh ayahnya dengan Alya, gadis yang tidak dikenalnya. Dengan sangat terpaksa Evan menjalani pernikahan dengan gadis yang tidak dicintainya.

Evan mulai menjalani kehidupan rumah tangga bersama Alya. Perbedaan karakter dan pola pikir menjadi bumbu dalam pernikahan mereka.

Akankah pernikahan mereka berhasil? Atau mereka menyerah dan memilih untuk berpisah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Galau

“Om mau menikahkan Evan, supaya dia bisa lebih mandiri dan bertanggung jawab untuk hidupnya. Om.. bermaksud menikahkan Evan denganmu. Apa kamu mau menerima anak om yang banyak kekurangan?”

Tentu saja Alya terkejut mendengar ucapan Antonio. Untuk beberapa saat gadis itu hanya tertegun. Tidak ada angin, tidak ada hujan tiba-tiba Antonio melamarnya untuk Evan, anak bungsunya. Jangankan kenal, bertemu dengan orangnya saja tidak pernah.

“Om mengerti kalau kamu terkejut. Itu hal yang wajar. Om juga kakak-kakak Evan sangat menyukaimu. Kami sangat ingin menjadikanmu menantu keluarga kami.”

“Ta.. tapi kenapa harus saya, om?”

“Entahlah. Om merasa cocok denganmu. Kamu anak yang baik, pintar, rajin, solehah. Yaa.. walau terlalu baik untuk Evan, tapi om merasa kamu bisa mengubah Evan menjadi lebih baik lagi. Om tidak akan meminta jawabanmu sekarang. Kamu boleh memikirkannya lebih dulu.”

“Ba.. bagaimana dengan Evan? Apa dia setuju menikah dengan saya?”

“Sebenarnya dia belum tahu soal perjodohan ini.”

Alya semakin dibuat terkejut mendengar Evan sama sekali belum tahu soal perjodohan yang dilakukan ayahnya. Kalau melihat situasinya dan juga kepribadian Evan yang tadi disebutkan Antonio, rasanya Alya ingin langsung menolak lamaran tersebut. Tapi melihat sikap hangat Antonio, begitu juga Fariz dan Karina yang begitu welcome padanya, membuat gadis itu menjadi ragu untuk menolak.

“Sa.. saya boleh memikirkannya kan, om?”

“Boleh. Ambil waktu yang cukup untukmu berpikir. Om memang tidak bisa menjamin kalau kamu akan bahagia hidup bersama dengan Evan. Tapi om janji akan menyayangimu seperti anak sendiri. Begitu pula dengan Fariz dan Karina, mereka akan menyayangimu seperti adik sendiri.”

Bi Sumi datang membawakan minuman dan camilan untuk Alya dengan Antonio. Alya segera mengambil gelas yang berisikan minuman dingin ketika Antonio mempersilahkannya. Dia perlu membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba terasa kering.

☘️☘️☘️

Alya berjalan dengan langkah pelan menyusuri trotoar. Dia menolak diantarkan oleh Antonio untuk pulang. Gadis itu perlu waktu sendiri memikirkan tawaran yang diberikan Antonio padanya. Bukan sosok Evan yang tampan yang membuatnya ragu, tapi keinginannya untuk merasakan kasih sayang seorang ayah yang menggelitiknya.

“TAHU BULEUD DIGORENG DADAKAN, HANEUT.. HANEUT.. HANEUT.. GURILEM.. GURILEM.. GURILEM.. NYA GURIH NYA PELEM.. GURIH-GURIH ENYOY. TAHU BULEUD.. WAKWAW.”

Lamunan Alya buyar ketika mendengar suara pedagang tahu bulat. Gadis itu bergegas mendekati mobil bak terbuka yang di bagian atasnya diberi terpal yang terbuat dari plastik. Wadah tempat tahu bulat, wadah sotong, kompor, wajan, dan bahan lainnya berada di atas mobil bak tersebut. Jangan lupakan jongko atau tempat duduk yang terbuat dari kayu untuk sang pedagang duduk.

Pedagang tahu bulat yang tak lain adalah Irfan, melemparkan senyumnya ketika melihat sepupunya mendekat. Sejak mengalami PHK masal dari tempatnya bekerja, Irfan beralih profesi menjadi pedagang tahu bulat keliling. Demi membiayai dua adiknya yang masih sekolah, pria itu rela bekerja apa saja. Tidak mungkin dia mengharap dari ibunya yang hanya seorang janda. Ayah Irfan sudah meninggal tiga tahun yang lalu.

“Kang.. tahu bulat sama sotongnya lima ribu,” ujar Alya.

Dengan cepat Irfan mengambilkan tahu bulat dan sotong untuk Alya. Tak lupa dia menambahkan bumbu asin dan pedas ke dalam plastik. Alya menyodorkan selembar lima ribuan pada kakak sepupunya itu.

“Ngga usah, gratis buat kamu.”

“Ngga mau, aku kan beli bukan minta. Ambil uangnya, kang.”

Dengan sangat terpaksa Irfan menerima uang yang diberikan oleh Alya. Gadis itu masih berdiri di dekat mobil sambil memakan tahu bulatnya. Irfan masih mengurus tahu yang digorengnya. Tiba-tiba saja rombongan anak kecil datang menghampiri mobil. Mereka langsung memesan tahu dan berebut minta didahulukan.

Melihat Irfan yang kerepotan antara mengurus pembeli dan menggoreng tahu, Alya berinisiatif untuk membantu. Gadis itu naik ke atas mobil bak. Dia mulai melayani pembeli yang cerewetnya persis ibu-ibu kompleks yang sedang nawar belanjaan.

“Dua ribueun teh.. tahu buletnya aja. Pake bumbu asin sama keju.”

“Aku dulu teh.. aku tiga ribu, campur pake sotong. Asin sama pedas ya bumbunya.”

“Dua ribu, teh. Sotongnya aja, bumbunya yang asin.”

"Teh.. Aku juga mau. Tiga ribueun campur tahu sama sotong pake asin, keju sama pedes."

Tangan Alya bergerak memasukkan tahu bulat dan sotong sesuai permintaan pembeli. Irfan terus menggoreng tahu bulat dan sotong karena pembeli masih terus berdatangan. Hampir setengah jam lamanya Alya membantu kakak sepupunya itu berjualan tahu bulat.

“Kang pembelinya udah berkurang. Aku pulang dulu, ya.”

“Iya, makasih Al.”

“Sama-sama.”

“Mau tahu bulet lagi, ngga?”

“Ngga kang, makasih.”

Alya turun dari mobil. Dia melambaikan tangannya pada Irfan sebelum meninggalkan mobil bak terbuka tersebut. Dengan langkah panjang gadis itu memasuki gang di mana rumahnya berada. Sebelum pulang ke rumahnya, dia menyempatkan mampir ke rumah bibinya. Alya ingin berkosultasi pada bibinya itu tentang lamaran Antonio.

“Assalamu’alaikum.”

“Waalaikumsalam. Eh Alya, masuk neng.”

Setelah melepas sepatunya, Alya masuk ke dalam rumah. Diciumnya punggung tangan wanita yang sudah mengurusnya sejak bayi merah. Wanita bernama Titin itu mengajak Alya duduk di ruang depan.

“Tumben pulang cepat.”

“Iya, bi. Tadi ada keperluan dulu.”

“Kamu udah makan?”

“Udah, bi.”

“Gimana bapakmu?”

“Ya gitu deh, bi. Masih sama aja.”

“Bibi bingung dengan bapakmu. Keras kepala sekali. Apa kurangnya kamu, kenapa hatinya sekeras batu. Apa hatinya tidak tergerak melihat anaknya yang cantik dan solehah ini.”

Titin mengusap wajah Alya dengan lembut. Wanita itu benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran sang kakak. Anak yang baik dan cantik disia-siakan begitu saja. Alya hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Titin. Jika dirinya tidak dirawat oleh Titin, entah akan seperti apa nasibnya. Mungkin dia akan sangat membenci bapaknya.

“Ehmm.. bi.. sebenarnya aku ke sini mau curhat.”

“Curhat soal apa?”

“Aku… baru aja dilamar, bi.”

“APA?!”

Mata Titin membulat mendengar berita keponakan cantiknya ada yang melamar. Dipandanginya wajah Alya lekat-lekat. Telinganya sudah terbuka lebar untuk mendengar apa yang akan dikatakan keponakannya itu. Alya menarik nafas panjang sebelum menceritakan pembicaraannya dengan Antonio tadi.

Usai Alya menceritakan semuanya, masih belum ada tanggapan dari Titin. Wanita itu masih belum percaya dengan apa yang didengarnya tadi. Alya sampai melambaikan tangan di depan wajahnya untuk menarik kesadaran wanita itu.

“Bi.. kok malah bengong. Aku harus gimana, bi?”

“Yang namanya Evan ganteng?”

“Ganteng sih, bi. Namanya juga keturunan bule. Tapi kalau dengar ceritanya om Antonio, kayanya orangnya nyebelin deh.”

“Itu sih terserah kamu, Al. Kan kamu yang bakalan jalani pernikahan. Kalau kamu rasa tidak mampu, ya jangan dijalani. Jangan menyiksa diri sendiri. Udah punya bapak nyebelin, masa mau ditambah suami nyebelin juga.”

Cukup lama Alya terdiam merenungi apa yang dikatakan Titin. Jika dipikir secara logika, maka pilihan yang paling benar adalah menolak lamaran Antonio. Tapi sekali lagi, Alya tergelitik ingin merasakan kasih sayang seorang ayah. Melihat interaksi Karina dan Antonio yang begitu dekat dan saling menyayangi, Alya juga ingin merasakan kasih sayang pria itu.

“Apa yang membuatmu ragu, sayang?” Titin membelai rambut Alya.

“Om Antonio baik sekali, bi. Dia juga terlihat sayang banget sama anak perempuannya, kak Karina. Kalau aku jadi menantunya, pasti aku bakal disayang juga kan, bi sama om Antonio.”

“Sayang…”

Titin menarik Alya ke dalam pelukannya. Hatinya terenyuh mendengar ucapan Alya barusan. Anak itu begitu merindukan kasih sayang ayahnya. Sampai berpikir untuk mendapatkan kasih sayang dari laki-laki lain yang diharap bisa menjadi ayah pengganti untuknya.

“Lebih baik kamu shalat istikharah, neng. Minta petunjuk pada Allah, apa yang terbaik untukmu.”

“Iya, bi. Makasih.”

Tangan Alya memeluk pinggang Titin. Hatinya lebih tenang setelah bercerita pada bibinya itu. Mengembalikan semua urusan kepada Allah, memang jalan terbaik. Alya akan melakukan apa yang dikatakan Titin padanya. Meminta petunjuk pada Allah SWT, supaya keputusan yang diambilnya merupakan jalan terbaik untuknya.

☘️☘️☘️

Alya melepaskan mukena yang membalut tubuhnya. Sejak bangun di sepertiga malam tadi, gadis itu belum beranjak dari sajadahnya. Setelah melakukan shalat tahajud yang disambung dengan shalat istikharah, Alya terus bertahan di atas sajadahnya, menunggu waktu shubuh sambil tadarus.

Gadis itu naik ke atas kasur kemudian duduk di atasnya. Tangannya meraih tas yang ada di atas kasur. Dia mengeluarkan kartu nama yang diberikan Antonio padanya. Jarinya bergerak memasukkan nomor pria itu ke ponselnya. Mata gadis itu memandangi jam digital yang ada di ponselnya. Waktu menujukkan pukul lima lebih sepuluh menit.

Alya meletakkan ponsel di atas kasur. Gadis itu keluar dari kamar lalu menuju dapur. Dia bermaksud membuat sarapan untuk ayahnya. Walau tahu mungkin Dadang tidak akan menyentuhnya, tapi Alya tetap membuatkan makanan untuk ayahnya itu. Jika tidak dimakan, dia bisa memberikannya pada Karta. Pria itu lebih menghargai usahanya dari pada sang ayah.

Setelah membuatkan kwitiaw goreng, Alya kembali ke kamarnya. Bertepatan dengan itu, Dadang keluar dari kamarnya. Dia terdiam sebentar di dekat meja makan, memandangi makanan hasil buatan anaknya. Pria itu mengambil gelas lalu membuat kopi hitam dengan sedikit gula. Sambil membawa gelas berisi kopi, dia berjalan menuju teras rumah. Dadang mendudukkan diri di teras, meminum kopi miliknya ditemani ubi rebus kiriman Titin.

Alya mengambil ponselnya, lalu mencari nomor Antonio yang tadi dimasukkan olehnya. Dengan dada berdebar dia menunggu pria itu mengangkat panggilannya. Tak lama terdengar suara Antonio menjawab panggilannya.

“Halo..”

“Halo.. assalamu’alaikum, om.”

“Waalaikumsalam. Alya?”

“Iya, om. Ini Alya.”

“Ada apa, Al?”

“Ehmm.. ini om, soal lamaran om kemarin. Gimana kalau om bicara langsung aja sama bapak. Saya ikut aja gimana keputusan bapak.”

“Baiklah. Kapan om bisa ketemu dengan bapakmu?”

“Om kalau mau ke rumah malam aja baiknya. Bapak pulang ke rumah ba’da maghrib.”

“Ok, om akan ke rumahmu malam ini.”

“Iya, om. assalamu’alaikum.”

“Waalaikumsalam.”

Alya menghembuskan nafas lega setelah berbicara dengan Antonio. Menyerahkan keputusan pada sang ayah, sepertinya langkah terbaik yang bisa diambilnya. Apapun keputusan Dadang nanti, dia akan menerimanya. Dalam hatinya berharap, apa yang dilakukannya sudah benar.

☘️☘️☘️

**Wah keputusan ada di tangan pa Dadang pa Dadang hey.. Pa Dadang pa Dadang😂

Oh iya kemarin ada yg galfok ya.Visual yang aku kasih itu visual Fariz ya bukan Evan. Terus aku pernah bilang Evan lebih ganteng dari Fariz?🤭

Definisi ganteng kan beda² ya tergantung persepsi masing². Kalo jelek itu mutlak🤣🏃🏃🏃🏃**

1
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Weh sampe akhir juga, beneran Tamat sekarang ga ada nambah bab lagi.😁
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Semoga kamu juga secepatnya menemukan kebahagiaan kamu Dion dan Orang Tua mu yang sombong itu sadar bahwa kadang harta dan kekuasaan ga selamanya bisa bikin orang bahagia..
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Uhuy akhirnya kang Irfan sudah punya gandengan ga bakal iri lagi sama Truk.. atau pasangan laen.🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Eh masih lanjut ternyata, di kirain udah tamat.🤭🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
End_nya happy semua.👍
Ceritanya perlu ada pengoreksian lagi karna ada sedikit typo Dan selebihnya dari jalan cerita, penulisanya BAGUS banget ga ngebosenin kayak berasa banget ke hati dan dunia nyata...jadi lebih kayak sedikit halunya.👍👍👍
Pokoknya suka banget, karna Aku suka konflik ringan dan ga berlebihan.🤭🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
ada² saja di saat situasi panik gitu masih di bikin ngakak.🤣🤣🤣
baby Boy saingannya Papah Evan bakal posesif ga tuh sama Mamahnya tar ga bolehon deket² dengan Papahnya.🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Van Van, sekalian saja bikin usaha jasa sebaga8 Makcomblang 🤣🤣🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Jebakan Batman dari Evan berhasil kan Ge, Ri.🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Syukurlah Kalian sadar bu Tika pak Lukman meskipun terlambat tapi se'engganya dengan kajadian Nilan bisa membuka mata dan hati kalian untuk berubah lebih baik lagi.👍👍👍
Mending ga usah lagi mendengarkan omongan Toxic keluarga besar kalian karna percuma kalau ga bisa membantu apa² di saat kita butuh dan hanya mencela tanpa bercermin diri.. amit² dengan keluarga kayak gitu, terlalu meninggikan hati sampe gabsadar kalau waktu bisa saja merubah semuanya dari yang indah menjadi musibah.😤😤
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Hmmm... hukum alam tabur tuai yang kalian dan keluarga kalian lakukan sama Nana imbasnya ke Nilan yang di perlakukan sama ga enaknya perlakuan kalian ke Nana... itu sebagai tamparan/ pengingat bahwa perlakuan baik buruknya kalian pada orang lain akan berbalik ke diri kalian karna alam ga pernah salah ngasih teguran supaya kalian sadar kalau ke egoisan, serta kesombongan kalian berimbas buruk pada salah satu anak, sodara kalian... kasihan Nilan yang baik hati harus menerima sakitnya.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Kompak terus persaudaraan Kalian_ Babang Faris, Evan, Karina dan mantu² pak Antonio.👍👍👍
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Oowhhh pak Antonio Setia banget sih... pokoknya T O P lah 👍👍👍😁
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Nah akhirnya kebuka juga kan jalan pikirannya kamu Van untung ada Alya yang menasehati kamu kalau orang lain mungkin sudah habis dia kena tamparan mulut pdas mu.👍🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Harusnya ga apa² Van kalau senadainya Papahmu mau nikah lagi dengan bu Elsa karna biar bagaimana pun Papahmu juga butuh pendamping buat dia bertukar pikiran, tempat dia memerlukan pelukan di saat lelah, butuh perhatian di saat kalian kalian anak²nya punya kehidupan masing².
Menikah lagi bukan berarti melupakan Mamah mu juga kan, karna Papah mu juga manusia kelihatannya saja kuat dan mampu sendiri tapi bukan berarti dia ga kesepian_ kadang kehadiran Anak sama Istri beda.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Berkat pak Comblang Evan, Dipta + Abel, Robi + Kiara akhirnya jadian... di tambah hubungan Gelar + Riana juga majubke jenjang pernikahan.👍🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Evan tuh tegas , galaknya dia tuh sebenarnya bentuk pecutnya dia buat bikin orang yang di ajarinnya semangat buat usaha agar berusaha tanpa menyerah walau di iringi mulut pedasnya.🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Emang paling bisa babang Evan bikin suasana sekitar rame meskipun mulutnya kayak cabe merecon tapi dia jujur dan perhatian.🤣🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Awas jangan tebar pesona tar dibsuruh puasa.🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
ÐUDUK DI SOFA bukan DUDUK DI MEJA thor.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Hmmmm setahun puasa, sekalinya sudah ada yang halal ga bisa nahan lagi ya bang Fariz... biar tar anaknya juga seumuran ga terlalu jauh dengan anak Alya Evan.🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!