NovelToon NovelToon
Istri Pilihan Sang Mayor

Istri Pilihan Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ibu Tiri / Menikahi tentara
Popularitas:31.7k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Latifah, seorang guru di pondok pesantren, menjalani kehidupan sederhana dengan mengabdikan dirinya untuk mendidik para santri.

Setahun lalu, seorang anak perempuan berusia lima tahun bernama Kahiyang Ayudia datang dan menetap di pesantren tersebut. Kahiyang adalah putri seorang Mayor TNI bernama Abimanyu Wicaksono yang sedang bertugas di Lebanon.

Atas perintah sang ayah, Kahiyang dititipkan kepada Neneknya agar tumbuh menjadi anak yang mandiri dan berakhlak mulia.

Seiring berjalannya waktu, Latifah semakin menyayangi Kahiyang dan menganggapnya seperti anak sendiri. Namun, kebahagiaan itu terusik ketika kedua orang tuanya berniat menjodohkannya dengan seorang duda beranak satu. Latifah tentu saja menolak karena belum siap menjadi seorang istri sekaligus ibu sambung.

Tanpa sepengetahuannya, pria yang dijodohkan dengannya ternyata adalah Abimanyu, ayah dari Kahiyang, anak yang begitu disayanginya.

Akankah Latifah menerima takdir tersebut dan membuka hatinya untuk sang Mayor?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wasiat yang mengubah takdir

Senja perlahan menyelimuti Desa Sukomakmur. Semburat jingga menghiasi langit, berpadu dengan semilir angin yang berhembus melewati pepohonan di sekitar Pondok Pesantren Darussalam.

Di mushola kecil yang terletak tidak jauh dari kediaman pemilik pesantren, Latifah baru saja menyelesaikan kegiatan mengajar mengaji. Satu per satu anak-anak berpamitan sebelum pulang ke kamar masing-masing. Setelah memastikan mushola kembali rapi, wanita berusia dua puluh enam tahun itu merapikan mukena dan kitab-kitab yang berserakan di atas meja.

Belum sempat ia melangkah menuju kamarnya, seorang santri menghampirinya.

"Bu Ifah, tadi Umi Aisyah mencari Bu Ifah. Katanya, Bu Ifah diminta segera menemui Abi dan Umi di rumah."

Latifah mengernyitkan keningnya

"Umi mencariku? Memangnya ada apa, ya?" gumamnya pelan.

"Kurang tahu, Bu. Tapi sepertinya ada sesuatu yang penting."

"Baiklah. Terima kasih, ya, Nak."

"Sama-sama, Bu Ifah. Assalamualaikum!"

"Waalaikumsalam."

Setelah santri itu berlalu, Latifah segera merapikan kerudungnya, kemudian berjalan menuju rumah kedua orang tuanya yang terletak bersebelahan dengan mushola.

Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan. Biasanya, jika ada sesuatu yang penting, Abi atau Umi akan langsung memanggilnya tanpa melalui perantara santri.

Apakah ada masalah di pesantren? Atau mungkin ada sesuatu yang terjadi pada salah satu santri?

Latifah menggelengkan kepalanya, berusaha menepis pikiran-pikiran buruk yang mulai bermunculan.

Sesampainya di rumah, ia mendapati Umi Aisyah sedang duduk di sofa ruang keluarga bersama Abi Umar. Keduanya tampak serius, bahkan senyum yang biasanya menghiasi wajah sang ibu tidak terlihat sore itu.

Latifah pun menghampiri mereka dengan senyum tipis.

"Assalamualaikum, Abi ... Umi!"

"Waalaikumsalam, Sayang," jawab Umi Aisyah.

Wanita paruh baya itu menepuk sisi sofa di antara dirinya dan sang suami.

"Sini, Nak. Duduk di sebelah Abi dan Umi. Ada hal penting yang ingin Abi dan Umi bicarakan denganmu."

Latifah menurut. Ia duduk di antara kedua orang tuanya, kemudian menatap mereka bergantian dengan kening berkerut.

"Ada apa, Abi, Umi? Kenapa kelihatannya serius sekali? Apa ada masalah di pesantren?"

"Bukan, Nak. Tidak ada masalah dengan pesantren," jawab Umi Aisyah sembari mengusap lembut punggung tangan putrinya.

"Lalu, ada apa, Umi?"

Abi Umar menarik napas panjang sebelum akhirnya membuka suara.

"Jadi begini, Latifah. Mengingat usiamu sekarang sudah menginjak dua puluh enam tahun, sementara sudah beberapa kali kamu menolak lamaran pria yang ingin meminangmu, akhirnya Abi dan Umi memutuskan untuk menjodohkanmu dengan seseorang."

Senyum tipis di wajah Latifah perlahan menghilang.

"Menjodohkan Ifah?" ulangnya, seolah tidak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Iya, Nak," sahut Umi Aisyah lembut.

Latifah memandang kedua orang tuanya secara bergantian. Ada perasaan tidak enak yang tiba-tiba menyusup ke dalam hatinya.

"Memangnya, siapa pria itu, Abi?"

Abi Umar terdiam sesaat. Ia melirik istrinya sebelum kembali menatap putri bungsunya.

"Dia adalah putra dari almarhum Pak Ibnu, kerabat dekat keluarga kita. Sebelum beliau meninggal dunia, Pak Ibnu pernah berpesan kepada putranya agar menikah denganmu."

Deg!

Jantung Latifah seakan berhenti berdetak sesaat.

"Apa?" Matanya membulat sempurna. "Maksud Abi, Ifah akan dijodohkan dengan putranya almarhum Pak Ibnu?"

Abi Umar mengangguk mantap.

"Benar."

"Tapi, Abi ... Ifah bahkan tidak tahu siapa pria itu! Ifah juga tidak pernah mengenalnya. Bagaimana mungkin Abi dan Umi memutuskan perjodohan ini tanpa bertanya terlebih dahulu kepada Ifah?"

Suara Latifah mulai bergetar. Ia sama sekali tidak menyangka kedua orang tuanya akan membicarakan hal seserius ini.

"Justru karena itu, Abi dan Umi ingin kamu mengenalnya lebih jauh setelah kalian bertemu nanti," jawab Umi Aisyah, berusaha menenangkan putrinya.

Namun, Latifah menggeleng cepat.

"Tidak, Umi. Maaf, tapi Ifah tidak mau dijodohkan!"

Wajah Abi Umar seketika berubah tegas.

"Latifah!"

Wanita muda itu terdiam mendengar nada suara ayahnya yang meninggi.

"Abi sudah mempertimbangkan semuanya. Ini bukan keputusan yang dibuat secara sembarangan. Almarhum Pak Ibnu adalah orang yang sangat Abi hormati. Sebelum meninggal, beliau menitipkan pesan itu kepada putranya, dan Abi ingin wasiat tersebut terlaksana."

"Tapi, Bi, pernikahan itu bukan perkara kecil. Ifah yang akan menjalaninya seumur hidup. Apa Ifah tidak boleh memilih seseorang yang benar-benar Ifah cintai?"

Abi Umar menghela napas berat.

"Abi mengerti. Tapi kamu juga harus memahami bahwa tidak semua hal dalam hidup berjalan sesuai keinginan kita."

"Namun, bukan berarti Ifah harus menikah dengan pria yang bahkan tidak Ifah kenal, Bi!"

"Latifah, cukup!" potong Abi Umar dengan suara tegas. "Pokoknya, Abi tidak ingin mendengar penolakan lagi. Kamu harus menikah dengan putra almarhum Pak Ibnu. Abi ingin wasiat ini terlaksana!"

Latifah terdiam.

Matanya mulai berkaca-kaca. Ia menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan kesedihan yang perlahan memenuhi hatinya.

Umi Aisyah yang melihat perubahan raut wajah putrinya segera menggenggam tangannya.

"Sayang, dengarkan Umi. Abi dan Umi hanya ingin yang terbaik untukmu. Kami ingin melihatmu memiliki pendamping hidup, seseorang yang bisa menjagamu dan menemanimu hingga hari tua."

"Tapi, Umi ..." Latifah menelan getir. "Bagaimana kalau Ifah tidak bisa mencintainya?"

Umi Aisyah terdiam sejenak.

"Perasaan itu bisa tumbuh seiring berjalannya waktu, Nak. Setidaknya, berikan kesempatan untuk mengenalnya terlebih dahulu."

Latifah tidak menjawab.

Ia tahu kedua orang tuanya menyayanginya. Ia juga memahami bahwa keinginan mereka tidak semata-mata didasari oleh ambisi atau kepentingan tertentu. Namun, tetap saja, hatinya terasa sesak menghadapi kenyataan bahwa masa depan yang selama ini diam-diam ia harapkan mungkin harus berakhir sampai di sini.

Sebab, jauh di dalam hatinya, ada seseorang yang selama ini menempati ruang istimewa.

Ustaz Firman.

Pria yang pernah mengisi hari-harinya dengan percakapan sederhana, nasihat penuh makna, dan perhatian yang membuat hatinya perlahan tumbuh rasa. Kini, Firman telah bekerja sekaligus menjadi dosen di Universitas Al-Azhar Mesir. Jarak dan kesibukan membuat mereka jarang berkomunikasi, tetapi Latifah masih menyimpan harapan bahwa suatu hari nanti pria itu akan kembali dan datang meminangnya.

Harapan itulah yang membuatnya menutup hati dari pria-pria lain yang datang melamar. Namun, sore ini, semua terasa berbeda. Latifah menghembuskan napas panjang, lalu mengusap sudut matanya yang mulai basah.

"Kalau memang itu keputusan Abi dan Umi, Ifah bisa apa?" ucapnya lirih, menyiratkan kepasrahan yang menyakitkan.

"Latifah, Nak ..." Umi Aisyah mengelus pipi putrinya.

"Baiklah, Abi, Umi. Ifah akan mencoba menerima keputusan ini. Tapi, tolong beri Ifah waktu untuk mempersiapkan hati."

Abi Umar mengangguk, meski raut wajahnya masih menunjukkan ketegasan.

"Abi harap kamu bisa memahami keputusan ini. Insyaallah, semuanya akan berjalan baik."

Latifah hanya tersenyum tipis.

Bagaimana mungkin ia bisa merasa baik-baik saja ketika harus mengubur harapan yang selama ini diam-diam dipeliharanya?

Tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya, wanita itu telah mengambil keputusan dalam hatinya, bahwa ia akan berhenti berharap kepada Firman.

Jika takdir memang tidak mengizinkan mereka bersama, ia tidak ingin terus-menerus menggantungkan diri pada sesuatu yang belum tentu menjadi miliknya.

Namun, Latifah belum mengetahui satu hal penting.

Pria yang hendak dijodohkan dengannya bukanlah pria biasa. Dia adalah seorang perwira TNI berpangkat Mayor yang tengah menjalankan tugas negara di Lebanon. Seorang ayah tunggal yang membesarkan putri kecilnya dengan penuh kasih, meski kehidupan telah merenggut kebahagiaan rumah tangganya.

Namanya Mayor Abimanyu Wicaksono.

Pria yang selama setahun terakhir putrinya, Kahiyang Ayudia, tinggal dan belajar di Pondok Pesantren Darussalam.

Pria yang bahkan belum pernah Latifah bayangkan akan menjadi bagian dari masa depannya.

Dan tanpa disadari, takdir perlahan sedang merajut benang-benang pertemuan di antara mereka.

Sebab, terkadang, seseorang yang kita anggap sebagai orang asing justru telah lebih dahulu hadir dalam kehidupan kita melalui jalan yang tidak pernah kita duga.

Bersambung...

1
Teh Euis Tea
huhhh baru senyam senyum doang nih mereka ber2 blm ehem ehem msh malu2 jd blm bisa ngintip 🤣🤭
Teh Euis Tea
cieeee udah mulai saling goda mas mayor sm Bu Ifah, ngintip achhh 🤭🤭🤭🤭🤭
Nar Sih
oalah ya ngk apa ,,klau ciuman kan udh sah dan halal
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betoooll
total 1 replies
Nar Sih
jatuh cinta berjuta rasa nya ☺️☺️dan bnr tebakan mu kapten ryan👍
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Atik Kiswati
sampe kpn mrk ber2 canggung + kaku kyk gt.....panggilannya aja msh pak / bu.....
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: Oalah, sabar ya kak... maklum mereka berdua aslinya kalem dan gak mudah akrab sama orang baru 🤗
total 3 replies
vania larasati
lanjut kak
Sastri Dalila
🤗🤗
susi ana
kok masih panggil pak sama Bu.....
Perempuan
Anda? Formal aaaamat🤭🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: masih kaku kak, belum terbiasa, harap di maklum
total 1 replies
Perempuan
koq masih gitu panggilannya🤣🤣
Sastri Dalila
👍👍👍
vania larasati
lanjut kak
Dua Putri
baguss. kapan mereka🤭🤭🤭😄😄
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: kapan apa kak? 🤣
total 1 replies
Nurma Rohma Sari
sudah taman blum ya
atau baru bab 33
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: belum kak🤗
total 1 replies
Nurma Rohma Sari
semangat menulisnya
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: terima kasih kak 🤗☺️
total 1 replies
Ghiffari Zaka
nah kaaaan...ud ada hilal bucin tu😂😂😂.
bentar lagi pasti ud nemplok aja pak mayor😂😂😂,duuuh semoga dech author buat kayak gt,biar asyik laaaa,eh maaf Thor,sok melangkahi pula aq🤭🤭🤭,lanjut ya Thor....
Ghiffari Zaka: iya Thor,seru pakai banget dech😂😂😂
total 2 replies
vania larasati
lanjut kak
Atik Kiswati
yah...tlp nya kok gk berlanjut.....msh penasaran nih...
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: kalau berlanjut bisa perang dunia ketiga kak, dan Bima pasti tahu soal perasaan Latifah yang masih menyukai Ustadz firman
total 1 replies
Sastri Dalila
👍👍
Nar Sih
suami mu jahil ya ifah,dan lama,,pasti bikin kmu terpesona☺️
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!