Satu-satunya hal yang lebih berbahaya daripada membobol brankas mafia... adalah jatuh cinta pada pemiliknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Malam puncak yang dinantikan akhirnya tiba. Kasino Royale Vane memancarkan pendar cahaya keemasan yang silau di tengah pekatnya malam kota. Pesta ulang tahun tahunan kasino yang digelar dengan konsep pesta topeng kelas atas (masquerade ball) menyulap aula utama menjadi panggung kemewahan para raja dunia bawah. Ratusan tamu VIP—mulai dari politisi korup, konglomerat minyak, hingga petinggi mafia internasional—berlalu-lalang dalam balutan gaun mewah, tuksedo mahal, serta topeng ukiran emas dan perak yang menyembunyikan identitas sekaligus niat busuk masing-masing.
Di tengah riuk-pikuk alunan musik orkestra dan denting gelas sampanye kristal, perhatian sebagian besar tamu tersedot ke satu titik di dekat tangga marmer utama.
Devan Argantara melangkah masuk. Pria itu tampil begitu dominan dan berbahaya dalam balutan tuksedo hitam berpotongan tajam, dipadukan dengan topeng ukiran serigala berwarna hitam legam bertatahkan garis perak. Di sampingnya, Aria berjalan dengan anggun dan percaya diri, mengenakan gaun satin sutra berwarna emas gelap (champagne gold) serta topeng kupu-kupu berukiran emas yang menutupi separuh wajah cantiknya.
Bahasa tubuh mereka begitu menyatu—persis seperti yang dilatih Devan di aula dansa. Tangan kiri Devan melingkar protektif di pinggang belakang Aria yang terbuka, sementara tangan kanan Aria tersandar dengan mesra di lengan tegap Devan.
"Hector Vane ada di balkon VIP lantai dua," bisik Devan pelan di dekat telinga Aria, hembusan napas hangatnya menyapu kulit leher wanita itu di balik riuh alunan musik. "Dan target pertamamu... berada di meja baccarat sebelah kanan."
Aria melirik tipis lewat balik topeng emasnya. Di meja baccarat VIP, terlihat sosok pria paruh baya bertubuh tambun dengan kemeja merah marun—Victor, kepala keamanan tingkat atas klan Vane yang memegang keycard master berlapis enkripsi titanium untuk membuka akses lift bawah tanah sektor tiga.
"Target terkunci," balas Aria halus dengan suara Gisele Vance yang mahal dan teratur. "Pastikan umpanmu di meja poker utama menyedot seluruh perhatian orang-orangnya."
"Tugasku selalu sempurna, Little Bird," pungkasi Devan dengan senyum tipis di balik topeng serigalanya. Pria itu merapatkan cengkeramannya di pinggang Aria sejenak, mendaratkan kecupan singkat yang sarat dominasi di pelipis wanitanya untuk memperkuat penyamaran mereka di depan mata-mata Vane, sebelum akhirnya berpisah menuju area poker VIP.
Aria menarik napas panjang, menguasai detak jantungnya yang sempat berdesir mendadak akibat sentuhan bibir Devan. Ia mengibaskan gaun satin emasnya anggun, melangkah mantap menuju area meja baccarat tempat Victor berada.
Sebagai Gisele Vance, Aria memosisikan dirinya dengan sempurna. Ia menghampiri meja baccarat, memesan segelas martini, lalu melemparkan beberapa keping chip taruhan bernilai ratusan ribu dolar dengan gaya acuh tak acuh—sebuah gertakan visual yang langsung menarik perhatian Victor yang rakus akan wanita kaya dan berkelas.
"Permainan yang sangat berani untuk seorang wanita anggun," suara berat Victor menyapa di samping Aria beberapa menit kemudian. Pria bertubuh tambun itu berdiri memegang gelas wiski, menatap Aria dari balik topeng ukiran tembaganya dengan pandangan menilai yang vulgar.
Aria memutar tubuhnya perlahan, menyunggingkan senyum tipis yang sarat jarak dan keangkuhan mahal. "Bagi seorang investor, keberanian bukan pilihan... tapi kebutuhan, Tuan."
"Victor," pengawal itu memperkenalkan diri sembari menundukkan kepala sedikit. "Dan siapa gerangan wanita mempesona di baliknya topeng emas ini?"
"Gisele," sahut Aria singkat, membiarkan suaranya terdengar misterius.
Dalam hitungan detik, alur manipulasi Aria bekerja. Sembari berpura-pura menikmati percakapan mengenai transaksi pasar mata uang kripto dan kasino melayang di Monaco, Aria memanfaatkan posisi berdiri Victor yang rapat dengannya. Jemari lentik peretasnya—yang telah dipasangi cincin taktis bermagnet mikro buatan klan Argantara—bergerak tanpa celah di balik kibasan gaun sutranya.
Saat Victor memiringkan tubuhnya untuk memanggil pelayan minuman, Aria menyenggol bahu pria itu secara halus seolah-olah kehilangan keseimbangan akibat sepatu hak tingginya.
"Oh, maafkan aku," bisik Aria dengan nada lembut yang memikat, mendudukkan tangannya di dada Victor sejenak untuk menahan tubuhnya.
"Tidak apa-apa, Nona Gisele," balas Victor terkekeh, terbuai total oleh sentuhan fisik sang wanita anggun.
Victor tidak menyadari bahwa dalam jeda 0,5 detik benturan halus itu, cincin magnetik mikro di jari Aria telah menyedot dan menarik keycard master titanium dari dalam saku dalam jas milik Victor! Dengan gerakan menyulap tingkat tinggi yang terlatih dari pengalaman bertahun-tahun sebagai pencuri independen, kartu akses berharga miliaran rupiah itu meluncur mulus ke dalam celah sarung tangan satin emas milik Aria tanpa menimbulkan suara sedikit pun.
"Terima kasih atas minumannya, Tuan Victor," ujar Aria dengan senyum manis yang mahal, menepuk dada pria itu pelan sebelum berbalik melangkah pergi secara anggun. "Semoga beruntung dengan meja judimu."
Victor tersenyum lebar, sama sekali tidak menyadari bahwa kunci pintu menuju sektor brankas utamanya baru saja berpindah tangan.
Aria menyusuri lorong marmer menuju area sudut yang sepi di dekat tiang pilar besar. Ia menarik keluar keycard master titanium tersebut dari balik sarung tangannya, menyentuhkan peranti pemindai portabel milik Devan ke pita magnetik kartu itu untuk menduplikasi kode enkripsinya secara digital ke dalam bus komando.
BEEP.
Layar alat pemindai mikro di pergelangan tangannya menampilkan tulisan hijau: ENKRIPSI BERHASIL DIDUPLIKASI (AKSES DITERIMA).
Aria menyunggingkan senyum lega. Target tahap awal misi pengumpulan kunci telah tuntas tanpa mencetuskan alarm satu milimeter pun.
Namun, sebelum Aria sempat melangkah kembali menuju ruang dansa utama, sebuah bayangan tegap bertubuh tinggi besar mendadak memotong jalurnya dari balik kegelapan pilar.
Devan Argantara berdiri di sana. Pria itu menarik tubuh Aria masuk ke dalam ceruk dinding yang remang-remang, mengurung wanita itu dengan tubuh tegapnya dari pandangan tamu-tamu di luar.
"Dapat kartunya?" bisik Devan rendah, mata kelam di balik topeng serigalanya memancar intens.
Aria mengangkat kartu titanium itu di antara jarinya, memamerkannya dengan senyum kemenangan yang memikat. "Terlalu mudah untuk dikerjai. Kode akses sektor tiga sudah berhasil dikirim ke bus komando."
Devan menatap kartu tersebut sejenak, lalu pandangannya naik mengunci iris mata gelap Aria. Pria itu mencondongkan tubuhnya lebih dekat, membiarkan aroma woody hangat dari tubuhnya kembali menyelimuti indra penciuman Aria.
"Kerja yang sangat rapi, Little Bird," bisik Devan, suara rendahnya menggetarkan dada Aria. Pria itu mengulurkan tangannya, merapikan sedikit ikatan topeng emas di wajah Aria dengan ketelitian yang teramat protektif. "Tapi tatapan pria tambun itu padamu tadi... hampir bikin aku membatalkan rencana dan mematahkan lehernya di tengah meja judi."
Aria menahan napasnya sejenak, merasakan sengatan panas yang mendadak membakar pipinya akibat pengakuan jujur dari sang bos mafia. Di balik penyamaran dan topeng kemewahan pesta ini, cemburu protektif yang tersirat dalam nada suara Devan terasa begitu nyata dan tak dapat dibantah.
"Fokus pada rencanamu, Devan," balas Aria pelan, mencoba mempertahankan keteraturannya meski detak jantungnya berdegup liar. "Fase pertama selesai. Sekarang saatnya membobol Brankas Pendulum."
Devan mengulas senyum tipis—sebuah ukiran senyum berbahaya yang sangat menawan di balik topeng serigalanya. Ia menggenggam jemari Aria yang memegang kartu akses, mengecup punggung tangan wanitanya sekali lagi dengan kepastian yang mengikat.
"Ikuti alurku, Aria," pungkasi Devan pelan. "Malam ini... kita runtuhkan klan Vane bersama-sama."