Bagi Parrie Rose, dunia adalah medan pertempuran tanpa henti. Setelah kematian ibunya, gadis berusia 20 tahun itu terpaksa tinggal di kediaman keluarga Ford, menghadapi kebencian sang ibu tiri, serta perlakuan dingin keluarga barunya. Label ‘anak haram’ melekat erat di dadanya, menjadikannya sasaran hinaan yang seolah tak pernah usai.
Setitik harapan muncul saat Parrie berhasil masuk ke universitas paling bergengsi di New York melalui jalur beasiswa. Namun, takdir kembali mempermainkannya.
Hari pertamanya di universitas langsung berubah menjadi mimpi buruk saat sosok dari masa lalunya hadir kembali: Dimitriou Kaetos Ashford, putra konglomerat dengan kekuasaan besar, kembali hadir di kehidupannya.
Di antara tekanan keluarga tiri, hierarki kampus elit, dan jeratan obsesi Kaetos,
Akankah Parrie mampu melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalunya, atau justru tenggelam dalam jerat permainan Kaetos?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Parrie Rose bersikap pasrah. Tubuhnya seolah digerogoti rasa lelah yang amat sangat. Bangku kosong satu-satunya di ruangan berundak yang luas itu memang hanya tersisa di sebelah pria gila ini. Lebih buruk lagi, mata Parrie baru saja menangkap pelat nama berbahan kuningan mengilap yang terpasang rapi di sudut atas meja porselen tersebut.
Nama lengkapnya—Parrie Rose—terukir jelas di sana, bersandingan tepat di sebelah pelat nama bertuliskan Dimitriou Kaetos Ashford.
Sistem universitas ini rupanya telah mengatur tempat duduk mahasiswa sejak awal penerimaan.
Apa artinya ini? Apakah ia harus duduk berdampingan dengan iblis berwujud manusia ini selama satu semester ke depan? Atau bahkan... hingga akhirnya ia berhasil lulus dari kampus elit ini? Memikirkan kemungkinan tersebut saja sudah cukup untuk membuat paru-paru Parrie terasa makin menjerit.
Sementara Parrie masih terpaku menatap papan nama itu dengan pandangan hampa, dari tempat duduknya yang nyaman, Kaetos perlahan menyandarkan punggungnya. Tatapannya meneliti tiap sudut profil wajah Parrie yang pucat pasi.
Tiba-tiba saja, Kaetos berbisik rendah, "Aku merindukanmu. Kemana saja kamu sebulan ini?"
Kalimat itu meluncur begitu mulus dari bibir tebalnya. Dan tanpa ragu, Kaetos menyimpan tangannya langsung di atas paha Parrie. Telapak tangan pria itu yang lebar dan hangat menembus kain rok sederhana yang dikenakan Parrie.
DEG!
Sensasi sentuhan itu memicu gelombang setruman hebat yang menjalar ke seluruh tulang belakang Parrie.
"Lepas, Kaetos!" bisik Parrie tajam, suaranya gemetar menahan getaran kepanikan yang mendalam. Ia berusaha menggeser lututnya, menepis tangan tegap itu dari pahanya, namun cengkeraman Kaetos justru makin menguat—menahan pergerakannya dengan begitu dominan.
" No, aku tidak akan melepaskanmu kalau kau tidak jujur soal kemana saja kamu sebulan terakhir," balas Kaetos. Jemarinya mulai meremas pelan, sementara matanya menatap lurus ke arah Parrie. "Aku sudah mencarimu kemana-mana."
Suara pria itu yang semula dipenuhi ketajaman, perlahan-lahan mulai melembut—menyimpan nada penderitaan dan kerinduan yang teramat dalam, sebuah nada yang terasa begitu kontras dengan cara kasarnya memperlakukan Parrie di taman tadi.
"Aku tidak punya urusan denganmu. Lepaskan aku," ucap Parrie, suaranya melirih saat ia mulai gelisah luar biasa. Pria mesum ini sama sekali tidak fokus pada dosen paruh baya yang saat ini sedang sibuk menjelaskan grafik ekonomi mikro di depan papan tulis digital. Tangannya justru sepenuhnya fokus melecehkan dan mengurung gerak Parrie di balik meja tebal.
"Lepas?! Atau aku teriak!" ancam Parrie, matanya menatap tajam, menyorotkan keberanian rapuh yang tersisa dari dalam jiwanya.
"What? Teriak?"
Dimitriou Kaetos Ashford terkekeh rendah. Bukannya takut atau panik, pria itu justru menyunggingkan seringai tipis yang sarat akan dominasi. Ia mengikis jarak di antara mereka, mendekatkan bibirnya hingga sapuan napas hangatnya menyentuh daun telinga Parrie yang memerah.
"Teriak saja, Sayang," bisik Kaetos penuh intimidasi. "Kau teriak... itu artinya kamu siap kalau video-video kita kesebar ke seluruh kampus ini. Ke seluruh New York."
DUARRR!!!
Bagai disambar petir di siang bolong, kepala Parrie rasanya dihantam martil raksasa. Kalimat itu menggelegar di dalam benaknya, memutus seluruh oksigen yang ada di sekitar mereka. Darah dalam tubuh Parrie seolah berhenti mengalir, menyisakan hawa dingin yang membekukan jemarinya.
Video? Rekaman itu... pria ini masih menyimpannya?
Gadis itu terpaku. Sorot matanya yang semula memancarkan kemarahan mendadak redup, berganti dengan pusaran ketakutan dan luka lama yang kembali menganga lebar. Pria di sebelahnya ini bukan sekadar orang asing yang secara acak menciumnya di taman kampus. Bukan pula sekadar pria angkuh yang berniat merundungnya di hari pertama kuliah.
Mereka... pernah saling mengenal. Sangat dekat, sangat intim, dan sangat merusak.
Enam bulan yang lalu...
Suasana di dalam butik berarsitektur Eropa klasik itu terasa begitu tenang dan berkelas. Kilauan lampu gantung kristal memantulkan kemewahan busana-busana haute couture yang dipajang di atas patung manekin bermerek. Butik elit yang terletak di pusat kota New York ini adalah milik nyonya besar keluarga terpandang: Nyonya Tessa Ashford.
Hari itu, Parrie Rose—yang saat itu masih menggunakan nama belakang mendiang ibunya—sedang sibuk merapikan lipatan kain sutra di sudut ruangan khusus VIP. Parrie hanyalah seorang gadis muda berusia 20 tahun yang sudah bekerja cukup lama di butik tersebut demi menyambung hidup dan membiayai perawatan medis ibunya.
Selama bekerja di sana, Parrie tentu tahu siapa pemilik tempat ini. Tuan Giovanni Ashford dan Nyonya Tessa Ashford adalah pasangan konglomerat yang tak tersentuh. Parrie juga mendengar dari gosip sesama karyawan bahwa kedua putra majikannya terkenal sangat dingin, berjarak, dan sulit didekati. Putra sulung keluarga itu memegang bisnis keluarga, sedangkan putra keduanya telah bertahun-tahun menetap di luar negeri untuk menyelesaikan studinya.
Namun, Hari ini pewaris kedua itu sedang berbicara secara langsung dengannya tanpa sekat, dan itu sebuah impian gila yang tak pernah terlintas di dalam benak Parrie.
"Kau memiliki kekasih?"
Suara berat dan berkarisma itu menginterupsi kesibukan Parrie. Gadis itu menghentikan gerakan tangannya, perlahan menoleh. Di depannya berdiri seorang pemuda berpostur tinggi tegap dengan rahang tegas dan tatapan mata yang begitu menusuk.
Dimitriou Kaetos Ashford—putra kedua majikannya yang baru saja kembali dari luar negeri—berdiri di sana sambil menyandarkan bahunya pada pilar marmer.
Parrie menelan ludah, menundukkan kepalanya sedikit sebagai bentuk rasa hormat. "Tidak, Tuan. Saya tidak punya waktu untuk itu," jawab Parrie jujur.
Kaetos memiringkan kepalanya sedikit, menatap wajah polos di hadapannya. "Sungguh?" Pertanyaan itu kembali dilayangkan, penuh nada menilai yang membuat Parrie merasa gugup.
Dengan cepat Parrie mengangguk, mengonfirmasi kebenarannya. Lagipula, apa yang dikatakannya adalah realitas hidupnya. Dia hanyalah gadis yang baru berumur 20 tahun. Seluruh waktunya dihabiskan untuk bekerja, bekerja, dan bekerja di dua tempat berbeda. Tidak ada ruang di dalam hidupnya yang sempit untuk urusan cinta—sebuah permainan rasa yang hanya akan menuntut waktu, energi, dan terkadang memaksanya melayani keegoisan seorang pasangan. Memikirkan hal itu saja sudah membuat Parrie rasanya ingin menghilangkan diri dari bumi.
"Mau mencobanya denganku?" tanya Kaetos datar.
"Huh?" Parrie tertegun. Gadis itu menatap anak bosnya dengan mata berkedip tak percaya.
Kaetos melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka di dalam ruangan VIP yang sepi itu. "Kau cantik. Dan itulah kenapa aku memilihmu daripada mereka," ucap Kaetos seraya mengarahkan pandangannya singkat ke luar pintu kaca, menunjuk rekan-rekan kerja Parrie yang sedang sibuk di area depan.
Sebelum Parrie mampu memproses situasi janggal tersebut, suara Kaetos kembali terdengar, dingin dan tanpa kompromi. "Aku akan membayar. Penawaran ini hanya datang satu kali. Tapi... hanya kalau kau masih perawan."
DEG!
Kata-kata tajam itu seketika merobek harga diri Parrie hingga berkeping-keping. Pipinya mendadak terasa panas oleh rasa malu dan penghinaan. Ya, dia memang miskin. Dia memang gadis pekerja kasar berpakaian lusuh. Tapi dia bukan wanita sembarangan yang bisa dibeli dengan segepok uang.
Saat Parrie membuka mulutnya, hendak menolak tegas penawaran gila itu dan mempertahankan sisa kehormatannya, Kaetos merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah buku kecil bersampul kulit kusam. Buku harian milik Parrie yang hilang semalam.
"Aku membaca buku diary-mu kemarin," potong Kaetos tenang, memotong kalimat Parrie sebelum sempat terucap. "Kau butuh uang dalam jumlah sangat besar untuk biaya pengobatan kanker ibumu di rumah sakit, bukan? Dan asal kau tahu... aku tidak menerima kata penolakan sejak aku masih dalam kandungan. Kau tahu itu."
Parrie membelalak kaget. "J-jadi... Tuan Muda yang menemukan diary saya kemarin?"
"Hm," gumam Kaetos pendek, memasukkan kembali buku harian itu ke dalam sakunya. Ia lalu mengangkat pergelangan tangannya, melirik jam tangan yang melingkar elegan di sana. "Satu menit dari sekarang. Pikirkan dengan baik."
Parrie Rose berdiri mematung di tengah ruangan yang harum aroma mawar itu. Pikirannya berputar hebat bagai pusaran angin topan. Hidup ini terlalu keras baginya. Bekerja mati-matian di dua tempat yang berbeda dalam sehari saja tetap tidak mampu membuat kehidupannya dan sang ibu menjadi lebih baik.
Tagihan rumah sakit terus menumpuk, obat-obatan ibunya makin mahal, dan waktu sang ibu makin menipis.
Jika dunia sudah begitu kejam padanya, kenapa dia tidak mencobanya? Kenapa dia harus bertindak naif? Situasi jual-beli seperti ini bahkan sudah menjadi hal biasa yang sering ia dengar di lingkungan kampus atau kota besar. Dan sekarang, ditawarkan langsung oleh putra seorang konglomerat terpandang dengan jaminan uang tunai yang sangat cukup... hanya orang bodoh yang akan menolaknya demi sebuah idealisme 'harga diri'.
Harga dirinya tidak lagi penting. Ibunya sedang bertaruh nyawa di bangsal rumah sakit yang dingin. Hidup harus tetap berjalan, dan ibunya membutuhkan pengobatan nyata—bukan harga diri Parrie yang tak bisa dimakan. Wanita miskin seperti dirinya memang hanya memiliki jalan terjal seperti ini.
Parrie menarik napas panjang, menahan getaran keputusasaan di dadanya. Ia mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam manik mata pria tajam di depannya.
"Saya mau!" tegas Parrie, suaranya terdengar bergetar namun mantap. "Tapi... saya punya syarat."
Kaetos menyunggingkan senyum tipis yang tak tertebak. Ia merogoh ponsel pintarnya dari saku, mengetik sesuatu di sana sebelum menatap Parrie kembali.
"Aku perjaka dan aku sehat," ucap Kaetos Ashford tiba-tiba, menyodorkan layar ponselnya yang menampilkan hasil tes kesehatan laboratorium berkala milik pribadi.
Pria itu lalu menatap Parrie dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu melanjutkan kalimatnya dengan nada polos namun terlampau jujur hingga terdengar vulgar di telinga Parrie. "Aku ingin melakukan hal ini untuk pertama kalinya dengan seorang wanita, tentu saja. Dan aku tidak suka hubungan yang rumit. Aku tidak memiliki kekasih karena wanita-wanita di lingkunganku terlalu banyak menuntut. Aku hanya begitu penasaran bagaimana rasanya... dan aku tidak mau berakhir memuaskan diri di tanganku sendiri. Jadi aku ingin mencobanya bersamamu. Kau cantik, dan sepertinya... tak sulit mendesah di atasmu."
DEG!
Parrie tertegun mendengar jawaban yang begitu blak-blakan dan tanpa aling-aling dari anak majikannya itu. Kepalanya mendadak kosong. Namun melihat perawakan sempurna, wajah tampan tanpa cela, serta kejujuran aneh dari pemuda di depannya, Parrie hanya bisa membisikkan syaratnya dengan suara sangat lirih.
"Saya bersedia... dan saya hanya ingin diperlakukan dengan lembut," bisik Parrie, matanya menatap pasrah.
Namun, di luar dugaan dan perkiraan Parrie, jawaban berikut yang keluar dari bibir Kaetos justru membuat dadanya sesak, memicu air mata yang hampir menetes dari pelupuk matanya.
"Aku dibesarkan dengan limpahan kasih sayang oleh kedua orang tuaku," kata Kaetos pelan, sorot matanya yang dingin perlahan melunak sejenak. "Aku sangat menyayangi ibuku. Jadi membimbing dan memperlakukan seorang wanita dengan lembut... tentu itu hal yang mudah bagiku. Aku tidak akan menyakitimu."
Kaetos menepuk pelan bahu Parrie yang kaku, sebuah sentuhan awal yang terasa sangat hangat. "Persiapkan dirimu malam ini. Habis ini... kita akan pergi membeli pengaman bersama."
Tanpa menunggu balasan lagi dari Parrie, Kaetos memutarkan tubuhnya yang tegap. Dengan langkah santai namun berwibawa, pria muda itu melangkah pergi menuju ruangan kerja ibunya di lantai atas.
Sementara Parrie sendiri... berdiri sendirian di sudut ruangan VIP yang sepi, perlahan mengangkat jemarinya dan mengusir air mata yang menetes di sudut matanya. Hari itu, ia telah menjual kepolosannya demi sebuah kehidupan.
Kembali ke masa kini...
Suasana di dalam kelas universitas yang dingin itu kembali merenggut kesadaran Parrie. Bayangan memori enam bulan lalu itu memudar, menyisakan kenyataan pahit bahwa pria yang pernah berjanji memperlakukannya dengan lembut... kini menatapnya bagai seekor serigala yang siap mencabik mangsanya.
Tangan Kaetos di atas pahanya meremas pelan, mengingatkan Parrie pada ancaman video yang baru saja diucapkannya.
"Jadi..." bisik Kaetos lagi di dekat telinga Parrie, suaranya begitu dalam dan berbahaya. "Mau jujur sekarang... atau kita tonton bersama rekaman kita di layar proyektor dosen?"
update terusss😍😍😍