Pada satu malam ... seorang pria merenggut kehormatannya, hingga menanamkan benih dalam rahimnya.
Lima tahun kemudian ... the twins hadir dikehidupannya. Selama itu tidak ada yang pernah tahu siapa ayah biologisnya, hingga the twins Semi & Arsyad mencari ayah mereka.
Dan di satu waktu Kedua orangtua mereka dipertemukan.
Akankah mereka saling mengenali?
Apa usaha Semi & Arsyad berhasil?
subscribe karya ini untuk ikuti cerita lanjutannya. Jangan jadi pembaca bisu ya, harus like, komen dan vote.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamparan Lembut Untuk Zahra
"Mama cepetan Mama!"
"Kebut Mah, kebut!"
Arsyad dan Semi meneriaki Zahra yang tengah menyetir agar sangat cepat. Min-Ji memberitahukan Zahra, jika penerbangan Haesung masih ada waktu satu jam lagi, setidaknya mereka bisa menyusul.
Melihat kekecewaan Zahra, membuat Min-Ji tidak tega yang langsung mengajaknya untuk menyusul ke bandara. Di tambah jarak bandara dengan rumahnya tidak terlalu jauh hanya membutuhkan waktu setengah jam.
Zahra meminjam mobil Abinya untuk menemui Haesung, bersama twins kecilnya yang sudah pasti ingin ikut. Min-Ji hanya di rumah karena harus menemani tamunya Abi Adam dan Ummi Hawa. Namun, Min-Ji terus menghubungi Haesung untuk memberitahukan keadaan ini. Supaya Haesung mau menunggu, tapi ... Panggilannya tidak dijawab satu kalipun.
Sementara di bandara, Haesung masih menunggu Keberangkatannya. Dia menghubungi Da-Bin sang asisten memberitahukan jika dirinya akan tiba Korea hari ini. Tentu saja Da-Bin senang mendengarnya, dia memberitahukan Manager Min kabar bahagia ini.
Namun, wajah Manager Min terlihat pucat tidak seantusias sebelumnya karena dia tahu apa tujuan Haesung kembali ke Seoul. Min harus mempersiapkan seribu jawaban untuk pertanyaan Haesung mengenai lima tahun lalu.
"Hai, Min kenapa wajahmu seperti itu? Haesung akan kembali!" jerit Da-Bin saking senangnya.
"Apa kau tidak senang? Bukankah kamu yang selalu meminta dia untuk pulang. Kenapa sekarang kamu malah tidak bersemangat," protes Da-Bin.
"Jam berapa dia akan sampai?" Hanya itu yang Min tanyakan.
"Sekitar ... Jam lima sore aku harus standby di bandara jam lima, jika telat maka aku akan diprotes olehnya."
"Ya sudah sana pergi." Usir Min pada Da-Bin
"Ey, pergi ke mana? Masih lama kali."
"Maksudku keluar dari ruangan ku!" tegas Min dengan emosi tinggi. Da-Bin hanya ber oh ria sambil nyengir.
"Sorry Ye, aku pikir suruh ke bandara sekarang. Ya sudah aku keluar deh bye ...." Sambil melambaikan tangan Da-Bin pergi dari ruangan Min.
Min langsung merebahkan tubuhnya di sofa, sambil memijat kening yang mendadak berdenyut. Min pusing memikirkan bagaimana nanti jika Haesung bertanya lagi kepada dirinya tentang kecelakaan lima tahun lalu, padahal dia tidak pernah kecelakaan.
"Aku harus beritahu Pak Park soal ini," ujar Min demikian.
***
Kembali ke Indonesia
"Mama ayo Ma cepat! Jangan sampai nanti calon papaku kabur," ujar Arsyad yang langsung mendapat tatapan tajam dari Zahra.
"CAlON PAPA!" Zahra melotot.
"Opss!" Arsyad menutup mulut dengan tangannya.
"Tidak ada salahnya kan Ma, Jika mendambakan papa seperti Uncle Haesung," ujar Arsyad demikian.
Zahra menggeleng. Kedua anaknya sudah kacau pemikirannya, karena tidak memilki ayah mereka selalu mendambakan siapapun jadi ayahnya.
"Kalau Uncle Haesung jadi Papa kita, bagaimana dengan Om Ilham? Aduh ... Adek jadi pusing pilih yang mana," oceh Semi ketika mobil tiba di bandara.
Zahra tidak mempedulikan perkataan kedua anaknya. Kedatangan ke bandara untuk menyusul Haesung agar dia bisa minta maaf secara langsung. Haesung tidak akan kembali ke tanah air dan hari ini adalah kesempatannya untuk meminta maaf.
Zahra segera turun dari mobil.
"Kalian mau turun apa tidak?"
"Mau dong Mama. Masa kita ditinggal kalau ada yang culik bagaimana?" oceh Semi.
"Gak ada yang mau culik anak nakal seperti kamu," ejek Arsyad.
"Ih ... Abang!" pekik Semi. Semi langsung turun mengikuti Arsyad dan Zahra.
Mereka berlari masuk ke dalam bandara. Netranya tidak pernah berhenti mencari sosok laki-laki berdarah asia itu.
"Uncle! Uncle Haesung!" teriak Semi.
Berbeda dengan Semi yang teriak, Arsyad bocah itu malah mengendus bau parfum Haesung. Seperti seekor anjing pelacak Arsyad menggunakan penciumannya untuk mencari target.
"Bau parfumnya sudah dekat, tapi dimana ya," ucap Arsyad.
"Uncle!" teriak Semi dengan suara nyaringnya.
Semi bisa dibilang bocah yang selalu menghantui Haesung hingga suara itu Haesung sangat kenali. Haesung baru saja selesai menghubungi Da-Bin dia hendak bangun dari tempat duduknya lalu pergi. Tapi suara Semi membuat langkahnya terhenti, yang berbalik ke sumber suara.
"Uncle!"
Haesung terbelalak, tubuhnya membeku ketika bocah 4 tahun dengan rambut sebahu berlari cepat ke arahnya. Tidak hanya Semi yang membuatnya terkejut, tetapi juga kehadiran seorang wanita yang mematung di belakang Arsyad.
Semi sampai lebih dulu kepelukan Haesung.
"Uncle, mau kabur ya?" tanyanya yang mendongak.
Haesung langsung berjongkok menyetarakan tubuhnya dengan Semi.
"Semi, kenapa bisa ada di sini?" tanya Haesung yang menatap Semi heran.
"Aku sama Mama juga Abang." Tunjuk Semi ke arah Arsyad dan Zahra yang kini berjalan ke arahnya.
Zahra terlihat gugup dan salah tingkah. Haesung berdiri menatap intens pada kedua objek di depannya.
"Kalian datang kesini untukku?" tanya Haesung yang menatap Zahra.
"Bukan! Maksudku ...."
"Apa kamu merindukan aku?" tanya Haesung yang melipat tangannya di bawah dada. Mendengar pertanyaan itu membuat Semi kegirangan seolah tahu apa artinya rindu.
"Rindu? Untuk apa aku merindukanmu," protes Zahra tak terima. "Aku datang ke sini untuk meminta maaf."
"Minta maaf?" Kening Haesung berkerut.
"Ya, Uncle. Mama dan Abang mau minta maaf sama Uncle karena kejadian kemarin. Tadi kita semua sama Aki dan Ninik pergi ke rumah Uncle tapi kata Mama Uncle, Unclenya sudah pergi. Uncle mau pergi jauh ya?"
Haesung menunduk ia tersenyum pada Semi. "Iya, Uncle mau kembali ke kota kelahiran Uncle."
"Uncle tidak akan kembali?" Mata Semi berkaca. Bocah itu terlihat sedih akan berpisah dengan idolanya. Haesung langsung mengelus rambut Semi.
"Mungkin Uncle akan kembali jika waktu luang."
"Uncle ke Korea ya? Aku juga mau ke sana nanti dengan Mama. Iya kan Ma?" tanya Semi.
Zahra melotot. Ia gugup juga canggung.
"Begini ... karena kedatangan saya ke sini untuk meminta maaf, jadi saya mohon maaf atas kejadian kemarin karena saya sudah menamparmu. Saya salah saya yang salah paham." Zahra bicara sambil menunduk dia takut menatap Haesung.
"Oh, jadi sekarang kamu akui kesalahanmu. Kamu pikir ditampar kemarin tidak sakit? Kamu tampar aku di depan semua orang." Haesung menatap Zahra penuh dendam.
Zahra terdiam sambil melirik sekitar. Sepuluh jemarinya saling menautkan. "Jika belum cukup ... Silakan saja jika kamu ingin membalas ku."
"Oww ... bagus. Kalau begitu aku tampar kamu sekarang."
"Tidak!" teriak Arsyad. Bocah itu tidak suka dengan sikap Haesung yang menganggap pria itu tempramental.
"Tidak ada yang boleh menampar Mama ku. Jika berani urusan denganku," ancam Arsyad.
"Arsyad!" sentak Zahra. "Cepat minta maaf, bukankah kamu mau minta maaf?"
Arsyad diam.
"Maafkan aku Uncle sudah menjambak rambut Uncle kemarin. Tapi Uncle tidak boleh menampar Mama," protes Arsyad yang takut jika Haesung menampar ibunya.
"Tidak apa-apa tampar saja biar kita impas," ungkap Zahra. Matanya sudah terpejam yang siap menerima tamparan dari Haesung.
Tangan Haesung pun sudah terangkat. Telapak tangannya bergerak ke sisi kiri pipi Zahra. Arsyad dan Semi menutup matanya dengan tangan, mereka tidak berani melihat.
Namun, Haesung tidak sekejam itu. Dia hanya menepuk ringan pipi Zahra sebanyak tiga kali.
"Sudah, aku harus pergi sekarang. Kata maaf mu aku terima tapi jangan ulangi lagi."
Zahra membuka mata. Haesung sudah melangkah pergi. Arsyad dan Semi ikut membuka mata, mereka menatap kepergian Haesung yang kian menjauh. Tanpa diduga Haesung berbalik yang tersenyum sambil melambaikan tangan pada mereka.
"Mama apa tamparannya sakit?" tanya Arsyad. Zahra termenung sambil menyentuh pipinya.
Bukan sensasi panas yang Zahra rasakan, tapi tepukan lembut yang membuat hatinya tidak karuan.
**
Selamat pagi. Jangan lupa dukung terus karya nya Dini Ratna ya 🤗
Aku jelasin yang sekarang ya🙏
Sebelumya kan author bikin novel ini ingin ikut event tapi yang kemarin itu gak bisa karena publish sebelum bulan Mei. Author tanya dong sama editor dan q&A ternyata tetap gak bisa dan mereka kasih saran kalau mau masuk event novelnya hapus saja lalu upload ulang. yaudahlah aku hapus novel yang kemarin lalu upload ulang.
jadi ... ini bukan plagiat ya, maaf sudah membuat kalian bingung 🙏. Semoga kalian suka dan baca karya ini sampai selesai 🙏