Stella itu berisik, ceria, dan keras kepala. Seluruh sekolah tahu dia cinta mati-matian pada Gibran, sang kapten futsal populer.
Sialnya, Stella selalu berakhir dengan penolakan mentah-mentah dari Gibran. Namun, di balik bayang-bayang koridor sekolah, ada Lingga. Cowok pendiam, misterius, dan sedingin es yang diam-diam selalu memperhatikan Stella.
Saat Gibran terus mematahkan hati Stella, Lingga hadir membawa kehangatan yang tak terduga. Lewat perhatian-perhatian kecil yang terselubung, Lingga perlahan mengobati luka Stella hingga mereka resmi jadian.
Di saat Lingga dan Stella sedang manis-manis nya sebagai best couple satu sekolah, Gibran justru datang kembali dan berbalik mengejar Stella.
Bisakah Lingga yang dingin tetap mempertahankan kehangatan cintanya untuk Stella?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Stella Lingga 14.
Brak!
Gibran merebut kotak itu, namun bukan untuk membukanya. Dengan gerakan cepat dan tanpa ragu, dia melemparkannya ke dalam tempat sampah besar berwarna abu-abu di sudut koridor. Bunyi hantaman plastik bertemu tumpukan sampah terdengar begitu nyaring di telinga Stella.
"Gue bangun jam lima pagi, tangan gue hampir kena minyak panas demi bikin itu! Kalau lo gak mau, lo bisa balikin ke gue baik-baik, atau kasih ke orang lain!"
Gibran menatap air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata Stella tanpa berkedip.
Ekspresinya datar, tapi ada ketegasan yang tak terbantahkan di suaranya saat dia berbicara.
"Gue gak suka makanan manis. Nasi goreng lo baunya kemanisan, dan gue benci itu," kata Gibran dingin. "Gue gak punya kewajiban buat ngejaga perasaan lo, Stella. Jadi stop bertingkah konyol dan jangan pernah bawain gue apa-apa lagi."
Setelah mengatakan itu, Gibran berjalan melewati Stella begitu saja, meninggalkan cewek itu yang terpaku di koridor. Kali ini, air mata Stella benar-benar luruh, membasahi pipinya.
Dunia seolah berhenti berputar bagi Stella. Dadanya sesak luar biasa, seperti dihantam batu besar. Air mata yang sejak tadi ditahannya mulai menetes, membasahi pipinya.
Rasa malu, perih, dan penolakan yang begitu telanjang membuatnya refleks berbalik dan berlari sekuat tenaga. Dia butuh tempat bersembunyi. Tempat di mana tidak ada satu orang pun yang bisa melihat kehancurannya.
**
Rooftop sekolah selalu jadi tempat pelarian terbaik kalau dunia di bawah sana sedang terasa terlalu bising.
Angin siang itu berembus kencang, menerbangkan beberapa helai rambut Stella yang berantakan.
Dadanya naik-turun menahan sesak. Di sudut dekat tangki air, ia akhirnya tumpah. Air matanya luruh tanpa bisa dicegah lagi.
Kedua tangannya gemetar hebat. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan kejadian di kantin lima belas menit lalu berputar ulang seperti kaset rusak.
Di depan puluhan pasang mata anak-anak kelas dua belas, Gibran—cowok yang selama dua tahun ini mengisi hari-hari Stella dengan harapan palsu—menatapnya dingin.
Stella hanya ingin memberikan sebuah kotak bekal berwarna biru muda. Bekal yang ia siapkan sejak pukul lima pagi. Jari telunjuk Stella bahkan masih dibalut plester luka karena teriris pisau saat memotong sayur.
Namun, suara gedubrak saat plastik beradu dengan tumpukan limbah lain terasa seperti menghantam ulu hati Stella.
Orang-orang berbisik. Ada yang kasihan, tapi lebih banyak yang menertawakan kebodohannya. Stella tidak tahan. Ia berlari sekencang mungkin menuju puncak gedung sekolah, meninggalkan tawa tertahan yang menguliti harga dirinya.
“Kenapa harus di depan semua orang, Gib...” bisik Stella lirih. Suaranya serak, tenggelam bersama deru angin.
Ia memeluk lututnya erat-erat di atas beton rooftop yang panas. Rasa perih di hatinya jauh lebih menyakitkan daripada luka iris di jarinya. Stella merasa begitu kecil, begitu tidak berharga. Logikanya tahu, ia seharusnya membenci Gibran sekarang juga.
Namun, perasaan manusia tidak pernah sesederhana sakelar lampu yang bisa dimatikan dalam sekali klik.
Ada ikatan emosi yang terlanjur mengakar, dan mencabutnya paksa justru membuat dadanya terasa berdarah-darah.
Hampir setengah jam Stella menangis di sana sampai air matanya mengering, menyisakan jejak lengket di pipi dan mata yang membengkak.
Saat bel masuk jam pelajaran berikutnya berbunyi lamat-lamat dari bawah, Stella menyeka wajahnya dengan kasar menggunakan seragam. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga diri yang tercecer.
Dengan langkah gontai dan kepala tertunduk, Stella berjalan melewati pintu rooftop, turun kembali ke koridor lantai tiga menuju kelasnya, dua belas A.
Ia tidak tahu, dan mungkin tidak akan pernah tahu, bahwa sejak awal ada sepasang mata yang mengamatinya dari balik bayangan pintu tangga.
Begitu koridor sepi dan semua murid sudah masuk ke kelas masing-masing, sesosok cowok keluar dari persembunyiannya. Lingga
Lingga tidak langsung kembali ke kelas. Alih-alih turun, ia justru berjalan mantap menuruni tangga menuju area kantin yang kini sudah kosong melongpong.
Suasana kantin setelah jam istirahat hanya menyisakan aroma kuah bakso yang samar dan lantai yang sebagian basah karena bekas pel.
Tujuan Lingga hanya satu, tempat sampah besar di sudut koridor.
Tanpa ekspresi ragu atau jijik, Lingga berdiri di depan tempat sampah itu. Ia membungkuk sedikit, matanya mencari sesuatu di antara tumpukan gelas plastik kosong dan bungkus camilan. Di sana, di bagian atas karena belum sempat tertimbun sampah berat lainnya, tergeletak kotak bekal berwarna biru muda milik Stella. Posisinya miring, tapi penutupnya yang rapat menahan isinya agar tidak tumpah keluar.
Lingga mengulurkan tangan. Jari-jarinya yang panjang memungut kotak bekal itu. Ia mengibaskan beberapa helai tisu bekas yang menempel di bagian luar kotak dengan tenang, lalu memandanginya sejenak.
Sebuah senyum tipis hampir tak kentara—muncul di sudut bibir Lingga.
Alih-alih membawa kotak itu ke kelas, Lingga kembali berjalan naik ke rooftop. Tempat yang beberapa menit lalu menjadi saksi bisu hancurnya hati Stella. Lingga duduk di pembatas beton, tempat yang sama di mana angin berembus paling kencang.
Klek.
Lingga membuka pengait kotak bekal itu. Di dalamnya, tertata rapi nasi berbentuk karakter lucu, beberapa potong sosis yang dipotong membentuk gurita, dan tumis sayuran berwarna-warni. Beberapa bagian memang agak bergeser karena hantaman saat dibuang Gibran, tapi makanan itu masih sangat bersih dan terjaga di dalam wadahnya.
“Bodoh,” gumam Lingga pelan. Kalimat itu bukan ditujukan untuk Stella yang membuat bekal, melainkan untuk Gibran yang menyia-nyiakannya.
Lingga meraih sendok plastik yang terselip di bagian atas penutup. Tanpa ritual apa pun, ia mulai menyuapkan sesendok nasi dan sayur ke dalam mulutnya. Ia mengunyahnya pelan, menikmati setiap rasa yang berbaur di lidahnya.
Makanannya sudah agak dingin, tapi Lingga bisa merasakan ada usaha keras yang melatarbelakangi pembuatan makanan ini. Rasa asinnya pas, sayurnya masih terasa renyah, dan sosisnya matang sempurna. Lingga tahu betul, orang yang memasak ini pasti melakukannya dengan penuh perasaan.
Suapan demi suapan masuk ke dalam mulut Lingga. Di bawah langit siang yang terik, di atas rooftop yang sepi, cowok misterius itu menghabiskan isi kotak bekal tersebut sendirian sampai tidak ada satu butir nasi pun yang tersisa.
Bagi orang lain, tindakan Lingga mungkin tidak masuk akal atau bahkan terlihat aneh. Namun bagi Lingga, makanan yang dibuat dengan ketulusan tidak pernah layak berakhir di tempat sampah. Dan entah mengapa, melihat kotak bekal itu kosong memberikan kepuasan tersendiri di dadanya.
Lingga menutup kembali kotak biru muda itu hingga berbunyi klik.
Ia memasukkannya ke dalam tas ransel hitamnya yang agak longgar, berniat menyimpannya terlebih dahulu.
Dengan langkah santai seolah tidak terjadi apa-apa, ia berjalan turun untuk kembali ke kelas XII A.
......................
...****************...
Tbc,