Kalau seorang suami yang dikenal sebagai laki- laki romatis terhadap istrinya, sayang terhadap anaknya dan patuh kepada kedua orang tuanya saja bisa membuat noda hitam di dalam perkawinannya, lalu laki- laki yang seperti apa yang bisa dipercaya untuk menjaga kesetiaan rumah tangga...? Lalu apakah hati seorang istri yang sudah retak akibat pengkhinantan suami bisa pulih kembali, hanya dengan kata ''maaf...?"...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Ada tanda merah
"Mana Bagas...?'' tanya tuan Hartanto begitu bertemu dengan Suzan di depan lift.
Iya, mereka hendak turun ke lantai dasar dan bersiap untuk pulang ke rumah.
"Mas Bagas sudah keluar dari kantor satu jam yang lalu pah, kata Fikri dia menemui klien di luar sekalian pulang..." jawab Suzan sambil melirik jam tangannya yang menunjukan pukul lima sore.
Mereka berdua lalu masuk ke dalam lift.
"Fikri tidak ikut dengan Bagas...?'' tanya tuan Hartanto heran karena biasanya jika Bagas menemui klien selalu mengajaknya.
Tuan Hartanto menghela nafas.
"Kenapa pah...?'' tanya Suzan sambil menoleh ke papa mertuanya.
"Papa heran saja, karena akhir- akhir ini dia sering keluar kantor tanpa Fikri. Di beneran menemui klien, atau hanya main- main saja untuk menghidari pekerjaan kantor..." jawab tuan Hartanto.
"Pah... Harusnya papa senang dong, mas Bagas sudah bisa menghandle kerjaannya sendiri..." sahut Suzan.
"Ya mudah- mudahan saja dia bisa bekerja dengan benar..." jawab tuan Hartanto.
"Pah, tolong kasih kepercayaan buat mas Bagas ya pah. Selama ini mas Bagas sudah bekerja keras. Kemarin saja dia mampu menyelesaikan masalah yang ada di perusahaan cabang Surabaya dengan baik..." ucap Suzan karena dia tidak ingin sang suami selalu diremehkan oleh sang papa.
Tuan Hartanto kembali menghela nafas. Dan bersamaan dengan itu pintu lift terbuka. Mereka berdua pun keluar dari lift menuju lobby utama.
"Pah, Suzan duluan ya...." ucap Suzan yang membawa mobil sendiri sedangkan sang papa mertua menunggu supir pribadinya.
"Iya, hati- hati di jalan nak..." sahut tuan Hartanto.
🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇
Pukul sembilan malam Bagas baru sampai ke rumah. Seperti biasa selama berada di luar rumah dia selalu tidak bisa dihubungi. Dan hal itu tentu saja membuat Suzan khawatir.
"Sayang... Kamu dari mana saja...? Kenapa sih nomor kamu selalu saja tidak aktif kalau lagi di luar. Aku kan khawatir..." tanya Suzan begitu Bagas masuk ke kamar.
"Ponselku lowbat,sayang..." jawab Bagas sambil duduk di pinggir tempat tidur.
"Lain kali bawa charger dong..." Suzan membantu melepas sepatu dan kaos kaki sang suami.
Setelah itu Suzan membantu melepaskan jas Bagas.
"Ya ampun sayang, badan kamu lengket banget..." ucap Suzan yang hendak membuka kancing kemeja Bagas.
"Nggak usah, biar aku saja..." Bagas menahan tangan Suzan.
Tentu saja Bagas tidak ingin sang istri melihat dadanya yang terdapat tanda merah akibat ulah Casandra. Iya, akibat kecemburuannya kepada Suzan, Casandra membalasnya dengan membuat tanda merah di dada Bagas. Karena dengan begitu, Bagas tidak akan berani membuka pakaiannya di depan Suzan.
"Ya udah kamu mandi gih.." ucap Suzan.
"Iya..." Bagas segera masuk ke kamar mandi.
Dan di dalam kamar mandi Bagas membuka kemejanya di depan cermin. Terlihat jelas di dadanya sebuah tanda merah akibat ulah Casandra.
"Astaga...untung saja tadi Suzan tidak sempat melihat tanda merah ini..." ucap Bagas dalam hati.
Iya, kalau saja Suzan melihat tanda merah itu, pasti Bagas akan diinterogasi olehnya. Dan bisa saja Suzan langsung curiga pada Bagas.
"Bagaimana aku menyembunyikan tanda ini...? Oh astaga... Casandra membuatku repot saja..." gumam Bagas sambil terus menatap tanda merah itu lewat pantulan cermin.
Ketika Bagas sedang berpikir keras bagaimana cara menyembunyikan tanda merah ulah Casandra, tiba- tiba matanya tertuju pada kotak kecil di sudut wastafel. Di sana ada beberapa plester penutup luka.
"Ah pakai ini saja..." Bagas mengambil plester tersebut lalu menempelkannya untuk menutup tanda merah tersebut.
"Ah.. Aman..." ucap Bagas.
Setelah membersihkan tubuhnya di kamar mandi, Bagas pun kembali ke kamar hanya dengan menggunakan handuk yang dililitkan di pinggang.
Suzan yang sudah berbaring di atas tempat tidur tersenyum lalu dia bangun dan duduk sambil terus menatap Bagas.
"Sayang... Itu dada kamu kenapa...?'' mata Suzan tertuju pada plester penutup luka yang menempel di dada sang suami.
"Oh ini... Itu..." Bagas nampak gugup.
Suzan lalu turun dari tempat tidur dan menghampiri sang suami.
"Sayang, kenapa...? Apa kau terluka...?'' Suzan terlihat mengkhawatirkan Bagas.
"Nggak sayang... Nggak kok ,nggak papa..." jawab Bagas.
"Iya tapi ini kenapa...?'' tanya Suzan sambil menyentuh plester tersebut.
"Nggak papa kok sayang... tadi itu..." Bagas seperti sedang mencari alasan yang masuk akal.
Bagas lalu menjelaskan pada Suzan bahwa tadi dadanya terasa gatal dan dia menggaruknya terlalu kencang hingga menimbulkan goresan.
"Ya ampun sayang... Lain kali pelan- pelan dong..." sahut Suzan.
"Iya sayang..." jawab Bagas.
"Ya ampun sayang, lihat nih..." Suzan mengangkat tangan Bagas.
"Lihat nih, kuku kamu sudah panjang, belum dipotong. Pantas saja dada kamu kegores..." sambung Suzan.
"Habisnya kamu terlalu sibuk di kantor sih, sampai lupa memotong kukuku..." sahut Bagas sambil memanyunkan bibirnya.
"Iya maaf, tapi jangan manyun gitu dong, kayak Alvaro saja..." ucap Suzan sambil mencubit pelan pipi Bagas.
Bagas pun tertawa.
"Potongin dong kukunya..." ucap Bagas dengan manja.
Iya, selama ini memang Suzan lah yang selalu memotong kuku Bagas.Tapi karena akhir- akhir ini Suzan begitu sibuk dengan urusan kantor, dia pun tidak sempat memotong kuku sang suami.
Suzan lalu mengambil gunting kuku di laci meja rias dan mulai memotong kuku sang suami.
"Dah selesai..." ucap Suzan.
"Makasih sayang..." sahut Bagas lalu mengecup kening Suzan.
Bagas lalu memakai baju tidur. Kemudian dia berbaring di samping Suzan.
"Sayang..." ucap Suzan sambil memeluk sang suami.
"Hem..." jawab Bagas.
Suzan meraba dada Bagas.
"Sudah lama kita nggak..."
"Sayang..." sahut Bagas sambil menggenggam tangan Suzan.
"Ya aku juga kangen sama kamu, tapi jangan malam ini ya..." ucap Bagas.
"Kenapa sayang...?'' tanya Suzan heran karena selama menikah Bagas tidak pernah menolak ketika diajak berhubungan.
Malah kadang Suzan yang menolak ketika Bagas memintanya tapi dia dalam keadaan lelah karena pekerjaan.
"Ehm... A..aku merasa kurang fit malam ini..." jawab Bagas.
"Kenapa sayang... Kamu sakit...?'' Suzan langsung bangun dan duduk meraba kening Bagas untuk mengecek suhu tubuhnya.
"Bu...bukan sayang... Aku nggak sakit, aku baik- baik saja. Cuma aku merasa lelah. Tadi di kantor banyak kerjaan. Dan aku tidak mau kamu merasa tidak puas karena kondisi badanku. Lain kali saja ya sayang..." sahut Bagas ikutan bangun dan duduk menghadap Suzan.
Suzan pun mengangguk.
"Iya, nggak papa..." jawab Suzan.
"Maaf ya sayang, aku bukan bermaksud menolak kamu, aku hanya tidak ingin kamu kecewa karena kondisiku..." ucap Bagas sambil mengusap kepala Suzan.
"Besok malam saja ya.. aku akan mempersiapkan dirimu, dan akan membuatmu puas..." sambung Bagas sambil mencolek hidung Suzan.
Suzan pun terkekeh.
"Iya sayang... Iya .." jawab Suzan.
"Ya udah... Kita tidur aja ya..." ucap Bagas sambil mengecup kening Suzan. Dan Suzan mengangguk.
Mereka berdua membaringkan tubuhnya dan Bagas memeluk erat tubuh Suzan. Iya, Bagas bersyukur karena dia selalu mendapatkan jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan dari Suzan.
Bagas sadar bahwa sudah cukup lama dia dan Suzan tidak berhubungan badan layaknya suami istri. Mungkin sudah satu bulan. Dan tak dapat dipungkiri Bagas kangen ingin melakukannya dengan Suzan walaupun hampir setiap hari dia mendapatkan kepuasan dari Casandra kekasih gelapnya.
Namun malam ini Bagas merasa tenaganya telah terkuras habis akibat pergulatannya dengan Casandra tadi sore. Karena kecemburuan Casandra terhadap Suzan, dia meminta Bagas melakukan penyatuan hingga beberapa ronde.
Casandra sengaja melakukan hal itu supaya Bagas tidak melakukannya bersama Suzan. Dan benar saja, badan Bagas terasa sangat lelah dan dia merasa tidak sanggup jika harus melakukannya lagi dengan Suzan.
Makanya Bagas memutar otak agar dia bisa mencari alasan yang masuk akal saat dia menolak ajakan Suzan.
Karena sudah sangat lelah, Bagas langsung tertidur. Namun tidak dengan Suzan. Walaupun sudah mencoba untuk memejamkan mata, namun dia tidak juga bisa tidur.
Iya, Suzan masih kepikiran saat Bagas menolaknya tadi. Suzan baru sadar ternyata sesakit ini rasanya ditolak saat dia menginginkan melakukan hubungan suami istri. Padahal Suzan sendiri sering menolak Bagas setiap dia lelah setelah berkerja seharian di kantor.
"Ya ampun sayang... Maafkan aku ya... Aku baru sekali ditolak sama kamu saja rasanya sakit. Apalagi aku sering menolakmu ketika kamu mintaku untuk melayanimu. Maafkan aku sayang. Aku janji, aku tidak akan menolak kamu lagi setelah ini. Aku janji selelah apapun aku, aku akan selalu siap melayanimu..." ucap Suzan dalam hati sambil memeluk sang suami.
🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇
Keesokan harinya Suzan beraktifitas seperti biasa. Setelah mengantar Alvaro ke sekolah, Suzan langsung ke kantor karena pekerjaan sudah siap menunggunya. Hari ini juga ada meeting dan juga ketemu klien. Namun pikiran Suzan masih belum fokus karena masih saja teringat kejadian tadi malam saat Bagas menolaknya.
"Say... Kamu kenapa sih...? Ngelamun aja..?'' tanya Alma asisten Suzan di kantor sekaligus sahabat dekatnya.
"Ehm... Ah nggak kok ..." sahut Suzan kaget.
"Ada apa...? Dua hari lagi kan acara ulang tahun pernikahan kamu, kenapa kamu malah melamun...? Ada masalah...?"tanya Alma.
Suzan terdiam beberapa saat sambil menggigit bibir bagian bawahnya.
"Alma... " ucap Suzan.
"Hem..." jawab Alma.
Suzan menghela nafas.
"Ada apa...? Ayo cerita dong..." ucap Alma.
"Ehm... Dulu waktu kamu masih masih punya suami, kamu pernah nggak menolak suami ketika diajak berhubungan badan...?'' tanya Suzan.
Iya, Alma adalah seorang janda muda. Suaminya meninggal karena sakit kanker dua tahun lalu. Dan sekarang dia masih betah hidup sendiri dan menjadi asisten pribadinya Suzan.
"Nggak dong Suzan, mana boleh menolak ajakan suami. Mau seperti apapun keadaan kita, kalau suami minta ya kita harus siap melayani..." jawab Alma.
Suzan kembali diam. Iya, mendengar jawaban Alma, Suzan jadi merasa berdosa kepada Bagas karena dia sering menolak ajakannya.
"Tapi... Ada tapinya nih..." sambung Alma.
Lalu Alma memberitahu Suzan, bahwa seorang suami juga harus tahu bagaimana kondisi sang istri. Dia wajib bertanya apakah kondisi sang istri sedang baik- baik saja atau tidak.
"Apa lagi kalau istrinya pekerja, dia harus lihat apakah istrinya sedang lelah atau tidak. Dan kita sebagai istri kalau ingin minta jatah suami juga harus lihat kondisi suami, apa dia lelah atau tidak .Jadi biar sama- sama enak gitu lho..." ucap Alma.
"Memang kenapa sih say kamu nanya kayak gitu...?'' tanya Alma.
Suzan kembali menghela nafas.
"Ehm... Nggak cuma iseng aja..." jawab Suzan.
Namun Alma curiga kalau sahabatnya itu sedang galau.
"Ayo cerita..." ucap Alma sambil menatap Suzan.
Lagi- lagi Suzan menghela nafas. Lalu Suzan menceritakan apa yang terjadi tadi malam di mana dia ditolak oleh Bagas saat dia ingin berhubungan dengannya.
"Aku tahu dia sedang lelah dan aku juga paham. Tapi kok aku merasa sedih ya... Dan aku baru terasa sekarang, jangan- jangan ketika aku menolak keinginan mas Bagas karena aku lelah, dia juga sedih dan kecewa seperti yang aku rasakan sekarang..." ucap Suzan.
"Mungkin itu juga kali ya, yang membuat mas Bagas jadi tidak seromantis dulu. Kadang dia gampang ngambek dan dia juga sedikit lebih cuek sekarang..." sambung Suzan.
"Ya seharusnya sih memang harus saling mengerti satu sama lain sih say..." sahut Alma.
"Aku jadi merasa bersalah deh Al..." ucap Suzan.
"Nggak papa, bagus malah... itu artinya kamu mau instrospeksi diri. Dan... Ya sebenarnya aku paham sih posisi kamu say..." sahut Alma.
"Aku tahu kamu sibuk banget di kantor, karena posisi kamu membuat tanggung jawabmu buat kantor ini lebih besar dibanding suamimu. Dan kamu tentu saja lebih capek. Ya wajar kalau kamu sering kecapekan dan jadi tidak maksimal melayani suamimu..." jawab Alma yang tahu betul posisi Suzan.
"Trus aku harus gimana...?'' tanya Suzan.
"Mungkin kamu harus mengurangi pekerjaan kamu say. Coba deh kamu bicarakan ini sama papa mertua kamu..." jawab Alma.
"Iya ya..." sahut Suzan.
Bersambung....