Pernikahan Vivian Valerie Ananditha dan Radhit Gezha Revandhana bukanlah sebuah dongeng indah. Bagi Radhit seorang pengusaha muda yang arogans, gila kerja, dan terbiasa memegang kendali Vivian hanyalah sebuah "beban" dan "kewajiban konyol" yang terpaksa dia jalani demi memenuhi wasiat almarhum ayahnya.
Di mata Radhit, Vivian adalah wanita lemah, membosankan, dan tidak bernilai. Setiap hari, kehidupan rumah tangga mereka dipenuhi dengan kedinginan, pengabaian, hingga bentakan verbal yang merendahkan. Tidak ada tempat untuk Vivian di dalam hati Radhit, terlebih ketika hadir sosok Clarissa Olivia seorang model cantik nan manipulatif yang pandai memainkan peran di balik panggung bisnis Radhit.
Namun, di balik diamnya Vivian yang penurut, ada sebuah rahasia kecil yang dia jaga dengan nyawanya: sebuah kehidupan baru sedang tumbuh di dalam rahimnya.
Vivian bertahan menelan semua luka, caci maki, dan aroma parfum wanita lain dari pakaian Radhit semata-mata demi janin di perutnya. Dia berhar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perpisahan manis
Pagi di desa pesisir disambut oleh pendar sinar matahari keemasan yang menembus kabut tipis. Udara terasa jauh lebih ringan dari hari-hari sebelumnya, seolah alam turut merayakan usainya badai besar yang sempat membolak-balikkan hidup mereka.
Di teras rumah panggung, Bumi sedang asyik bermain mobil-mobilan kayu bersama Radhit. Untuk pertama kalinya, tidak ada kecanggungan di antara mereka.
Radhit tertawa lepas mendengar celoteh polos anak laki-lakinya, sementara Vivian memperhatikan mereka dari ambang pintu dengan senyuman hangat seraya menyeduh teh pagi.
Suara deru mobil terdengar mendekat.
Mobil putih milik dr. Julian berhenti di depan halaman rumah panggung. Pria berjas rapi itu turun dari mobil membawa sebuah koper kecil di tangan kirinya dan sebuah dokumen resmi di tangan kanannya.
Vivian mengernyit heran melihat koper di tangan Julian. "Dokter Julian?"
Radhit berdiri, menghentikan permainannya dengan Bumi. Tatapan Radhit dan Julian saling bertumpu bukan lagi dengan rasa cemburu atau tuduhan amarah, melainkan dengan rasa hormat antar dua pria dewasa yang sama-sama menginginkan yang terbaik untuk Vivian.
"Paman Dokter!" seru Bumi gembira, langsung berlari kecil merangkul kaki Julian.
Julian berlutut, mengusap lembut rambut Bumi, lalu mengecup kening anak itu dengan penuh kasih sayang. "Anak pintar,lagi main apa hm?,kayaknya seru sekali ya paman liat tadi"
"iya paman,Lagi main mobil mobilan sama Paman Radhit"Cengir Bumi dengan senyum manisnya
Setelah berdiri kembali, Julian menatap Vivian dan Radhit bergantian. Ia menyodorkan amplop dokumen berstempel resmi Kementerian Kesehatan kepada Vivian.
"Ada apa ini, Dok?" tanya Vivian bingung saat menerima surat tersebut.
"Surat keputusan pemindahan tugas dan beasiswa spesialisasi anak di Liverpool, Inggris," jawab Julian jujur dan mantap. "Penerbanganku dijadwalkan nanti sore dari Bandara Soekarno-Hatta."
Vivian tersentak kaget. Matanya membelalak, menatap Julian tak percaya. "Inggris? Tapi... kenapa mendadak sekali, Dok? Kenapa tidak pernah cerita sebelumnya?"
"Ini bukan hal yang mendadak, Vi," tutur Julian lembut, suaranya tetap hangat dan menenangkan. "Tawaran ini sudah ada sejak enam bulan lalu. Tapi saat itu, aku meundanya karena aku tahu kamu dan Bumi masih butuh perlindungan di sini. Sekarang... Semuanya sudah selesai. Nama baikmu sudah bersih, dan penjahat yang sebenarnya sudah di balik jeruji besi."
Julian mengalihkan pandangannya pada Radhit, yang berdiri tertegun di samping Vivian.
"Pak Radhit," panggil Julian. "Dua tahun lalu, saya membenci tindakan Anda. Tapi melihat bagaimana Anda mempertaruhkan nyawa di tengah kebakaran waktu itu, serta bagaimana Anda berlutut mengakui kebodohan masa lalu... saya tahu, penyesalan Anda murni. Anda sudah berubah menjadi pria yang layak dilirik kembali oleh anak dan wanita ini."
Radhit terhenyak. Tenggorokannya mendadak terasa kering. "Dokter Julian... Anda tidak perlu pergi hanya karena keberadaan saya di sini. Saya bisa mundur kalau"
"Saya pergi bukan karena Anda, Pak Radhit," potong Julian seraya tersenyum tipis. "Saya pergi karena impian saya sejak dulu adalah memperdalam ilmu medis anak. Dan yang terpenting... saya pergi karena saya tahu, tugas saya sebagai 'penjaga sementara' dalam kehidupan Vivian dan Bumi sudah selesai dengan sangat indah."
Vivian menunduk, air mata haru menetes membasahi surat keputusan di tangannya. Ia melangkah mendekati Julian, menatap pria yang selama dua tahun ini menjadi sandaran paling aman tanpa pernah menuntut balas
Julian menjangkau tangan Vivian, menggenggamnya hangat untuk terakhir kalinya. "Kamu sudah membalasnya dengan cara menjadi wanita terhebat yang pernah aku kenal, Vivian. Kebahagiaanmu dan Bumi adalah hadiah paling besar untukku."
Bumi menatap Julian dengan mata bulatnya yang polos, lalu mengangguk pelan. "Iya, Paman Dokter. Jangan lupa bawakan Bumi mainan kapal terbang yang besar kalau pulang ya!"
Julian tertawa kecil, menyembunyikan getar kepedihan di dadanya. "Pasti, Jagoan."
Sebelum melangkah pergi, Julian menatap Radhit dan menjabat tangan mantan suami Vivian itu dengan erat. "Jangan pernah buat dia menangis karena kepedihan lagi, Radhit. Kalau Anda meulanginya... saya akan kembali dari Inggris untuk mengambil mereka."
Julian tersenyum lega, melepaskan jabatannya, lalu berbalik melangkah menuju mobil. Tanpa menoleh lagi ke belakang agar air matanya tak jatuh, Julian melaju meninggalkan halaman rumah panggung tersebut.
Mobil Julian perlahan menghilang di balik tikungan jalan desa. Keheningan merayap kembali di teras rumah panggung.
Vivian berdiri menatap jalan kosong itu dengan dada yang dipenuhi rasa haru dan keikhlasan. Di sampingnya, Radhit berdiri dalam diam, memberikan ruang bagi Vivian untuk memproses perpisahan itu.
Tiba-tiba, Bumi menarik-narik ujung gaun Vivian.
"Ibu... Paman Dokter tadi bilang 'Ayah Radhit'..." cicit Bumi polos, menengadah menatap Vivian lalu beralih menatap Radhit dengan mata berbinar. "Paman Radhit itu... beneran Ayahnya Bumi ya?"
DEG
Jantung Radhit seakan berhenti berdetak mendengar pertanyaan pertama dari darah dagingnya sendiri itu. Pria itu membeku, menatap Vivian dengan napas tertahan, menunggu apakah Vivian siap membiarkan kebenaran itu terungkap sepenuhnya.
Apakah Vivian Sudah siap memberi tahu kebenarannya bahwa Radhit ayah kandung Bumi?.
Masalah Clarissa cari kelemahannya,dan hancurkan apa yang dimilikinya yang bisa mengancam perusahaan
Untuk Julian sungguh mulia,kamu yang menolong Vivian, melindunginya,dan memberi rasa nyaman,namun tidak memaksa Vivian, untuk memilihnya, karena dia tahu masih ada nama Radit di hati Vivian